Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 148. New life, Start begins


__ADS_3

Lupakanlah apa yang kamu rasakan dan ingat apa yang pantas kamu dapatkan.


Tidak peduli apapun itu, jika tidak membuatmu bahagia, maka lepaskanlah.


Mungkin kita perlu membuat tempat baru untuk orang-orang yang lebih baik di hidup kita.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


“Terimakasih Kak, kamu selalu menjadi malaikat penolongku. Dulu dan sekarang kamu selalu ada ketika aku berada di titik terendah di hidupku,” ucap Risa pada Eijaz ketika mobil telah menepi di depan gang tempat rumah pohonny berada.


“Bri... Mengapa aku merasa kamu sedang mengucapkan salam perpisahan?” tanya Eijaz dengan ragu.


Sementara Risa hanya tersenyum tanpa ada jawaban pasti.


“Hanya perasaanmu saja Kak,” balas Risa.


“Selama kita tak saling melupakan, maka tak ada perpisahan,” lanjutnya.


“Baiklah, aku pergi. Dan terimakasih atas telah datang menjemputku.”


Risa hendak membuka pintu mobil namun Eijaz segera menghentikannya.


“Bri, apa kamu masih belum mau bercerita tentang apa yang terjadi antara kamu dan Aydin?” pinta Eijaz.


Risa menggeleng, “Biarlah ini menjadi cerita yang ku simpan sendiri, aku tak ingin kakak menyalahkannya jika mendengar ceritaku. Tapi kakak boleh saja tanyakan padanya, juga boleh menyalahkan aku, ku pikir mungkin dia butuh teman untuk bicara.”


Risa menatap tangan Eijaz yang masih menahan tangannya, Ia pikir Eijaz akan melepaskannya namun ternyata pria itu malah semakin mengeratkan pegangannya seolah tak ingin Risa pergi.


Eijaz menarik napas panjang, mengumpulkan keberaniannya juga menyiapkan hatinya.


Sadar jika saat ini bukan waktu yang tepat, tapi bisikan hati kecilnya seolah meminta untuk mengatakannya sekarang.


“Bri, kupikir ini bukan waktu yang tepat, tapi aku tak tahu mengapa aku sangat yakin harus mengatakan semuanya padamu. Aku tak bisa memendamnya terlalu lama lagi,” ucap Eijaz.


“Sssstttttt .....” Sela Risa. Ia sengaja menempelkan jari telunjuknya di bibir Eijaz agar pria itu berhenti bicara.


“Kak, kumohon biarkan aku selalu mengingatmu sebagai kakak penolongku. Jangan katakan Kak, kumohon jangan. Aku mengerti dan aku hargai itu. Sungguh beruntung karena orang itu adalah aku, tapi kakak bisa mendapatkan yang lebih baik,” lanjutnya.


Deg!


Perih... Teramat perih. Belum juga kata itu terucap, namun Eijaz sudah mendapatkan jawaban dan nyatanya jawaban itu jauh dari harapannya.


Eijaz mengangguk, “Baiklah, aku hargai keputusanmu.”


“Tapi izinkan aku menemanimu malam ini, aku khawatir jika kamu sendiri,” lanjutnya.


Risa menggeleng, “Aku butuh waktu sendiri Kak. Tak perlu khawatir, aku akan mulai hidupku yang baru hari ini.”


Tak ada lagi yang bisa dikatakan Eijaz untuk mencegah Risa.


Perlahan Ia melepaskan tangan Risa, “Behati-hatilah, hubungi aku kapanpun kamu membutuhkanku.”


Netra Eijaz hanya bisa menatap setiap langkah Risa yang berjalan menjauh, hingga bayangannyapun menghilang ditelan gelapnya malam.

__ADS_1


⚘⚘⚘⚘


Sebenarnya tak ada lagi yang perlu Ia lakukan di rumah pohon, hanya saja Risa masih ingin mengingat momen ketika Aydin jujur pada perasaanya di tempat itu.


