
...Kau akan menemukan musuh yang paling buruk atau sahabat yang paling baik...
...Terkadang orang yang paling dekat adalah calon musuh yang paling berbahaya ...
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Pekerjaan mereka memiliki jam panjang hari ini, sebab banyak orderan berlian dari luar negeri. Eddie adalah yang paling sibuk, apabila perusahaan mereka menerima order berlian.
Pria itu pasti akan sering berurusan dengan bandara juga pesawat. Dia dan Angela mengerjakan urusan mereka dengan baik. Sedangkan Brian, dialah yang mengurus jalan dan jadwal pengerjaan order. Tanpanya, mungkin segala hal dalam perusahaan akan kacau. Sepasang saudara itu memiliki kontribusi masing-masing.
Tasya sejenak berhenti dihadapan pigura besar. Dimana didalam sana terdapat dua orang pria. Dua orang itu adalah mereka pendiri Kaneki Corp. Ada alasan lain mengapa Nami berdiri disana, sebab dirinya menunggu Brian keluar.
Pigura dengan foto dua pria tampan itu, sengaja memang diletakan di sudut-sudut kantor. Agar para pegawai baru tau, pemilik resmi dari Kaneki Corp.
Tinggggg
Suara dari lift yang terbuka menyita netra Tasya mengarah kebelakang. Seseorang yang keluar dari dalam lift itu membuatnya tersenyum. Tasya menghampiri orang itu dengan langkah cepat.
Manusia itu adalah Brian, ia sedikit terkejut melihat keberadaan Tasya disana, berjalan menghampirinya. Dalam kepalanya ia bertanya-tanya perihal Themo, kemana dia?
"Kupikir Themo sudah membawanya, mengapa ular ini masih ada disini?" Batin Brian seraya memperhatikan Tasya yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Tuan, aku menunggumu! Mengapa kau lama sekali?"
Pertanyaan dengan intonasi riang itu sejenak membuat Brian terdiam. Sungguh ia tak mau berada di posisi semacam ini.
"Tasya, mengapa kau tak pulang?" Tanya Brian padanya.
"Bukankah aku akan menumpang bersamamu sore ini?" Jawabnya sambil masih tersenyum.
"Kupikir Themo tadi sudah ku suruh! Dimana dia saat ini?"
Pertanyaan itu membuat Tasya berseringai sekilas. Tentu saja Themo tak akan datang, Tasya memasukan beberapa pil tidur dalam minuman Themo. Saat ini pria itu sedang berada di depan swalayan, tertidur didalam mobil.
Tasya melakukan hal itu ketika istirahat makan siang tadi. Saat itu ia sengaja menemui Themo lebih dulu, sambil membawa obat tidur dalam sakunya.
"*Tuan Themo!" Sapa Tasya, mereka berada didalam kantin kantor saat itu. Mereka sama-sama duduk saling berhadapan sambil menikmati sepiring makanan.
"Ya?" Tanya Themo, tak biasanya Tasya datang padanya sambil tersenyum seperti itu.
"Tuan bilang saat pulang nanti aku harus bersamamu." Themo mengerutkan keningnya mendengar itu.
__ADS_1
Sekalipun Brian ia anggap seperti seorang kakak baginya. Namun terkadang ia merasa kesal juga, sebab efek dari ketampanan Brian selalu menyusahkan nya.
Themo menghentikan aktivasnya, sejenak ia bersandar sambil menatap lekat ke arah Tasya. Gadis itu hanya mengangkat salah satu alisnya melihat Themo yang sedang menatapnya.
"Ada apa Tuan Themo? Apa kau tak bisa mengantarku pulang?"
Pertanyaan itu rasanya sedikit membuat Themo muak. Tak mungkin juga baginya terus terang, lalu mengatakan pada Tasya supaya menjauhi Brian sebab ia sudah beristri.
"Tak apa, aku akan mengantarmu! Kau tenang saja, Tuan memiliki bodyguard yang bisa dipercaya."
"Syukurlah, aku senang sekali mendengar itu Tuan!" Jawab Tasya sembari tersenyum ke arah Themo.
Tasya kembali menyantap makanannya sekarang begitupun dengan Themo. Mereka duduk disana berdua sama-sama menikmati hidangan. Tak lama Themo beranjak dari duduknya.
"Anda akan kemana Tuan?" Tanya Tasya ketika Themo berdiri. Dari sana Themo melirik ke arah menu makanan lain, lalu menunjuknya.
"Sepertinya perutku ingin sesuatu yang lain! Sebentar!"
Themo berucap sambil pergi ke arah penyaji makanan. Disana Themo mulai mengantri. Dari situ Tasya memperhatikan sebuah tas kecil yang Themo bawa. Ia mulai mengacak-acak isinya selagi Themo disana mengantri.
Ada sebuah botol minum disana, rasanya keadaan membuat rencana semakin mudah saja. Tasya mengambil botol minuman itu lalu menuangkan obat tidur didalam sana.
