
" Franda .... ada perlu apa kemari ? "
Kini Aydin yang bertanya . Menyadarkan Franda dari lamunannya karena sejak datang Franda bahkan belum menyapa sama sekali , Ia hanya menatap tajam pada seorang wanita yang sedang memangku Dafha .
" Ah iya... tidak ada apa apa . Aku bertemu Ayana di jalan , jadi aku mengantarnya pulang ."
" Tak ku sangka kita bertemu lagi disini . " ujar Franda yang kini beralih menatap Risa .
" Oh iya , Ms. Franda .. kita ternyata bertemu lagi di sini . " Risa menyapa Franda karena merasa tak nyaman dengan tatapan wanita itu padanya .
" Tak ku sangka Ms. Franda juga tahu rumah orang tua dari Aydin . " ujar Risa pada Franda , tapi tatapannya mengarah ke Aydin .
" Tentu saya tahu Ms . Kim , selain di kantor kami sudah sangat dekat sejak dulu . Aku juga sudah sering main ke sini . Iya kan Ma , Pa ? "
Franda sengaja meminta persetujuan pada orang tua Aydin . Dia ingin menunjukkan pada Risa jika dirinya sudah lebih jauh mengenal Aydin .
Aydin hanya bisa memijat keningnya , Ia sungguh menyadari aroma aroma persaingan diantara dua wanita ini .
Begitu juga dengan Papa Dimas dan Mama Indira .
" Iya ... Franda ini teman SMA Aydin . " Jawab Mama Indira singkat .
Tidak ingin suasana semakin canggung, wanita paruh baya itu segera mengalihkan pembicaraan .
" Tapi kok Ayana bisa kenal Risa ? " tanyanya .
" Ma... Ms.Kim ini mentor aku di agensi model . Itu loh Ma, model terkenal dari korea yang sering aku ceritain . Nah ini dia Ms.Kim . " Jelas Ayana .
" Oohhh... pantas saja . Sejak tadi Mama terus berpikir seperti sering melihat wajah Risa . Wah , senang sekali rumah kita kedatangan model terkenal . " ujar Mama Indira .
" Bisa heboh nih Ibu ibu tetangga kalau tahu rumah kita kedatangan orang terkenal . " lanjutnya .
" Terimakasih Tante , tapi itu berlebihan . Saya biasa saja , tidak seterkenal itu kok . " Jawab Risa merendah .
Hari semakin sore , namun mereka terus saja asik mengobrol . Mama Indira terus saja mengajak Risa mengobrol mengenai aktris dan aktor korea idolanya yang ternyata dikenal Risa .
Mama Indira semakin heboh saat Risa menghubungi salah satu aktor idola Mama Indira lewat video call dan memintanya untuk menyapa Mama Indira .
Belum lagi dengan Ayana yang mengajak Risa berfoto bersama . Untung saja Risa ingat untuk meminta Ayana agar tidak memposting foto foto dirinya agar tidak ada pemberitaan nantinya .
Sedang Franda kini sedang menahan amarahnya , melihat kedekatan Risa dan Aydin .
Franda semakin kesal saat melihat Aydin yang sesekali merapikan rambut Risa yang tertiup angin . Belum lagi tadi Franda sempat melihat Aydin mencuri satu ciuman di pipi Risa saat yang lain tidak memperhatikan .
Setelah menyadari jika hari semakin sore , Aydin meminta Dafha untuk mandi . Namun bocah itu kini bertingkah manja dan meminta Risa yang membantunya mandi .
" Dafha ... berhentilah merengek . Bukannya setiap hari kamu selalu mandi dibantu suster Putri . Jangan memaksa Aunty Risa , pakaiannya bisa basah jika dia memandikanmu . " Aydin menegur sikap manja Dafha .
Walaupun sudah dibujuk namun Dafha tetap tidak berubah .
" Dafha . Berhenti bertingkah . " Bentak Aydin membuat Dafha sedikit tercengang .
Aydin baru akan mulai lagi ucapannya , tapi Risa segera mendahuluinya .
" Ya udah , sini aunty mandiin Dafha . " Ujar Risa mengabulkan permintaan bocah berusia 5 tahun itu .
Dafha mengangguk dan segera turun dari pangkuan Risa . Menggenggam tangan wanita itu , dan berjalan riang menuju kamarnya . Suster Putri , pengasuh Dafha juga segera mengikuti langkah keduanya .
Aydin tak berhenti menatap Risa dan Dafha yang semakin menjauh .
" Gak perlu dilihatin terus juga bang ... mereka cuma ke kamar Dafha , gak akan hilang kok ."
Papa Dimas meledek putranya .
Aydin tertawa . " Baru kali ini aku melihat Dafha mau sedekat itu dengan wanita lain . Dafha juga terlihat sangat senang saat bersama Risa . " ujarnya .
" Iya . Ayana juga akan senang kalau Ms.Kim jadi kakak ipar aku . " Sela Ayana diantara perbincangan Ayah dan kakaknya .
