
Cukup percaya pada diri sendiri tanpa harus berharap orang lain mempercayai dirimu.
Mengapa harus sibuk mencari seseorang yang akan membuatmu terlihat sempurna jika dengan mempercayai dirimu, mencintai dirimu, dan menjadi dirimu sendiri sudah bisa memberi kebahagiaan. Apa lagi yang kau cari?
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Tidak perlu ragu, cukup lakukan hal yang benar alih-alih melakukan hal yang terlihat sempurna.”
Ucapan Aydin mengiringi langkah kaki Risa yang sebelumnya sempat ragu ketika keduanya hendak masuk ke dalam perusahaan Ortiva Construction.
Ingin sekali rasanya Aydin memeluk Risa, membelai lembut surainya yang kini tergerai, mencium keningnya dan berkata jika semuanya akan baik-baik saja.
Namun semua hanya sebatas keinginan saja, karena tidak ada hak baginya melakukan hal itu pada wanita yang telah Ia sakiti hatinya.
Risa menarik napas panjang dan mengangguk pada Aydin, lalu pria itu membuka pintu ruang rapat.
Semua mata kini tertuju pada sosok yang sudah 2 hari menjadi bahan perbincangan dimana-mana.
Sosok yang mengaku sebagai Brisa Elzavira, putri dari Ferdinand yang telah dinyatakan meninggal 10 tahun lalu.
Risa menatap pada 4 orang yang menyambutnya dengan senyuman, tentu saja mereka Gio, Amora, Esme, dan Echa.
Sementara yang lainnya sungguh
beragam. Ada yang menyambutnya dengan tatapan kagum dan memuja.
Ada juga 2 orang yang kini menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Mereka adalah Ferdinand dan Indri.
Indri yang tidak ingin keadaan semakin memojokkan mereka, kini Ia berusaha untuk memilih berpihak pada kubu yang memiliki peluang terbesar untuk menang.
“Brisa? Putriku?” Indri mulai menampilkan drama yang skenarionya baru saja Ia tulis beberapa saat lalu.
Brisa mengernyitkan keningnya, terlebih ketika Indri mendekat kearahnya.
“Brisa, apa kau tidak mengingatku Nak? Aku adalah Ibumu,” tuturnya lembut.
“Maaf Nyonya, Ibu saya telah meninggal 11 tahun yang lalu.” Balas Risa.
Ia berjalan melewati Indri yang mematung ditempatnya karena Risa berani- beraninya mempermalukan dirinya.
“Yang ku ingat , anda adalah pembunuh Ibuku,” bisik Risa pada Indri sambil menyeringai.
“Selamat siang. Mohon maaf, jika aku harus datang dengan cara seperti ini. Mohon maaf Ayah.” Ucap Risa tanpa sama sekali menatap Ferdinand sekalipun Ia baru saja mengucapkan kata Ayah.
“Perkenalkan aku adalah Brisa Elzavira, putri kandung dari Bapak Ferdinand yang terhormat. Serta harusnya menjadi satu-satunya pewaris yang sah secara hukum atas Ortiva Construction yang merupakan perusahaan peninggalan kakekkju.” Jelas Risa sambil menunjuk ke layar yang sudah diambil alih oleh Echa dan kini menampilkan surat wasiat yang asli.
“Namun kalian tidak perlu terlalu terfokus pada surat wasiat ini, karena dengan kepandaian Tuan Ferdinand, surat wasiat baru telah terbit dengan isi yang berbeda.” Ucap Risa.
“Tapi kini saya Brisa Elzavira, berdiri disini sebagai pemilik saham terbesar ingin menggunakan hak saya untuk mengajukan peninjauan kinerja dari Tuan Ferdinand.” Ucap Risa.
__ADS_1
“Jangan bercanda Brisa, semua yang ada diruangan ini adalah pemilik saham yang sebenarnya.” Sanggah Ferdinand.
“Benar Ayah, sebelum beberapa orang menjualnya padaku beberapa saat yang lalu.” Balas Risa.
Tristan segera mengecek kebenaran informasinya terkejut dengan fakta yang Ia dapatkan.
“Kurang ajar, kalian telah bersekongkol untuk menjatuhkanku.” Bentaknya .
“Maaf Ayah, tapi kinerjamu sungguh buruk. Kasihan dengan para pemegang saham yang lainnya jika nilai saham mereka terus turun.” Balas Risa dengan santai.
Risa berhasil mempengaruhi para pemegang saham yang lain dan para dewan direksi sehingga pada rapat kali itu diputuskan jika Ferdinand diberi waktu 2 hari untuk mengembalikan harga saham menjadi normal, jika tidak IA harus mundur dari jabatannya.
Risa tersenyum puas dengan hasilnya, tapi tidak dengan Indri dan Ferdinand.
Sebelum meninggalkan ruang rapat Risa mendekati Ferdinand dan Indri.
“Apa kabar Ayah dan Nyonya ? Maaf sejak kepulanganku aku belum sempat menyapa kalian dengan benar.” Ucap Risa.
