Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 160. Amanat yang lain


__ADS_3

Aku,


Aku yang salah.


Salahku yang terlalu berharap jika kamu dapat membalas besarnya perasaan cintaku padamu.


Aku,


Aku yang salah.


Salahku yang membiarkan cinta ini tumbuh begitu sempurna untukmu.


Kamu,


Kamu selalu menjadi alasan mengapa aku masih bertahan dengan degupan jantung yang kian melemah.


Kamu selalu menjadi alasan mengapa aku masih bertahan di dalam pusaran cinta yang kuciptakan sendiri tanpa pernah kamu kunjungi.


Kamu selalu menjadi alasan mengapa memendam perasaan adalah sebuah hal yang istimewa bagiku.


Kamu,


Cerita terindah dalam hidupku yang hanya aku yang dapat mengenangnya.


Cerita terindah dalam hidupku yang berakhir dengan cara yang tidak pernah kuduga.


Dengan berakhirnya cerita hidupku hari ini,


Maka kembalilah menulis ceritamu,


Dengan aku yang akan selalu menjadi bagian dari cerita itu.


Pesanku,


Jangan tenggelam dalam cerita sedih, bahagialah.


Kamu selalu pantas bahagia.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Sudah Lebih dari 28 jam, Aydin belum pernah sedikit pun memejamkan matanya.


Setelah mencari tahu nomor ponsel Bunda Nadine yang akhirnya bisa Ia hubungi, Aydin malah semakin tak tenang saat tahu bagaimana kondisi Eijaz saat ini


Jantungnya seperti tersayat setiap kali berdegup. Bagaimana bisa dirinya disebut sahabat, ketika sahabatnya sedang bertaruh dengan maut dan dirinya sibuk merutuki nasib percintaannya.


Kini pria itu telah tiba di depan sebuah rumah sakit di Amsterdam yang disebut oleh bunda Nadine.


Aydin dan asistennya Chandra melangkah dengan tergesa-gesa untuk mencari di mana letak ruangan perawatan sahabatnya, Eijaz.


“Meski sangat berat, tapi aku sungguh berharap jika selama ini kamu telah melewati waktu yang menyenangkan dan berkesan bersama Risa,” batin Aydin.


Dengan pikiran yang terus menerawang, memikirkan kondisi Eijaz saat ini , Aydin terus melangkah mengikuti arah yang ditunjukkan oleh salah satu perawat.


Hingga langkahnya terhenti saat netranya mendapati sosok bunda Nadine yang duduk dengan tatapan kosong di depan sebuah ruangan perawatan intensif.


“Bunda Nadine,” sapa Aydin lirih.


“Aydin, kapan kamu tiba?”


“Baru saja Bun ... Kami langsung kemari setibanya dari Indonesia,” jawab Aydin.


“Bunda, sehat-sehat saja kan?”


“Jika Bunda mengaku baik-baik saja, sudah pasti orang akan tahu jika Bunda berbohong,” ucap Bunda Nadine diiringi tawa yang terdengar frustasi.


Secara spontan Aydin merangkul pundak Bunda Nadine hingga wanita itu kini terisak dalam dekapan sahabat putranya, pria yang telah Ia buat menderita karena keegoisannya.


Mengingat hal itu, bunda Nadine merasa semakin merasa bersalah.


Eijaz putranya, Aydin, bahkan Risa adalah korban dari keegoisannya dahulu.


Bahkan kini, di penghujung kehidupan putranya kembali Ia torehkan luka dengan alibi jika semua demi membahagiakan putranya.


“Maafkan Bunda, Aydin ... maafkan Bunda, Nak...” lirihnya.

__ADS_1


“Bunda pikir semuanya akan berjalan baik. Bunda pikir Eijaz bisa bahagia bersama Risa, meski hanya sesaat. Namun sekali lagi itu hanya keegoisanku, nyatanya Eijaz, Kamu, bahkan Risa semakin menderita,” ungkap bunda Nadine penuh penyesalan.


