
MKA Bab 132.
Tuhan memberi sebuah kekuatan kepada manusia melalui permasalahan.
Tuhan mengambil sesuatu untuk ajarkan ridha.
Tuhan tangguhkan sesuatu untuk ajarkan sabar.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
¤¤¤¤《Flash Back ON》 ¤¤¤¤
“Bisa antar aku ke tempat ini,” pinta Eijaz sembari memberi sebuah kartu nama pada Romi.
“Rumah sakit? Siapa yang sakit Pak?” Tanya Romi.
“Tidak ada, Saya hanya ingin checkup saja.” Jelas Eijaz singkat.
Entah mengapa bagi Romi, hari ini Ia melihat keanehan pada bosnya.
“Sepertinya si Bos lagi banyak pikiran,” batin Romi.
“Apa karena dia belum menemukan wanita yang dicarinya?”, batin Romi tak henti menduga-duga apa yang terjadi kini.
Setelah melalui 20 menit perjalanan yanh dilalui dengan keheningan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit yang dituju.
Dengan cekatan, Romi mengatur jadwal pertemuan dengan seorang dokter wanita bernama Dokter Shahnaz, seorang dokter spesialis onkologi.
Romi tahu pasti, dokter spesialis onkologi adalah dokter yang menangani permasalahan seputar penyakit kanker.
“Lantas mengapa si Bos membuat janji dengan dokter ini. Apa mungkin si bos sakit......”
Romi segera menggelengkan kepalanya, mengusir jauh-jauh pikiran anehnya.
Tak lama keduanya diarahkan menuju sebuah ruangan di mana dokter yang mereka cari berada.
Tok...tok...tok..
Romi mengetuk pintu dan segera mendengar sahutan suara wanita dari dalam.
“Ya silahkan masuk,” teriak seorang wanita.
Romi membuka pintu dan mempersilakan Eijaz masuk.
Seorang wanita berjas putih kebanggaan semua dokter, kini tengah tersenyum manis mempesona untuk menyambut keduanya.
“Selamat pagi, silahkan duduk.” Sapanya.
Romi mengikuti Eijaz yang kini duduk di hadapan dokter manis itu.
“Prof. Thomas memberi kartu nama Anda, Beliau memintaku menemui Anda saat ingin berobat selama saya berada di negara ini. Maaf jika saya datang tanpan pemberitahuan lebih dulu.” Ucap Eijaz.
“Tak masalah Tuan. Profesor Thomas yah... Beliau adalah guru saya di L.A, sungguh kebanggaan bagi saya karena beliau sudah mempercayakan pasiennya padaku, terlebih Profesor sudah pernah menghubungiku dan memberi tahu mengenai kedatangan Anda. Dan riwayat medis Anda juga sudah saya terima dari beliau.” Jelas Dokter Shahnaz.
“Apa anda kemari untuk hemodialisis?” tebaknya.
Eijaz mengangguk.
Dokter Shahnaz terlihat menghubungi seseorang melalui ponselnya. Berbicara sebentar lalu kembali duduk ditempatnya.
Jika Romi sejak awal sudah mengagumi kecantikan dokter ini, beda dengan Eijaz yang baru menyadari kecantikan dokter Shahnaz ketika wanita mungil itu tersenyum lebar dan duah buah lesung pipi menghiasi wajahnya.
“Manis,” batin Eijaz.
“Tuan Eijaz, mungkin anda telah memahami hal ini, tapi sesuai prosedur aku harus menjelaskannya kembali.” Ujarnya.
“Saya adalah dokter sesialis onkologi yang akan menangani segala keluhan Anda mengenai penyakit kanker darah atau yang lebih dikenal dengan leukimia.” Ucapnya terdengar sangat hati-hati.
Jelas sekali jika dokter Shahnaz sedang menjaga perasaan Eijaz sebagai pasiennya.
