
Tuhan selalu punya rencana disetiap pertemuan yang terjadi.
Jika alurnya membawa kita untuk bertemu, maka kuharap akan menemuimu dengan binar kerinduan.
Dan jika pertemuan itu mengantarkan kita pada perpisahan, maka kuharap agar tak ada air mata yang mengiringi langkahku menjauh.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Aku saja, ayo aku akan menemani kemanapun kamu pergi.” Ucap seorang pria yang berdiri di ambang pintu, membuat senyum indah terukir dengan jelas di wajah wanita cantik itu.
Pria yang beberapa saat lalu baru saja menyapanya lewat sambungan panggilan video, kini sudah berada di ambang pintu ruang kerjanya.
“Ay, kamu datang tak mengabariku,” ucap Risa manja.
“Dan kamu hendak pergi tanpa meminta izinku.” Balas Aydin.
Alih-alih menyapa dengan ucapan, Aydin lebih senang menyapa kekasihnya dengan sebuah kecupan di kening.
Memberitahu wanita itu betapa besarnya rasa rindu yang terasa, ketika Ia tak berada disisinya.
“Maaf Ay, aku sebenarnya tidak berencana untuk pergi. Tiba-tiba saja aku ingin pergi ke rumah pohon.” Ujar Risa.
“Rumah pohon?”
“Ya, tempat kamu menyatakan perasaanmu yang sesungguhnya padaku.”
Aydin tersenyum mengingat kembali momen itu.
“Untuk apa kesana? Apa kamu ingin bertemu seseorang?” tanyanya.
Risa menggeleng. "Hanya ingin bersantai.”
Ucapnya tak bersemangat dengan netra yang melirik ke tumpukan berkas di mejanya.
Aydin berdeham.
Pria itu melangkah menuju meja Risa, mengumpulkan berkas-berkas yang tidak tersusun rapi.
“Mau dibawa kemana Ay?” tanya Risa saat melihat Aydin membawa semua berkas.
“Kita akan ke rumah pohonmu. Setelah itu kita langsung saja ke rumah Mama, aku akan membantumu mengerjakannya di sana.”
“Benarkah?” mata Risa berbinar.
Cup.
“Tentu, tapi tidak gratis sayang.” Jawab Aydin.
Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Risa yang masih terpaku karena kecupan tiba-tiba dari prianya di bibir merah muda yang selalu terlihat menggoda.
♡♡♡♡♡♡
“Seorang pria ingin menemui Anda di Star Academy, sepertinya pria itu belum tau jika Anda kini memiliki agensi sendiri.”
Ucapan Muti terus terngiang dibenak Aydin.
Pria itu menjadi risau, karena menduga jika yang mencari Risa adalah Eijaz.
“Yang, apa benar kamu tidak memiliki janji dengan seseorang?” tanya Aydin saat mereka dalam perjalanan.
Risa menggeleng, “Tak ada.”
Aydin kembali diam, Ia kembali memikirkan segala kerisauannya.
Belaian lembut di lengannya membawa Aydin kembali dari lamunannya.
“Apa sekarang kamu sedang cemburu pada pria yang bahkan tak ku ketahui siapa?”
Aydin menggeleng.
“Lalu apa yang mengganggu pikiranmu Ay?”
__ADS_1
Pria itu bungkam setelah menggenggam jemari Risa, jemari yang dihiasi cincin berlian sebagai tanda jika wanita ini sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Keheningan mengiringi perjalanan yang cukup memakan waktu.
“Ay, di persimpangan depan kamu bisa membelok ke kanan. Ada jalan alternatif yang bisa dilalui untuk sampai ke rumah pohon.”
Aydin mengikuti saran Risa.
Tak jauh di ujung jalan ini ada sebuah Sekolah Menengah Atas. Nama sekolah itu seperti familiar ditelinga Aydin, entahlah dimana pernah Ia mendengarnya.
“Dulu aku bersekolah disini Ay,” Ucap Risa.
“Oh yah? Bagaimana masa-masa sekolahmu Yang, ceritakan padaku. Kamu pasti memiliki fanbase di sekolah.” Tebaknya.
Risa tertawa, “Kamu salah Ay.”
“Aku termasuk murid ⁴
Raut wajah Risa berubah murung saat Ia mengingat masa-masa sekolahnya.
Hingga mobil Aydin lewat di depan toko buku yang menyimpan semua kenangan dan rahasia Risa.
“Ay, dulu sepulang sekolah aku bekerja paruh waktu di toko buku ini.”
Risa tak dapat melanjutkan ucapanya, lidahnya seperti tercekat, dan bibirnya keluh tak dapat berucap saat melihat toko buku milik Eijaz tidak lagi seperti bangunan tak berpenghuni.
“Apa Eijaz telah kembali?”
“Apa Eijaz akan memaafkanku yang pergi tanpa kabar?" Tanya Risa dalam hati.
Sementara Aydin yang tahu jika toko buku itu adalah toko buku milik Eijaz, kini hatinya sedang memanas.
Ia tak senang saat Risa tiba-tiba saja diam saat melihat ke toko buku itu.
“Apa yang kamu pikirkan Yang? Apa kamu sedang mengenang masa-masa indah ketika kamu bekerja di toko buku itu?” sindir Aydin.
“Kenanganku di toko buku itu memang banyak Ay,” Jawab Risa tanpa merasa jika Aydin tidak senang dengan jawabannya.
