
' Happy birthday ... Happy birthday
Happy birthday Brisa ...... '
Itulah akhir dari lagu yang dinyanyikan duet oleh Eijaz dan Kirani .
Yah , hari ini ketiganya berkumpul di toko buku untuk merayakan ulang tahun ke 17 Brisa .
" Ris... buat permintaan dan tiup lilinnya . " ucap Kirani yang sedang memegang kue tart lengkap dengan lilin angka 17 diatasnya .
" Semoga Ibu mendapatkan tempat terbaik disisinya , semoga Mbok Min selalu sehat dimanapun dia berada ,dan untuk dua sahabatku Rani dan Kakak semoga mereka berdua selalu bahagia . Aamiin . "
Brisa meniup lilin setelah Ia mengucapkan kata Aamiin .
" Gak jadi gak jadi , ulang ulang nyalain lagi lilinnya . Harusnya permintaannya untuk diri lu sendiri Risa , bukan untuk orang lain semua . " keluh Rani .
" Gak perlu . Aku udah dapat banyak doa dari kalian berdua . " jawab Brisa santai .
Eijaz sudah hapal sekali jika keduanya akan berdebat untuk hal hal kecil seperti ini .
" Udah ... udah... perkara doa juga mau diributin . " Eijaz buru buru menengahi .
" Happy birthday Bri ... maaf gue hanya bisa ngasih ini . Semoga suka yah . " Eijaz memberi sebuah kotak yang berisi kalung dengan liontin berbentuk hati .
" Bagus banget . Tapi ini berlebihan Kak . " tolak Brisa .
" Hadiah , jadi gak boleh nolak Bri . Gue bantu pakein yah . "
Eijaz mengambil alih kalung ditangan Brisa dan memakaikan di leher jenjang gadis pujaan hatinya itu .
" Jangan sampai dihilangin yah . " peringat Eijaz sekali lagi .
" Iya kakak, akan ku jaga sebaik mungkin . Makasih yah kak . " ujar Brisa sekali lagi .
Brisa menatap Kirana .
" Loh ... kenapa malah liatin gue ? "
" Kado aku mana ?? " Tanya Brisa dengan puppy eyes nya .
" Ada ... bentar gue tunjukin . Kadonya besar , gue gak bisa bawa dan kalaupun gue bawa gak akan cukup di sini . " Ucap Kirani .
" Alesan aja lu . Lu pasti lupa kan ? " ledek Eijaz .
Rani tak ingin menanggapi Eijaz . Dia lagi malas berdebat dengan pria yang hobinya cari masalah dengannya .
" Males gue nanggepin ocehan lu Kak . " Balas Rani ketus .
" Bri .... potong kuenya aja... gak sabar gue , kelihatannya enak . hehehehe " ujar Rani sambil nyengir .
Hari semakin sore saat mereka bertiga selesai merayakan sweet seventeen Brisa . Toko buku juga sudah tutup .
" Yuk sekalian gue anter . " Eijaz menawari Risa dan Rani .
" Gak , kita jalan aja . Bye bye Ijaz .. " Kiranilah yang segera menolak tawaran Eijaz lalu menarik Brisa untuk berjalan pulang .
" Tumben gak mau ikut kakak . " Brisa masih merasa aneh dengan sikap Kirani .
" Karena gue mau ngajakin lu ke tempat dimana kado gue berada . " ajak Kirani .
Mereka berjalan kaki mengikuti jalur yang biasa mereka lewati saat akan pulang ke rumah .
Namun sebelum masuk ke kompleks perumahan ada keduanya berbelok ke jalanan kecil yang membawa mereka ke sebuah halaman luas .
__ADS_1
Di sana ada sebuah pohon besar , dan diatasnya ada rumah pohon yang sangat cantik .
" Surprise .... kamu suka gak kadonya ? " tanya Kirani .
Brisa tak percaya jika Kirani menyiapkan kado sepsrti ini .
