Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pria dari Masa Lalu


__ADS_3

...Ketika aku melihatmu, aku bisa merasakannya...


...Aku melihatmu dan aku merasa sudah di rumah...


...Keluarga adalah satu mahakarya alam...


...Keluarga, seperti sebuah cabang pohon,...


...Kita semua tumbuh ke arah yang berbeda...


...namun akar kita tetap satu...


Eddie begitu khawatir kali ini, pasalnya apa yang dikatakan Bella di telfon membuat hatinya kalut. Sungguh dia tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarganya lagi. Dengan kecepatan yang tidak manusiawi, Eddie mengemudikan mobilnya.


"Aku tau kau khawatir, tapi jika kau begini kita bisa ikut mati juga." Ujar Angela, Eddie diam mendengar itu. Pikirannya kali ini hanya di penuhi tentang kakaknya Brian, apakah dia baik-baik saja. Kawanan Mafia yang berjaga tak jauh dari tempat kejadian, sudah terjun lebih dulu ke tempat Brian.


Suara Ambulance mulai terdengar, tak jauh darisana kerumunan aparat mulai menyita perhatiannya. Eddie berhenti disana, membuka pintu mobilnya dan mendekati kerumunan. Disana ia tak menemukan Brian, namun di sela ke khawatiran itu terlihat Bella berada didalam Ambulance bersama dengan Brian didalamnya.


"Kakak, kau tak apa?" Tanya Eddie khawatir, Brian yang selamat itu hanya tersenyum. Ia melepas topi pelindungnya. Menarik pelan peluru yang masih menempel di topinya.


"Tidak sia-sia kita sediakan ini untuk kawanan kita." Ucap Brian santai, seraya tertawa.


"Kakak, ini bukan hal yang sepele. Kau lihat kau akan dibunuh." Ucap Eddie panik, namun Brian tetap tenang disana.


"Dua peluru, dari sniper, gedung sebelah kanan. Kira-kira sekitar 20 lantai, melihat tekanan pelurunya, sepertinya itu tak jauh dari sini." Jelas Brian, seraya masih memperhatikan peluru itu.


"Dia pasti mengira kau sudah tewas, tapi bagaimana kau tau akan di serang?" Tanya Eddie, Brian duduk sekarang.


"Jawabannya sederhana, ban mobilku pecah, tidak bocor. Didalamnya polisi menemukan peluru sniper juga, kau bagus dalam merancang kaca mobil kita sehingga tak nampak dari luar. Itulah mengapa dia menembak ban mobilku, karena dia ingin aku keluar dan memeriksa." Jelas Brian, Bella menggenggam erat tangan kekasihnya. Kenapa harus ada penyerangan lagi sekarang, kenapa masih saja ada bahaya yang mengintai kekasihnya.


"Tandanya, orang ini mengikutimu sampai ke hotel." Tambah Bella, ia mulai mengerahkan analisinya tentang situasi disini. Tentang konspirasi yang mungkin saja terjadi. Cukup lama ia vacum dari profesi detektifnya.

__ADS_1


"Iya sayang, kemungkinan dia mengikutiku kembali dari gedung pusat ke hotel." Ucap Brian.


"Aku tidak begitu tau mengenai ini semua, kalian lebih profesional di bidang ini daripadaku. Mungkin untuk tenaga medis dan serupanya, aku bisa memenuhi itu." Ucap Angela menawarkan bantuan.


"Tentu saja adik ipar, jika memang akan ada perang lagi setelah ini. Aku dan Ed pasti sangat membutuhkanmu, terima kasih." Ucap Brian.


"Hun, mungkin itu artinya dia menginap juga di hotel." Tambah Bella.


"Mungkin juga, dia hanya masuk dan mengikuti kalian. Di tambah saat ini, Brian penampilannya berubah seperti 10 tahun yang lalu." Mendengar itu, Bella merasa bersalah kali ini.


Genggaman tangannya pada Brian meregang, Brian menyadari perasaan Bella yang mulai berubah, ia mengeratkan genggaman tangannya pada Bella.


"Ini bukan salahmu, aku memang yang menyuruhmu mengubahku. Jadi, jangan salahkan dirimu." Ujar Brian.


"Baiklah, ini bukan hal yang akan kita bahas disini. Kita akan bahas ini di markas, bersama Themo dan kawanan Mafia lainnya." Ujar Eddie.


"Kalian kembalilah, kami akan mengurus semua ini." Tambah Eddie, Brian mengangguk mendengar itu. Ambulance itu pun pergi dari sana, mereka mengantar Brian dan Bella di dalamnya menuju markas pusat.


