Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Aku milikku


__ADS_3

Seluruh pegawai rumah sudah di ungsikan Bella ke tempat lain. Sebel malam ini terjadi, Bella sudah memberikan beberapa dari mereka komisi spesial juga tiket liburan.


Sehari ini mereka sedang berpesta di kapal pesiar mewah milik Kaneki Corps. Bella memberikan fasilitas itu sebagai embel-embel hari Valentine.


Rumah ini sepi, hanya ada dirinya yang sedang berdiri menatap tubuhnya di pantulam kaca.


Semu merah itu jelas menghiasi wajahnya. Bagaimana tidak? Baju kurang bahan itu sedang ia kenakan. Sengaja memang untuk menyebut suaminya.


Jika ini bukan Valentine, Bella tidak akan memakai gaun tidur itu. Seluruh persiapan sudah usai. Beberapa menit lagi suaminya akan datang.


Bella beralih ke arah ranjang sekarang. Meraih iPad nya, ia sedang mengontrol seluruh kamera CCTV yang ada di rumahnya.


Sepuluh menit kemudian Brian pun sampai di rumah. Mobilnya ia parkir seperti biasanya di depan garasi.


Terlihat Pria tampan itu keluar dari dalam mobil sambil celingukan. Mungkin aneh baginya melihat rumah mereka sesepi ini.


Tanpa berpikir panjang lagi Brian pun masuk ke dalam rumahnya. Ketika membuka pintu ia di kejutkan dengan penerangan rumahnya yang cukup elegan.


Tidak terlalu gelap namun beberapa lilin menghiasi jalannya. Beberapa lilin itu membuat sebuah jalur. Ini bukan lilin sungguhan, ini adalah lilin lampu.


"Indah sekali hadiahmu sayang!" Lirih Brian.


Brian masuk ke dalam mengikuti jalur lilin itu. Hingga ia tiba tepat di meja makan. Ada banyak pertanyaan dalam kepalanya. Kemanakah perginya para pegawainya. Mengapa rumahnya sangat sepi.


Tibanya dirinya di depan meja makan. Ada banyak kue coklat disana. Juga matanya melihat sepucuk surat tergeletak di atas meja makan.


Brian meraih sepucuk surat itu. Mengeluarkannya dari dalam amplopnya. Lantas ada satu kertas pink di lipat. Brian pun membukanya.


"Wah, selamat datang Hunny! Jangan coba-coba untuk segera masuk ke kamar kita. Aku memasak banyak sekali kue coklat, di dalamnya ada sepucuk kertas yang ku selipkan. Temukan, dan bawa itu padaku! Aku sedang berada di atas tempat tidur sekarang, menunggu datangmu."


Lagi-lagi kalimat menggoda itu ada lagi. Hal itu semakin membuat Brian bersemangat rasanya.


Ia menarik kursi di meja makan. Lantas tangannya mulai menikmati kue coklat buatan istrinya disana. Sambil mencari sepucuk kertas yang di selipkan dalam kue itu katanya.


Dari dalam kamar Bella terkekeh melihat suaminya yang sibuk mencari sepucuk surat kertas itu.


Kira-kira Bella membuat sekitar seratus kue coklat berbentuk bulat. Pada akhirnya Brian menemukannya di sela-sela gigitannya. Brian mengeluarkan itu, lantas membukanya lalu membacanya.

__ADS_1


"Zonk, cari aku lagi!"


Brian sungguh dibuat terhibur rasanya atas permainan istrinya. Kembali ia memakan sisa kue yang masih banyak itu.


Sekitar lima menit pada akhirnya Brian menemukan lagi kertas itu. Lantas ia kembali membacanya.


"Terima kasih sudah menikmati kue buatanku sayang. Saatnya menuju kekuatan kedua! Cuci dulu tangan dan mukamu sebelum masuk ke kamar!"


Dengan penuh semangat Brian pun berjalan ke arah dapur. Di wastafel ia membersihkan tangannya begitupun dengan wajahnya.


Setelah merasa cukup ia pun segera menaiki anak tangga untuk menuju kamar mereka.


Melihat suaminya yang mulai berjalan ke arah kamarnya Bella pun menaruh iPad nya di atas meja lalu berpura-pura tidur membelakangi pintu.


Ketika pintu kamar itu terbuka Brian tersenyum mendapati istrinya yang berada di dalam selimut sambil membelakanginya.


Perlahan Brian menghampirinya. Sebelum itu tak lupa ia mengunci pintunya. Ketika ia duduk disamping ranjang, Brian mulai membuka selimut tebal yang menutupi tubuh itu.


Pemandangan yang menarik untuknya. Hal itu membuat Brian tersenyum lantas ia memilih melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Ikut tidur disana sambil menciumi tengkuknya.


"Happy Valentine Days, Sayang!" Lirih Brian berbisik.


"Happy Valentine Days, Hunny! Terima kasih untuk selalu bersamaku selama ini."


Ucap Bella lembut, Brian tersenyum mendengar itu. Pemandangan wajah istrinya ini cantik sungguh. Sampai kapanpun, Brian tidak akan pernah bosan menatap wajah ini.


"Sayang, apa yang terjadi dengan rumah kita?" Tanya Brian padanya.


Dan pertanyaan itu tentu sukses membuat Bella tertawa.


"Aku mengusir mereka!" Canda Bella.


Brian terkejut, apakah benar Bella mengusir seluruh penghuni rumah ini.


"Prince dan Sienna?" Tanya Brian padanya.


"Iya sayang, untuk hari ini aku sengaja mengirim mereka bersama adikku. Stevan bilang katanya disana ada pesta barbeque. Mereka pasti akan senang bukan kesana?" Tanya Bella pada suaminya.

__ADS_1


"Oh jadi malam ini kau khusus untukku. Dan supaya tidak ada pengganggu dan kita lebih leluasa kau mengusir semua orang dirumah ini, sayang?" Tanya Brian tak percaya.


Bella tak menjawab itu ia hanya mengalungkan kedua tangannya ke leher Brian lalu tersenyum.


"I am Yours..." Lirih Bella.


Sumpah demi apapun, rasanya Brian sudah tak sanggup lagi menahan ini semua. Ritual malam itu pada akhirnya dimulai.


Berawal dari cumbuan mesra dan beraturan. Tibalah mereka pada keganasan yang hakiki. Saling meraung satu sama lain di atas ranjang.


Proses pembuatan Prince pun kembali terulang disana. Hanya ada suara teriakan mesra diantara mereka memenuhi kamar itu.


Permainan panas itu berlangsung cukup lama. Sampai pada akhirnya keduanya mulai sama-sama letih dan terdiam.


Sembari mengatur nafas mereka satu sama lain. Yang tersisa saat itu hanya kebahagian yang akan terus membara tiap kali mereka melaksanakan itu.


Atas nama cinta, Brian kembali membelai kepala istrinya yang bersemayam manja di atas dadanya.


"Sayang, terima kasih untuk segalanya." Ucap Brian padanya.


"Mengapa harus berterima kasih?" Tanya Bella lirih.


Tenaganya hampir terkuras habis rasanya. Namun itu tidak menghentikan permainan mereka sejak tadi.


"Sebab kau berada disini bersamaku sekalipun reputasi ku hancur." Jawab Brian padanya.


"Kau ini bicara apa? Hancur atau tidak nya dirimu, aku akan selalu bersamamu." Jawab Bella memejamkan matanya mencoba mendengar detak jantung Brian disana.


"Aku menyukai suara detak jantung ini. Tiap kali aku mendengarnya, hatiku tak henti-hentinya bersyukur. Sebab kau masih bernafas disini bersamaku. Jika dihitung sudah berapa kali ya kita di pisahkan?" Ucap Bella.


Hal itu kembali mengingatkan mereka akan perjuangan juga segala hal yang terjadi sebelum penyatuan ini terjadi.


Mengingat itu membuat Brian semakin mengeratkan pelukannya. Lantas ia berbalik ke samping merengkuh Bella begitu erat. Menenggelamkan wanita itu larut dalam pelukannya. Bella membalas pelukan itu.


"Bella... Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" Lirih Brian mencium lembut puncak kepala Bella.


"Aku juga Hunny..." Lirih Bella.

__ADS_1


Cinta mereka mungkin sempurna saat ini. Namun keluarga kecil mereka belum cukup sempurna apabila Brian masih belum mampu menerima Sienna dengan segenap hatinya.


__ADS_2