“Meski ini adalah spesialisasi saya, tetapi saya tetap mengharakan kerjasama Anda.” Sambungnya.
“Tumbuhkan keyakinan untuk sembuh dan juga berdoa pada yang Maha Kuasa, karena sesungguhnya obat dari segala obat bersumber dari-Nya.”
“Saya sangat berharap dan berterimakasih jika Anda mendengarkan saran medis yang saya berikan. Jujurlah, katakan apapun pada saya mengenai semua yang terasa tidak nyaman dengan kesehatan Anda.” Ucapnya.
Eijaz tersenyum, “Apa anda sedang curhat padaku?”
“Tapi terimakasih atas kata-kata penyemangatnya. Akan selalu saya ingat. Dan anda jangan sampai kesal, karena sejujurnya saya orang yang suka mengeluh.” Ucap Eijaz menggoda dokter bertubuh mungil di hadapannya.
Dokter Shahnaz mengedipkan matanya berkali-kali, “Baru kali ini saya bertemu pasien pria yang mengakui jika dirinya suka mengeluh. Sebagian besar akan mengeluh, dan tidak mau mengakuinya. Bahkan yang lebih parah mereka tidak mau mengikuti saran medis dari para dokter.”
Eijaz kini tertawa, “Sepertinya benar jika Anda sedang curhat.”
“Astaga,maaf. Keasikan bicara, Aku sampai lupa jika kita harus sudah ditunggu di ruangan Hemodialisis,” ujarnya.
“Mari Tuan, saya antar.”
__ADS_1
Jika sejak tadi Eijaz dan dokter Shahnaz bisa mengobrol dengan santai, berbeda dengan Romi.
Pria itu seperti kehilangan seluruh tenaganya. Rasanya tiba-tiba saja otaknya berhenti bekerja. Sangat sulit baginya mencerna semua ucapan dokter yang sempat Ia kagumi.
“Kanker darah? Siapa yang menderita penyakit berbahaya itu, apa Eijaz? Tapi pria itu terlihat sangat sehat dan bugar.” Batin Romi.
Beberapa hari ini, Romi menganggap bosnya itu sebagai pria bucin yang setelah lebih dari 10 tahun tinggal di luar negeri akhirnya kembali pulang hanya karena ingin mengejar seorang wanita.
Namun ternyata di balik itu semua, ada sesuatu, atau mungkin banyak hal yang belum Ia ketahui mengenai bosnya.
Pikirannya akhirnya harus terhenti saat langkah mereka terhenti di depan sebuah ruangan.
Sejak tadi Romi hanya diam, sibuk dengan pikiran dan berbagai pertanyaan di benaknya.
“Hemodialisis Room.”
Begitulah tulisan yang bisa Ia baca sebagai penjelasan mengenai ruangan apa yang akan segera dimasuki oleh Eijaz.
“Rom, aku harus disini dulu. Mungkin sekitar 3-4 jam atau bisa saja lebih.” Ucap Eijaz.
“Jika ingin pergi ke suatu tempat, pergilah dulu. Aku akan menghubungi saat sudah selesai.” Sambungnya.
Romi menggeleng, “Silakan gunakan waktu Anda, saya akan menunggu di sini saja.”
Eijaz mengangguk, kemudian bersama Dokter Shahnaz Ia melangkah masuk keruangan tersebut.
“Apa lagi ini, setelah tadi leukimia, sekarang cuci darah? Apa sebenarnya yang terjadi pada Tuan muda?” batinnya semakin penuh akan pertanyaan yang menumpuk.
Berselang 30 menit, dokter Shahnaz keluar ruangan.
Romi bergegas menghampirinya.
“Dokter.... Dokter Shahnaz,” panggilnya.
Tetap dengan senyum manisnya, Shahnaz berhenti melangkah dan menunggu Romi menghampirinya.
“Ada apa Tuan.... emmhh Tuan....”
Shahnaz mencoba mengingat nama pria di hadapannya.
“Romi, nama saya Romi. Saya asisten Tuan Eijaz.” Imbuhnya.
“Ya. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Maaf dokter, bolehkah Anda menjelaskan pada saya, sebenarnya Tuan Eijaz sakit apa?” Jawab Romi dengan sebuah pertanyaan juga.
Romi jelas tahu aturan itu, tapi tak ada salahnya bagi dia untuk mencoba.
Merasa tidak bisa memaksa, Romi hanya bisa mengangguk pasrah.
Selagi menunggu, ponsel yang berada di sakunya bergetar, “Ayah.” Gumamnya.
“Ayah,” ulangnya sekali lagi. Ingin rasanya Romi memaki dirinya sendiri karena kebodohannya, lalu segera menjawab panggilannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Harusnya dari awal Ayah sudah memberitahu hal ini padaku,” gerutunya.
Romi menghela napas panjang, melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Masih sekitar 2 jam lagi Ia harus menunggu.
“Sepertinya aku butuh nikotin dan kafein.” Batinnya.
Langkah kakinya membawa Romi ke halaman belakang rumah sakit. Ada taman di sana, meski tak ada bunga yang bermekaran, namun cukup nyaman jika hanya ingin berteduh di bawah pohon yang cukup besar.
Romi menghisap dalam rokok yang Ia selipkan diantara jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu menghembuskannya perlahan untuk mencemari udara.
Hendak mengulang hal yang sama, namun sayang tidak berhasil. Rokoknya direbut paksa oleh seorang wanita bertubuh mungil dengan jas putih andalan semua dokter.
“Dengan alasan apapun, rokok tak diperbolehkan di area Rumah sakit.” Tegasnya.
Romi hanya menghela napas saja. Pikirannya masih tertuju pada dokumen di ponselnya yang baru saja Ia baca.
“Sudah berapa lama Anda menjadi dokter?” tanya Romi.
“Hemm.... Tunggu sebentar aku harus menghitungnya dulu.” Ujarnya.
“Maaf Dokter, Anda terlihat masih berusia muda, apa sudah selama itu anda menjadi Dokter hingga sulit menghitungnya?”
Shahnaz membulatkan matanya, “Apa kini Anda sedang memujiku? Atau Anda meragukanku?”
“Meski bukan keduanya, namun Anggap saja yang tadi adalah pujian.” Jawabnya.
“Lalu, apa yang sebenarnya ingin Anda tanyakan?”
Romi mengubah posisi duduknya menghadap Dokter manis yang duduk di sampingnya, menatapnya lurus tepat ke dalam netra wanita itu.
__ADS_1
Raut wajahnya nampak serius , membuat jantung yang di tatap tiba-tiba saja berdetak tak karuan.
“Dokter, Anda harus menjawab jujur.” Pinta Romi, masih bertahan dengan raut wajah seriusnya.
Dokter Shahnaz mengangguk patuh.
“Selama kamu menjadi dokter, ada berapa pasien yang berhasil kamu selamatkan?” tanyanya.
Shahnaz tanpa ragu menjawab dengan gelengan kepala.
Sementara Romi, semakin menatap dalam netra dokter wanita di hadapannya.
"Tak ada keraguan saat dia menjawab,” batin Romi.
“Lalu apa semua pasienmu akhirnya meninggal?” tanyanya lagi.
Shahnaz tanpa ragu kembali menjawab dengan gelengan kepala.
Sontak Romi berdecih, “Aku sedang tidak ingin bercanda, dokter.”
“Akupun begitu,” sahut Shahnaz.
“Tak ada yang bisa tau, usia setiap manusia adalah rahasia Tuhan. Sebagai umat, kita harus berdoa agar penyakit yang kita derita akan menjadi pengugur dosa-dosa kita.” Ujar Shahnaz.