"Pakai saja!" Ucap Bella, Brian menautkan alisnya mendengar itu seraya menatap Bella.


"Kita sudah aman." Jawab Brian santai, sembari melepas rompinya, namun lagi-lagi Bella menahannya.


"Es Batu dungu! Pakai saja!" Pekiknya, itu membuat Brian terkejut sekaligus tertawa. Raut muka penuh cemas itu terukir jelas di wajah Bella.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Bella.


"Tidak, hanya saja kau lucu!" Jawab Brian, kesal rasanya melihat sifat tenang Prianya itu. Padahal, ia hampir saja mati jika tak mengenakan rompi itu tadi.


"Lucu kau bilang! Hun, kau baru saja menerima tembakan dan kau bilang lucu. Astaga, apa kau ini waras, Hun?" Ucap Bella tak percaya, Brian tau ke khwatirannya, juga segala ketakutannya.


Mencoba menahan tawanya atas ocehan itu, Brian menunduk. Tak lama ia kembali menatap Bella dan tersenyum, Brian mengusap lembut kepala kekasihnya itu.

__ADS_1


"Aku mencintai seorang detektif yang cerdas. Aku percaya, kecerdasanmu bisa menemukan pelakunya. Bisakah aku mempercayakan tugas ini padamu?" Tanya Brian serius kali ini, saat ini ia memang sangat membutuhkan Bella.


Bella adalah detektif paling teliti keturunan langsung dari Tuan Drew, seorang Marinir juga berprofesi sebagai detektif ternama.


"Aku membutuhkan, analisis dan kecerdasanmu." Tambah Brian, Bella mengangguk mendengar itu. Tentu saja dia akan membantu kekasihnya disini, bagaimanapun dia tidak akan membiarkan Brian-nya terluka.


"Tanpa kau memintanya, aku akan melakukannya." Jawab Bella tulus.


"Aku percaya padamu, tapi bolehkah aku meminta satu hal lagi?"Tanya Brian.


"Apa itu?"


"Tetaplah hidup, mungkin ada satu keadaan dimana aku tidak ada disampingmu saat itu. Dan kau harus menghadapi masalahmu sendiri. Tamengmu tidak akan selalu ada bersamamu, jadi jika situasi menyuruhmu mundur, maka mundurlah. Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik." Jelas Brian, Bella mengangguk mendengar penuturan itu.


Ambulance itu berhenti tepat didepan kantor pusat, disana, Brian mengenakan kaca mata hitamnya lalu turun dari mobil. Di ikuti dengan Bella yang berada di belakangnya. Untuk saat ini, markas pusat adalah tempat teraman baginya. Karena disinilah kawanan Mafia nya berada, mereka akan siap menghadapi kekacauan apapun jika sesuatu terjadi disini.


Masih ditempat kejadian. Eddie mulai menerka-nerka darimana dan siapa manusia yang datang kemari, dengan tujuan ingin melenyapkan kakaknya. Sejenak Eddie memperhatikan beberapa gedung di sebelah kanan, ia mencoba mencari tau dimanakah posisi penembak itu berada. Ada sekitar tujuh gedung berlantai 20 arah samping. Disana Eddie mulai menalar, dimanakah posisi sniper itu berada.


"Tuan, bukti ini sudah kami kemas."Ucap salah seorang bawahan padanya, itu membuat Eddie mengangguk.


"Simpan, dan bawa bukti itu ke markas pusat." Ujar Eddie, Angela menghampiri Pria nya yang masih fokus menatap gedung.


"Kita bisa pergi dari sini?" Tanya Angela.


"Tentu, kita pergi sekarang." Jawab Eddie seraya mengajak Angela kembali masuk kedalam mobil mereka.


Tak jauh dari sana, dengan teropongnya seorang Pria sedang mengawasi gerak gerik mereka. Yakin bahwa Eddie sudah hilang dari perhatiannya, ia pun tersenyum.


"Seperti apa yang sudah kau lakukan, tidak akan ada kebahagian dalam hidup kalian. Sekali penjahat, maka akan tetap penjahat selamanya." Ujarnya, seraya duduk di kursinya sambil menatap langit pagi yang cerah itu.


Entah siapapun pria itu, itu adalah awal pertanda buruk dalam kehidupan Brian dan Eddie. Dia manusia yang membawa kebencian murni, dalam hatinya. Hal berbahaya sedang mengintai mereka sekarang, semoga Tuhan berbaik hati merangkai skenario indah untuk ini. Semoga tidak ada skenario pahit, yang di selipkan lagi dalam kesempatannya, untuk Brian.

__ADS_1


__ADS_2