Aydin ingin membenarkan semua ucapan bunda Nadine, namun Ia sadar jika dirinya juga ikut ambil bagian dalam semua kekacauan ini.


“Sudahkah Bunda, semua sudah terjadi. Aku yang salah karena tidak mempertahankan wanita yang kucintai hanya karena trauma di masa lalu,” ucap Aydin berharap bisa sedikit menenangkan ibu dari sahabatnya.


Nasi sudah menjadi bubur, peribahasa yang sering kali terdengar bisa menggambarkan situasi yang terjadi diantara mereka.


Mau menyesali pun rasanya percuma. Eijaz bukannya bahagia bersama Risa, pria itu semakin tersiksa melihat wanita yang Ia cintai menderita.


Risa dan Aydin, sepasang kekasih ini harus mengorbankan cinta, mengorbankan kebahagiaan mereka, bahkan ada seorang pria kecil yang ikut menjadi korban.


Semua hanya karena keegoisan.


🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸


Kini Aydin berdiri mematung di depan jendela kaca besar, Ia mengamati Eijaz yang sudah sebulan terus terpejam.


“Bagaimana keadaanmu Eijaz? Kau tahu, aku hampir gila sebab kupikir kamu sedang bersenang-senang bersama Risa sedangkan aku kalian tinggalkan dengan luka di hatiku,” lirih Aydin.


“Tak kuduga jika di sini pengorbananku ternyata sia-sia, kita bertiga bukannya bahagia malah makin tersiksa.”


Pria itu terus berucap seorang diri, dengan netra menatap sendu Eijaz yang terlihat damai dalam tidur panjangnya.


“Apa sebenarnya aku tidak pernah berkorban? Apa benar yang orang lain katakan jika aku hanya memanfaatkan kondisi ini?” Batin Aydin.


Lalu pria itu kembali dalam lamunannya. Pikirannya kosong, Ia terlalu lelah, lelah berpikir, lelah merasakan sakit, dan juga fisiknya lelah, beberapa menit lagi genap 35 jam Ia tak memejamkan matanya.


Hening.


Suasana di koridor rumah sakit sore itu sangat sepi. Bahkan jika kau hanya berbisik, suaramu samar-samar akan terdengar.


Hal itu yang terjadi pada Aydin. Ia tersentak dari lamunannya ketika Indra pendengarannya menangkap tawa khas milik seorang wanita yang sangat Ia kenali.


“Risa? Apakah aku begitu merindukanmu hingga tawanya pun seperti mengikutiku layaknya wajah cantiknya yang selalu terbayang?” Batinku.


Hingga,


“Kak Risa ... ruangan dokter ya sebelah sini, ayo”


“Risa ... dia Risaku ... wa-wanita di atas sebuah kursi roda, dengan tongkat ditangannya dan sedang tersenyum itu adalah Risa? Wanita yang selalu kurindukan? Apakah penglihatanku ini benar?” Batinku berperang.


Saat kakinya hendak melangkah, menyusul wanita pujaan hatinya, tapi lengannya dicegat oleh bunda Nadine.


“Aydin, bisakah kita bicara sebentar?”


“Bi-bisa ... tapi sebentar, aku harus menemui seseorang dulu,” tolaknya.


“Risa? Kamu ingin menemui Risa, kan?”


“Jadi, aku tak salah lihat? Dia benar-benar Risa,” Aydin kembali memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.


Bunda Nadine menjawab dengan anggukan.


“Apa yang terjadi padanya?”


Bunda Nadine menarik napas panjang. “Ini surat yang ditinggalkan Eijaz untukmu. Bacalah sebelum kamu menemui Risa,” ucap Bunda Nadine.


Dengan ragu, tangan Aydin meraih amplop putih yang setelah Ia buka berisikan beberapa lembar kertas.


“Semoga pertanyaanmu, jawabannya ada di sana,” ucap Bunda.