“Apa alasanmu hingga saat ini kamu tak bisa lagi jujur pada perasaanmu?” batinnya.


Pesan masuk di ponselnya dari Eomma Martha, menandakan jika waktunya disana telah usai.


Segera Ia kirimkan lokasi keberadaannya saat ini dengan bantuan aplikasi penunjuk arah. Dan tak butuh waktu lama, terlihat mobil milik Gio menepi ke arah Risa yang berdiri menanti di tepi jalan, lalu disusul mobil Echa di belakangnya.


Suasana selama perjalanan sangat canggung. Hanya Eomma dan Appa yang bertanya bagaimana perjalanan Risa hari ini.


Sementara Amora bertahan dengan kebisuannya.


Ia masih kesal pada adik angkatnya yang memutuskan untuk pindah ke luar negeri bersama ayah dan ibu mereka.


Risa beberapa kali hendak memulai obrolan dengan Amora, tapi wanita itu hanya menanggapinya sekenanya.


Baru kali ini sejak Ia di Jakarta, Amora berharap agar terjebak macet, macet yang sangat panjang, jika perlu mereka tak pernah sampai di Bandara.


Ingin menahan Risa, tapi Amora juga membenarkan ucapan Bundanya yang mengatakan jika bertahan dalam keadaan seperti Risa tidaklah mudah.


Putus cinta saja sudah teramat sakit, bagaimana dengan Risa, pernikahannya yang di depan mata harus gagal.


Amora bergidik, bahkan untuk membayangkannya saja sepertinya Ia tak sanggup.


Disaat semua sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, tak terasa mobil sudah mulai memasuki area parkiran bandara.


Saat sedang menunggu Gio dan Echa menurunkan barang dari mobil, tiba-tiba saja seruan seorang anak kecil mengejutkan Risa.


“Ma.... Mama Risa.”


Risa segera menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari dari mana sumber suara itu.


“Daa... Fha...”


Risa segera berlari menghampiri Dafha yang terlihat tengah terisak.


Segera Ia mendekap anak lelaki yang tangisannya semakin kencang, “Ma.... Mama... Jangan pergi, jangan tinggalin Dafha Ma.....”


Air mata Risa juga sudah tak dapat terbendung lagi.


Ia usap dengan lembut punggung Dafha, “Dafha... Cup.. Cup... Sayangnya Mama Risa.... Dengarkan Mama dulu yah,” Bujuk Risa.


Risa merenggangkan dekapannya, Ia tatap netra Dafha yang kini banjir air mata.


“Dafha sayang, tolong izinkan Mama Risa pergi yah... Hanya sebentar kok, sekarang Mama Risa harus kembali bekerja dulu,” bujuknya.


Dafha tak menjawab, anak itu terus saja menangis dan menggeleng.


“Dafha kan jagoan Mama Risa, gak boleh nangis yah sayang. Janji, Mama Risa hanya pergi sebentar saja. Bolehkan?” tanya Risa dengan senyumnya.


“Kata Oma, Mama Risa akan lebih bahagia jika Mama Risa lergi? Kalau memang benar Mama Risa bahagia, maka pergilah Ma. Yang Dafha inginkan Mama harus bahagia di manapun Mama berada, jangan lupakan kalau di sini ada Dafha yang menunggu Mama untuk pulang,” ucap Dafha penuh haru.

__ADS_1


Risa tak dapat lagi berkata-kata. Hanya anggukan yang bisa Ia beri sebagai jawabannya.


Kembali Ia memeluk Dafha, sebelum akhirnya bergantian memeluk Ayana.


“Ayana, jangan pernah berhenti mengejar mimpimu. Kau tahu, kau sangat berbakat Ayana, kau punya potensi yang besar dalam dirimu. Maafkan aku Yan, jika aku pernah salah dan menyakitimu,” ucap Risa yang masih memeluk Ayana.


Ayana menggeleng, “Jangan berkata seperti kita tak akan bertemu lagi Kak,” pintanya.


