
" Aaaaaaaaaarrrrrrggggghhhhhhhhhhh "
Brisa berteriak histeris di dalam ruangan .
Bagaimana bisa seorang ayah tega menjual anaknya darah dagingnya sendiri demi harta yang tak akan bisa dia bawa ke kuburnya .
Jika bertanya apa Brisa sekarang baik baik saja ?
TIDAK .
Hatinya hancur , remuk , bahkan mungkin kini menjadi abu . Pria yang Ia hormati , Pria yang 18 tahun lalu menjadi cinta pertamanya ketika dia mulai bernapas didunia , tapi kini pria itu yang membuatnya tidak percaya adanya rasa yang bernama cinta .
Raganya sudah terlampau letih . Selama hampir 3 tahun dia coba bertahan . Menahan rasa sakit saat pertama kali menerima tamparan , pukulan ,dan tendangan . Hingga hal itu terus berulang ulang tak terhitung jumlahnya berapa kali , yang pasti setiap inci tubuhnya sudah tak asing lagi dengan rasa sakit itu .
Semua kepedihan dan penderitaan Brisa lalui . Bertahan dengan dukungan orang yang peduli padanya .
Semua demi menyelamatkan nyawa seorang yang sejak kecil mengasuhnya .
Brisa merasa tak berguna sebagai seorang anak yang sampai Ibunya tiada , dia belum bisa membalas sedikitpun kasih sayang yang Ia terima .
Karena tak ingin menyesal lagi , maka Ia memilih bertahan walaupun penuh rasa sakit . Sebagai balasan untuk kasih sayang tulus dari pengasuhnya .
Brisa bahkan tak akan menolak jika nyawanya yang diinginkan agar menghentikan iblis itu menyakiti Mbok Min .
Tapi jika dia harus pergi selamanya , dia ingin pergi dalam keadaan terhormat .
Setidaknya , walaupun jiwa dan raganya telah tiada , tapi dia berhasil menjaga kehormatan yang merupakan harta paling berharga bagi wanita .
Setelah berulang ulang kali berpikir , Brisa merasa mungkin ini adalah akhir dari pertahanannya selama ini .
Dalam hatinya Ia terus memohon maaf jika hanya sebatas ini kemampuannya untuk melindungi nyawa Mbok Min .
Brisa memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Dengan ragu Ia mengambil pisau yang masih tertata rapi di meja makan .
Sekilas Ia melihat ke arah hidangan mewah di meja yang bahkan belum di sentuh sama sekali karena dua pria tadi lebih lapar pada tubuhnya .
Mengingat itu membuat Brisa menjadi jijik .
Dengan yakin , Ia segera menyayat pergelangan tangannya . Memotong tepat di nadinya membuat darah segar mengalir .
Dalam kelemahan , Brisa bisa melihat wajah cantik Ibunya yang Ia rindukan . Lalu wajah Kirani yang tertawa , wajah Eijaz yang mengacak rambutnya ,bahkan Brisa melihat bayangan kejadian saat si Ohana mengejarnya setelah melihat lebam di pipinya .
Terakhir Brisa melihat wajah Mbok Min yang tersenyum . " Mbok maafin aku . " ucap Brisa lirih sebelum akhirnya matanya terpejam .
Seorang pelayan merasa aneh dengan salah satu ruangan VIP yang sejak tadi tidak pernah memanggil service atau semacamnya .
Pelayan wanita itu segera mengambil teko berisi air dan berjalan menuju ruangan itu .
Tok tok tok
Setelah mengetuk , perlahan pelayan membuka sedikit pintu .
Karena tak ada orang yang bisa Ia jumpai , pelayan membuka pintu lebih lebar .
Pelayan wanita itu terkejut sampai menjatuhkan teko air yang dibawanya .
Keributan yang Ia buat membuat manager restauran segera turun tangan .
Responnya tak jauh beda dengan pelayan tadi , namun sang manager bisa mengendalikan keterkejutannya .
__ADS_1
Dengan dasi yang dia pakai , segera Ia ikatkan di pergelangan tangan wanita yang mengeluarkan darah .
Manager tadi mendekatkan wajahnya dan merasa masih ada hembusan napas walaupun lemah .
Dengan sigap Ia menutupi tubuh wanita itu dengan jasnya lalu menggendongnya menuju parkiran basement menggunakan lift barang agar tidak terjadi kehebohan .
Berusaha secepat mungkin mengemudikan mobilnya hingga kini sudah sampai di UGD rumah sakit .
Keberuntungan masih memihak wanita itu . Dokter berhasil menghentikan pendarahan sehingga nyawa wanita itu masih tertolong .
