Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Sedikit Membuat Lupa


__ADS_3

...Kebaikan yang ditanam tak akan berbuah nista ...


...Meskipun adakalanya kebaikan dibalas angkara murka...


...Dan patut disadari, ranum buahnya akan selalu bisa dipetik di surga nanti...


...Di dunia ini tak hanya ada satu cinta, tapi banyak hampir tak terkira...


...Namun, cinta itu hanya cinta biasa jika tanpa adanya ketulusan...


_____________


.


.


Sejak tadi Stevan dan Nami berjalan-jalan menikmati pusat perbelanjaan. Setelah menonton bioskop Stevan menarik tangan Nami menuju ke sebuah restoran.


"Hei kau akan kemana?" Tanya Nami pada Stevan, namun pria itu hanya diam sambil tersenyum.


Perutnya sudah sejak tadi berprotes. Berjalan tanpa asupan akan membuatnya mati nanti. Makanan adalah energi yang baik bagi tubuh.


"Stevan, kita akan kemana?" Tanya Nami lagi padanya.


"Aku lapar, kita harus makan!"


"Tidak aku sudah kenyang kau saja yang makan!" Ucap Nami berontak.


Lihatlah dua pasang manusia ini seperti anak kecil. Nami yang mencoba berontak dengan Stevan yang berusaha menahannya pergi.


"Lepaskan aku, Stev!" Pekik Nami. Namun Stevan hanya menggeleng.


"Demi apapun itu aku tidak akan melepaskanmu!"


"Kau tidak berhak memaksaku!" Ucap Nami.


Beberapa keamanan tiba-tiba datang menghampiri mereka. Hal itu membuat Stevan terkejut, namun sebuah ide gila dalam kepalanya muncul. Segera ia menggendong Nami ala bridal style. Hal itu membuat Nami sedikit memekik.


"Ada apa ini Tuan?" Tanya salah seorang keamanan sambil memperhatikan Stevan.


"Ada apa? Aku hanya sedang ingin mengajak Istriku ke restoran itu. Namun dia bertingkah layaknya seorang anak kecil. Aku terpaksa memaksanya pergi kesana untuk makan, sebab dia sedang mengandung."


Rasanya Nami ingin memukul wajah Stevan sungguh. Semu merah itu menghiasai wajahnya. Bagaimana pria ini bisa mengatakan kebohongan sebesar itu.


"Begitu ya, baiklah maafkan kami Tuan! Ku pikir tadi kau sedang merundungnya." Ucap Salah seorang keamanan mencoba memahami.


"Ya tak apa, aku sudah terlalu biasa di perlakukan semacam itu. Jadi tolong Tuan, jangan ganggu bulan madu kami."

__ADS_1


Ucap Stevan sambil membawa Nami ke arah Restoran lalu masuk kedalam. Mereka berdua mengantri disana untuk mendapatkan makanan.


Setelah memilih beberapa menu mereka pun duduk di salah satu meja. Hening tak ada obrolan apapun, Nami masih terlihat sangat kesal akan apa yang sudah Stevan lakukan padanya. Itu sangat tidak Sopan sungguh.


"Kau gila!" Maki Nami pada Stevan. Namun Stevan lagi-lagi menanggapinya sambil tersenyum.


Dalam kepalanya Nami bertanya-tanya. Apakah Stevan masih waras? Mengapa senyum itu sama sekali tak luluh dalam wajahnya. Kegilaan manusia dihadapannya itu hampir membuat kepalanya pecah rasanya.


"Belanjaanku?" Nami teringat kembali pada hasil panen promonya hari ini.


"Aku sudah mengantarnya ke rumahmu!" Jawab Stevan, hal itu membuat Nami menaikkan salah satu alisnya.


"Bagaimana?" Tanya Nami lagi padanya.


"Aku memberikan barang itu ke kasir lalu memberi mereka alamat mu. Katanya ada pengiriman Ekspres."


Itu adalah berita baik sungguh. Stevan juga sangat baik hari ini. Pria ini bahkan membiayai seluruh keperluannya. Rasanya seperti diperlakukan layaknya istrinya, mengingat itu membuat Nami sedikit tersenyum.


"Kau sedang menertawakan apa?" Tanya Stevan curiga ketika melihat Nami menyunggingkan sebuah senyuman tanpa sebab.


"Tak ada, aku hanya mengingat acara TV semalam."


"Oh iya apa itu?" Tanya Stevan antusias padanya.


Nami menarik botol minuman kaleng miliknya lalu meneguknya. Ia teringat perihal kasus Tasya yang hilang. Mungkin Stevan tau perihal itu, bagaimanapun petunjuk sekecil apapun harus Nami dapatkan.


"Aku mendengar ada berita pagi ini!" Ucap Nami mencoba mengganti topik pembicaraan.


"Ini perihal Tasya!"


Deppp


Stevan menaruh garpu dan pisaunya, menghentikan sejenak aktivitas makannya. Hal itu membuat kedua bola mata Nami menatapnya.


"Apa mengapa raut wajahmu menatapku semacam itu?" Tanya Nami padanya.


Pertanyaan Nami tentang pelacur wanita itu membuatnya sangat muak. Bagaimana bisa seorang wanita merelakan kesuciannya begitu saja, pada seorang pria yang sudah beristri.


"Mengapa kita membicarakan perihal ****** itu? Sungguh aku muak rasanya, meskipun hanya mendengar namanya."


