
...Sendiri itu baik, tetapi kesepian adalah yang terburuk...
...____...
Stevan berhenti tepat dikediaman Brian kali ini. Beberapa bodyguard Brian membuka pagar rumah megah itu, ketika melihat siapakah yang bertamu disana. Stevan memarkirkan mobilnya di halaman. Ketika mesin mobil miliknya mati, Stevan keluar dari dalam sana membuka menghampiri pintu mobil yang lain lalu membukanya.
"Tuan Besar?"
Pekik salah seorang bodyguard, Stevan hanya diam sambil memperhatikan bodyguard itu, ia antusias sekali mencoba membawa Brian masuk.
"Beliau kenapa?"
Tanya bodyguard itu pada Stevan, sedang yang ditanya hanya menghela nafas kali ini.
"Dia mabuk, kegilaannya semalam meneguk banyak botol disana. Kau bisa membawanya kedalam, kakakku sedang mencarinya."
Mendengar penjelasan itu bodyguard itupun patuh. Bodyguard itu membawa tubuh Brian yang tak setengah sadar itu kedalam.
Diruang tamu terlihat Bella sedang menonton TV, sepiring salad berada didepannya, tak lupa secangkir teh hangat pagi ini menemaninya.
"Nyonya!"
Suara dari belakang dirinya itu mengalihkan netranya dari arah TV. Bella terkejut melihat bodyguardnya membawa Brian yang tak sadarkan diri itu. Kenapa dia? Mengapa bisa seperti itu.
"Dia kenapa?"
Tanya Bella ketika bodyguard itu merebahkannya di atas sofa. Bodyguard yang ditanya itu menggeleng, pasalnya dirinya juga tak tau menau persoalan apakah yang membuat majikannya sampai seperti ini.
"Saya tidak tau nyonya, kutemukan dia terkapar didalam mobil adik anda."
Bersamaan dengan ucapan itu, Stevan masuk kedalam sambil meminum sekotak susu. Stevan berjalan menghampiri Bella yang bersimpuh, dihadapan Brian yang masih belum sadar itu.
"Kakak, mengapa kau masih disana?"
Tanya Stevan ketika tepat berada dihadapan kakaknya, Bella mendongak melihat betapa santainya adiknya itu mengatakan itu. Sama sekali tak ada penjelasan yang akan Stevan lontarkan untuknya.
"Ambil air, lalu siram dia sudahkan?"
Ucapan itu semakin membuat Bella kesal saja rasanya sungguh. Bella menepuk sofa yang masih kosong disampingnya, seakan menyuruh adiknya itu untuk duduk disana. Stevan mengerti itu, ia menuruti apa yang kakaknya inginkan, dengan pasrah ia pun duduk di atas sofa itu.
"Jadi?"
__ADS_1
Tanya Bella sambil menatap adiknya itu, ia meminta penjelasan.
"Ia mabuk!"
Jawab Stevan singkat, memang dasarnya adiknya ini ketus, Bella hanya menghela nafas mendengar jawaban itu. Siapa yang tak tau bahwa Brian mabuk disini, aroma minuman keras sejak tadi sudah menusuk hidungnya sungguh.
"Stevan, yang kutanyakan adalah, kenapa dia bisa sampai mabuk seberat ini?"
Mendengar itu Stevan meremas sekotak susu yang ia minum, kotak itu sudah habis. Kali ini hatinya kesal sungguh, bola mata miliknya menatap lekat ke arah Bella, mencoba mengintimidasinya.
"Kenapa tatapanmu itu?"
"Kakak, dia menolak keberadaan keponakanku! Dia bajingan gila kak!"
Mendengar itu Bella terhenyak, rupanya masalah ini serius bagi Brian. Rupanya ia benar-benar tak mengharapkan kehadiran seorang anak, sebenarnya ada apa dengan pria ini. Mengapa hal itu bisa terjadi, sungguh tidak wajar rasanya.
"Katakan padaku kak, apa kau sedang hamil saat ini?"
Bella tersenyum mendengar itu, ia menatap Stevan kali ini lalu menggeleng.
"Tidak, tapi aku berharap hal itu akan segera terjadi!"
"Sebenarnya apa yang membuat bedebah ini tak ingin kehadiran bayi kak?"
Mendengar itu terbesit pikiran dalam kepala Stevan, bagaimana jika suatu saat ketika Bella hamil, Brian malah meninggalkannya. Sumpah demi apapun, jika hal itu terjadi Stevan akan membunuh pria ini dengan tangannya.
"Aku akan membunuhnya jika sampai dia menceraikanmu, sungguh!"
Sambil mengucapkan itu, Stevan terlihat murka disana. Bella tertawa melihat itu, ia bangkit dari simpuhannya.
"Kau akan kemana?"
Tanya Stevan pada Bella yang berdiri.
"Aku akan menyuguhkan sesuatu untukmu, Brian baru saja menyetoknya dirumah ini. Katanya itu untukmu."
Usai mengatakan itu, Bella pun pergi dari sana. Stevan hanya menatap dalam diam kepergian kakaknya itu, sedang netranya kali ini kembali melirik ke arah Brian. Pria besar itu masih belum sadar, ingin rasanya Stevan menampar-nampar wajahnya sekarang. Selang beberapa menit, Bella kembali ke ruang tamu sambil membawa tiga kotak susu coklat ditangannya.
Stevan tersenyum melihat itu, rasanya seperti memenangkan tiket lotre sungguh.
"Wahh! Kakak tau saja, terima kasih!"
__ADS_1
"Jika kau masih kurang, di lemari es masih ada!"
Stevan mengangguk sambil bibirnya masih meminum sekotak susu itu satu persatu.
____________
Malam pun tiba, Brian sudah sadar sejak siang tadi. Dimana saat itu Stevan sudah tidak ada disana. Sejak tadi Brian sama sekali tak menyapa Bella, bahkan mereka saat ini tidak berada dalam satu ruangan. Brian lebih memilih duduk diruang tamu berkutat dengan laptopnya, entahlah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Bella berada di ranjangnya sendiri sekarang, ia juga sama berkutat dengan laptopnya.
Tengah malam rasanya matanya mulai perih sekarang, Bella menutup laptopnya meletakannya di atas meja. Sebelum ia terlelap, ia lebih memilih melihat Brian. Kemanakah manusia ini, mengapa ia tak kunjung datang ke kamarnya. Ketika akan menuruni anak tangga, dari atas sana Bella melihat Brian yang masih sibuk dengan laptopnya.
Disana terbesit pikiran untuk sekedar menghangatkan suasana. Rasanya tak mampu berlama-lama ada dalam kondisi ini, tegang dan canggung. Bella memilih pergi ke dapur sekarang, ia membuka lemari esnya. Bella menyeduh dua cangkir matcha sekarang. Setelah cangkir itu terisi, adukan terakhir dari sendok teh itu membuat Bella tersenyum.
Bella meletakkannya di atas nampan, lalu membawanya ke ruang tamu. Rupanya Brian masih disana, apakah hari ini ia sesibuk itu.
"Hunny!"
Sapaan dari balik punggungnya itu membuat Brian berhenti mengetik sesuatu di laptopnya. Bella duduk disamping Brian sekarang, meletakan cangkir di nampannya itu tepat diatas meja dihadapan Brian.
"Hun, segelas matcha hangat untukmu!"
Ucap Bella, Brian hanya menanggapi itu dengan deheman. Bella mengambil segelas matcha disana, lalu meminumnya.
"Kau sedang apa?"
"Eddie butuh bantuan sedikit!"
Jawaban dari Brian itu terkesan ketus, namun disini Bella tidak menyerah kembali ia melontarkan beberapa pertanyaan.
"Tidak biasanya kau sesibuk ini hun? Bahkan kau tak naik ke atas untuk menemaniku tidur."
"Malam ini aku tidur di sofa saja."
Bella terhenyak mendengar itu. Apa-apaan itu, kamar disini banyak mengapa harus tidur di sofa.
"Kau naik saja dulu!"
Cukup, Bella kesal sekali rasanya sekarang. Ia meletakan matcha nya kembali di atas meja, lalu berdiri.
"Hun, apa menurutmu menjauhiku seperti ini itu perlu? Untuk apa? Untuk menyakitiku? Jika kau tak bicara apa masalahnya, bagaimana aku bisa tau?"
Bella meluapkan apa yang ada dalam hatinya sekarang. Namun Brian, pria itu sama sekali tak menjawab ia masih berkutat pada laptopnya, melihat tak ada jawaban, Bella semakin kesal dibuatnya. Bella memutuskan pergi ke dalam kamarnya kali ini, meninggalkan Brian sendiri disana.
__ADS_1
...Kesepianku disebabkan oleh orang-orang di sekitarku yang tidak memahamiku...