Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 105. Yes, I Will


__ADS_3

"Betapa kadang kita sangat mudah terkelabuhi dengan ketertarikan dan rasa penasaran."


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Senyum merekah terus menghiasi wajah cantiknya ketika membayangkan kejutan apa yang mungkin diberikan oleh pasangan Ayah dan Anak, Aydin dan Dafha untuknya.


Gaun berwarna broken white dengan detail punggung yang sangat terbuka, telah melekat indah di tubuh dengan pahatan sempurna milik Risa. Pahatan tubuh khas seorang model ternama.


Make up tipis semakin mempercantik wajahnya. Namun khusus malam ini, Risa sedikit memberikan perbedaan pada sentuhan warna merah terang bibirnya yang selama ini lebih sering Ia beri warna natural.


Entah mengapa, Risa merasa harus merias wajahnya dengan riasan yang lebih berani ketika Ia memakai gaun pemberian prianya.


Kini Ia sedang menata rambutnya, meski memilih untuk menggerai rambut panjangnya, Ia tetap memberikan kesan curly pada rambutnya.


Sentuhan akhir, parfum beraroma vanilla melengkapi penampilannya malam ini.


Suatu artikel yang pernah Risa baca, jika vanilla adalah afrodisiak alami, peningkat libido, dan secara alami menurunkan tingkat stress.


Itulah mengapa malam ini, pilihannya jatuh kepada parfum dengan aroma vanilla untuk menampilkan sensualitas, kenyamanan, kehangatan, dan kepuasan dari dirinya.


“Arrggghhh, penampilanku kini membuat pikiran traveling ke alam goib.” Batin Risa saat sekali lagi Ia mematut dirinya di depan cermin.



Dengan percaya diri, Risa melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Pencahayaan yang remang-remang, membuat Risa memanfaatkan bantuan ponsel pintarnya untuk berjalan menuju taman, tempat yang disebutkan oleh Aydin dan Dafa pada kartu ucapannya.


Seketika langkahnya terhenti ketika mengingat kata taman.


“Taman?” gumamnya.


“Bukankah di taman akan ada pesta pernikahan? Apa yang menikah adalah kenalan Aydin? Tapi apa hubungannya dengan kejutan untukku?” Batin Risa penuh tanda tanya.


“Atau apa mungkin pesta itu disiapkan Aydin untukku? Tapi dalam rangka apa? Ulang tahunku saja masih lama.”


Gumamnya dengan langkah perlahan.


Risa masih terus mencari-cari jawaban atas pertanyaannya.


Hingga tanpa sadar tempat yang Ia tuju semakin dekat.


Bahkan dari kejauhan, Aydin, Dafha, dan tim suksesnya sudah berdebar-debar melihat Risa yang mendekat dengan perlahan.


Langkahnya terhenti tatkala Ia melihat jalan di depannya telah dihias dengan bunga dan lampu kerlap kerlip.


Jalan itu bak jalan yang biasa Ia lihat di buku dongeng miliknya sewaktu kecil.



“Apa Aydin akan melamarku?” batinnya.


“Tidak, aku belum siap. Aku takut jika pernikahan kami nanti masih akan terbayang oleh Kirani.” Sambungnya masih membatin.


Risa hendak berbalik kembali ke kamar, membuat beberapa pasang mata yang mengawasi pergerakannya dari jauh menjadi was-was.


Langkahnya kembali terhenti, “Tapi jika tidak sekarang, kapan aku akan siap. Bukan berarti Aydin akan menikahiku besok.”


Peri cinta mulai melakukan tugasnya dengan baik. Membisikkan kalimat yang bisa membuat Risa meneruskan langkahnya.


“Tapi bagaimana jika Aydin tau soal amanat Kirani? Dan berpikir aku telah membohonginya.” Satu pertanyaan muncul lagi di benak Risa.


“Jika Ia sudah benar-benar mencintaiku, maka Ia akan memaafkanku, benarkan?” Jawabnya pada dirinya sendiri.


“Sampai kapan juga aku dan Aydin bisa menahan untuk tidak melakukan dosa yang lebih besar dari dosa yang telah kami lakukan saat ini.” Lanjutnya masih membatin.


“Terutama untuk Dafha, anak itu pasti sangat mengharapkan aku benar-benar menjadi Mamanya.” Gumam Risa.


Kembali Ia berbalik, melangkah dengan pasti, penuh keyakinan dan tekad untuk menerima jika Aydin hendak melamarnya.


“Hanya jika Aydin melamarku.” Kalimat itu Risa ulang sekali lagi, lalu tertawa.


“Percaya diri sekali kau Risa.”


“Hanya karena gaun dan jalan romantis bak negeri dongeng ini, kau menyimpulkan jika Aydin akan melamarmu.” Gerutunya lirih sambil tertawa.


Dari jauh Aydin dan yang lainnya berusaha menahan tawa saat melihat Risa dengan mulut komat-kamit berjalan melewati jalan yang segaja Aydin buat seindah mungkin.

__ADS_1


Ketika sampai di ujung jalan yang mirip terowongan, Risa disambut dengan alunan instrumen lagu romantis milik Christina Perri-A Thousand Years, yang mengalun indah lewat permainan piano Echa.


Telapak tangannya yang tiba-tiba terasa dingin, kini merasa hangat saat tangan mungil milik Dafha menggenggamnya.


Bocah itu menengadah menatap wanita yang Ia panggil Mama, tersenyum dan mengedipkan satu matanya, membuat Risa yang tadinya terharu akhirnya terkekeh.


Rasanya belum cukup dengan ini semua, Risa kembali dikejutkan oleh kehadiran Daffin, Ayana, Gio, Amora, Esme, dan Alvin.


Mereka berdiri di sisi-sisi jalan yang dilalui Risa bersama Dafha. Sesekali Ayana, Amora, dan Esme menaburkan kelopak bunga mawar merah ke arah Risa.


Yang lucu, kini bibir Risa terus saja tertawa dan tersenyum bahagia karena orang-orang terdekatnya ada di sini.


Namun dari kedua mata indahnya terus saja berlinang air mata.


Air mata kebahagiaan benar-benar nyata telah mengiringi lagkah Risa malam ini.


Hingga mereka sampai di sebuah gazebo yang menghadap langsung ke pantai.



Di sana berdiri seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam, “Sangat tampan.” Puji Risa dalam hati.


Pria yang tak lain adalah kekasihnya, menerima uluran tangan wanita yang diberikan oleh putranya.


Instrumen piano yang dimainkan Echa terhenti ketika Aydin menyebut nama Risa.


“Brisa Elzavira,”


Terdengar suara tarikan napas panjang oleh Aydin, membuat yang menyaksikan dari kursi-kursi dan meja yang juga telah dihias dengan indah menjadi ikut merasakan ketegangan Aydin.



“Kim Risa,”


Sekali lagi Aydin menyebutkan nama Risa yang diberikan oleh orang tua angkatnya.


Mata Risa sudah berkaca-kaca, rasanya Ia ingin secepatnya mengakhiri suasana haru ini dengan tawa kegembiraan. Sudah terlalu sering mereka melihat Risa menangis.


Tanpa diduga Aydin berlutut dengan satu tangan menggenggam tangan Risa, dan tangan lainnya memegang kotak berisi cincin yang berkilau sangat indah.



Risa ingin sekali membungkam pria itu degan bibirnya, tapi Ia urungkan setelah melihat kehadiran Mama Indira dan Papa Dimas.


Yang lainnya sontak berdiri dari kursinya. Mereka tak bisa menebak apa maksud Risa.


Mereka semua cemas, jangan sampai Risa menolak bahkan saat Aydin belum sempat mengutarakan niatnya.


Risa menuntun Aydin agar berdiri kembali.


Keringat dingin menghiasi wajah tampan Aydin karena gugup.


“Yes, I Will.”


Kalimat itu akhirnya terucap dari bibir merah menggoda Risa.


Kata-kata yang sejak tadi sudah Ia siapkan dan sudah tak sabar ingin terlontar.


“Maksudmu Sayang? Bisa kamu perjelas, kadang aku jadi bodoh saat terlalu bahagia.” Ucap Aydin.


Yang lainnya ikut tertawa, setelah Risa tertawa mendengar permintaan Aydin.


“Cepat pasangkan cincinnya, karena aku bersedia untuk menjadi istrimu. Menjadi Ibu bagi Dafha. Menjadi pendampingmu di dunia dan akhirat.”


Ucap Risa dengan yakin. Tanpa keraguan dan tanpa air mata. Seperti janjinya, jika Ia ingin tawa yang mengiringi langkah awal dari kehidupan baru yang akan Ia jalani.


Berbeda dengan Aydin yang tak kuasa menahan linangan air mataya.


Dengan tangan bergetar, Ia pasangkan cincin pertunangan di jari manis Risa.


Ayana yakin jika Kakaknya sudah sangat mencintai Risa. Kakaknya terlihat sangat berbeda saat ini. Bahkan saat dengan almarhumah Kirani, Aydin tidak seperti ini.


Suasana haru menyelimuti malam yang dingin, instrumen indah lagu A thousand years kembali terdengar.


Mengalun Indah mengiringi Risa yang juga memasangkan cincin di jari manis Aydin.


Meski sangat ingin, tapi Risa tak seberani Aydin yang tampak acuh dengan kehadiran orang tua dan kerabatnya.

__ADS_1


Ia satukan bibirnya dengan bibir calon istrinya, mengecup, lalu semakin dalam, semakin dalam, hingga rasanya dunia hanya dihuni oleh mereka berdua.


Dafha yang matanya ditutup oleh Ayana memberontak, hingga akhirnya bocah itu menangis membuat Risa melepas tautan bibir keduanya.


Dafha yang berhasil lolos, segera berlari memeluk Risa.


“Huft, kali ini aku mengalah karena masih calon. Tapi kalau sudah sah, aku tak akan tinggal diam boy.” Ucap Aydin.


“Auuccchh,” ringis Aydin saat perutnya mendapat cubitan maut dari Mama Indira.


“Awas saja jika berani mengganggu cucu kesayanganku.” Ancam Mama Indira.


Semua yang menyaksikan tertawa bersamaan.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Pagi yang selalu saja sibuk di Ibu Kota Jakarta.


Eijaz tengah menanti sang Bunda untuk sarapan bersama.


Dalam diamnya, Ia duduk di balik meja makan dengan berbagai pertanyaan kini muncul dibenak Eijaz.


“Apakah aku terlambat Bri?” Batin Eijaz.


“Apakah aku salah jika berharap semua pikiran yang membuatku sedih, itu tidak benar?” Lanjutnya.


Bunda Nadine baru saja keluar dari kamarnya dan bergabung bersama putranya untuk sarapan bersama.


“Selamat pagi sayang,” sapanya pada putranya.


“Pagi Bunda.”


“Ada apa? Kenapa wajahmu tak bersemangat? Apa terjadi sesuatu di perusahaan yang membuatmu tak suka?” Cecar Bunda Nadine.


“Bukan, semuanya berjalan lancar. Romi sungguh membantuku dengan banyak hal.”


“Lantas? Mengapa kau terlihat sangat risau?” Bunda Nadine terus mencecar putranya dengan pertanyaan.


Eijaz harus dalam kondisi fit, dan dalam suasana hati yang tenang tanpa beban untuk memulai pengobatannya di sini.


“Bunda, menurutmu apa semua yang diberitakan media itu benar?”


Bunda Nadine mengernyitkan keningnya, “Misalnya?”


“Misalnya seperti Brisa, seorang wanita dewasa, cantik, tenar, tapi belum memiliki kekasih.”


Deg!


“Apa mungkin Eijaz sudah tau mengenai hubungan wanita itu dengan sahabatnya?” batin Bunda Nadine.


“Bunda.. Bun, gimana menurut Bunda?”


“Hemmm, entahlah. Tapi ada yang bilang jangan terlalu percaya dengan berita di media, kadang berita dibuat bukan untuk menyampaikan fakta, tapi untuk menarik simpati dan dukungan.”


Komentar Bunda Nadine sedikit mencubit hati Eijaz, secara tersirat Bunda juga tak yakin dengan status Brisa saat ini.


“Bodoh, harusnya aku menyelidiki hal itu terlebih dahulu sebelum kembali kemari. Aku terlalu gegabah.” Batin Eijaz merutuki dirinya sendiri.


Bunda Nadine menyadari perubahan raut wajah putra tunggalnya, “Tapi selama belum ada bukti akurat yang menyatakan jika berita itu salah, Bunda rasa tak perlu ragu dengan kebenaran berita itu.” Sambungnya.


Senyum terbit di wajah Eijaz, “Benar kata Bunda. Selama penolakan bukan terucap dari bibir Risa sendiri, harusnya aku tak boleh berpikiran terlalu jauh.” Batinnya.


Melihat senyum di wajah putranya, semakin membuat hati Bunda Nadine seperti teriris belati.


“Bagaimana bisa aku menaruh harapan pada putraku, hanya agar dia tenang dan siap menjalani pengobatannya hari ini.” Batin Bunda Nadine tak henti menyalahkan diri sendiri.


“Apakah aku Ibu yang baik, atau aku Ibu yang egois? Apa tak cukup karenaku Eijaz kehilangan sosok Ayahnya? Apa tak cukup karenaku wanita itu kehilangan sosok Ibu kandungnya? Apa tak cukup karenaku hingga menghancurkan keutuhan satu keluarga?”


Bunda Nadine mengingat-ingat semua dosa yang telah Ia buat sebagai buntut dari sifat egois yang Ia miliki.


Semua berawal dari rasa keingin tahuan yang berlebihan terhadap masa lalu suami yang telah Ia nikahi selama 12 tahun lamanya kala itu.


Rasa ingin tahu yang menjadi awal mula kehancuran bagi dua keluarga bahagia.


Keluarganya bersama sang suami, Faruq Humesh.


Dan keluarga mantan kekasih suaminya, Laksmi Candramaya.

__ADS_1


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


“Kebanggaanku karena telah berhasil membuatmu memilihku. Tidak berhenti di sini, Aku akan senantiasa mengupayakan cinta yang terbaik untukmu. Aku akan memantaskan diriku menjadi tempat pulang ternyaman bagimu.”


__ADS_2