Tanpa mereka sadari disana ada Franda yang semakin memendam amarahnya mendengar obrolan mereka .
Mama Indira bisa menebak bagaimana perasaan Franda saat ini . Ia mengajak Franda untuk membantunya membawa masuk piring cemilan kedalam dapur agar wanita itu tidak harus terus mendengar obrolan yang akan menyakiti perasaannya .
Mama Indira tahu bagaimana wanita itu mencintai putranya dan ingin bersamanya . Mama Indira juga mendukungnya , karena menurutnya Franda wanita yang baik . Tapi tetap saja Mama Indira akan mengembalikan semua pilihan dan keputusan pada putranya .
Merasa cukup lama Risa bersama Dafha , Aydin memutuskan untuk menyusul mereka ke kamar Dafha .
Senyum terbit di wajah tampan Aydin saat melihat Risa yang tengah berlutut di depan Dafha sambil menyisir rambut putranya .
Aydin jadi teringat Kirani . Kirani juga selalu melakukan hal seperti itu saat menyisir rambut Dafha .
Aydin masuk duduk di tepi ranjang , mengamati Risa yang kini sedang memakaikan bedak di wajah putranya .
Cup ...
Risa mengecup pipi Dafha .
" Sekarang Dafha sudah wangi . " ujarnya membuat bocah itu tersenyum .
" Putri ... turunlah bersama Dafha lebih dulu . " ujar Aydin dengan tegas .
Suster Putri mengajak Dafha keluar kamar mengikuti perintah majikannya , meninggalkan Risa berdua bersama Aydin .
Aydin membantu Risa berdiri , namun saat Risa sudah berdiri pria itu malah memeluk pinggang Risa .
Matanya tertuju pada dress Risa yang basah di beberapa bagian . Terutama bagian dada yang menampilkan bayangan pelindung dua bukit kembarnya yang berwarna hitam .
" Sudah ku katakan jika bajumu bisa basah saat memandikan Dafha . " Ujar Aydin dengan suara berat .
__ADS_1
Jantung Risa berdetak lebih cepat . Ia menduga kejadian saat di kantor Aydin bisa saja terulang kembali .
Dengan sigap Risa mengambil handuk Dafha yang ada di pundaknya lalu menutup bagian dadanya .
Aydin tertawa , membuat rona merah di wajah Risa .
" Terlambat sayang ... aku sudah melihatnya . "
Aydin lalu menarik handuk itu dan melemparnya kesembarang arah .
Kemudian dengan tak sabar Ia segera menyerang bibir Risa . Menyatukan bibir mereka. Merasakan manis yang tidak bisa Ia lupakan sejak pertama kali merasakannya .
Suara dari cecapan kedua bibir yang sedang beradu , terdengar indah ditelinga keduanya . Satu tangan Aydin yang tadinya menahan tengkuk Risa kini turun menjelajahi punggung , terus turun hingga menggapai dua bongkahan Risa . Mengusapnya lembut membuat Risa merasakan gelenyar aneh .
Aydin semakin merapatkan tubuh keduanya , mengikis jarak hingga kini kemeja Aydin juga ikut basah karena bersentuhan dengan baju Risa .
Hingga keduanya dikejutkan oleh pintu kamar yang tiba tiba terbuka , dan suara nyaring teriakan Ayana .
" Astaga... apa yang kalian ..... "
Ayana tidak melanjutkan ucapannya , Ia langsung menutup pintu kamar kembali .
Ayana mempercepat langkahnya menjauh namun segera berbalik karena hawatir abangnya bisa bertindak gila jika tidak dihentikan .
Sementara Risa kini sedang berusaha melepaskan diri dari pelukan Aydin setelah malu ketika Ayana melihat apa mereka lakukan .
Namun Aydin sepertinya tidak peduli , dan ingin melanjutkan kegiatan mereka yang tadi tertunda.
Baru saja Aydin kembali berhasil menempelkan bibirnya pada bibir Risa , pintu kamar terbuka kembali .
" Astaga Bang Aydin , malah dilanjutin lagi ... " Ujar Ayana .
Kesempatan ini di manfaatkan Risa untuk lepas dari pelukan Aydin . Sudah dipastikan wajah putihnya kini semerah tomat . Dua kali di pergoki tengah berciuman , bagaimana Risa akan bertemu dengan Ayana nanti di kelas model .
" Maaf .. maaf Bang .. aku cuma mau ngajak Ms.Kim ke kamarku untuk ganti baju . Udah aku siapin . " ujar Ayana tanpa rasa bersalah dan berdosa .
Mendengar itu Risa segera mengambil handuk Dafha yang tadi dilempar Aydin . Menutupi bagian dadanya yang basah , kemudian mengikuti langkah Ayana ke kamarnya .
Aydin menggerutu sebal pada Ayana lalu Ia menyusul keluar dari kamar Dafha .
Saat keluar , Ia berpapasan dengan Mama Indira.