"Wah ini pasti enak sekali!" Ucap Themo girang, ia duduk kembali sambil meletakan piring berisikan makanan.
"Iya sepertinya itu enak!" Tambah Tasya antusias.
"Wah makananmu sudah habis rupanya Tasya?"
Ujar Themo sembari memperhatikan piring Tasya yang sudah kosong. Disana Tasya mengangguk, meraih selembar tissue lalu mengusap bibirnya, mencoba membersihkan barang sekali ada sisa makanan disana.
"Tuan Themo, sepertinya aku harus pergi sekarang!" Ujar Tasya, ia berdiri.
Themo yang masih fokus menikmati sajian lezat hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanan dalam mulutnya.
Tasya pergi dari dalam kantin kembali menuju ruangannya. Rencananya berhasil kali ini, entah kapan Themo akan meminum botolnya nanti. Tapi pada intinya, dia berhasil. Rencananya pulang bersama Brian akan terwujud, Nami pasti senang mendengar hal ini darinya*.
________
Itulah yang terjadi pada Themo saat ini. Ketika dirinya ditugaskan Brian ke arah swalayan, membelikan beberapa keperluan Bella. Setibanya disana ia meminum botol itu.
__ADS_1
Sembari berbelanja didalam, rasa kantuk mulai memenuhi matanya. Tubuh kekarnya sedikit limbung sambil membawa belanjaan. Tatkala beberapa belanjaan usai dibelinya, Themo masuk kedalam mobil dan tertidur sampai saat ini..
Berulang kali Brian mencoba menghubungi Themo melalui ponselnya. Namun tetap saja, tak ada jawaban disana. Kesal rasanya, mengapa Themo mengacuhkannya semacam ini.
"Dimana anak ini, mengapa dia tidak datang? Berulang kali aku meneleponnya!" Gerutu Brian, Tasya tersenyum penuh kemenangan disana saat ini.
"Sudahlah Tuan Brian! Ini sudah hampir malam, mungkin akan lebih baik apabila kita berdua bergegas." Ujar Tasya sambil mengapit lengan kekar Brian dengan tangannya.
"Baiklah mari kita pergi!" Brian berucap sambil melepas tangan Tasya darinya.
Mereka berdua pun berjalan ke arah parkiran mobil. Disana sunyi, tak ada manusia berlalu lalang. Tasya dan Brian bersama memasuki mobil, disana Brian lebih banyak diam tak bersuara. Sedangkan Tasya disampingnya terus saja berucap.
"Tuan, maukah kau menemaniku makan malam sebentar?" Tanya Tasya padanya.
"Aku sedang ada urusan penting Tasya, kumohon mengertilah!" Jawab Brian, ia sengaja mencoba menghindari tiap ajakan Tasya.
Sungguh tiap kali gadis ini datang padanya, hatinya selalu saja kalut dibuatnya. Ia takut akan menimbulkan salah paham nantinya. Ia takut Alan terjadi sesuatu dalam hubungannya bersama dengan istri tercintanya. Sumpah demi apapun, ia tidak akan pernah mau kehilangan Bella sekalipun itu hanya sehari apalagi berhari-hari.
"Kalau begitu anda bisa duduk nyaman Dimobil ini Tuan! Aku akan pergi kesana memesan makanan sebentar! Tolong ya, aku tinggal sebatang kara disini Tuan. Tak ada yang memasakan diriku di apartemen, tiap malam aku hanya disambut kesunyian."
Mendengar cerita itu Brian sedikit iba rasanya. Ia tak menjawab, ia hanya memberi Tasya satu anggukan. Sebuah tanda bahwa Brian menyetujuinya disana.
Mobil mereka berhenti tepat di sebuah restoran Steak. Sejenak Brian memandangi restoran itu dari dalam mobil, ia sedikit menelan ludahnya.
Sepertinya sudah lama ia tak menikmati Wagyu. Tak ada salahnya jika menikmati sajian lezat itu hari ini.
"Tasya!" Panggil Brian padanya, Tasya menoleh mendengar panggilan itu.
"Ya Tuan?"
"Tolong pesankan untukku juga ya! Aku akan menunggu di mobil!" Ucap Brian.
Tasya mengangguk mendengar itu, ia pun turun dari dalam mobil lalu masuk kedalam restoran itu.Tasya memesan dua menu Wagyu disana, gadis itu duduk di meja makan yang kosong menunggu pesanannya matang.
...Lebih baik bersiap perang daripada berharap bahwa musuh tidak pernah datang...
...Jika terlalu senang memamerkan kelebihanmu, hanya akan memudahkan musuh memperhitungkan dimana kekuranganmu ...
...Tanpa musuh yang sama, kita tidak dapat menghargai teman kita sendiri...
__ADS_1
...Manusia lebih mudah digerakan oleh kebencian daripada kasih sayang...