
Meski aku tak bisa menyembuhkan lukamu,
izinkan aku menggenggam tanganmu erat.
Meski aku tak bisa merasakan kepedihan yang kamu rasakan, namun aku bersedia mendengarkan setiap keluhan yang kamu tutupi.
Aku mencintaimu, Aku mengasihimu tanpa syarat.
Sebuah kesalahan terbesar bagiku, saat membiarkanmu menepi dan menderita seorang diri.
Kini aku datang kembali, membawa segala ketulusanku. Aku ingin merangkulmu, melindungimu, menghujanimu dengan cinta dan kasih yang tak terkira.
Kumohon sayang, lepaskanlah segalanya. Lepaskan segala beratnya beban pikiranmu.
Mari kita akhiri drama 'baik-baik saja' yang kita lakoni.
Aku dan kamu ... kita saling membutuhkan.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Pagi menjelang pada 2 ruangan yang berbeda dalam satu atap yang sama, terlihat jelas ada 2 aura berbeda yang terpancar.
Di ruang perawatan intensif, seorang wanita paruh baya sedang menguatkan hatinya saat dokter meminta beliau untuk menandatangani berkas persetujuan pelepasan seluruh alat bantuan medis yang melekat pada tubuh Eijaz, putranya.
Meski tak ada suara tangis yang meraung-raung, namun Aydin yang kala itu ikut menjadi saksi kepergian sahabatnya untuk selama-lamanya yakin jika saat ini adalah titik terendah di hidup Bunda Nadine.
Brankar Eijaz di dorong menuju ruang operasi untuk prosedur donor organ yang telah Ia setujui sebelumnya.
Saat itu Aydin meminta Chandra untuk mendampingi Bunda Nadine, sedang dirinya menuju ke ruang perawatan lain.
Ruang perawatan yang dihuni oleh seorang wanita cantik yang kini tengah tersenyum dengan sangat indahnya.
Dari celah pintu, Aydin bisa melihat jika wanita yang Ia cintai itu kini tengah tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
“Ekheemm .........” suara dehaman seorang wanita kembali mengejutkan Aydin yang kala itu sedang ikut tersenyum melihat wanitanya juga tersenyum.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Eomma Martha ....” sapa Aydin.
Dengan segera pria itu meraih punggung tangan Bunda Martha dan menciumnya.
“Maafkan aku Eomma, aku tak berniat mengusik Risa. Aku hanya akan melihatnya dari kejauhan, aku berjanji,” ucap Aydin panik.
Eomma Martha tertawa. “Kau tahu Aydin ... kau sangat lucu. Aku bahkan hanya bertanya apa yang sedang kamu lakukan, mengapa kamu sepanik itu.”
Eomma Martha lalu melanjutkan tawanya, sedang yang ditertawakan kini hanya terus menunduk antara malu dan takut.
“Aku baru saja bertemu dengan Nyonya Nadine,” ucap Eomma, “Kami semua sudah tahu siapa pendonornya, kecuali Risa.”
“Awalnya kami sudah menolak, Eijaz adalah pria yang baik. Kami tak sanggup jika harus berbahagia di atas penderitaannya,” jelas Eomma Martha dengan sesekali menghela napasnya.
“Namun saat tahu jika semua ini adalah amanat dari Eijaz, maka kami menerimanya dan memilih untuk mengikuti permintaan Eijaz agar tak memberi tahu Risa sampai operasi selesai dan Risa dinyatakan bisa melihat kembali.”
__ADS_1
Eomma Martha menunjukkan sebuah amplop putih pada Aydin. “Ini surat yang ditinggalkan oleh Eijaz untuk Risa,” jelas Eomma Martha.
“Aku yakin setelah operasi, Risa akan mengalami masa-masa sulit kembali apalagi setelah mengetahui faktanya,” ujar Eomma Martha.
“Aku menawarkan padamu 2 pilihan, pilihan pertama ambil surat ini lalu berikan pada Risa. Dampingi Risa, jangan meninggalkannya lagi seperti yang sudah-sudah. Aku akan percayakan putriku padamu sekali lagi,” tuturnya.
“Yang kedua, pergilah dari kehidupan Risa untuk selama-lamanya,” ucap Eomma Martha.
Tanpa berpikir lagi, Aydin segera meraih surat peninggalan Eijaz dari tangan Eomma Martha.
“Aku tahu akan sulit, Risa pasti akan menolakku. Mungkin Eomma atau yang lainnya juga akan sulit percaya padaku lagi,” balas Aydin.
“Tapi kali ini aku berjanji meski harus berdarah-darah, aku akan tetap berdiri di sisinya sebab di situlah tempatku hidup yang sebenarnya,” sambungnya.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Aydin mengikuti langkah Eomma Martha memasuki ruang perawatan Risa.
Tatapan tajam dari Esme dan Gio menyambutnya, sementara yang lainnya hanya menatap kehadirannya dengan datar tanpa ekspresi.
Sepertinya mereka sudah tahu jika aku akan datang, Batin Aydin.
Sesuai kesepakatan, Risa tak akan diberitahukan mengenai kehadiran Aydin hingga operasi selesai.
Semuanya kembali bersikap seperti biasa sebelum kehadiran Aydin.
Meski di dalam ruangan itu Aydin diperlakukan seperti makhluk tak kasat mata, Aydin sudah cukup bahagia sebab Ia bisa dengan puas melihat senyum yang terukir di bibir wanitanya dari dekat.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Meski prosedur ini termasuk operasi kecil yang memakan waktu kurang dari 15 menit. Di mana prosedur donor kornea juga memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Peluang sukses bagi penerima donor kornea sampai mampu melihat lagi setelah menerima cangkok bisa mencapai 90 persen.