“ Saran Bunda sebaiknya sebelum bertemu Risa, kamu pahami dulu situasi yang terjadi, ujarnya Bunda, “Jangan lagi sampai kamu keliru mengambil keputusan,” imbuhnya.


Setelah mengucapkan hal itu, Bunda Nadine segera berlalu meninggalkan Aydin tanpa kata- kata.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


--------###########-----------------


Teruntuk Aydin, sahabatku.


Bagaimana kabarmu?


Apakah kau sudah sangat menderita?

__ADS_1


Kuharap jawabanmu, iya.


Karena aku dan Risa pun sama tak bahagianya denganmu.


Aku tak akan menyalahkanmu,


Kita tentu saja bisa mencintai wanita yang sama,


Apalagi Risa, wanita baik sepertinya memang mudah untuk dicintai.


Sepuluh bulan yang lalu, Risa mengalami kecelakaan. Dia harus kehilangan penglihatannya dan sempat juga tak bisa berjalan.


Meski sulit, namun Risa berusaha bertahan.


Sebenarnya yang dia butuhkan adalah dirimu, pria yang Ia cintai. Dia membutuhkan dirimu di sisinya untuk membuatnya lebih kuat melewati semuanya.


Sepenuhnya aku menyadari, apa yang terjadi mungkin memang yang terbaik untuk kita, Kita harus menjadikan ini semua pelajaran.


Aku pun memaafkanmu, mungkin kau tak sepenuhnya salah, dan bukan berarti aku tak melakukan kesalahan sedikit pun, hanya saja mungkin aku tak akan ada lagi dalam masa depan yang kalian harapkan


Bukankah cinta memang membuat kita lebih ikhlas?


Aku sadar jika kita benar-benar mencintainya, Kita berdua tahu jika dia begitu istimewa, layak mendapatkan apapun yang terbaik dari diri kita.


Rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian tidak akan ragu kita berikan.


Kamu telah memberikan kebahagiaanmu juga kebahagiaan putramu padaku.


Kamu telah merelakan masa depan bahagia kalian, hanya karena aku yang memang akan pergi meninggalkan kalian.


Kini saatnya aku mengembalikan semua kebahagiaan kalian.


Meski kelak aku tak lagi ada di dunia ini,


Aku berharap bisa melihat kalian bahagia dan menikmati cinta yang sesungguhnya: cinta yang damai, menghangatkan, dan membuat kalian terus tumbuh dan menjadi lebih baik.


Aku berharap bisa melihat cinta kalian yang kuat yang selalu menjadikan kalian mampu bertahan dalam menghadapi cobaan apapun nantinya.


Aydin, sahabatku ...


Kini sudah waktunya aku harus pergi,.


Tapi berjanjilah padaku,


Aku berharap kamu bisa mewujudkan keinginanku.


Aku sangat berharap lewat netra Risa nantinya,


Aku ingin kamu berjanji untuk membuat Risa terus bahagia.


Aku ingin kamu berjanji untuk membuatnya tersenyum bahagia bersama keluarga kecil kalian nantinya.


Aku ingin kamu berjanji untuk bersabar menempuh jalan yang terjal nan berliku untuk menjadikannya wanita shaliha yang akan mendampingimu.


Berjanjilah Aydin, kumohon.


Aku senantiasa akan selalu mendoakan kalian.


Semoga bahagia, semoga kebahagiaan kalian selalu dalam lindungan Tuhan.


Aku sudah benar-benar tulus dari hati mendo'akan kalian berdua.


Dengan begini hatiku pun menjadi terasa lebih lapang.


Sebab satu-satunya yang bisa membuatku tenang adalah ketika kalian kembali menjalani hubungan yang membuat kalian bahagia.


Aku juga akan turut bahagia.


Sampai berjumpa lagi Aydin,


Semoga kelak kita semus bisa bertemu di surga.


Sahabatmu, Eijaz.


---------###########-----------

__ADS_1


🌼🌸🌼🌸 To be continued 🌼🌸🌼🌸


__ADS_2