Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pelukan Malam Ini


__ADS_3

...Teman palsu itu seperti daun musim gugur, mereka tersebar di mana-mana...


Dua hari setelah kelancangan Reiner padanya, Bella tidak datang ke dalam Toko buku itu lagi. Brian lah yang melarangnya pergi kesana. Namun ia sama sekali tak mengatakan perihal Themo dan Rey yang mengawasinya.


Themo dan Rey menceritakan perihal kejadian itu pada Brian di markas. Hari itu, ketika menerima kabar demikian Brian kesal rasanya.


Ingin rasanya Brian datang kesana, menggebrak meja mereka berdua. Namun mendengar penjelasan dari Themo dan Rey, yang menceritakan perihal Bella yang menolak. Itu membuat Brian bernafas lega.


Bella juga sedikit takut pada kemarahan Brian padanya setelah kejadian itu. Malam itu, setibanya Prianya pulang ke rumah. Brian masuk kedalam kamar secara tiba-tiba.


"Bella?!"


Panggilan itu membuat Bella menoleh ke arahnya. Mengapa tidak ada embel-embel romantis disana. Tidak biasanya suaminya itu datang padanya, lalu hanya memanggil namanya saja.


"Iya Hunny?" Tanya Bella lembut, disana Brian meletakkan kopernya asal, menjatuhkannya atas lantai.


Tubuhnya berjalan ke arah Bella. Tepat ketika ia sampai disana, Brian menutup laptop yang sedang Bella gunakan.


"Hei,Ada apa?" Tanya Bella heran menatapnya.


"Kau darimana? Dan siapakah Pria yang kau temui di dalam Toko buku itu?"


Bella terhenyak mendengar pertanyaan itu. Bukankah dirinya sudah menolak seluruh bodyguard untuk ikut bersamanya. Lantas, darimanakah suaminya ini tau perihal pertemuannya dan Reiner.


"Jawab aku!" Tanya Brian serius kali ini. Ia duduk tepat dihadapan Bella saat ini.


"Hunny, dia hanya seorang teman!"


"Teman, tapi berani menyentuhmu?" Lagi-lagi, lontaran pertanyaan itu membuat Bella bungkam.


Apa Brian ini memiliki seribu mata di bumi ini. Mengapa segala hal yang ia alami, bahkan Brian tau sepenuhnya. Detail, tak terlewat apapun.


"Sayang, dia hanya menjabat tanganku!" Lirih Bella, ia masih lembut menjelaskan segalanya pada Brian.


Bella menyentuh salah satu tangan kekar Brian. Mencoba meredam amarah, juga api kecemburuan disana. Bella paham, suaminya ini sangat posesif padanya.


"Sayang, aku melarangmu pergi kesana lagi!" Mendengar itu, ingin rasanya Bella berprotes sekarang.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Bella, kedua netra mereka saling menatap satu sama lain.


"Aku benci melihatmu dekat dengan pria lain!"


"Hunny, sudah kubilang dia hanya sebatas teman."


"Bahkan dia menyentuh dirimu, dia menyentuh milikku! Tubuhmu ini hanya kepunyaanku seorang, tak ada tangan manusia lain yang boleh menyentuhmu selainku!"


Ucap Brian geram, amarah dalam matanya itu membuat Bella dia terpaku. Untuk pertama kalinya ia melihat Brian, begitu kesal disini.


Bella mencoba meredam kekesalan dalam hatinya. Ia tak ingin masalah ini semakin rumit nantinya. Mungkin, ada waktu dimana ia akan membicarakan ini lagi. Namun tidak untuk saat ini.


Bella menangkup wajah suaminya, lalu tersenyum ke arahnya. Telapak tangannya membelai lembut rahang tegas itu.


"Maaf, jika hari ini aku membuatmu marah. Hunny, aku sama sekali tak bermaksud menyakitimu. Kau tau aku sangat mencintai buku? Itu adalah alternatifku dari rasa jenuh."


Bella menjelaskan itu dengan intonasi rendah, tak ada kekesalan dalam masa bicara itu. Karena baginya, batu dibalas dengan batu tidak akan pernah ada yang menang. Mengalah bukan berarti kalah bukan.


"Sayang, aku tak ingin menyakitimu dengan perilaku juga perkataanku. Namun disini, rasanya sakit sekali jika aku melihat dirimu berdua bersama seorang pria." Jelas Brian, Bella tersenyum mendengar penuturan itu.


