
Jika harus kehilanganmu seperti ini,
Aku memilih untuk tidak pernah memilikimu.
Bukan karena ku tak ingin merasakan perih,
Tapi ku tak sanggup membayangkan kau pergi dengan luka.
♡♡♡♡♡
Tubuh indahnya kini terbaring, tak berdaya. Tertutupi selimut berwarna hijau yang banyak kau jumpai di rumah sakit.
Kepalanya terlilit perban di bagian dahi, ada bercak darah menodai perban putih, menjelaskan jika di sanalah letak luka yang telah menyakiti wanita kesayangan Aydin.
Kedua mata indah itu terpejam dengan deru napas yang teratur.
Meski hatinya bagai tersayat ratusan belati, tapi Aydin terus meyakinkan dirinya sendiri, jika Risa kesayangannya hanya sedang terlelap.
Bunyi sirine mobil ambulans menjadi peringatan bagi pengguna jalan lainnya untuk menepi demi mempersingkat waktu perjalanan menuju rumah sakit.
“Permisi Pak, ini ada selimut yang bisa Bapak gunakan, hangatkan tubuh Bapak.” Ucap salah seorang perawat pria.
Perawat itu merasa iba melihat kesedihan Aydin. Meski tidak menangis meraung-raung, tapi dalam diamnya jelas sekali hati pria itu menangis.
“Kesedihan yang hanya bisa dipendam, sama menyakitkannya dengan memendam cinta.” Batin si perawat.
Sementara di mobil lain, Chandra mengabarkan berita ini pada Kakak dan Adik Risa, juga pada Ayana dan Orang tua Aydin.
Amora yang dalam kondisi tidak sehat, akhirnya pingsan karena shock saat mendengar berita buruk mengenai adik angkatnya.
Perjalanan menuju rumah sakit, ditempuh selama 20 menit tanpa hambatan.
Di depan IGD, telah siap brankar dan beberapa perawat. Tak terkecuali dengan para pemburu berita.
Sementara Risa sedang dipindahkan dari brankar ambulans ke brankar rumah sakit, bunyi sirine ambulans kembali memekikkan telinga.
Di tengah-tengah kerumunan dan keributan oleh suara para wartawan yang melontarkan pertanyaan bertubi-tubi, sayup-sayup bisa Aydin dengar tangisan seorang wanita paruh baya.
“Separah apa kondisinya, hingga wanita paruh baya itu meraung-raung merapalkan doa demi keselamatannya.” Batin Aydin.
Aydin tersentak ketika brankar mulai di dorong oleh perawat, bersamaan dengan brankar pasien yang tiba tak lama setelah mereka.
Dari yang bisa Aydin lihat, pasien itu pria dan masih muda jika dinilai dari postur tubuhnya. Jika tebakannya benar, maka yang ditangisi oleh wanita tadi adalah putranya, Pikir Aydin.
Mengingat pasien kali ini adalah publik figur, demi ketenangan para dokter dan perawat saat memberikan perawatan, maka Risa di bawa ke ruangan lain yang lebih tertutup dan sudah dijaga oleh petugas keamanan rumah sakit.
Membuat dua brankar yang awalnya didorong beriringan harus terpisah, berbelok ke arah yang berlawanan.
Sempat Aydin berbalik, hanya beberapa detik netranya bersitatap dengan wanita paruh baya itu.
Rasanya tak asing. “Siapa dia? Aku seperti mengenalnya.” Batin Aydin.
Sementara wanita paruh baya yang ternyata adalah Bunda Nadine, tak kalah terkejut saat Ia bertatapan dengan Aydin, sahabat putra semata wayangnya, dan juga adalah calon suami dari wanita yang dicintai putranya.
“Siapa yang sakit? Mengapa Aydin terlihat sangat kacau.” Batin Bunda Nadine.
Bunda Nadine bersama Romi menunggu dokter Shanaz memberi pertolongan pada Eijaz, menyadari keadaan rumah sakit yang biasanya tenang hari ini sedikit gaduh.
“Siapa mereka?” tanya Bunda Nadine pada Romi.
__ADS_1
Romi memusatkan pandangannya pada kerumunan yang ditunjuk oleh Nyonya besarnya, tatapannya terfokus pada tulisan Pers di tanda pengenal yang orang-orang itu gunakan.
