
...Jika kau menginginkan musuh, kalahkan orang lain. Dan jika kau ingin berteman, biarkan orang lain mengalahkanmu...
Stevan mencoba menghubungi Nami kembali dengan disana. Sungguh ia merasa bodoh rasanya saat ini. Padahal dia ada di rumah tapi mengapa ia membiarkan Bella pergi.
Stevan berulang kali merutuki dirinya sendiri. Memang tak akan ada yang berubah jika ia melakukan hal itu. Sebab yang dibutuhkan disini adalah taktik dan tindakan.
Tutttttt
"*Hallo?"
Panggilan masuk, suara Nami mulai menyapanya diseberang sana. Sungguh lega rasanya ketika mendengar nya.
"Hallo Nami, sebenarnya ada apa ini?" Tanya Stevan padanya.
"Ini ulah Reiner, rencananya untuk menculik Angela. Sebab kalian membuatnya bangkrut, ia menemui Nami saat itu. Dan ini lah hasilnya, konspirasi mereka*!"
Brian mengepalkan tangannya kuat. Sungguh ia ingin membunuh Reiner saja saat ini rasanya. Berani sekali manusia satu ini berulah lagi padanya.
"Katakan, dimana keberadaan mereka saat ini?"
Kali ini giliran Brian yang bertanya padanya. Nami tersenyum mendengar itu, sebenarnya ia sangat membenci Brian. Namun ini menyangkut keselamatan Bella. Mau tak mau ia harus meredam kebenciannya sebentar.
"Nyalakan ponsel kalian berdua! Wanitamu ini pintar, dia bahkan membawa alat pelacak bersamanya!"
Mendengar itu baik Brian dan Eddie keduanya membuka ponselnya. Dari sana Nami mengirimkan titik lokasi Bella. Ada dua lokasi, satu berhenti di satu titik dan satu lagi sedang dalam perjalanan.
Brian dan Eddie saling menata satu sama lain sejenak lalu mengangguk. Mereka berdua pun bergegas pergi dari sana.
Brian menghubungi beberapa orangnya yang lain, itu termasuk dengan Themo dan Rey. Ia ingin polisi juga diikut sertakan saat ini. Sebab ia ingin meringkus Reiner lalu menjebloskannya ke penjara saja saat ini.
Beberapa pengawalnya juga mulai bergerak begitupun dengan dirinya dan Eddie. Keduanya sigap mencari keberadaan Bella dan Angela.
__ADS_1
Tak akan selesai rasa khawatirnya apabila mereka tidak bertemu dengan Bella dan Angela. Ketika belahan hati kalian hilang dari sisi kalian, rasanya akan sangat kosong. Itulah yang saat ini mereka Rasakan disini. Gelisah tak karuan rasanya sungguh.
______
Sementara Bella saat ini sedang duduk manis didalam mobil. Netranya sejak tadi ditutup oleh kain hitam. Disampingnya masih ada seorang pria paruh baya.
Entah mengapa Bella disini terlihat sangat tenang. Juga penutup mata ini, sungguh ia tak mengerti apa gunanya ini. Nalarnya mengatakan mungkin ini dibuat agar Bella tidak mengetahui kemanakah jalur mereka membawanya pergi.
Namun mereka begitu dungu sungguh. Bella ini anak dari seorang mata-mata. Ia mungkin diam sejak tadi. Namun nyatanya tidak, ia menghafal beberapa kali mobil ini berbelok. Lalu ia juga menghafal suara-suara jalan nya. Terkaan nya, ia akan dibawa ke suatu tempat dekat dengan lautan.
"Kau cantik rupanya, pantas saja pria itu menggilaimu!"
Pada akhirnya suara dari pria itu mulai berucap. Kali ini ia memuji kecantikan Bella. Bella hanya berseringai mendengar itu. Mencoba membiarkan pria ini tetap mengoceh.
"Kelakuan nekatnya ini sungguh aku tak peduli. Aku hanya pengantar, dan aku tergiur dengan bayarannya. Aku hanya seorang pria yang sedang membutuhkan uang."
Jelasnya, isi hati yang ia katakan itu sedikit membuat Bella iba rasanya. Pria ini mungkin sedang berada dalam kondisi yang sulit saat ini, sepertinya Bella akan membantunya saja sekarang. Mungkin ia akan melontarkan beberapa tawaran pada pria ini.
"Mungkin aku mampu membantu mu Tuan!" Ucap Bella padanya.
