
...Seorang pembohong tidak akan dipercaya...
...Bahkan ketika dia mengatakan yang sebenarnya...
...Jika kamu tidak ingin terpeleset besok, katakan yang sebenarnya hari ini...
__________
.
.
Hari ini rasanya Bella muak pada dirinya sendiri, padahal ia sudah berjanji akan melakukan apapun demi kebebasan kekasihnya. Bella dengan segala penyesalannya memaksa langkahnya masuk menuju sel Brian. Disana terlihat Bria duduk bersandar sambil menatapnya sayu, wajah itu masih banyak belur, darahnya tak lagi mengucur namun kulit wajah itu terlihat cukup pucat. Bella bersimpuh kali ini sejenak ia memandangi paras itu, mengenaskan sekali rasanya. Selama bersamanya dirinya belum pernah menyaksikan Brian sakit bahkan babak belur sampai seperti ini, atau selemah ini. Perlahan telapak tangan itu menyentuh wajah Brian, disana Brian memejamkan matanya.
Bella tak akan menangis sungguh sekalipun hatinya sehancur ini, namun ia harus tetap kuat. Bella yakin, setegar apapun manusia, sekuat apapun dia jika dihadapkan pada kematian yang dekat nyalinya pasti akan ciut. Disana Brian menggelengkan kepalanya, benar saja dalam kelopak mata itu tersirat ketakutan yang begitu besar.
"Bella, bagaimana rasanya mati dengan tali gantung?"
Lirihnya, Bella diam mendengar itu bahkan dirinya belum pernah merasakan kematian.
"Bella, aku tak bersalah disini! Hukumanku sudah kujalani,lantas mengapa aku harus dihukum ulang?"
Pertanyaan demi pertanyaan menyakitkan itu seakan mengiris hati Bella. Kali ini segala cara sudah Bella lakukan, Bella membawa kepala itu masuk ke arahnya merengkuhnya. Brian menyamankan kepalanya disana, ini hangat mereka sudah lama tak bertemu, rindu itu kini tersalurkan sudah.
"Hunny, maafkan aku!"
Hanya itu, hanya itu kalimat yang mampu Bella ucapkan tak ada lagi. Kali ini hatinya benar-benar berserah pada Tuhan tak ada yang lain, harapannya hanya Tuhan ia percaya apapun yang terjadi saat ini pasti beralasan.
__ADS_1
"Kau tidak bersalah, kita tidak bersalah, lantas mengapa permohonan maaf itu kau ucapkan?"
Racauan demi racauan itu mengalun begitu saja, bahkan untuk berucap pun harus sesusah ini. Tubuhnya bahkan seperti mati rasa, Bella merasakan panas tubuh itu. Dari luar sel terlihat Stevan memperhatikan mereka, sengaja memang dirinya kemari membawa sebuah selimut. Bella mengambil selimut itu tatkala Stevan menyodorkannya padanya. Bella menutupi tubuh lemah itu dengan selimut, berharap semoga rasa dingin itu pergi dari dalam tubuh Brian. Bella kembali merubah posisinya saat ini, meletakan kepala kekasihnya itu diatas pahanya.
"Hunny, kau memintaku berada disini bukan? Hunny, aku selalu mencintaimu bagaimana pun dirimu. Manusia tidak akan sebejar itu tanpa alasan, dan dirimu beralasan."
Ujar Bella, Brian memejamkan matanya namun ia masih mendengarkan merasakan belaian demi belaian mengusap kepalanya.
"Aku berterima kasih sekali, bersyukur karena persimpangan juga konflik mempertemukan kita, menyatukan kita. Hubungan kita serumit ini ya, rasanya bumi seakan tak merestui, bahkan tak mengizinkan kita bersama. Selalu ada perpisahan dalam ceritanya."
Ujar Bella lagi, Stevan menunduk mendengar itu hatinya tersentuh. Sungguh ia tak pernah melihat kakak perempuannya serapuh ini, bahkan setabah ini.
"Hunny, aku percaya Tuhan. Aku percaya! Manusia yang diberi kesempatan tidak akan hilang semudah ini. Hunny, aku mencintaimu."
Ujarnya lagi, tak kuasa rasanya menahan air mata itu mengingat beberapa jam lagi tali gantung itu akan terlilit tepat dileher kekasihnya, mencekiknya sampai menemui ajalnya. Membawanya mengarungi akhirat membawa buku pahala dan dosanya dihadapan Tuhannya. Buminya akan menjadi saksi atas kematiannya, lalu orang-orang yang ia cintai, hanya akan mengingatnya sebagai kenangan.
Ditambah kekejaman penjara dan aparat pada pidana disana, sehingga menghilangkan satu nyawa pidana disana. Mereka murka, berbondong-bondong berjalan ke arah gedung jaksa sambil membawa bendera juga poster pembelaan atas nama keadilan.
Memang sepertinya harus begini, petinggi tidak akan berani melawan rakyatnya jika rakyat mereka bersatu padu melawannya. Aparat terhitung jumlahnya, namun rakyat lebih besar daripada aparat. Pemilihan mereka berdasarkan demokrasi, maka hormatilah sesama manusia sekalipun posisimu tinggi. Karena apa yang kau anggap kecil, apa yang kau remehkan kadang bisa membunuhmu, menjadi besar dan mencekikmu. Jangan pernah remehkan apapun, selama kau berada dalam semestanya. Tuhan unik bersama alurnya, manusia tak akan menyangka hal-hal tak terduga yang akan terjadi.
Eddie didalam mobilnya bersama dengan Han juga Themo dan Rey tersenyum bangga melihat hasil dari upaya mereka.
"Saat satu kebenaran disangkal! Maka kebenaran lain akan datang membela!"
Ujar Eddie merata memperhatikan rombongan manusia yang berjalan memenuhi jalanan dari balik kaca mobilnya. Han pun ikut tersenyum, mereka tak pernah menyangka upaya mereka akan berhasil dan membuahkan hasil.
Butuh waktu dua jam bagi para pendemo untuk sampai kesana, yang artinya waktu kematian Brian akan diselenggarakan satu jam lagi. Diruangan berbeda para Algojo sedang mempersiapkan hukuman mati yang akan diselenggarakan, tali tampar kuat itu mereka lilitkan pada sebuah tiang memanjang. Noah juga Gabriel dari kejauhan mematri tempat eksekusi itu mereka senang gembira, karena memenangkan kasus ini, sungguh tak ada kata-kata lagi yang mampu melukiskan kegembiraan itu.
__ADS_1
Ditengah kebahagiaan itu seorang penjaga gerbang datang memenuhi mereka, ia memberitahukan perihal lautan manusia didepan gedung jaksa. Mendengar itu baik Noah juga Gabriel terkejut, bagaimana mungkin rakyat mengetahui apa yang terjadi dalam persidangan. Logika Noah bekerja kali ini, ia tau Bella membawa penyadap disini, ia juga membawa kamera pengintai selama persidangan. Sial, sungguh sial mengapa ia bisa seteledor ini. Noah dan Gabriel bergegas menuju halaman, mencoba menghalau rakyat disana sampai eksekusi Brian dijalankan.
Didalam sel terlihat Brian pulas sekali tidur dalam pangkuan Bella, ia terlelap disana sudah ada dua jam lebih. Bella membiarkan itu, membiarkan manusia yang teramat ia cintai itu terlelap disana. Sejak tadi Bella mematri wajah itu, memainkan rambutnya, sesekali ia juga mengusap kepalanya.
Dari arah lain, Stevan berlari ke arah sel Brian. Tepat ketika ia berhenti tepat disana, Bella terhenyak terkejut melihat kedatangan adiknya itu. Stevan terengah-engah mencoba mengatur nafasnya sebentar sambil jari telunjuknya menunjuk arah pintu masuk.
"Ada apa Stev?"
Tanya Bella heran padanya, yakin nafasya sudah normal Stevan pun berseri-seri.
"Kakak, Eddie dan Han berhasil membawa massa kemari! Kakak, masih ada harapan disini! kau tenang saja, percaya Tuhan itu memang adil sungguh!"
Binar matanya kembali terbit, kepercayaannya pada Tuhan tak sia-sia. Bella tersenyum seraya memandangi Brian yang masih terlelap. Beberapa aparat mulai datang masuk kedalam sel Brian.
"Bangun kau!"
Aparat itu menendang tubuh Brian, Bella terkejut melihat itu.
"Apa-apaan kau ini hah!"
Murka Bella, namun dua aparat itu sebelum Brian membuka matanya membawanya paksa menyeretnya. Bella mencoba menghalau itu begitupun dengan Stevan. Namun todongan senjata membuat mereka mundur.
"Ini urusan negara nona! Jadi kau diam saja! Hukuman mati untuknya dipercepat, perintah hakim!"
Ujar aparat itu sembari menyerat tubuh lemah Brian untuk mengikutinya.
...Kecurangan dan kebohongan bukanlah perjuangan, itu adalah alasan untuk putus...
__ADS_1
...Kebenaran lurus seperti anak panah, sedangkan kebohongan berputar seperti ular...