
...Apapun yang membuat Anda tersenyum, pertahankan!...
...Apa pun yang membuat Anda sedih, tinggalkan!...
______
Malam ini jam tepat menunjukkan pukul sebelas malam. Brian sedang merapikan beberapa berkas miliknya. Sejak tadi ponselnya berdering, berungkali Brian mengangkatnya. Itu adalah panggilan dari Istri tercinta, yang sedang berada dirumah menunggunya.
Sejak tadi pembicaraan antara mereka dalam telpon hanya sekedar pertanyaan Bella, mengenai kapankah Brian akan pulang. Meskipun kesal berulangkali di telpon, namun mau bagaimanapun juga Bella istrinya dan itu sudah biasa.
Berkas terakhir Brian letakkan di dalam laci mejanya. Selesai dengan hal itu, Brian pun memakai kembali jas miliknya yang ia taruh di kursinya. Setelah memakai jas itu ia pun pergi dari dalam ruangannya.
Krekkkk
"Tuan, anda sudah selesai?"
Baru saja ia membuka pintu ruangannya rupanya disana ada Tasya. Sejak kapan gadis ini menunggunya disana. Brian memutar bola matanya memperhatikan beberapa netra pegawainya, yang sedang bekerja shift malam disini.
Tatapan itu membuatnya tak nyaman. Tatapan itu seakan mengintrogasi Brian. Mereka sudah tau Brian beristri. Mereka yang berada dan dipekerjakan dalam kantor, rata-rata adalah orang-orang Perancis.
"Tuan, mari kita pulang!"
Tasya menarik lengan kekar Brian seraya menuntunnya berjalan. Demi apapun Brian benar-benar risih dibuatnya, segera ia melepaskan tangannya dari cengkraman Tasya.
"Kenapa Tuan?"
Tanya Tasya padanya, namun Brian tetap diam. Mereka berjalan beriringan menuju lantai bawah, tentunya mereka akan memerlukan lift untuk sampai kesana.
Disana ketika lift terbuka, beberapa pegawai keluar dari sana. Kosongnya lift itu membawa kedua tubuh manusia ini masuk kedalam. Beberapa detik Brian menunggu, tak ada manusia yang masuk kemari selain dirinya dan Tasya. Ini buruk sungguh, mungkin jika dirinya terus berada disini bersama Tasya.
Beberapa Paparazi mungkin akan datang, meliput dirinya menjerumuskannya pada kasus perselingkuhan. Tak ingin mengkhianati belahan hatinya. Ketika pintu lift akan tertutup, Brian menggunakan kakinya untuk menahannya. Hal itu membuat pintu itu terbuka lagi.
"Ada apa Tuan?" Tasya disampingnya bertanya sambil jari-jari tangannya kembali mencengkram lengan Brian.
"Tasya, lebih baik kau turun menggunakan lift saja. Aku akan turun menggunakan tangga."
Jawaban dari pertanyaannya seketika membuat Tasya membulatkan matanya. Tuan besar dihadapannya ini ada apa sebenarnya. Apa ia waras? Ini lantai tujuh puluh dan dia memilih menggunakan tangga.
"Dia pasti ingin menghindari ku!" Pikir Tasya.
Ketika Brian keluar dari dalam lift rupanya Tasya juga mengikutinya.
"Hei?" Pekik Brian sambil menatapnya.
"Mengapa kau mengikutiku Tasya?" Pertanyaan itu membuat Tasya menggeleng cepat.
Srett
Pelan ia menarik dasi Brian hal itu membuat Brian terkejut. Betapa lancangnya gadis ini sebenarnya apa yang sedang ia lakukan. Mengapa ia begitu berani bertindak sedemikian rupa pada Bos nya.
"Tuan, bagaimana kau akan membiarkan seorang wanita berjalan seorang diri saat larut? Tidakkah kau ingin menemaniku?"
__ADS_1
"Maaf Tasya, kita bisa bertemu dibawah. Jadi tolong, merendahlah dan bersikaplah terhormat. Aku adalah atasanmu, dengan kau bersikap demikian aku bisa saja memecatmu."
Ucapan itu kasar sekali bagi Tasya. Pria setampan ini rupanya pedas juga mulutnya. Disana Tasya melepas kembali dasi Brian.
"Aku tunggu dibawah, jika memang kau ingin menumpang!"
Ucap Brian sembari berlalu dari hadapan Tasya. Tasya yang kesal memilih masuk kembali kedalam lift.
"Berani sekali kau menolak seorang Tasya, Tuan! Akan kubuat kau bertekuk lutut padaku, lihat saja nanti." Batin Tasya.
Sekalipun gedung tempatnya berpijak ini tinggi, demi menjaga hati Istrinya Brian rela berjalan kaki menuruni anak tangga untuk sampai dilantai dasar.
"Cacing gila itu sungguh membuatku kerepotan!" Gerutu Brian.
Kali ini kakinya sudah sampai dilantai dua puluh lima. Merasa ini terlalu berat, ditambah usianya juga semakin menua. Brian memutuskan untuk memakai lift, ketika pintu lift itu terbuka disana ada Eddie rupanya.
"Brother, kau?" Pekik Eddie, belum sempat ia menjawab Brian pun segera masuk kesana.
"Huh... Lelahnya!"
Brian menyandarkan tubuhnya sejenak dinding-dinding lift. Sambil terengah-engah disana Brian mulai mengatur nafasnya.
"Kau kenapa?" Tanya Eddie padanya disana Brian hanya menggeleng.
"Kau tau Tasya?"
"Ya, ada apa dengannya?"
"Huh, benarkah?"
"Iya Ed, rasanya besok mungkin aku akan mengambil cuti. Jika ia bertanya padamu perihal diriku katakan saja kau tak tau!"
Penjelasan Brian membuat Eddie tertawa. Sejenak netranya memperhatikan kakaknya itu. Brian yang risih di tatap demikian mulai menaikkan alisnya.
"Kenapa kau menatapku semacam itu?" Tanya Brian curiga.
"Brother, kau sudah tua! Tapi rupanya masih ada juga yang terpikat padamu."
Ucapan Eddie yang asal membuat tangan Brian gatal rasanya. Tanpa basa-basi ia menarik kecil telinga Eddie. Tingkah Brian membuat si Empunya memekik.
"Akhh... Brother kau ini, lepaskan!" Pekik Eddie.
Disana Eddie tidak membalasnya. Sudah biasa rasanya sejak kecil ketika dirinya berbuat kesalahan atau sekedar mengejek kakak laki-lakinya ini. Brian selalu memberinya pelajaran semacam ini.
Ini tidak sakit karena Brian tidak serius. Dia hanya bergurau, sepertinya mereka berdua merindukan masa kecil mereka. Dalam lift yang turun itu kedua saudara ini saling beradu argumen.
Tepat ketika lift itu sampai, berhenti dilantai yang mereka kehendaki. Brian dan Eddie bergegas keluar dari sana. Disana frustasi lagi-lagi menghinggapi Brian. Eddie yang heran melihat kakaknya terpaku pun menepuk bahunya.
"Brother, ada apa lagi sekarang?" Tanya Eddie padanya.
"Ed, manusia itu meminta pulang bersamaku. Hari ini aku harus segera sampai kerumah."
__ADS_1
"Manusia siapa?"
"Tasya Ed!"
Jawaban itu membuat Eddie mengangguk. Melihat hal itu Brian terlihat kesal. Mengapa Eddie tak paham betapa frustasinya Brian saat ini.
Menolak pertolongan juga bukan sifatnya. Ditengaj keputusasaan itu, salah satu lift di lantai itu terbuka. Brian berbinar melihat salah satu manusia yang keluar dari dalam lift itu.
"Themo!" Panggil Brian.
Ya, Pria yang baru saja keluar bersama dengan rombongan manusia itu salah satunya adalah Themo. Mendengar namanya dipanggil, Themo pun memalingkan wajahnya ke arah pemilik suara.
"Ya Tuan?" Themo menjawab sambil berlari kecil menghampiri Brian.
"Ini, pakailah mobilku! Kau bisa mengantar asisten baru itu pulang? Jika dia bertanya perihal diriku, katakan aku sedang bersenang-senang di dunia gemerlap."
Brian menyerahkan kunci mobilnya tepat diatas telapak tangan Themo. Eddie tertawa disana begitupun dengan Themo.
"Kau harusnya bangga Tuan! Lihatlah, sekalipun kau setua ini saat ini tetapi rupanya masih ada yang ingin mendekatimu."
Lagi-lagi godaan yang Brian dengarkan. Hal itu membuat Brian menghela nafas.
"Bella ku adalah segalanya! Ingat, nyonya ku hanya satu. Jadi Ed, mari kita pulang sekarang antarkan aku."
"Baiklah-baiklah kakak!"
Themo sama sekali tidak berprotes perihal perintah yang Brian berikan. Ketika dua Tuan besarnya pergi, Themo juga pergi dari sana.
Themo berjalan ke arah tempat parkir markas. Tepat didepan mobil milik Brian ada Tasya disana. Tasya menatap heran ke arah Themo yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.
Ada perasaan takut dalam hatinya. Themo yang berbadan tinggi kekar membuat Tasya bergidik ngeri. Parkiran ini sepi, dari dalam tas miliknya ia mulai mengeluarkan sesuatu. Sebuah semprotan cabai. Namun Themo berhenti jarak mereka sudah cukup dekat, disana ia tersenyum.
"Aku tau apa yang kau bawa. Jangan coba-coba melakukan hal itu padaku, karena aku bukan seorang penjahat." Ujar Themo.
Themo paham dari gerak-gerik Tasya. Itu adalah salah satu kebiasaan wanita ketika terancam. Semprot Cabai rasanya sudah sangat familiar berada di tas mereka kala itu.
"Mengapa kau kemari?" Tanya Tasya padanya, namun Themo hanya mengangkat kedua bahunya sambil berjalan mendekati Tasya.
"Tuan memerintahkanku mengantarmu pulang!"
"Huh, mengapa harus kau? Dimana Tuan?"
Glekkkk
Themo membuka pintu mobil Brian lalu masuk kedalamnya. Tangannya mulai menghidupkan mesin mobil, menurunkan kaca mobil disampingnya. Dimana disana Tasya sedang menatap kesal ke arahnya.
"Kau ingin pulang tidak?" Tanya Themo.
Tasya yang kesal hanya mampu menerima tawaran itu dengan sangat terpaksa. Lagi pula ini sudah malam sudah waktunya bagi nya untuk beristirahat.
...Kalaupun aku jatuh cinta dengan orang lain, perasaan itu tidak akan pernah sama ketika aku mencintaimu...
__ADS_1