“Jika ada pasien yang aku rawat lalu berhasil sembuh, itu bukan karena aku. Tapi semuanya atas kehendak Tuhan, aku hanya perantaranya saja.” Sambungnya.
“Benar. Dokter memang benar.” Lirih Romi, bahkan nyaris seperti bisikan.
“Apakah Anda sudah tau semuanya?” tanya Shahnaz.
Romi mengangguk.
“Kanker darah stadium 4,” ucapnya.
“Benar, namum belum semuanya.” Balas Shahnaz.
Romi menatap penuh tanya dokter wanita yang kini menggantikan dirinya sedang mengehal napasnya.
“Kankernya sudah menjalar hingga ke ginjal, mengakibatkan muncul penyakit lain yang biasa di sebut gagal ginjal.” Jelas Dokter Shahnaz.
“Dan hari ini jadwal mingguan pengobatan ginjal Tuan Eijaz. Hemaodialisis atau lebih dikenal dengan cuci darah.” Sambungnya.
“Sh*t.” Umpatnya.
Romi terlihat memukul ke udara, mengungkapkan kekecewaan yang sangat besar yang bahkan dirinya sendiri tak tahu Ia tujukan pada siapa.
Romi kembali duduk setelah puas mengumpat.
Ia duduk sambil menunduk kedua siku tangannya tertumpu pada pahanya.
Kepalanya menunduk, dan Romi meremas ramburnya.
Menyugarnya asal hingga penampilannya kini nampak kacau, berantakan.
Cukup lama keduanya bungkam.
Meski tak tega meninggalkan Romi yang terlihat sangat terpukul setelah tahu apa yang terjadi pada atasannya, tapi dokter bertubuh mungil itu tetap harus pergi karena menerima panggilan dari perawat.
“Jika butuh seseorang untuk mendengarkan Anda, hubungilah aku jika mau. Aku bisa menjadi pendengar yang baik.” Ucapnya.
Mendengar itu sontak saja Romi memalingkan wajahnya, Ia kembali menatap dokter Shahnaz yang berdiri di dekatnya.
Saking mungilnya, meski telah berdiri tapi jarak netra keduanya tidak jauh dan Romi bisa melihat ketulusan di sana.
Tanpa menunggu jawaban Romi, dokter Shahnaz berbalik dan segera meninggalkan taman itu.
Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Romi, Ia kembali menoleh dan melihat tatapan Romi masih terus mengikutinya.
“Jangan sungkan yah padaku, kau sudah punya nomor ponselku.” Teriaknya, lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan taman.
Meninggalkan Romi dengan kening mengernyit, “Sejak kapan aku tau nomornya? Bertemu dengannya saja baru hari ini, bagaimana bisa dia katakan aku punya nomornya.” Gumam Romi.
Romi kembali pada lamunannya, namun baru sebentar tiba-tiba saja Ia akhirnya paham maksud dokter Shahnaz.
Ia berdiri dari posisi duduknya. Untuk merogoh semua saku yang ada di pakaiannya.
“Kemana kartu nama dokter itu?” Gumamnya terdengar frustasi.
Dengan langkah lebar dan cepat, Ia kembali ke bagian receptionis rumah sakit. Tempat yang Ia ingat dimana meninggalkan kartu nama itu.
Senyum memgembang di wajah Romi, “Bersiaplah dokter untuk mendengarku, kerena aku punya banyak hal untuk diceritakan,” ucapnya.
Sementara tak jauh dari tempat Romi berdiri, sosok wanita dengan kedua tangannya yang Ia masukkan dalam kantong jas putih kebanggaannya, ikut tersenyum malu-malu melihat Romi tersenyum sambil menatap kertas kecil berwarna putih yang Ia yakini adalah kartu nama miliknya.
¤¤¤¤《Flash Back Off》¤¤¤¤¤
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
__ADS_1
“ Dalam kehidupan ini tidak harus selalu mendapatkan yang terbaik, namun harus menerima kenyataan.”