Tangis Risa kembali pecah saat kini waktunya Ia berpamitan pada Mama Indira.


“Ma.... Maafkan aku yang mengambil keputusan seperti ini. Aku tak pernah menyesal pernah berada di antara keluarga Mama dan Papa. Aku bahagia, aku berterimakasih karena sudah diterima dengan baik,” ucap Risa.


“Risa pamit Ma, Pa, maaf jika sudah mengecewakan kalian,” lanjutnya.


Mama Indira sungguh merasa bersalah pada Risa, betapa seringnya perasaan wanita ini yang dijadikan korban dari keegoisan putranya.


“Risa, Mama dan Papa sudah menyayangimu layaknya putri kami sendiri Nak, ingatlah jika ada kami di sini yang selalu menanti kepulanganmu, kami yakin kamu tahu dimana rumahmu dan tempatmu kembali. Maafkan, tolong maafkan Aydin Nak, maafkan anak bodoh itu yang telah menyakitimu,” Ucap Mama Indira semakin mempererat pelukan keduanya.


⚘⚘⚘⚘


Setelah seluruh adegan dramatis sebuah perpisahan usai, di sinilah Risa sekarang,


duduk di bagian first class pesawat yang akan membawanya ke negara di benua Eropa yang menjadi tempat tinggal orang tua angkatnya saat ini, Belanda.


Lebih tepatnya di Kota Amsterdam yang terkenal sebagai Ibu Kota Belanda.


Meski duduk di bagian first class dengan harapan bisa mendapatkan kenyamanan selama penerbangan, namun kenyataanya selama hampir 15 jam mengudara, Risa terus saja menangis di salah satu suite mewah dari 8 suite mewah yang ada.


Bagi Risa mungkin inilah saatnya, Ia sudah tiba di suatu titik yang menyadarkannya, bahwa meski dirinya telah memberikan begitu banyak untuk Aydin, namun pada akhirnya yang bisa Ia lakukan hanyalah berhenti. Dan mungkin sekaranglah saat itu.


“Pergi, ini adalah saat yang tepat untuk pergi,” batin Risa.


Yah, itulah harapan Risa. Sudah Ia pikiran jika sekarang saatnya Ia untuk pergi.


Bukan berarti Risa menyerah, dan bukan berarti Risa tidak mencoba memperbaiki segalanya. Bahkan berkali-kali rasanya Risa selalu membuka hatinya hanya untuk disakiti oleh Aydin.


Tak ingin membuat kedua orang tua angkatnya khawatir yang berlebihan, Risa memilih beralasan jika mengantuk dan ingin tidur.


Setelah menutup sliding door dan menaikkan pembatas kabin, segera Risa mengubah kursi ergonomis yang sejak tadi Ia duduki secara nyaman menjadi tempat tidur datar.


Tentu saja nyaman, suite di kabin pesawat itu bahkan dilengkapi dengan matras, selimut, bantal, juga lengkap dengan ottoman.


Namun meski semua hal terbaik telah dipilihnya untuk Ia berikan sebagai penghargaan pada dirinya sendiri, rasanya masih sulit baginya untuk membedakan apakah yang kini dilakukannya adalah determinasinya atau hanyalah sebuah keputus-asaan.


Itulah yang membuatnya kini terus bimbang dan berakhir dengan deraian air mata sebab menahan perih yang teramat melukai hatinya.


Risa hanya bisa berharap jika apa yang memang miliknya pasti akan jadi miliknya, dan apa yang bukan, sebagaimanapun Ia mencoba, tidak akan pernah jadi miliknya.


Mungkin hal ini yang terlalu Risa paksakan dari awal hingga akhirnya Ia melupakan jika sesuatu yang dipaksakan hanya akan membawa luka.


Luka yang teramat sangat dalam, sedalam cinta dan sayangnya pada pria yang teramat sulit Ia gapai, pria yang awalnya Ia temui hanya karena sebuah amanat.


⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘

__ADS_1


__ADS_2