“Hemm, dia pria dan sudah seperti kakakku.” Jawab Risa.
Aydin menjadi bungkam. Keheningan yang sempat mencair kini kembali lagi.
Risa hanya bisa menghela napasnya, memikirkan apa yang salah dari ucapannya.
Hingga tak lama mobil Aydin berhenti didepan gang dimana rumah pohon itu berada.
Siap dengan masker, Risa dan Aydin bergandengan tangan menyusuri gang kecil yang akan membawa keduanya ke tempat yang mereka tuju.
“Meski sedikit berbeda, tapi aku sudah bersyukur karena bisa memperbaiki rumah pohon kami.” Gumam Risa.
“Kami?”
“Ya, kami. Rumah pohonku dan sahabatku.”
“Si pemilik toko buku?” sela Aydin.
“Bukan. Dia seorang wanita.”
“Oh yah? Kamu memiliki sahabat wanita di sini. Kenapa tak pernah mengenalkannya padaku?”
“Dia tidak disini lagi sekarang.”
Aydin hanya mengangguk, mencoba percaya dengan cerita kekasihnya.
Meski dalam benaknya, Ia masih curiga jika Eijazlah yang memberi rumah pohon ini pada Risa.
♡♡♡♡♡♡♡♡
Di lain tempat, Eijaz harus menelan kekecewaan saat Ia kembali tak bisa menemui sahabatnya.
Beruntung kali ini yang Ia temui adalah asisten Aydin yang bernama Chandra.
__ADS_1
Chandra pernah sesekali mendengar nama Eijaz diakui bosnya sebagai sahabatnya semasa kuliah,
Itulah mengapa tanpa ragu, pria itu memberikan nomor ponsel Aydin pada Eijaz.
“Bagaimana Pak? Apa anda berhasil bertemu dengan beliau?” tanya Romi yang sama seperti kemarin hanya menunggu di lobby.
Eijaz menggeleng.
“Sepertinya beliau sangat sibuk.” Komentar Romi.
“Kata asistennya Ia sedang menemani calon istrinya.”
“Ku rasa wanita ini sangat spesial baginya. Seingatku, Aydin adalah pria yang gila kerja, dia tak akan meinggalkan waktu bekerjanya hanya untuk seorang wanita.” Gumam Eijaz.
“Begitulah cinta Pak, dengan mudah seseorang menjadi orang yang baru ketika Ia sedang jatuh cinta.” Imbuh Romi.
Eijaz tertawa,”Kau terdengar sangat berpengalaman soal percintaan. Apa kamu memiliki kekasih? Atau mungkin kamu playboy, yang punya teman tapi mesra dimana-mana?”
“Tentu saja tidak Pak, saya adalah contoh pria yang setia.”
“Baguslah jika begitu. Akhirnya ada satu hal yang kita sependapat.” Balas Eijaz.
♡♡♡♡♡♡♡
Ini adalah sambungan ke sekian kalinya Eijaz yang sedang menghubungi ponsel Aydin.
“Apa masih belum ada jawaban Pak?” tanya Romi.
Eijaz mengangguk.
Entah mengapa sesekali terlintas dibenaknya jika Aydin menghindarinya.
“Lantas, apa kita sebaiknya kembali ke perusahaan saja?” usul Romi.
“Kita ke toko buku saja, aku berencana membuka kembali toko buku itu."
"Anda yakin? Sekarang sudah jarang yang pergi ke toko buku, semua serba dilakukan secara online.” Ujar Romi.
“Aku tidak mengejar keuntungan, toko buku itu nantinya akan kubuat seperti rumah singgah bagi anak-anak atau siapa saja yang ingin membaca buku.”
Pembicaraan Eijaz dan Romi semakin serius, bahkan keduanya tak sadar jika tujuan mereka sudah didepan mata.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Mobil menepi tepat di depan toko buku.
Eijaz turun lebih dulu, melangkah perlahan menuju pintu karena kedua tangannya sibuk merogoh satu per satu sakunya untuk mencari kunci.
“Sepertinya tertinggal di mobil,” gumamnya.
Ketika pria itu berbalik, tanpa sengaja netranya menangkap dua sosok yang sepertinya Ia kenali, baru saja keluar dari restauran di seberang jalan.
“Aydin? Pria itu adalah Aydin ?” gumamnya.
“Aydin,” teriaknya saat menyadari jika pria yang sedang diamatinya sebentar lagi akan masuk ke mobilnya.
“Aydin,” teriaknya sekali lagi namun sayang Ia terlambat.
Pria itu sudah masuk ke mobilnya lalu melaju menjauh meninggalkan Eijaz yang dipenuhi pertanyaan.
“Jika dia Aydin, apa wanita tadi adalah calon istrinya?” batin Eijaz.
“Mengapa wanita tadi terlihat mirip dengan Brisa?” lanjutnya.
“Pak, ini kuncinya. Anda menjatuhkannya saat turun dari mobil.” Ucap Romi membuyarkan semua pertanyaan yang tiba-tiba muncul dibenak Eijaz.
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
Jangan benci pada pertemuan.
Karena pertemuan itu akhinya memberimu kesempatan.
__ADS_1
Entah kesempatan itu akan berakhir bahagia, atau akan berakhir dengan sebuah perpisahan.