Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Sebuah Pesan


__ADS_3

...Terkadang langkah terkecil dalam arah yang benar berakhir menjadi langkah terbesar dalam hidupmu untuk kesuksesan dirimu...


...Jangan malu untuk mengakui bahwa diri kita bukanlah manusia yang sempurna...


...Karena dengan ketidaksempurnaan inilah yang menjadikan sulaman benang yang rapuh menyatu dan mengikat antar kita satu sama lain...


______


"Dia tidak disini? Sejak semalam?"


Pekik Eddie ketika mendengar apa yang di katakan oleh dokter ketua didalam rumah sakit tempat Angela bekerja.


Jantungnya berdebar semakin kencang rasanya. Kekhawatiran ini membunuhnya rasanya.


"Benar Tuan, Dokter Angela sama sekali tidak bekerja shift malam. Ia tidak masuk!" Ucap Dokter kepala.


Eddie membuang kasar nafasnya. Akalnya sudah habis rasanya. Brian mengangguk menanggapi apa yang dokter kepala itu katakan.


Anggukan itu juga adalah sebuah isyarat agar dokter itu segera pergi dari sana. Brian memperhatikan Eddie yang begitu frustasi disini. Ia menyentuh pelan pindah adiknya itu.


"Ed, mari kita istirahat sebentar sambil berpikir kemanakah kira-kira Angela saat ini." Tutur Brian padanya.


Eddie hanya mengangguk menanggapi ajakan dari kakaknya itu. Brian pergi mendahuluinya sedangkan Eddie mengekorinya.


Mereka pergi ke arah kantin rumah sakit. Setibanya disana mereka hanya memesan dua minuman hangat. Sejenak Brian membiarkan Eddie menikmati minumannya.


"Mungkin kita harus melacak ponselnya!" Ucap Brian memberi ide.


"Kau benar kakak, mari kita lakukan itu! Ulah manusia mana lagi sekarang ini? Mengapa musuh kita ini sama sekali tak membiarkan kita hidup dengan tenang kakak?"


Brian tersenyum miris menanggapi apa yang Eddie katakan. Benar rasanya, bahkan sampai detik ini pun tak ada ketenangan yang lama untuk mereka. Ketenangan yang mereka miliki hanya berjangka pendek.


________


Kita lihat Bella saat ini. Setelah kepergian Tasya dan perdebatan kecil pagi ini. Adiknya terlihat cukup sakit. Bella memerintahkan beberapa bodyguard miliknya untuk membawa Stevan masuk kedalam kamarnya.


Bella duduk disamping ranjang adiknya. Wajah itu kian memucat. Entah ada apa dengan Stevan hingga pingsan seperti ini. Tidak biasanya hal ini terjadi.


Drtttttt


Drttttt


Suara ponsel di atas laci Stevan berbunyi. Itu adalah ponsel milik adiknya. Bella meraih ponsel itu, rupanya panggilan itu dari Nami.


Terbesit keinginan untuk mengangkatnya panggilan itu. Namun Bella berpikir, hal itu tidak pantas ia lakukan. Ditambah apabila Nami tau keadaan Stevan yang baru saja pingsan, mungkin wanita itu akan sangat khawatir nantinya.

__ADS_1


Bella membiarkan ponsel itu tetap berdering. Sejenak Bella menempatkan telapak tangannya tepat di atas kepala Stevan. Mencoba mengecek suhu tubuhnya.


Tubuhnya tidak panas, tetapi bulir-bulir keringat itu mengucur deras di dahinya. Wajahnya seperti sedang menahan sesuatu disana.


Samar-samar Stevan mencoba membuka matanya. Buramnya pengelihatannya membuatnya sedikit menyipitkan matanya, mencoba mencari fokus atas apa yang ada dihadapannya.


"Kau kenapa Stev?" Tanya Bella padanya.


Namun disana tak ada jawaban sama sekali. Stevan hanya meracau kecil sambil tangan kanannya berusaha menjangkau laci meja. Bella menaikkan salah satu alisnya, sepertinya ada sesuatu yang sedang Stevan inginkan.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Bella padanya.


Bella mendekatkan kepalanya pada adiknya. Menempatkan telinganya tepat di atas bibir Stevan. Mencoba mendengar suara lirih apa yang akan Stevan lontarkan.


"Kakak... Obatku!" Lirihan itu membuat Bella terkejut.


Obat katanya, obat apa? Tak ingin terlalu banyak bertanya, Bella memilih mendekat ke arah meja samping Stevan. Bella membuka laci itu, lalu disana Bella menemukan satu botol obat. Tak ada penjelasan dalam botol obat itu, sepertinya Stevan mengoyak deskripsi nya.


Bella membantu Stevan duduk, memberikan obat yang ia minta. Bella mengambil secangkir air putih yang sudah ada di atas mejanya, lalu memberikannya pada Stevan.


