
Esme menghentikan laju mobilnya ketika jarak mereka sudah semakin dekat dengan perusahaan Ohana Tech Group milik Aydin .
" Telepon gih ... kan lucu kalau tiba tiba kita nongol bawa anaknya . Pura pura aja kamu gak tahu . " ujar Esme .
Dengan ragu Risa menekan nomor ponsel Aydin yang diberi Dafha .
Tut.... tut.... tut.....
Panggilan tidak dijawab .
Tut.... tut.... tut...
" Ya . " suara seorang pria terdengar dingin .
Aydin sebenarnya ingin mengabaikan panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya karena saat ini Ia sedang meeting . Apa lagi moodnya sejak semalam sedang tidak baik .
" Maaf , apa benar anda ayah dari anak yang bernama Dafha ? " ujar Risa berusaha terdengar senatural mungkin .
" Iya benar , ada apa dan siapa anda ? " tanya Aydin .
Perhatiannya seketika beralih pada lawan bicaranya di telepon saat mendengar nama putranya . Ada perasaan aneh saat mendengar suara wanita di telepon .
" Saya menemukan putra Anda di sekitar Jalan XX . Sepertinya dia tersesat . Dan memberiku nomor ini untuk menghubungi orang tuanya . " jelas Risa .
" Astaga... Dafha . " Aydin tercekat .
Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan memang saat ini sudah lewat dari jam pulang sekolah putranya .
" Aku melupakan Dafha ", rutuknya dalam hati .
" Terimakasih sudah menghubungiku . Tolong bantu menjaga putraku sebentar , aku akan segera ke sana . Tolong kirimkan lokasi anda . " Aydin berbicara sambil setengah berlari meninggalkan meeting begitu saja .
Franda akhirnya mengambil alih memimpin meeting .
Karyawannya juga ikut cemas karena bisa mengerti apa yang sedang terjadi saat mendengar potongan pembicaraan bosnya .
" Tunggulah di perusahaan anda . Ohana Tech benarkan ? Saya tahu dari kartu yang putra anda berikan . " ujar Risa .
" Hah ? Baiklah . " Aydin menurut .
" Tapi ... maaf bukannya meragukan anda . Bolehkah saya bicara pada putra saya ? Saya ingin memastikan dia baik baik saja agar bisa lebih tenang . " pinta Aydin .
" Putra anda sedang tertidur . Tapi dia baik baik saja . Tunggulah , sebentar lagi kami sampai . " ujar Risa lalu memutuskan sambungan telepon .
Aydin ditemani asistennya Chandra sudah menunggu didepan pintu lobby perusahaan .
Hanya berselang beberapa menit sebuah mobil mini cooper berwarna tosca menarik perhatian Aydin dan Chandra .
Mobil itu mulai melambat ketika akan menepi dan berhenti tepat di depan Aydin dan Chandra .
Dengan tidak sabar Aydin membuka pintu mobil dan betapa terkejutnya dirinya .
" Kamu ? " ujarnya
" Aydin ? " Risa juga berpura pura terkejut .
" Kamu yang tadi menelepon ? Gimana ceritanya Dafha bisa sama kamu ? "
Aydin mencecar Risa dengan banyak pertanyaan .
" Ssstttt jangan berisik , nanti anaknya bangun . Nanti aja aku jelasinnya . Ini gimana nuruninnya , pulas banget tidurnya . " ujar Risa .
Aydin mengangguk setuju . " Sini , biar aku yang gendong ke ruanganku . "
Aydin menunduk sehingga wajahnya berada sangat dekat dengan Risa .
Aydin terpaku saat kedua netra mereka saling bertemu . Hembusan napas Risa terasa sangat wangi menembus indra penciumannya .
" Aydin , kok malah bengong . " tegur Risa dengan berbisik .
Berada diposisi seperti itu dengan Aydin , membuat kesehatan jantungnya terganggu .
Saat kesadarannya kembali , Aydin hendak mengambil alih menggendong Dafha .
Namun siapa sangka , Dafha membuka sedikit matanya karena tidurnya terganggu . Lalu menepis tangan Daddynya , dan makin memeluk erat leher Risa seolah tak ingin dipisahkan .
__ADS_1
Aydin dan Risa menghela napas bersamaan .
" Ya udah , aku aja yang gendong ke atas . " ujar Risa .
Ia lalu turun perlahan dari mobil .
" Aydin , bawain tas aku yah " , pintanya manja .
Entah mengapa Aydin menurut saja ucapan wanita itu . Aydin meraih tas Risa , lalu melangkah dengan cepat menyusul Risa yang sudah berjalan masuk lebih dulu .
Chandra sampai tak berkedip melihat kejadian barusan . Demi apa bosnya yang sangat tidak peduli dan tidak peka bisa menurut dengan model cantik itu , pikirnya .
Chandra menunggu Esme memarkirkan mobilnya dulu , lalu mereka akan ikut menyusul si Bos .
Sementara tatatapan beberapa karyawan tertuju pada seorang model asal korea selatan yang sedang ramai diperbincangkan karena akan menjadi coach di Starts Academy , saat ini malah terlihat menggendong putra bos mereka .
Bahkan di belakangnya, bos mereka yang terkenal dingin mengikuti lengkap dengan tas wanita di genggamannya .
Ketiganya masuk ke lift , Aydin menekan tombol 17 .
" Kamu kuat gak ? Dafha biar bangun juga gak kenapa napa . " Ujar Aydin .
Dengan tetap menstabilkan pernapasannya , Risa menggeleng . " Gwaenchanayo ( *tidak apa apa* )..... udah sampai disini juga , lanjut aja . "
Aydin mengamati kaki Risa yang hampir saja goyah , mungkin karena sepatu berhak tinggi yang Ia gunakan membuatnya semakin kesulitan .
Ting ......
Pintu lift terbuka .
Franda ikut keluar dari ruang meeting dan mengikuti langkah Aydin dan Risa .
Aydin membuka pintu ruangannya , mempersilahkan Risa masuk .
Risa hendak membaringkan Dafha di sofa namun segera dicegah oleh Aydin .
" Di ruang pribadi aku aja Ris , tolong yah . " Ujarnya lalu membuka sebuah pintu lagi .
Risa masuk melewati Aydin yang menahan pintu agar terbuka . Lalu dengan perlahan membaringkan Dafha yang masih tertidur di ranjang .
Risa merasa pinggangnya hampir patah dan napasnya masih memburu sehingga ikut merebahkan tubuhnya di ranjang Aydin dengan kaki masih menapaki lantai .
" Aydin .... " tegur Franda saat melihat Aydin mengajak wanita tadi masuk ke dalam ruang pribadinya .
" Ya ... " jawab Aydin masih dengan posisinya menahan pintu .
" Kamu ? Dia ? " tanya Franda .
" Oh ya .. tolong lanjutin meetingnya yah . " Ujar Aydin lalu ikut masuk ke ruang pribadinya dan menutup pintu .
Mata Franda tiba tiba saja memansa . Rasanya ada bulir air mata yang ingin keluar tanpa permisi .
" Bahkan aku saja tidak pernah diizinkan masuk keruangan itu . Siapa wanita itu ? " batin Franda.
Sementara Aydin menyusul Risa dan Dafha , namun pemandangan yang Ia dapatkan adalah Dafha yang tidur lelap dan Risa yang setengah berbaring sambil memejamkan matanya dengan dada naik turun selaras dengan napasnya yang masih memburu .
__ADS_1
Aydin menarik napas panjang , mengumpulkan oksigen sebanyak banyaknya .
Pemandangan seorang wanita cantik , kulit putih mulus tanpa cacat . Paha putihnya bahkan kini bisa terlihat karena rok bermotif bunga yang dikenakannya memang hanya mampu menutupi setengah saja .
Aydin sudah bersusah payah menahan gejolak dalam dirinya . Ia hanya bisa menelan salivanya . Belum lagi Risa hanya menggunakan tanktop oversized berwarna kuning cerah hingga pundak putihnya terekspos .
Aydin berdiri berkacak pinggang tepat dihadapan Risa . " Dia bahkan tidak mengindahkan peringatanku tentang pakaiannya . " gumam Aydin .
Risa merasa sedang diawasi , seperti ada mata yang menatapnya sehingga Ia membuka matanya .
" Maaf , aku berbaring di ranjangmu tanpa meminta izin . " ujar Risa .
" Hemm ... " Aydin hanya berdeham .
" Jadi sekarang bisa jelaskan padaku , mengapa bisa Dafha bersama mu ? Apa kebetulan lagi ? Atau kamu memang mencaritahu tentangku dan sudah tahu jika Dafha putraku ? "
Aydin mencecar Risa dengan berbagai pertanyaan .
" Sungguh imajinasimu luar biasa . " ujar Risa .
" Jawab saja Risa . "
" Oke oke ... akan ku jawab satu per satu . Tapi lebih dulu bantu aku berdiri . " pinta Risa dengan manja .
Dia kini mengulurkan kedua tangannya pada Aydin .
" Dia benar benar mengujiku . " batin Aydin .
Aydin meraih kedua tangan Risa dan menariknya dengan kuat hingga wanita itu terpaksa berdiri .
Namun karena tak siap Risa hampir saja terjatuh jika Aydin tak menahan pinggangnya .
Kini bukan hanya wajah mereka saja yang berdekatan, bahkan keduanya kini berdiri berhadapan tanpa jarak karena Aydin menarik Risa agar menempel padanya .
Kedua netra itu saling beradu . Baru saja tadi rasanya Risa berhasil menormalkan kerja jantungnya , kini jantungnya kembali berdetak lebih cepat . " Perasaan apa ini ? " batin Risa .
Katakan Aydin sudah kehilangan kewarasannya. Yang Ia tahu , wanita didekapannya ini telah mengganggu pikirannya sejak semalam .
Dan kini dia sendiri yang datang pada Aydin .
" Baiklah Kim Risa , ayo kita cari tahu apa yang terjadi padaku . " Batin Aydin , lalu Ia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah cantik di hadapannya kini .
.
.
.
.
.
"*Siapapun yang jatuh cinta sedang mencari bagian yang hilang dari diri mereka sendiri*."
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1