Rupanya masih sama, segalanya masih tetap sama. Brian masih tetap posesif juga seorang pencemburu yang luar biasa.


"Hunny, aku milikmu seorang! Apa kau meragukanku disini?"


Sejenak Brian menatap kedua bola mata itu dalam. Disana sama sekali tak ada dusta. Bella berkata jujur, tulus dari dalam hati. Brian mendorong kepala istrinya itu mendekat ke arahnya, sebuah ciuman lembut dengan durasi panjang terjadi.


Mungkin hubungan mereka akan cepat sekali menghangat, sekalipun terkadang pertengkaran diantaranya muncul.


Saat ini di atas balkon rumahnya, Bella duduk di ayunan panjang. Ayunan ini empuk layaknya sofa. Didepannya ada sebuah meja kecil, di sana ada secangkir matcha hangat, beserta satu buku yang baru saja ia baca.


Bella kembali mengambil cangkirnya, meminum matcha didalamnya. Netranya menatap ke arah depan. Pemandangan dari lantai tiga rumahnya cukup indah memang.


**Drttttttt


Drttttttt


Drtttttt**

__ADS_1


Sebuah panggilan dari ponselnya, sejenak mengalihkan perhatiannya. Bella meletakkan ponselnya tepat disampingnya. Netranya terkejut mendapati nomor tak dikenal sedang meneleponnya.


Penasaran tentang siapakah penelpon itu, Bella pun meraih ponselnya. Sejenak ia menatapnya, mencoba mengingat barangkali ia lupa menyimpan nomor orang-orang yang ia kenali.


Namun nyatanya, Bella benar-benar tak mengenali pemilik dari nomor telepon itu. Disitu, Bella memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.


"Hallo?"


Suara itu berat, suara baritone milik seorang pria. Bella mencoba mendengarkan, apa keperluan manusia ini terhadapnya.


"Lihatlah Nyonya, betapa sombongnya dirimu!"


Sungguh Bella sama sekali tak mengerti apa yang sedang Pria itu maksud disini. Bella masih diam mengacuhkannya.


"Kau mirip seperti seorang pelacur, datang menerima lelaki lain dengan ramah. Menggodanya dengan senyummu, lantas ketika lelaki itu menyentuhmu. Kau, pergi!"


Pernyataan itu membuat Bella membulatkan mata. Disana ada satu nama dalam kepalanya, itu adalah, Reiner. Namun mengapa dia berucap demikian. Sebelumnya, mereka berdua sama sekali tak ada masalah satu sama lain.


"Kau siapa?"


Kali ini Bella mencoba memberanikan dirinya bertanya. Namun dari dalam sana, suara bahak tawa menggema. Pertanyaannya sama sekali tak dijawab.


"Kau tidak akan tau siapa aku disini! Pada intinya, aku sedang mengawasimu saat ini. Aku melihatmu duduk diatas balkon rumahmu sekarang. Mari kita hitung mundur nona! Dalam waktu dekat, aku akan membuatmu menderita!"


Tutttttttt


Kalimat ancaman itu membuat Bella kalut rasanya. Teror darimanakah ini, mengapa harus ada hal semacam ini ketika hidupnya mulai damai. Jika Brian tau hal ini, Pria itu pasti akan berupaya mencari tau perihal penelpon misterius ini.


Malam ini, Bella memutuskan untuk menceritakan perihal hal ini pada Suaminya. Sejenak Bella memijat pelipisnya, tak habis pikir rasanya. Sekalipun nama Reiner terlintas dalam kepalanya, namun, Bella sama sekali tak memiliki bukti akan hal itu.


Dari balik kaca mobil, seseorang sedang berseringai menatap Bella disana. Mereka berdua, salah satu dari mereka adalah sang penelpon. Salah satu yang lain, adalah perancang taktik handal.


Dua orang manusia itu datang kemari, untuk suatu alasan. Pembalasan dendam, lara hati yang mereka alami. Satu lara hati terhadap Bella sedang satu lagi, lara hati terhadap Brian.


Kerja sama penuh konspirasi negatif ini sedang direncanakan. Bahaya, kembali mengintai dua pasangan yang baru saja mendapatkan kedamaian.


...Tumbuh dewasa berarti menyadari bahwa banyak temanmu sebenarnya bukan teman sejati...

__ADS_1


...Teman palsu: begitu mereka berhenti berbicara denganmu, mereka mulai membicarakanmu...


__ADS_2