Tak lama datang seorang karyawan lain menyusul atasannya membawa sebuah cluth yang tertinggal di restaurant .
Manager tadi membuka tas yang di duga milik wanita itu . Di dalamnya ada KTP , uang tunai , juga ponsel .
Ia cukup terkejut saat melihat usia wanita tadi masih sangat muda .
Manager lalu mengecek nama kontak di ponsel , hanya ada 3 nama :
Kak Eijaz
Ohana
Sist Kirani
Panggilan pertama , nomor tidak bisa di hubungi .
Panggilan kedua , nomor aktif tapi tidak dijawab.
Panggila ketiga , hanya 2 kali nada tunggu lalu terdengar suara wanita yang menerima telepon .
Wanita di seberang telepon terdengar histeris dan tak percaya dengan kabar yang baru Ia terima .
Setelah mengakhiri panggilan , manager itu kembali masuk ke ruang rawat Nona itu .
Setelah mengetahui usianya , Manager mengubah sebutannya menjadi Nona .
Ia memandangi wajah cantik yang tengah berbaring tak berdaya .
" Sebenarnya masalah berat apa yang dialami gadis muda sepertimu . " ucapnya sambil duduk di tepi brankar .
" Kau sangat cantik Nona . Apa kamu seperti ini karena disia siakan oleh seorang pria ? Jika iya , bodoh sekali pria itu . " lanjutnya masih bicara seorang diri .
Manager itu betah berlama lama menatap kecantikan , hingga matanya tak sengaja melihat ada jejak yang ditinggalkan seseorang di ceruk leher nona itu .
__ADS_1
" Apa ada unsur pelecehan ? "
Saat tengah berpikir , pintu ruang rawat terbuka masuklah sosok gadis yang mungkin usianya sama dengan nona tadi .
" Risa ...... " teriak Kirani sambil memeluk tubuh dingin Brisa .
Ayah Kirani , Pak Wisnu Kusuma berterima kasih pada manager tadi dan memimta agar kejadian tadi dirahasiakan mengingat korban masih pelajar .
Setelah mengantar manager hingga ke pintu , Pak Wisnu mendekati putrinya . Memeluknya memberinya kekuatan .
Ia tahu bagaimana kedekatan keduanya 2 tahun terakhir . Brisa menghilangkan rasa sepi yang selalu dirasakan Kirani .
" Ayahh... janji . Ayah harus bisa . Kumohon ayah . Lakukan secepatnya . " pinta kirani memohon bantuan Ayahnya .
Sementara ditempat lain , Aydin yang baru saja selesai mandi mengecek ponselnya . Ia melihat ada 3 panggilan tak terjawab . Aydin bingung sendiri , siapa yah orang yang dia simpan di phonebook ponselnya dengan nama ' Titipan paket ' .
Berpikir sejenak , ingatannya membawa pada gadis pujaan hati Eijaz . " Ada urusan apa dia menghubungiku ? "
Entahlah , tapi perasaan Aydin menjadi tidak nyaman . Ia gelisah , apalagi saat di hubungi balik ponsel gadis itu tidak aktif .
Akhirnya Aydin menyambar kunci motornya . Lalu melajukannya menuju rumah pohon tempat terakhir mereka bertemu .
Tapi sayang , disana tidak ada siapa siapa .
Tak ingin kedatangannya sia sia , Aydin naik kerumah pohon . Disana bisa Ia lihat banyak coretan nama Risa dan Rani . Sayangnya pintu untuk masuk kedalam rumah pohon terkunci .
Aydin mengintip kedalam lewat celah berbentuk kotak .Entah mengapa Ia penasaran dengan dua buku bersampul hitam . Susah payah Ia berusaha meraihnya dan akhirnya Ia berhasil .
Mulai membaca buku dengan nama Rani di sampul . Isinya biasa saja , hanya cerita tentang hal hal yang membuatnya kesal .
Berbeda dengan buku bersampul Risa . Isi bukunya hampir semua berisi bagiamana Ia mengalami kekerasan fisik dan mental .
Menurut Aydin , kedua gadis ini sengaja menuliskan dibuku hal hal yang tidak bisa mereka sampaikan pada orang lain .
Walaupun Ia tahu ini salah membaca privasi orang lain , tapi rasa penasarannya lebih besar jadi Ia terus melanjutkan membaca .
" Tapi , diantara dua nama ini , yang
Mana milik si titipan paket ? Kenapa aku bisa lupa sih . " batin Aydin menyesali dirinya yang sulit mengingat nama orang lain .
.
.
.
.
.
" Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena hari ini adalah hari yang menyedihkan untukmu” – Baker King Kim Tak Goo
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue