
Pagi di hari rabu kali ini terasa berbeda dari sebelumnya . Bukan hanya karena awan mendung kelabu yang masih setia menghiasi langit , tapi awan mendung kelabu itu juga tengah menutupi kecerahan pada hati seorang Kim Risa .
Risa yang sejak kejadian semalam tidak bisa memejamkan matanya , kini telah siap dengan pakaian setelan olah raga berwarna hitam . Ia duduk di tepi tempat tidur menanti ponsel pintarnya membunyikan alarm yang semalam telah Ia atur.
Tiiiiitttt……Tttiiiitttt……
Secepat kilat jari lentiknya menggeser tombol ‘ Alarm Off ‘ pada layar ponsel .
“ Maaf , tapi kali ini aku mengalahkanmu , “ serunya .
Risa memasang earphone dan melengkapi penampilannya dengan topi berwarna abu-abu , kini Ia sudah siap untuk jogging perdana sejak kembali menginjakkan kaki di Tanah Air .
Langkah kakinya membawanya menuju taman yang biasa didatangi Esme untuk jogging . Harapannya akan ada banyak orang yang berlalu lalang dan keramaian itu akan memberi penghiburan untuk hatinya yang sedang duka .
Risa memutuskan untuk mulai berlari pada jogging track yang tersedia . Namun setelah 3 putaran rasa lelah dan dahaga mulai mendera tenggorokannya . Akhirnya Ia berlari kembali ke tempatnya meletakkan botol air minum miliknya .
“ Apa Esme berbohong padaku jika di taman ini selalu ramai setiap pagi ? “gumam Risa .
“ Taman ini memang biasanya ramai Non ,” celetuk seorang pria paruh baya berseragam jingga lengkap dengan alat kebersihan di kedua tangannya .
“ Tapi jika awan mendungnya semenyeramkan itu , mana ada yang berani keluar rumah ,” sambungnya .
Risa menengadahkan kepalanya, mengikuti jari si Bapak yang menunjuk kelangit . Mencari tau maksud si Bapak .
“ Astaga, apa kini bukan hanya hatiku saja yang ditutupi awan kelabu? Bahkan mataku tak menyadari betapa awan mendung nan gelap telah menguasai langit . “ Batin Risa meringis .
“ Punten Non , Bapak tinggal yah Non . Sebaiknya Non juga pulang sekarang aja, sebentar lagi sepertinya akan hujan . “ Saran si Bapak Ketika melihat ada sekilas kilatan cahaya disusul suara bergemuruh .
“ Iya Pak, saya juga sudah akan pulang . “ Balas Risa dengan senyum ramahnya .
Si Bapak mulai mendorong troli besi yang mengangkut tempat sampah menjauhi Risa .
Namun tiba-tiba Ia menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri Risa .” Ini payung Non aja yang bawa , Bapak udah biasa kena hujan . “
“ Taa..pi.. Pak … “ Risa hendak menolak namun melihat senyum tulus Bapak itu mengurungkan niatnya .
“ Ini saya minjem yah Pak , nanti pasti akan saya kembalikan ” teriak Risa agar si Bapak bisa mendengar.
Seberkas kilatan cahaya dan suara bergemuruh kembali menyapa . Mengiringi langkah Risa menyusuri jalan keluar taman . Risa bergidik merasa hembusan angin dapat menembus hingga ke tulangnya .
“ Apa hatiku teramat pilu , hingga tak menyadari jika sang surya pagi ini harus puas ,sinarnya tertutupi oleh awan mendung .” Monolognya dalam hati .
Rintik- rintik hujan perlahan mulai turun, sedikit demi sedikit membasahi bumi .
Risa kembali mengingat bagaimana Ia begitu pongahnya berkata jika tidak akan pernah membiarkan hatinya merasakan cinta .
Seolah tidak cukup membasahi bumi dengan rintik- rintik hujan , kini awan mendung mulai menumpahkan buliran buliran air . Tapi hal itu tidak sedikitpun membuat Risa mempercepat langkahnya .
__ADS_1
Risa melepas topi yang Ia kenakan karena terasa lebih berat saat basah .
Rasa dingin pada kepalanya karena bulliran air hujan , membuatnya berpikir dimana kesalahannya ?
Seharusnya ini sudah berjalan sesuai rencananya di awal . Risa mendekati Aydin , lalu menikah dengannya, dan menjadi Ibu sambung Dafha . Dan akhirnya Ia berhasil mewujudkan amanat sahabatnya . Se sederhana itu kedengarannya .
Tapi mengapa semuanya menjadi kacau. Apa karena Risa kini melibatkan perasaannya ? Atau apa ini balasan baginya yang dulu selalu angkuh pada perasaan murni yang bernama cinta .
“ Ada yang mengatakan jika langit akan mendung karena ada banyak kesedihan di Bumi . Lalu hujan pantas turun untuk mengganti tangisan pilu .” Batin Risa .
Risa menengadahkan kepalanya hendak bertanya pada langit tentang apa yang Ia pikirkan baru saja .
“ Benarkah seperti itu ? “ tanyanya dengan suara keras menantang hujan .
Beberapa detik Ia bungkam menunggu jawaban langit yang tak mungkin ada.
" Karena kini kamu sudah menangis maka aku juga akan ikut menangis bersamamu .” Teriaknya dengan isakan yang keras .
Secara kebetulan setelah ucapan Risa , kilatan cahaya dan suara petir tidak henti hentinya bersahutan .
Risa mengganggapnya sebagai suatu dukungan untuknya. Air hujan yang bisa menyamarkan air matanya serta gemuruh petir yang akan menyamarkan isakannya . Sementara Kilatan cahaya akan Ia anggap sebagai pelengkap yang sempurna untuk sebuah adegan memilukan.
“ Seandainya saja ini semua benar hanya sebuah adegan . “
Sementara di apartemen , Esme terjaga saat gemuruh petir yang sangat keras seolah berteriak tepat di telinganya .
Wanita yang rambutnya mulai memanjang sebatas bahu , berjalan pelan dan berjinjit-jinjit , menghindari pecahan kaca yang berserakan karena perbuatan Risa semalam .
Belum ada tanda-tanda jika Risa telah bangun membuat Esme menengok ke kamarnya . “ Bukankah patah hati kadang membuat orang menjadi sangat bodoh ? “ batinnya.
__ADS_1
Esme berlari ke kamar Risa untuk memastikan keadaannya . Namun kamar yang gelap dengan ranjang yang telah rapi membuat Esme kini memikirkan kemungkinan buruk lainnya .
“ Apa dia kabur ? “ Gumamnya sembari melangkah ke kamar mandi dan walk-in closet untuk memeriksa keberadaan Risa .
“ Bagaimana ini ? Harusnya aku tidak meninggalkannya semalam ,” sesalnya .
“ Aku akan benar- benar menghabiskan aset masa depan Aydin jika terjadi sesuatu pada Risa . “ Geramnya .
Esme meraih ponsel yang Ia letakkan di meja makan lalu mengambil kunci mobilnya . Tanpa peduli apapun lagi Ia segera keluar hendak mencari Risa . Ia semakin panik karena hujan semakin deras dan petir yang tak ada jedanya .
Ceklek ….
Netra Esme kini sedang menyapa sepasang netra pria yang menurutnya ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Risa .
Sudut mata Echa ikut menyipit tatkala kedua sudut bibirnya tertarik kesamping untuk memberi senyuman pada Wanita aneh yang sayangnya cukup menarik perhatiannya .
Tatapan Echa mengagumi kecantikan alami Esme walau tanpa riasan . “ Cantik ,” lirihnya .
“ Apa katamu ? “ tanya Esme .
“ Oh, tidak. Buka apa-apa .” Sanggahnya.
“ Sepertinya kau sangat terburu-buru sampai keluar dengan piyama kuning bergambar bebek ,’ ledek Echa .
Ucapan Echa sukses menghentikan langkah Esme di depan lift .
“ **** , “ gumamnya .
Echa yang mendengar Esme mengumpat refleks menyentil bibir mungil gadis berdarah campuran Indonesia – Korea itu .
Sayang sungguh malang nasib Echa pagi ini , Ia melupakan latar belakang Risa yang Ia ketahui semalam dari Aydin dan membuatnya tercengang.
”Aaaauuuuuuwwhhh , “ ringisnya karena secepat kilat Esme menangkap tangannya dan menarik kebelakang tubuh Echa .
“ Leehhhhpasshhhhhiiiinnn … saaahhhhkkkiiittt ihhniiiii ,” rintih Echa .
“ Mau apa kau tadi hah ? Pasti kau mau kurang ajar kan ? “ tuduhnya .
Echa tak menjawab karena tak ada kata yang sanggup lagi keluar dari bibirnya selain ringisan menahan sakit .
Ting …
Pintu lift terbuka , Risa menatap bingung pemandangan yang disuguhkan . Echa yang menutup mata sambil merintih di hadapannya . Mata Risa menelisik pada tangan Echa yang lain sedang di pegang oleh tangan seorang Wanita .
“ Echa ,” tegur Risa lirih .
Echa yang mendengar Namanya disebut membuka mata , “ Riisaa.. tolong .” Pekiknya .
.
.
.
.
__ADS_1
“ It is really hard to decide when you’re too tired to hold on. Yet, You are too in love to let go.”
(Sangat sulit memutuskan Ketika Lelah bertahan. Namun, kamu merasa sulit untuk melepaskan cinta)