" Loh Aydin ... Risa mana ? " tanyanya .
" Ke kamar Ayana ganti baju . Bajunya basah . "
" Tapi kok baju kamu juga ikutan basah ? Memangnya kamu bantuin mandiin Dafha juga ? "
Aydin melihat bagian yang ditunjuk Mamanya . Ia tersenyum menyadari apa penyebab bajunya juga ikut basah .
Tanpa menjawab pertanyaan Mama Indira , Aydin berlalu menuju kamarnya untuk mengganti bajunya dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahnya .
Mama Indira sampai bingung melihat sikap putranya . Tapi Ia bersyukur karena Aydin hari ini terlihat lebih hidup .
Setelah berganti baju , Aydin menyusul Risa yang sudah duduk memangku Dafha di ruang keluarga . Disana juga ada kedua orang tuanya , Ayana , dan Franda .
Risa menatap Aydin sampai lupa cara berkedip . Aydin sangat mempesona dengan baju kaos dan celana jeans . Juga tak lupa kini Ia membawa tas gym di salah satu tangannya .
" Ris jalan sekarang aja yuk . " Ajaknya .
" Loh ... kalian sudah mau pergi ? Apa tidak menunggu makan malam dulu . " ujar Mama Indira .
" Hari ini Aku dan Risa jadwalnya nge gym . Kalau berangkat setelah makan malam nanti kelamaan , masih mau ke tempat Risa untuk ngambil barang . " jelas Aydin .
__ADS_1
Sementara Risa yang menjadi topik pembahasan malah bingung .
" Sejak kapan hari ini jadi jadwal gym ku ? Dan siapa juga yang mau mengajaknya ke tempatku ? " batin Risa .
" Ya udah , yuk Ris . Kenapa kamu malah melamun . " tegur Aydin .
" Ma.. titip Dafha yah . Aku nanti pulang kesini kok . " Lanjutnya .
" Oh.. iya.. mianhae ( maaf )... mianhae ( maaf ) .... "
Risa sudah akan berdiri , tapi Dafha tidak mau melepas pelukannya pada Risa .
Bocah itu sampai menangis , Ia tidak ingin Risa pergi meninggalkannya .
" Dafha ... kenapa Dafha menangis ? " tanya Risa lembut .
" Aunty gak boleh pergi . Aunty udah janji kalau nanti misi kita berhasil , aunty akan nemenin Dafha . " Jawab Dafha tanpa menghentikan tangisannya .
Sontak saja wajah Risa berubah pucat . Bagaimana jika ada yang mendengar ucapan Dafha soal misi mereka , dan jadi curiga .
" Sssttt .... sssttt.... Dafha gak boleh nangis . Aunty dan Papa hanya pergi sebentar aja kok . Kami harus olah raga , biar sehat , biar tambah kuat nanti nemenin Dafha main . " bujuk Risa lembut .
Dafha tidak bergeming . Anak itu makin mengeratkan pelukannya .
" Lagian sebentar lagi udah malam . Anak yang baik kalau malam itu waktunya istirahat . Mainnya di lanjutin besok . " lanjut Risa membujuk Dafha .
Dafha masih tidak mau melepaskan pelukannya pada Risa .
" Dafha , please .... kali ini tolong nurut sama Daddy . " ujar Aydin dengan nada suara yang mulai meninggi .
" Ma ... tolong dong .... "
Kali ini Aydin mengeluh pada Mama Indira dengan suara yang masih tinggi .
Sontak saja Risa menatap tajam pada Aydin membuat pria itu menyadari jika dirinya barusan berbuat kesalahan.
" Dafha sayang .... Dafha mau gak kalau pulang sekolah besok aunty yang jemput ? Nanti sebelum pulang kita mampir makan es krim dulu . Gimana ? " bujuk Risa .
Dafha berpikir sejenak lalu mengangguk .
" Sekalian antarin Dafha ke sekolah juga yah aunty . "
Aydin sudah akan buka suara lagi , tapi Risa menjawab lebih dulu .
" Deal . Tapi sekarang aunty harus pulang dulu . Aunty gak akan pergi bareng daddy kok . Aunty harus pulang karena kakaknya aunty sendirian di rumah . Dafha bisa ngertikan ? " tanya Risa dengan sangat lembut .
Dafha akhirnya mengangguk . Ia mencium kedua pipi Risa bergantian sebelum akhirnya turun dari pangkuan Risa .
Setelah berpamitan akhirnya Risa dan Aydin pergi menyisakan Dafha yang sedih karena harus berpisah dengan Risa .
Bagaimana dengan Franda ?
Sudah pasti wanita itu terus saja menyembunyikan kebenciannya lewat senyumnya saat menyaksikan drama telenovela yang diperankan oleh Dafha , Risa , dan Aydin .
.
.
.
.
.
"*Bukan tentang seberapa lama hubungan itu terjadi, namun tentang bagaimana kau saling memahami*."
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue