
-Kim Risa, model kelas dunia yang telah lama tak terdengar kabarnya, kini kembali memberi bahagia mengenai pernikahannya yang akan digelar dalam waktu dekat-
Risa menyunggingkan senyumnya tatkala ia membaca head line berita yang kini sedang ramai baik di media sosial maupun TV.
Terlebih saat Risa mendapat kabar dari Amora jika kantor agensi Risa di Korea Selatan menerima banyak sekali hadiah yang ditujukan untuknya.
"Banyak dari enggemar, juga para model yang dulu pernah menjadi muridmu, sangat merindukan kamu untuk tampil kembali."
Hal itu yang diucapkan Amora saat mereka melepas rindu melalui panggilan video.
Saat itu Risa hanya bisa tersenyum, ia tahu jika Amora mengucapkan hal itu untuk menyemangati dirinya.
Tapi bagaimana jika mereka tahu kondisiku sekarang? Apa mungkin mereka masih akan mengagumiku? Batin Risa kembali mengasihani dirinya sendiri.
"Aku saja mengasihan kondisiku sekarang, lalu bagaimana dengan penggemarku?" tanya Risa.
"Bagaimana jika ada penggemar yang malah menghujatku?" Gumamnya.
"Sepertinya aku dahulu sempat terlena dengan bermacam-macam pujian, mungkin ini saatnya aku menerima semua hujatan."
Monolog Risa di dalam kamar tidurnya harus terhenti ketika ponsel di pangkuannya bergetar.
Senyum manis itu kembali terlukis di wajah cantik Risa saat melihat nama Aydin di sana.
"Halo sayang," sapa Aydin saat di layar ponselnya tampak wajah wanita yang ia sangat rindukan.
"Ayy," balas Risa dengan senyuman.
"Kamu sedang apa?" Aku sangat merindukanmu.
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Bermain dengan Dafha pun aku tak bisa," jawab Risa.
Risa bisa mendengar Aydin menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Perlu kesabaran dalam menghadapi Risa dan segala kekhawatirannya. Batin Aydin.
"Sayang … siapa bilang kamu tak bisa berbuat banyak hal? Ayo sayang semangatlah ... banyak yang bisa kamu lakukan bersama Dafha," ujar Aydin menyemangati wanita yang membuatnya mampu bertekuk lutut untuk memohon cinta.
"Kamu bisa menemani Dafha belajar, atau bermain permainan papan, bermain video game, dan masih banyak hal menyenangkan lainnya sayang," ucap Aydin menenangkan wanita yang sebentar lagi akan ia jadikan istri.
__ADS_1
Aydin bisa melihat jika kedua netra kekasihnya kini mulai berkaca-kaca.
"Sayang, apa sebenarnya yang mengganggu pikiranmu ... seandainya aku ada di sana aku akan memelukmu dan silakan menangislah sepuasmu," sesal Aydin.
Tiga bulan yang lalu, dengan berat hati Aydin harus kembali ke Indonesia.
Selain karena masa berlaku dokumen izin tinggalnya yang sebentar lagi akan kadaluwarsa, pria itu juga harus kembali untuk mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk pernikahannya bersama Risa yang rencananya akan dilaksanakan di Amsterdam.
Aydin tak ingin ada kesalahan yang berakibat terhambatnya rencana pernikahannya dengan Risa, kali ini ia yang turun tangan langsung untuk mengurus semua dokumennya.
"Ayy, maaf aku tiba-tiba jadi melow gini," ucap Risa menyadari jika akhir-akhir ini ia menjadi lebih sensitif.
"Tak apa sayangku, bukannya kita sudah berjanji untuk saling jujur dengan perasaan kita?" ucap Aydin.
Dari layar persegi Aydin bisa melihat calon istrinya itu mengangguk.
"Bagaimana dengan pengurusan dokumen pernikahan? Apa sudah selesai?" Tanya Risa.
Karena pertanyaan Risa, Aydin sampai menghela napas panjang sebab terbersit di ingatannya bagaimana 1 bulan yang lalu Aydin bertemu dengan ayah kandung Risa, Ferdinand yang masih terkurung di tahanan.
Saat itu Aydin harus melengkapi 2 dokumen yang memerlukan tanda tangan dari Ferdinand selaku ayah kandung calon istrinya yaitu surat kuasa menunjuk orang lain sebagai wali nikah dan surat izin dari orang tua untuk diserahkan ke Kedubes Belanda.
"Ada apa kau menemuiku? Bukankah kalian sudah gagal menikah?" celoteh Ferdinand diikuti dengan tawanya membuatku geram.
"Sepertinya anda bahagia sekali dengan batalnya pernikahan kami?" tanyaku.
Ferdinand masih tak usai dengan tawanya. "Tentu saja saya bahagia. Penderitaan kalian adalah kebahagiaan untukku."
Setelah itu, gantian Aydin yang terbahak. Lalu Aydin menyerahkan beberapa lembar kertas.
"Tanda tangani berkas itu," pinta Aydin.
Ferdinand membaca sekilas isi berkas yang dibawa Aydin, tawanya terhenti lalu Aydin bisa melihat tangan pria paruh baya itu mengepal.
"Tidak," tolaknya.
"Katakan apa maumu?" tawar Aydin.
"Beri aku 300 juta, lalu akan kuikuti apa maumu," tantang Ferdinand.
__ADS_1
Aydin menyeringai senang hal ini sesuai dengan dugaannya. "Akan kuberi 500 juta, tapi setelah menandatangani surat ini, jangan pernah lagi anda mengusik kehidupan kamu. Kehidupan Risa dan Anggun."
Aydin tak peduli meski harus menguras dompetnya hingga ratusan juta rupiah yang terpenting baginya adalah ketenangan Risa dan keluarga kecilnya kelak.
Aydin yang tengah melamun, mengingat kembali peristiwa itu sampai tak menyadari jika calon istrinya terus saja memanggil-manggil namanya.
"Ayy," seru Risa yang mulai kesal sebab Aydin terus saja melamun.
"Iya sayang … Maaf, maafkan aku tadi tak mendengar kamu memanggilku," ucap Aydin.
"Semua dokumennya sebentar lagi selesai, tinggal menunggu jawaban dari Kedubes Belanda saja sayang, jika sudah terbit maka kita sudah bisa menentukan tanggalnya," sambungnya.
Syukurlah semua berjalan lancar dan dimudahkan. Sebenarnya yang Risa khawatirkan adalah izin dari ayahnya.
Syukurlah Aydin tak mengeluhkan hal itu. Batin Risa tanpa tahu apa yang telah terjadi sebelumnya.
"Sayang aku tutup teleponnya, aku masih harus meeting dengan beberapa klien."
"Aku sangat merindukanmu sayang," sambungnya.
Panggilan keduanya pun akhirnya berakhir. Semenjak keduanya memutuskan untuk menikah sekitar 3 bulan yang lalu, tak lama setelah itu Aydin terpaksa harus pulang ke Indonesia untuk mengurus semua dokumen yang diperlukan agar pernikahan keduanya bisa segera terlaksana.
Sementara Risa kini memfokuskan dirinya mengikuti terapi agar kakinya bisa kembali berjalan normal.
Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan hasil dari terapi pada kakinya hanya mengalami sedikit saja kemajuan.
Risa tiba-tiba saja merasa insecure pada dirinya sendiri.
"Apakah aku pantas bersanding dengan Aydin?" Gumamnya saat melihat kesempurnaan pada Aydin.
"Mengapa semakin mendekati hari pernikahan, selalu saja rasa gelisah, resah, seenaknya saja menimbulkan keraguan padaku?" Monolog Risa pada diirnya sendiri.
Namun ketika Risa mengingat lagi, betapa banyaknya rintangan dan begitu sulitnya perjuangan untuk sampai sedekat ini dengan pernikahan.
Risa berusaha untuk memaafkan dirinya sendiri, memaafkan Aydin, memaafkan masa lalu, juga memaafkan segala hal yang masih mengganjal di hatinya. Risa ingin mengawali pernikahan dengan kebahagiaan.
"Aku percaya ada hadiah untukku dibalik pernikahan ini. Aku yakin kebahagiaan itu akan ada di sana," gumam Risa.
Kumohon kuatkan aku Tuhan, menjelang akhir dari penantian dan perjuanganku ini. Kumohon jauhkanlah apa pun yang bisa menjadikan semuanya sia-sia. Doa yang terus Risa panjatkan dalam hatinya.
__ADS_1
💕💕 To be continued 💕💕