Namun tetap saja semua orang yang menanti-nantikan hari ini terjadi pada Risa, merasa sangat tegang.
Jika di sudut ruang tunggu operasi Risa, semua keluarga kini tengah berdoa untuk keberhasilan operasi Risa.
Di sudut ruang tunggu operasi Eijaz, kini ada Chandra yang tengah merangkul Bunda Nadine. Memberi wanita paruh baya itu kekuatan saat menunggu operasi donor organ yang dilakukan oleh putranya.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Kurang dari 30 menit operasi Risa telah selesai. Meski begitu, wanita itu kini masih berada di ruang perawatan intensif , sebab Ia belum sadarkan diri setelah tadi diberikan obat bius saat operasi.
Aydin sendiri kini sedang membantu Chandra dan Bunda Nadine mengurus pemakaman Eijaz.
Isak tangis dari Bunda Nadine tak pernah berhenti.
Eomma Martha juga Appa Kim turut hadir dalam prosesi pemakaman Eijaz.
Setelah semua selesai, Aydin bersama Eomma dan Appa bergegas kembali ke rumah sakit saat mendapat kabar jika Risa telah sadar dan kini sudah berada kembali di ruang perawatannya.
Sedangkan, bunda Nadine diantar oleh Chandra kembali ke apartemen yang selama ini digunakan oleh Eijaz saat berada di Amsterdam.
Setibanya di rumah sakit, Aydin beserta kedua orang tua angkat Risa tiba bersamaan dengan dokter yang datang untuk membuka perban yang melilit menutupi kedua netra wanita cantik itu.
__ADS_1
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan kali ini, Aydin mendekati Risa saat melihat tangan mungil wanita itu terkepal erat.
Dengan lembut Ia meraih salah satu tangan Risa untuk Ia genggam, membuat sang empunya sedikit terperanjat.
Meski terkejut, namun pada akhirnya Risa membalas genggaman tangan Aydin.
Walau telah lama berpisah, namun genggaman tangan itu masih terekam jelas di otaknya. Bahkan tanpa perlu melihat, hatinya sudah tahu siapa pemilik genggaman tangan yang cukup membantu menenangkannya.
Masa bodoh, meski nanti aku akan memintanya pergi tapi izinkan aku menggenggam tangan ini sebentar saja. Aku sangat gugup, batin Risa.
Sedikit demi sedikit perban yang melilit menutupi matanya mulai terlepas. Saat semuanya telah lepas, kedua netra Risa masih dalam keadaan terpejam.
Semua orang di ruangan itu merasakan ketegangan yang sama. Di tengah-tengah kegugupan yang melanda, namun bermacam-macam doa masih terus mereka panjatkan demi keberhasilan operasi Risa.
Genggaman tangan Risa, semakin kuat saat dokter meminta Ia dengan perlahan-lahan membuka kedua netranya.
“Silakan Nona, bukalah perlahan-lahan. Jika cahaya yang pertama kali terlalu menyilaukan, anda boleh memejam kembali lalu kami akan mengatur ulang pencahayaan ruangan ini,” jelas sang dokter.
Kelopak mata Risa mulai bergerak-gerak. Dengan perlahan Ia mulai membuka matanya.
Gelap? Batin Risa.
Kemana kegelapan itu pergi? Lanjutnya membatin.
Meski terasa menyilaukan, seberkas cahaya kini kembali berhasil ditangkap oleh kedua netranya.
Hingga keduanya terbuka dengan sempurna, dan dada Risa mulai bergemuruh saat akhirnya Ia bisa melihat kembali wajah-wajah orang yang sangat Ia cintai.
Seberkas cahaya itu ... aku bisa melihatnya lagi. Terima kasih Tuhan, batin Risa.
Air mata bahagia mulai berlinang dari kedua sudut matanya. Akhirnya bola mata indah itu bisa melihat dunia kembali.
Sementara Aydin meski kecewa sebab hingga saat Risa melepaskan genggaman tangannya, wanita itu tak sekalipun menoleh ke arah samping tempat Aydin berdiri mematung sembari terus mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa.
Yang lain pun turut menyaksikan dan menyadari hal itu. Hingga setelah dokter undur diri, Eomma yang prihatin dan tak tega melihat kesedihan dan kekecewaan di raut wajah duda tampan itu akhirnya buka suara.
“Baiklah, Eomma tak ingin lagi ada sandiwara atau saling tutup menutupi perasaan,” ujarnya.
“Yang lainnya, ayo ikut aku keluar!” titahnya.
“Pasangan ini harus menyelesaikan permasalah mereka,” sambungnya.
“Ta-tapi Eomma, kami bukan lagi pasangan dan tak ada yang harus kami selesaikan. Semuanya sudah berakhir sejak lama,” bantah Risa.
“Kumohon Nak, sekali ini saja. Sekali lagi bicarakanlah, atau jika tak ingin bicara biarkan hati kalian yang menentukan,” ucap Eomma Martha.
Risa masih hendak membalas ucapan Eomma Martha, namun segera disela oleh Aydin.
“Terima kasih Eomma atas kesempatan dan pengertiannya,” ucapnya.
Sebelum berlalu meninggalkan sejoli yang akan berusaha jujur pada perasaan dan mengalah pada ego masing-masing, Eomma Martha masih sempat membisikkan sesuatu pada Aydin.
“Ingat janjimu, kamu yang telah memilihnya,” bisiknya pada Aydin yang dibalas anggukan mantap oleh pria itu.
__ADS_1
🌼🌸🌼🌸 To be continued 🌸🌼🌸🌼