Bella tersenyum mendengar itu. Sepertinya kekayaan suaminya harus ia gunakan disini.
"Aku akan memberimu lima persen dari kekayaan kami. Apabila kau memang benar-benar membantuku." Ucapnya.
Sejujurnya pria ini sama sekali tak tau perihal siapakah Bella. Pria ini hanya seorang kacung yang profesinya hanya sebagai seorang supir.
"Mungkin kau tidak tau siapa aku bukan? Tapi percayalah, aku akan membantumu sungguh."
Tiap apa yang Bella katakan meyakinkan. Seseorang yang sedang menyetir mobil ini, beruntungnya manusia itu menggunakan earphone saat ini. Sepertinya lagi didalam sana terlalu asik hingga tak membuat pembicaraan mereka terdengar.
"Aku akan membantumu!" Ucap Orang itu.
__ADS_1
Bella tersenyum mendengar apa yang orang itu katakan. Disana Bella menjelaskan apa rencananya, pria paru baya itu mengerti.
Setibanya ditempat Bella akan turun dan menemui penelpon seorang diri. Bella memberikan nomor Bria pada pria itu. Jika memang orang ini hanya suruhan sebagai seorang penjemput, maka akan dipastikan setelah Bella sampai disana. Pria paru baya ini akan pergi.
Bella menyuruhnya untuk berjaga agak jauh dari tempatnya berada. Rupanya pria paru baya ini juga dibekali senjata. Itulah mengapa Bella menyuruhnya berjaga, sebab apabila nyawanya terancam nanti, ia memberi pria ini tugas untuk menembak si penelpon.
Sebuah rencana sudah di tetapkan. Sekitar satu jam perjalanan pada akhirnya mobil ini berhenti disebuah tempat dekat dermaga. Namun disini begitu sepi.
Seorang supir mobilnya keluar lalu menarik paksa Bella untuk mengikutinya. Kedua matanya masih di tutup, cengkraman kasar itu melilit pergelangan tangannya. Bella hanya diam disana tanpa perlawanan.
Pria yang tadi ada disampingnya sepertinya mengikuti arahannya. Itu terbukti ketika langkah kakinya tak lagi terdengar.
Hingga mereka berhenti tepat di satu tempat saat ini. Disana terlihat Tasya dan Reiner tersenyum melihat keberadaan Bella.
Angela duduk terikat sambil ditutup lakban mulutnya. Angela benar-benar tak percaya menyaksikan Bella yang datang seorang diri kemari dengan keadaan perut yang membuncit.
Berulang kali Angela berteriak dan berontak sebagai isyarat agar Bella pergi saja. Reiner dan Tasya sangat senang melihat rencananya berhasil disini.
Dengan satu isyarat Reiner menyuruh anak buahnya membuka tutup mata Bella. Dan disana Bella tercengang melihat kehadiran Tasya tutur hadir dalam rencana Reiner. Ia juga mematung ketika melihat Angela duduk disana sambil meronta-ronta.
Wajah adik iparnya itu sedikit melebam. Sungguh biadab sekali orang yang menyiksanya sampai semacam itu. Kali ini Bella menatap lekat ke arah Reiner dan Tasya. Sungguh ia benci sekali pada dua orang dihadapannya saat ini.
"Sebenarnya apa keinginanmu Reiner?" Tanya Bella padanya.
Reiner terkekeh mendengar pertanyaan itu. Sungguh kali ini ia tak akan meminta Bella untuk ikut bersamanya. Namun ia sudah cukup lelah dengan kondisinya yang hancur. Ia akan menggunakan Bella sebagai jaminan untuk mengembalikan kekuasaannya kembali.
"Kemarilah!" Ucap Reiner padanya.
Angela semakin berontak melihat itu. Ditambah Bella sama sekali tak takut untuk melangkah. Ini buruk, Angela takut Reiner ini akan segan memukuli Bella nantinya.
Pria ini sudah tidak waras memang. Lebam yang ia alami ini pun juga karenanya. Sungguh pria ini sudah kehilangan akal. Hatinya sudah mati. Bangkrut membuatnya menjadi seorang manusia seperti iblis. Tak ada belas kasih disana, hatinya sudah mati.
__ADS_1
...Ide lebih berkuasa dari senjata...
...Kita tidak akan membiarkan musuh memiliki senjata, haruskah kita membiarkan mereka mempunyai gagasan-gagasan brilian...