Nami berseringai mendengar itu. Aura kebencian ini teramat ia sukai. Stevan sedang diliputi kebencian saat ini. Dan itu adalah hap yang paling Nami sukai.


"Memang benar, dia memang gadis ******! Sepertinya kau sangat membencinya ya? Terlihat dari raut wajahmu yang memanas ini."


"Bagaimana aku tidak membencinya? Karena ulahnya saat ini kakakku hatinya begitu hancur. Sendirian dalam kondisi menampung benih dari Brian!"


Nami melihat betapa marahnya Stevan saat ini. Mungkin sedikit memanas-manasi keadaan akan memicu kembali dendam Stevan pada Brian. Mungkin mereka akan menjadi rekan lagi jika hal itu berhasil.

__ADS_1


"Kau sudah kuberitahu perihal kebusukan Brian bukan? Ku rasa, bukan gadis itu yang salah disini. Namun memang, suami kakakmu saja yang bejat sejak dulu." Ucap Nami sembari menyantap lagi makanannya.


"Kau benar, aku pun juga merasa seperti itu."


"Aku ingin menanyakan perihal Tasya. Kau dan FBI dekat bukan, kau pun juga berulang kali meringkusku. Katakan padaku, tentang kasus hilangnya Tasya!"


Stevan berfikir sejenak disini. Ia tau memang bahwa Tasya dikabarkan menghilang beberapa hari lalu. Namun sampai saat ini, nama tersangka dalam kepalanya masih belum ada.


"Entahlah, aku tidak menyelidiki kasus ini. Mungkin jika kau masih berkutat ingin tau, kau bisa pergi ke FBI. Mereka akan melayanimu mungkin."


Mendengar ucapan itu membuat Nami sedikit kesal. Mereka memang melayani pertanyaan namun tidak dengan permintaan. Mungkin hanya jawaban biasa yang akan Nami dapatkan. Selengkapnya segalanya tentang kasus itu ada di dalam berkas.


"Lucu sekali!" Pujian dengan nada menyindir Nami berikan pada Stevan.


Lagi-lagi Stevan dibuat terkekeh melihat itu. Sesungguhnya ia menikmati momen ini. Nami yang sekarang memang terkesan begitu menyebalkan. Namun Stevan tau itu adalah sebuah kedok. Ia percaya suatu saat gadis ini akan kembali lagi seperti dahulu. Menjadi seorang gadis dengan segala keceriaan dalam dirinya.


Kematian memang akan merubah banyak orang. Dan itulah yang terjadi. Jika Stevan mampu bangkit setelah diberi kenyataan oleh kakaknya, lantas mengapa Nami tidak. Ia hanya membutuhkan seseorang disampingnya untuk menuntunnya menuju jalan yang benar, mengarahkannya.


Stevan teringat sesuatu perihal apa yang Bella katakan. Tiap malam, mereka selalu berdiskusi perihal masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Memang masih belum menemukan titik terang, namun saat itu ketika mereka duduk berhadapan di meja makan.


Bella mengatakan padanya, bahwa ia masih curiga kepada Nami. Stevan mencoba menepis segala segala tuduhan itu, sebab pengadilan sudah membuktikan bahwa Nami tidak bersalah.


Namun bukan Stevan apabila tidak menyelidikinya dulu. Mungkin dekat dengan Nami akan menguak beberapa fakta nantinya. Ia harus menemukan itu selama dua Minggu. Sebab dua Minggu setelah ini, Stevan harus fokus menjalani pengobatan demi untuk memperpanjang hidupnya.


"Kau akan kemana lagi setelah ini?" Tanya Stevan padanya.


"Aku akan pulang, kenapa? Apa kau akan ikut juga?" Tanya Nami sambil menatap datar ke arah Stevan.


"Jika kau ijinkan mungkin aku akan benar-benar ikut!"


Nami menaikkan satu alisnya. Pemuda ini benar-benar membuatnya tak habis pikir rasanya. Nami beranjak dari duduknya lalu tersenyum ke arah Stevan.


"Aku pergi, terima kasih!" Ucap Nami berlalu, namun Stevan menahan pergelangan tangan gadis itu hingga menyebabkan Nami kembali menatapnya.


"Kau ini apa-apaan?" Tanya Nami sambil memicingkan mata.


"Jika kita berangkat bersama, maka mari kita pulang bersama juga kali ini!"


Stevan berucap seraya bangkit dari duduknya, ia berdiri menggenggam tangan Nami membiarkan telapak tangan mereka terpaut layaknya sepasang kekasih.


"Kita pulang!" Ucap Stevan sambil berjalan.


Nami tak mampu berbuat banyak disini. Lagi pula sejatinya hatinya juga nyan berada didekat Stevan. Mereka berdua berjalan keluar dari area perbelanjaan.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu didalam sana, demi untuk melepas jenuh. Juga sedikit bernafas lega setelah menghadapi dunia yang keras.


...Dalam cinta, jangan pernah mengharapkan seseorang untuk tetap bersamamu...

__ADS_1


...Jika yang kamu beri hanyalah alasan untuk pergi meninggalkanmu...


...Jika kamu sedang mencintai seseorang, maka kamu bisa merasakan apakah itu getaran cinta dan rasa khawatir yang teramat sangat apakah dia baik-baik saja atau tidak...


__ADS_2