
...Apabila ada yang ingin menghancurkan dirimu...
...Maka aku akan berdiri di hadapanmu sebagai tamengmu...
Waktu berjalan begitu cepat. Pada akhirnya lonceng sekolah terakhir berbunyi hal itu menandakan untuk para penuntut ilmu mengakhiri pelajarannya.
Beberapa siswa dan siswi berlalu lalang keluar dari dalam gerbang. Lain hal nya saat ini dengan Prince dan Percy. Masih ada masalah yang belum selesai disini.
Brian dan Bella sudah tiba disana setengah jam lalu. Sembari menunggu kepulangan anak mereka, Angela dan Eddie mengundang mereka ke sebuah cafe dekat dengan sekolah itu.
Mereka berbincang selama beberapa menit. Setelah itu saat ini mereka sudah duduk manis dalam ruangan guru bersama dengan anak-anak mereka.
Petra dan Sienna tidak diperbolehkan masuk. Hanya mereka yang berkepentingan saja yang masuk kesana. Sienna dan Petra bersandar sejenak di dinding.
"Menurutmu apakah mereka akan di hukum Sienna?" Tanya Petra sambil menatap langit-langit lorong.
Mendengar itu Sienna hanya mengangkat kedua bahunya sekilas sambil menggeleng.
"Aku tidak tau, tapi apabila dalam kamera pengawas itu menyatakan Prince tidak bersalah. Kenapa dia harus di hukum! Lagi pula jarang bagiku melihat Prince semarah itu. Jika memang dia semarah itu, itu karena sesuatu yang mengganggunya serius!" Ujar Sienna.
"Kau tidak sedang membela Prince bukan?" Pertanyaan meragukan dari Petra itu membuat Sienna tersenyum lalu menggeleng.
"Kami tinggal serumah sejak kecil, aku tau sifat Prince itu seperti apa. Tidak lain dan tidak bukan delapan puluh persen sifat itu milik Daddy kami. Tetapi wajahnya, sangat mirip dengan Mommy!"
Petra tersenyum mendengar itu. Ketika Sienna menyebutkan perihal Daddy nya, kembali ia di ingatkan akan segala sifat pilih kasihnya. Sienna memang lebih banyak memendam dan diam sekalipun itu menyakitinya.
"Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Prince ketika melihat raut wajah Sienna yang mendadak sedih.
"Uh?" Sienna menoleh ke arahnya lalu menggeleng pelan.
"Aku tidak apa! Hanya sekedar sakit perut saja!" Jawab Sienna tersenyum.
Petra mengangguk mendengar itu mereka kembali diam sekarang. Menunggu dua saudara mereka di dalam keluar.
"Dia yang bersalah Daddy! Tiba-tiba dia mendorongku dengan sangat keras. Jika saja dua orang temanku tidak menangkapku, mungkin aku akan jatuh!"
__ADS_1
Lagi-lagi Devan kembali menolak segala tuduhan yang Prince dan Percy katakan padanya. Daddy Devan memicingkan kedua matanya tepat ke arah Percy dan Prince, yang duduk tenang sambil menatap datar ke arah mereka.
"Sejak tadi penyangkalan mu itu memuakkan!" Sindir Percy.
Lagi-lagi kalimat pedas itu ia lontarkan. Prince tersenyum mendengar itu. Sedangkan Brian dan Eddie mereka berdua disana hanya menatap lucu ke arah anak-anak mereka. Sifat mereka ini kembali mengingatkannya pada masa kanak-kanaknya.
Dimana Eddie akan selalu dominan berada di depan ketika ada kritik jelek tentang kakaknya. Eddie akan memerangi apapun yang menentang kakaknya. Bahkan ia rela menjadi tameng bagi kakaknya.
"Mengapa aku lukai anak saya? Berani sekali kau?"
Kali ini Daddy Devan, sebut saja Tuan Kristof bertanya dengan nada tinggi ke arah Prince yang sejak tadi diam. Merasa muak dengan pertanyaan yang sama sekali tadi pada akhirnya Prince memutuskan untuk bicara.
"Headmaster, bagaimana jika kita lihat CCTV saja? Bukankah apa yang terjadi disana akan menunjukkan kebenaran?"
Usulan cerdik itu membuat Brian semakin bangga rasanya. Prince adalah anak yang cerdas rupanya.