“Sepertinya wartawan, mungkin ada publik figur yang turut dirawat di sini.” Jawabnya acuh.
Sebenarnya Romi tak peduli pada apapun saat ini. Yang penting baginya kini hanyalah keselamatan bosnya. Karena semua ini sampai terjadi juga disebabkan kelalaiannya.
Berbeda dengan Bunda Nadine, Nyonya besar keluarga Humesh itu segera mencari informasi dari perawat yang terlihat sedang senggang.
“Maaf, saya ingin bertanya. Mengapa banyak wartawan di sini? Apa ada kasus kejahatan yang telah terjadi?” pancingnya.
Perawat itu menggeleng. “Ada seorang model terkenal yang mengalami kecelakaan,” jawabnya.
Bunda Nadine sungguh terkejut, Ia sampai memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
“Jika pria tadi benar-benar Aydin, itu berarti model yang dimaksud adalah Brisa.” Batinnya.
“Tuhan jika benar Ia adalah Brisa, kumohon tolong selamatkanlah. Aku bahkan belum sempat mendapatkan maaf darinya.”
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sementara masih di rumah sakit yang sama, satu per satu keluarga Risa dan Aydin tiba.
Esme datang lebih dulu, sebab Echa masih mengurus beberapa hal dengan pihak kepolisian.
Amora yang akhirnya harus menggunakan kursi roda karena kondisinya yang lemah, juga datang bersama Anggun dan Gio.
Setelah saling memberi kekuatan lewat pelukan, Amora memperingatkan semuanya untuk tidak memberitahu hal ini kepada kedua orang tuanya.
“Kita tunggu dulu perkembangan keadaan Risa, Aku khawatir dengan kesehatan jantung Appa jika mendengar kabar seperti ini lagi.” Jelasnya.
Yang lain setuju, begitupun dengan Aydin.
Lalu tak lama kedua orang tua Aydin juga datang bersama Ayana, dan juga putranya.
“Jagoan Mama Risa tidak boleng cengeng seperti ini. Mama Risa akan ikut sedih kalau tau Dafha menangis.” Ucapnya.
“Tapi aunty, waktu itu Dafha juga gak nangis, tapi Mommy tetap pergi ke surga. Bagaimana jika Mama Risa juga tetap pergi? Apa memang setiap tanggal 4 pintu surga terbuka jadi orang bisa pergi ke sana?” tanya bocah itu polos.
Semua orang tertegun dengan ucapan polos Dafha.
Tak terkecuali Aydin. Mendadak tubuhnya kaku, benar kata putranya. Hari ini juga tanggal 4, dengan bulan dan tahun yang berbeda.
“Tolong jangan buat aku membenci tanggal 4 Ya Tuhan. Tolong selamatkan dia. Ku Mohon.” Batin Aydin.
♡♡♡♡♡♡
Pandangan Aydin tiba-tiba saja buram, tangannya bergetar, saat satu per satu kata pada kertas persetujuan tindakan operasi Ia baca.
“Rasanya menyetujui tindakan operasi lebih sulit dibandingkan menyetujui project IT bernilai Miliaran Rupiah.” Gumam Aydin.
Tepukan dipundaknya mengalihkan sebentar perhatiannya dari lembaran kertas yang tak kunjung usai Ia baca.
“Bagaimana? Apa kau butuh bantuan?”
“Entahlah Pa, mengapa harus aku yang menandatangani ini?” Jawabnya kembali dengan sebuah pertanyaan.
“Biarlah Amora,Esme, atau mungkin Anggun saja.” Ucapnya seraya meletakkan pena diatas meja.
Dengan santai Papa Dimas mengambil pena yang di campakan oleh Aydin.
__ADS_1
“Kemarikan kertasnya!” Titah Papa Dimas. Pria paruh baya itu hendak meraih kertas yang masih berada dalam genggaman putranya.
“Meski kalian belum resmi menikah, Papa sudah menganggap Risa sebagai anak Papa. Papa beruntung telah mengenal anak itu. Kasihnya tulus pada sesama.” Sambungnya.
“Jadi Papa tak akan ragu, meski kelak kertas ini bisa saja berbalik menjadi sebuah penyesalan. Setidaknya Papa sudah mencoba. Penyesalan akan jauh lebih besar jika Papa tidak mencoba.”
“Jadi, kemarikan kertasnya. Setiap detik yang berlalu kini sangat berharga demi keselamatan Risa. Waktu tidak akan menunggu sampai kau bisa mengatasi keraguanmu.” Tegasnya.
Aydin mengangguk mengerti dengan semua ucapan Papa Dimas.
Pena ditangan Papa Dimas kini telah kembali pada pemiliknya.
Dengan doa dan berpasrah diri pada-Nya, kini surat persetujuan operasi telah Ia tanda tangani.
Hingga akhirnya, neon sign dua ruangan operasi menyala menandakan saat ini sedang berlangsung operasi di kedua ruangan yang saling berhadapan.
Di salah satu ruangan operasi, seorang dokter wanita berparas cantik sedang bersiap. Ia dulunya adalah dokter spesialis onkologi termuda di rumah sakit besar yang berada di Singapura, kini dokter berdarah Jawa itu memilih kembali mengabdi di tanah kelahirannya.
“Oke, sebelum mulai kita berdoa semoga operasi kali ini berjalan lancar.” Ucap Dokter yang bernama Shanaz.
“Ku mohon Tuhan, lewat operasi ini berilah Eijaz tambahan waktu agar dia bisa menyampaikan cinta yang Ia pendam sebelum akhirnya Ia kembali pada-Mu.” Batin Shanaz , dokter yang juga adalah teman masa kecil Eijaz.
Sementara di ruang operasi lainnya, Risa terbaring tak sadarkan diri, dengan banyak alat terpasang di tubuhnya.
Seorang dokter spesialis bedah umum, sedang berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi di dalam rongga perut Risa, sebagai akibat kecelakaan mobil yang menimpanya.
Setelah lebih dari 1 jam menanti dalam kekhawatiran yang luar biasa, akhirnya operasi yang di jalani Risa selesai.
“Syukurlah operasi sukses. Tak ada masalah yang terjadi saat operasi berlangsung, semuanya berjalan lancar.” Ucap Dokter.
Terdengar hembusan napas lega dari semua orang yang telah menunggu kabar ini.
“Pasien baru bisa ditemui setelah pengaruh anastesi hilang dan pasien sadar.” Sambungnya.
“Baik Dok.” Jawab Aydin singkat.
Dokter dan dua perawat yang bersamanya segera undur diri, namun sebelum benar-benar berlalu sang dokter menepuk pundak Aydin.
“Anda sudah bisa tenang, meski awalnya sulit tapi keputusan Anda menyetujui tindakan operasi ini sudah tepat.” Ujarnya.
“Jangan terlalu cemas lagi anak muda, jika semua pengobatannya berjalan lancar, pernikahan Anda tetap akan berjalan sesuai rencana. Putri saya salah satu penggemar calon istri Anda.”
Dokter itu kemudian berjalan menjauh dengan senyum mengembang di wajahnya. Sekali lagi, hari ini Ia melihat seorang pria sehat yang nampak layaknya seseorang yang sedang sekarat, karena mencemaskan wanita yang Ia cintai. “Ahh, aku jadi merindukan istriku di rumah.” Gumamnya lirih.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Semua yang tadinya menunggu di depan ruang operasi, kini sudah kembali ke ruang rawat VIP untuk menanti Risa yang 15 menit lalu baru saja sadar.
Hanya Aydin yang senantiasa berada di sisi wanitanya.
Aydin turut membantu perawat mendorong brankar Risa keluar dari ruang pemulihan pasca operasi untuk dipindahkan ke ruang perawatan.
Namun tanpa disengaja, saat seorang perawat menarik tirai yang menjadi pembatas antar brankar, netra Aydin menangkap sosok pria yang sangat Ia kenali, terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya.
“Eijaz? Benarkah Dia Eijaz? Apa yang terjadi padanya.” Batin Aydin.
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
Pilihanmu hanya dua.
__ADS_1
Syukuri apa yang kamu miliki sebagai bukti, jika kamu telah belajar arti memiliki yang sesungguhnya.
Atau, kamu biarkan kehilangan yang akan mengajarkannya kembali padamu.