"Terima kasih!" Ucap Stevan.


Obat yang ia minum bekerja sangat cepat. Sakit yang hampir membunuhnya tadi hilang begitu saja rasanya.


Stevan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Ia kembali mengembalikan obat miliknya lalu menatap tepat ke arah Bella.


"Itu hanya obat pereda diare kak!" Jawab Stevan berbohong.


"Kau tidak berbohong padaku?" Tanya Bella lagi padanya.


Disana Stevan kembali menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak berbohong, kau tau aku selalu jujur bukan?" Jawab Stevan meyakinkan.


Sampai detik ini pun ia masih enggan membagi deritanya pada kakaknya. Bukan artinya ia tak percaya pada kakaknya, namun karena ia tak ingin Bella sedih perihal kondisinya.


Hanya Nami sajalah yang tau kondisi fisiknya saat ini. Dan Stevan sudah cukup terbantu dengan itu. Setidaknya ia memiliki satu kekasih yang begitu peduli padanya.


"Ah iya, tadi Nami meneleponmu! Tapi aku tidak mengangkatnya. Sebab tidak sopan bukan jika aku yang menanggapinya." Ucap Bella memberitahu.


"Wah benar sekali, jangan kau yang mengangkatnya. Sebab mungkin Nami akan menyesal nantinya disana."


"Mengapa? Mengapa dia harus menyesal?"


Tanya Bella heran atas apa yang Stevan katakan. Hal itu membuat Stevan terkekeh rasanya.

__ADS_1


"Ya, dia akan menyesal sebab suara yang pertama kali dia dengar adalah suaramu kak. Sedangkan hatinya berharap, suara pertama yang ingin ia dengar adalah diriku." Ucap Stevan.


"Dasar! Sudahlah lebih baik aku pergi ke kamarku saja. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa memanggilku Stev." Ucap Bella padanya.


Stevan mengangguk menanggapi itu. Bella bangkit dari duduknya, berdiri lalu pergi dari sana. Bella berjalan masuk kedalam kamarnya lalu membaringkan tubuhnya.


Sejujurnya ia sangat bosan. Keinginannya untuk pergi bekerja sampai saat ini masih ada. Namun karena suaminya tak ingin Bella bekerja, Bella berusaha menghormati keinginannya itu. Brian adalah pria yang sulit di tentang.


Bella meraih ponselnya di atas meja lalu memainkan beberapa game disana, untuk sekedar menghilangkan jenuh yang sedang melandanya disini.


Drttttt


Drttttt


Dering di ponselnya menandakan bahwa ada panggilan yang masuk. Bella mengerutkan keningnya melihat sebuah nomor asing sedang menghubunginya.


Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Siapakah seseorang yang sedang menghubunginya saat ini. Dan tau darimanakah orang ini, nomor ponselnya. Seingatnya ia sama sekali tidak pernah membagikan nomor teleponnya ini pada sembarang orang.


"Siapa ini?" Lirih Bella.


Antara ingin menjawab dan tidak rasanya masih ambigu. Namun rasa penasaran manusia jauh lebih besar daripada antisipasinya.


Akibatnya, Bella pun mulai mengangkat telepon itu. Sejenak hening tak ada apapun disana. Tak ada seseorang yang memulai pembicaraan. Hingga ketika Bella akan menutup panggilannya, seseorang pun berbicara.


"Jangan coba-coba tutup teleponku!"


Suara seorang pria diseberang sana sedikit membuat bulu kuduk Bella berdiri. Ia yakin, ini adalah salah satu ulah manusia jahat.


"Siapa kau?" Tanya Bella padanya.


"Oh tenang saja, kau akan tau itu!"


"Apa ingin mu menghubungi diriku? Ada perihal apa, apakah kita saling mengenal?"


"Nona detektif, kau tenang saja! Sebentar lagi kita pasti akan bertemu. Sebelum malam menjelang, pergilah ke arah Eiffel. Lalu duduklah di salah satu Bar dengan seorang pria berjaket Hoodie akan ada disana memegang papan kosong. Hampiri dia! Lalu ikuti arahannya*. Dan ingat, jangan sampai siapapun tau tentang pembicaraan kita. Datanglah sendiri kemari!"


"Mengapa aku harus mengikutinya? Aku tidak bodoh!"


"Sebab kau tidak bodoh maka, jangan biarkan seseorang mati karenamu!"


"Aaaaaaaaa... tolong aku!"


Bella mematung mendengar suara familiar itu. Itu adalah suara Angela. Ketika dirinya hendak mengatakan sesuatu , panggilan itu sudah terputus. Panggilan itu berakhir bersamaan dengan sebuah foto yang di kirim orang itu. Benar, Angela sedang di sekap.


...Orang yang membunuh manusia adalah penjahat tapi, orang yang membunuh musuh adalah pahlawan...

__ADS_1


__ADS_2