"Aku rasa apa yang Prince katakan benar! Bagaimana jika kita melihat CCTV saja?" Tanya Brian mencoba mendukung permintaan anaknya.
Guru itu mengangguk mendengar apa yang mereka usulkan. Dari dalam laci mejanya ia mulai mengambil laptop miliknya.
Disana ia mulai membuka rekaman CCTV yang baru saja terjadi hari ini. Tepat ketika ia menemukannya ia memperhatikan rekaman itu. Sepang beberapa menit, guru itu dibuat geram rasanya atas penyangkalan yang Devan berikan.
Disana terlihat Devan lah yang lebih dulu mencari gara-gara dengan Prince. Lalu terjadilah perkelahian disana di susul dengan datangnya Percy disana.
Kedua orang mantan mafia ini entah mengapa senang sekali melihat perkelahian epik itu terjadi. Putra-putranya terlihat begitu elegan dan luar biasa disana.
Devan diam melihat apa yang terjadi disana. Diamnya Devan membuat Percy dan Prince menatapnya sekarang.
"Kau berani sekali mendorongku!" Ucap Devan kembali.
Sungguh bocah satu ini benar-benar gila. Masih saja tidak mengakui kesalahannya. Padahal sudah jelas-jelas disana terlihat yang memulai lebih dulu adalah dirinya.
"Tuan Kristof, tolong ajari anakmu itu untuk menerima kesalahannya!"
Sambil merapikan jasnya Brian berdiri menatap tepat ke arah Tuan Kristof disana. Terlihat jelas raut wajah tak suka itu di pasang untuk Brian.
__ADS_1
"Apa kau tidak melihat bahwa anakmu mendorong putraku?" Tuan Kristof tetap membela Devan disini.
"Sudah cukup! Saya sudah mengambil keputusan!"
Ucapan dari Headmaster seketika membuat seluruhnya diam. Disana mereka memperhatikan Headmaster yang hendak mengutarakan sesuatu.
"Apapun yang saja putuskan ini mutlak! Siapapun tidak bisa menolak ataupun menawar!"
Ucapan itu bagaikan sebuah peringatan. Mereka yang mendengar itu terdiam juga terus menunggu keputusan apakah yang akan Headmaster ini ucapkan.
Headmaster itu menatap tepat ke arah Devan kali ini. Prince berseringai melihat itu. Sepertinya keadilan akan di tegakkan disini. Mereka yang busuk suatu saat nanti juga akan terbongkar kebusukannya.
"Maafkan aku Tuan Kristof! Tapi Devan harus di liburkan untuk satu bulan kedepan. Tolong renungi segala kesalahanmu ya Devan! Sekarang minta maaflah pada Prince dan Percy!"
Ucapan itu seketika membuat Devan membeku. Sialan sungguh, mengapa ia harus meminta maaf pada Prince dan Percy. Tidak dia tidak akan mau melakukan hal itu.
"Tidak, aku tidak akan meminta maaf pada mereka! Tidak akan pernah!"
Ucap Devan, merasa putra satu-satunya itu terpojok. Tuan Kristof memilih berpamitan pergi dari dalam ruangan itu membawa putranya segera pulang ke rumah.
"Akhirnya selesai juga!" Bisik Prince pada Percy disampingnya.
Ketika Daddy mereka sibuk berbicara pada Headmaster membelakangi mereka. Dua orang Mommy mereka sedang duduk dibelakang mereka.
Mereka berdua yang geram atas tingkah anaknya seketika menjewer gemas telinganya.
"Kalian ini ya!" Ujar Bella geram.
"Ahhh... ampuni aku Mommy!" Pekik Prince padanya meminta ampun.
"Kau juga Percy, kenapa harus terlibat perkelahian?" Tanya Angela padanya.
"Awh... Sebab dia mengganggu Prince!"
Jawaban itu membuat Angela dan Bella tersenyum. Sekalipun hati mereka diliputi kekesalan, namun mereka bangga sebab mereka mampu saling melindungi.
__ADS_1
"Baiklah, Kami permisi dulu Tuan! Terima kasih!"
Brian berpamit pada kepala sekolah itu lalu mengajak seluruh keluarganya pergi dari sana. Masalah hari ini sudah usai, waktunya bagi mereka menenangkan pikiran sejenak.