“Dasar anak tidak tau diri. Dasar anak yang tidak tau balas budi,” maki Indri dengan tangan yang hendak menampar pipi Risa.
Beruntung Esme dengan cepat menahan tangan wanita itu.
“Jauhkan tangan kotormu dari adikku. Bahkan untuk menghirup udara yang sama dengannya seperti ini kau tak pantas Nyonya.” Ucap Esme menghina Indri.
“Kau mengatakan aku jahat, tapi apa yang kau lakukan kini pada kami juga jahat Brisa.” Ucap Indri.
Brisa tertawa, “Sungguh lucu ketika mendengar Anda mengeluh atas apa yang kuperbuat pada kalian. Jika saja aku melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan padaku, aku tak yakin jika kalian masih berada di dunia ini atau tidak.” Ucap Risa kemudian pergi meninggalkan Indri dan Ferdinand.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Entah hanya perasaannya saja, tapi Risa merasa jika Aydin menghindarinya. Bahkan seperti saat ini, ketika Dafha sudah diizinkan untuk kembali ke rumah, yang menjemputnya adalah Ayana dan Mama Indira.
Risa yang baru saja menidurkan Dafha dikamarnya, dikejutkan oleh kehadiran Aydin.
“Risa, bisakah kita bicara sebentar?” pintanya.
Risa mengangguk dan mengikuti langkah Aydin ke ruang kerja.
“Duduklah,” ucap Aydin.
“Risa, terimakasih karena kamu sudah mau merawat Dafha dan aku sungguh minta maaf karena telah merepotkanmu.” Ucap Aydin.
“Tidak masalah, bukankah saat itu sudah ku katakan jika aku sungguh tulus menyayangi Dafha.” Balas Risa.
“Itulah mengapa aku memohon padamu apapun yang terjadi diantara kita, ku mohon jangan cegah aku untuk bisa dekat dengan Dafha.” Pintanya.
“Maaf Risa tapi itu tidak mungkin. Aku juga kini mengajakmu bicara karena ingin membahas hal ini. Ku mohon tolong jangan lagi menemui Dafha. Aku yang akan menjelaskan padanya perlahan."
" Aku juga akan segera menikahi Franda, dan tak ingin Franda terluka karena Dafha yang lebih dekat denganmu.” Jelas Aydin.
__ADS_1
Deg!
“Menikah? Franda? Perasaan apa ini, kenapa seperti ada yang patah didalam sana,” batin Risa.
“Menikah?” ulang Risa.
“Iya, aku akan menikahi Franda. Tentunya kau tak lupa dengan kejadian di Raja Ampat kan?”
Risa terdiam.
“Bukan patah, tetapi hancur. Hancur berkeping-keping. Bolehkah aku menangisi keadaan mengenaskan hatiku saat ini?” batinnya.
“Risa,” panggil Aydin membuyarkan kekosongan pikiran Risa saat ini.
“Ya,”
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
“TIDAK!” teriak batin Risa.
“Tentu saja, Selamat atas pernikahan kalian. Dan mengenai Dafha, aku akan coba menerima keputusanmu. Tapi bisakah kau jangan memaksakan kepada Dafha, aku khawatir Ia akan sakit lagi,” ujar Risa.
“Aku berjanji tak akan lagi menemui Dafha lebih dulu, tapi jika dia yang memintaku datang, aku akan tetap menemuinya dan kuusahakan untuk segera pergi. Hanya sampai dia bisa menerima Franda.” Pinta Risa.
“Baiklah akan ku pikirkan. Sekali lagi terimakasih Risa, senang pernah kenal denganmu.” Ucap Aydin.
Risa melihat ponselnya, ada pesan dari Esme.
“Aku pergi, Esme sudah menjemputku.” Pamit Risa.
Aydin mengangguk.
Risa hendak membuka pintu saat Aydin kembali menyebut namanya, “Risa, aku yakin kau bisa menggapai semua mimpimu. Semoga berhasil.”
Risa hanya tersenyum, dan melangkahkan kakinya menjauh. Hancur sudah hatinya kini. Remuk, serasa ditimpa dengan beban yang sangat berat.
Selama ini dirinya selalu meyakini jika kejadian di Raja Ampat dan semua ucapan Franda padanya hanya omong kosong.
Tapi pagi ini, Risa mendengar pengakuan langsung darinya.
Air mata mengalir membasahi pipinya, sakitnya bukan karena Ia harus merelakan Aydin menikah dengan wanita lain.
Tapi sakit saat mengetahui kenyataan jika Aydin saat itu benar-benar telah menghianatinya. Kenyataan yang selama ini Ia tolak kebenarannya.
Bahkan saat Aydin menuding dirinya picik karena hanya percaya pada apa yang dilihatnya, namun sejujurnya dalam hatinya yang terdalam Ia tetap mempercayai Aydin.
"Bodoh, kau memang bodoh Brisa!"
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
"Kau kecewa pads dirimu sendiri bersamaan dengan kecewa pada orang lain. Bingung? Ya, karena Cinta memang sesulit itu."
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