Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Surat atas Namamu


__ADS_3

...Lebih baik bersiap perang daripada...


...berharap bahwa musuh tidak pernah datang...


Bella terbangun dengan kondisi duduk terikat saat ini, dengan lakban yang menutup bibirnya. Gelap, ini gelap sekali sama sekali tak ada satupun cahaya menerangi disana. Seraya meronta-ronta Bella mencoba melepaskan dirinya, namun sebuah cahaya dari lampu sorot membuat tingkahnya berhenti. Ia ingat satu hal sebelum berada disini. Penolakan yang ia berikan pada Stevan, membuat mereka beradu kekuatan saat itu.


Dengan berat hati Bella mencoba melawan adiknya, namun, Bella tetaplah seorang wanita. Selama ini ia bekerja dengan analisanya bukan kekuatan layaknya seorang prajurit. Beladiri yang ia kuasai hanya sebatas apa yang Brian ajarkan, itupun ia masih belum sepenuhnya mengusainya. Gema suara wanita itu menyapannya, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.


"Mengapa kau tak memahami penderitaan kami? Bukankah kau pun sama menderitanya seperti kami?" Ujar wanita itu, yang tak lain adalah Nami.


"Kau tau bukan, sepedih apa rasanya kehilangan orang terkasih." Ucap Nami, Bella mencoba mengeluarkan suaranya tapi tetap saja ia di bungkam sekarang, segala penyangkalan yang dirinya keluarkan terdengar sia-sia.


"Pedih bukan? Bella, seandainya kau bukan saudara rekanku. Mungkin hari ini aku akan membunuhmu juga!" Geram Nami, seraya menatap tajam ke arah Bella. Nami berdiri tepat dihadapan Bella kali ini, memicingkan matanya. Sungguh rasanya tangannya ingin sekali menghabisi wanita dihadapannya itu.


Srekkkkkk


Lakban itu di tarik begitu kasar oleh Nami, Bella meringis kecil usai itu. Tak lama Netranya mulai melirik gadis itu, gadis yang sepertinya lebih muda darinya.


"Perihal Stevan, aku bisa memaklumi segala kekecewaannya. Tapi kau? Apa alasan amarahmu itu pada Brian?" Pertanyaan itu membuat Nami tertawa, gema suaranya terdengar jahat.


"Kau bodoh? Kau pikir, berapa mayat yang berjatuhan atas tragedi pesta dansa itu?" Ujar Nami, seraya menatap Bella dingin.


Memori itu kembali seketika, memori dimana dirinya melihat untuk kedua kalinya ledakan itu dengan matanya. Siapapun yang kehilangan atas itu, pasti lukanya masih sangat membekas hingga saat ini. Perihnya pasti masih menguar saat ini, sekalipun kejadian itu lampau namun, yang namanya kehilangan sampai kapanpun bekasnya pasti masih ada.


"Itu bukan ulahnya!" Lirih Bella seraya memejamkan matanya, sulit berada di posisinya saat ini.


Di lain sisi, memang Brian pernah membuat kesalahan besar, merenggut banyak nyawa tak berdosa. Tapi, dibalik segala sifat kejinya itu beralasan. Alasan dari kehidupan tanpa arahnya adalah, pembantaian yang juga dilakukan keluarga Drew pada orang tuanya.


Geram dengan segala penyangkalan yang Bella lontarkan, Nami maju bergerak mencengkram rahang Bella kasar, mencoba memaksa kepala itu mendongak menatap matanya yang diliputi kebencian.


"Kau bilang bukan salahnya? Lalu salah siapa? Katakan?!" Geram Nami, Bella mencoba menahan sakit atas cengkraman itu. Sungguh jika ia tak terikat, mungkin ia akan menghajar balik manusia ini.


Bughhhh


"Awhhhhh!!!" Pekik Nami, ketika Bella menendang tubuhnya. Nami terhempas mundur akibat tendangan itu.


"Redam amarahmu sebelum aku memulai ceritanya!" Ucap Bella, ia menatap dingin ke arah Nami saat ini.


"Tidak ada yang bisa kau rubah disini! Jika Hatimu di takdirkan untuk menemui balasannya, maka kau tak berhak mengatakan tidak untuk segala yang sudah ia perbuat." Jelas Nami, ia berbalik memunggungi Bella sekarang.

__ADS_1


Bella paham, baik Stevan dan Nami mereka tidak akan mendengar apa yang ingin Bella katakan. Keduanya sedang diliputi amarah,kebencian bayangan mengenai kehilangan yang tragis nan pedih. Sama sepertinya dulu, bagaimana ia sangat membenci Pria nya. Namun, ketika takdir menjelaskan sebab akan itu, hatinya di tuntun Tuhan kembali. Karma dari kesalahan keluarganya, kini menimpa dirinya, Stevan dan Brian lagi.


"Kau akan apa setelah ini?" Tanya Bella, Nami menyeringai mendengar itu.


"Brian akan datang kemari, aku yakin itu. Namun satu hal yang pasti, aku akan membawanya menemuimu setelah nyawanya tiada. Jadi yang akan datang dihadapanmu nanti, adalah mayatnya, mayat kekasihmu." Ujar Nami, pergi setelah mengatakan itu.


"Tuhan, kumohon semoga kau selalu menyertainya. Aku tidak tau harus apa dan bagaimana, namun aku percaya rencanamu jauh lebih indah. Kumohon, selamatkan kekasihku." Batin Bella.


Kalut rasanya hatinya saat ini, namun bisa apa dirinya sekarang dengan kondisi seperti itu.


...Untuk melatih kesabaran,...


...seorang musuh adalah guru yang terbaik...


...Manusia adalah musuh...


...bagi apa yang tidak dia ketahui...


.


___________


Malam pun tiba, seorang pria berjas hitam yang tak lain adalah Stevan, sedang duduk di atas tangkai pohon. Fokusnya terletak pada salah satu gedung besar di Perancis. Dengan sebuah surat di sakunya, disana Stevan sedang menunggu seseorang. Stevan melirik ke bawah ketika melihat orang yang sedang ia tunggu telah sampai, masih tetap di atas Stevan menjatuhkan amplop itu begitu saja disana.


"Kau bisa berikan ini pada Bedebah itu! Bilang, surat ini dari Bella, untuknya." Jelas Stevan, seraya masih tetap mengawasi gedung itu. Dengan hati-hati Pria itu mengambil surat yang jatuh itu, namun sebelum mengambilnya pria itu memakai sebuah sarung tangan khusus.


"Baik Tuan, akan saya lakukan." Ujarnya, lalu pergi.


Dari atas sana Stevan menampakkan seringai liciknya, sembari mengingat apa yang akan terjadi setelah surat itu berada di tangan Brian.


"Jika aku bisa melenyapkan dirimu, tanpa bertemu, maka akan ku lakukan. Matilah kau setelah ini!" Ujar Stevan.


Di lain tempat, saat ini dengan jasnya Brian sedang bersiap untuk pergi. Khawatir rasanya melihat wanitanya tak kunjung kembali, ini sudah cukup larut namun Bella tak kunjung kembali. Setelah kancing terakhir kemejanya terpaut, Brian pun pergi dari sana.


Di depan pintu, terlihat beberapa bodyguard nya sedang bersiap, mereka akan ikut mencari Bella malam ini.


"Kalian ikut bersamaku, bawa beberapa senjata pelumpuhan. Juga sedikit senjata api, bawa juga beberapa senjata beracun. Akan lebih baik jika kita menangkap bajingan ini hidup-hidup!" Geram Brian, sungguh ia tau sudah terjadi sesuatu yang buruk menimpa kekasihnya. Mungkin tidak ada bukti yang kuat untuk itu, namun hatinya, hatinya merasakan Bella sedang tidak baik-baik saja sekarang.


"Baik Tuan Muda!" Ucap beberapa anak buahnya sigap.

__ADS_1


Dari belakang terlihat Eddie berlari mendekati saudaranya itu, jika ini di biarkan masalahnya akan semakin runyam. Tidak baik menjalankan sesuatu tanpa rencana, berangkatnya Brian malam ini adalah bunuh diri bukan itu yang Eddie inginkan.


"Brother?" Sapa Eddie tepat ketika berada di belakang Brian, namun disana Brian tak menggubris justru tangannya terangkat seraya itu sebuah isyarat untuk Eddie agar tidak terlalu banyak bicara.


"Brother, aku memahami segala kekhawatiranmu. Tapi jika kau saat ini kesana, kau akan mati. Ini pancingan yang jelas bukan?" Tutur Eddie


"Jika perlu, akan ku kerahkan seluruh Mantan Mafia ini demi menewaskan bajingan itu!" Eddie menghela nafas mendengar itu.


"Itu cara kerja seorang mafia, bukankah kau sendiri yang bicara, kita tidak akan terjerumus kesana lagi?" Tanya Eddie.


"Iya, tetapi...." Ucapan Brian terhenti ketika suara langkah kaki dari arah depan menghampirinya. Pria itu terlihat terburu-buru, raut mukanya ketakutan. Sambil membawa sebuah surat di tangannya ia berlari ke arah Brian, dari belakangnya terlihat beberapa kawanannya mengejarnya.


"Tetua, dia menerobos masuk tanpa ijin!" Teriak beberapa kawanan yang mengejarnya. Pria itu bersimpuh ketika tepat berada dihadapan Brian.


"Maafkan aku jika lancang, tapi aku di kirim kemari dengan paksaan. Keluargaku sedang di sekap, dan aku diperintahkan membawa surat ini untukmu." Ucapnya, seraya memberikan surat itu pada Brian. Eddie mencoba mengambil surat itu, namun Brian menahan pergerakannya.


"Baca-kan!" Ucap Brian, Eddie heran melihat itu. Sorot matanya serius, ada banyak pertanyaan mengapa Brian tidak menyentuh surat itu.


Pria itu diam sejenak seakan berfikir sesuatu. Namun, tak lama pria itu membuka suratnya, membacanya.


***Tertanda, Bella Alexandria Drew


Dengan jatuhnya surat ini di hadapanmu, aku Bella mengatakan padamu. Temui aku, tepat tengah malam ini. Di atas gedung terbengkalai di bagian barat, 15 kilometer dari Eiffel. Temui aku sendiri, atau akan ada pelenyapan yang terjadi pada kekasihmu ini***.


Brian mengepalkan tangannya mendengar itu, gerakan seakan menjadi lambat ketika pembaca surat itu hendak menggapainya. Mencoba menyentuhkan surat itu pada bagian kulitnya. Namun dengan sigap Brian menendangnya, melumpuhkannya. Pria itu tersungkur tak sadarkan diri setelah apa yang Brian lakukan. Surat itu jatuh ke lantai saat ini, Brian mengeluarkan sapu tangannya lalu memungut surat itu.


"Surat ini beracun!" Ujar Brian, Eddie terkejut mendengar itu. Beruntungnya ia tak mengambil surat itu.


"Bagaimana kau bisa tau itu beracun?" Tanya Eddie.


"Pengantar surat tidak mungkin memakai sarung tangan, juga setelah aku menyuruhnya membacakan isinya untukku, sebelum itu ia membuang nafasnya kasa, seakan kecewa akan perintahku. Aku tau sejak dia berlari kemari, ada yang tak beres padanya." Jelas Brian.


"Ini Aconite, tanaman moonkshod, bunganya terlihat indah namun seluruh bagian darinya beracun. Racunnya dapat menyebabkan terganggunya fungsi jantung aritmia yang menyebabkan korban mati lemas. Keracunan dapat terjadi bahkan hanya dengan menyentuh daun tanaman tanpa mengenakan sarung tangan, karena sangat cepat dan mudah diserap. Salah satu korban yang terkenal adalah, Kaisar Claudius yang dikatakan telah diracuni oleh istrinya, Agrippina." Tambah Brian, Penjelasan itu membuat Eddie terkesan, Brian sangat jeli sekali. Tak jarang dulu segala misi yang ia selesaikan selalu memuaskan Shawn.


"Itulah mengapa pria ini menggunakan sarung tangan." Ujar Brian lagi.


...Alasan untuk membunuh orang itu banyak...


...Tapi tidak diperlukan alasan untuk menolong seseorang...

__ADS_1


...Sekalipun itu ditempatkan di telapak tangan kita...


...Bukan berarti kita dapat menggegamnya...


__ADS_2