" Ini akan jadi rumah kita Bri . Kamu pegang 1 kuncinya , aku juga 1 . Rumah ini akan jadi tempat kita untuk menangis dan tertawa . " ujar Kirani .
" Impian gue salah satunya adalah kita berdua cepat dewasa . Kita berdua harus sukses Bri , harus bisa beli rumah terus lu bisa keluar dan pergi jauh jauh dari neraka itu . Gue temenin . " lanjutnya .
Keduanya berpelukan sambil menangis . Brisa bahagia karena masih ada orang yang tulus padanya .
Tak terasa Brisa baru sampai di rumah pukul 7 malam . Ia sangat terkejut melihat kamarnya berantakan .
" Bi Yum .. kok bisa gini kamarnya ? Tanya Brisa.
" Tadi nyonya kemari nyariin Neng , tapi Neng belum pulang , dia ngamuk lagi dan berantakin kamar jadi begini . "
Brisa hanya bisa menghela napas ,lalu Ia mulai merapikan kembali kamarnya .
Hari berganti hari . Brisa tetap menjalaninya dengan penuh syukur .
Tapi hari ini sedikit berbeda .
" Kenapa ? Kok kayaknya gelisah banget . " Tanya Kirani .
" Kakak ada ngabarin kamu gak ? Sudah seminggu ini dia gak datang ke toko dan gak ada kabar juga . " ucap Brisa .
" Cieee yang udah mulai hawatir ........ " ledek Kirani .
" Aku serius Rani .... perasaanku kok gak enak yah . " Brisa kembali melamun .
Brisa mencoba mencari cari kemungkinan Eijaz menghilang . " Apa aku berbuat kesalahan padanya ? " batinnya .
Setelah toko buku tutup , Brisa bergegas pulang . Hari ini dia sudah berjanji pada Bi Yum untuk membantunya mengurus bunga bunga yang ada di taman .
Brisa kini membantu Bi Yum memindahkan bunga yang baru dibeli oleh Ibu tirinya ke dalam pot .
Tak jauh dari tempat Brisa duduk , ada Anggun , adik tirinya yang sedang bermain boneka di awasi oleh sang Ibu .
Anggun suka menatap wajah kakak tirinya . Menurutnya kakak tirinya itu sangat cantik , seperti putri putri yang menjadi film favoritenya .
Tapi karena hal itu juga Anggun merasa iri dengan kakak tirinya .
Dia ingin mengambil semua yang dimiliki oleh kakak tirinya .
Seperti sekarang , Anggun yang usainya terpaut 8 tahun dengan Brisa sedang menatap pada kalung yang kakaknya gunakan .
__ADS_1
Lalu dia meminta sang Ibu untuk mengambilnya.
Tanpa basa basi , Indri langsung menarik kalung yang dipakai Brisa .
" Kembalikan kalungku . " ujar Brisa.
" Tidak akan . Orang sepertimu tidak pantas memakai barang mewah seperti ini . "
Indri kembali menghina Brisa .
" Lagian , bisa saja kalung ini adalah barang curian . Kamu mana mampu membelinya . "
Brisa terpancing emosi .
" Bukannya yang suka mencuri itu Anda nyonya ? Sebagai wanita , anda tega mencuri suami dan ayah wanita lain . Lalu rumah kakek dan tanah warisan kakekku , bukannya anda dan suami anda yang mencurinya . Jadi sebenarnya saya atau anda yang memakai barang curian ? "
Plaakkkk
Satu tamparan lagi mendarat di pipi mulus Brisa.
Merasa belum puas , Indri mengangkat satu ember berisi tanah lalu menumpahkannya di atas kepala Brisa .
Brisa baru saja selesai mandi , membersihkan tubuhnya yang penuh dengan tanah .
Bekas tamparan Indri memang sakit , tapi lebih sakit lagi hati Brisa . Ia merasa telah gagal memenuhi janjinya pada Eijaz untuk menjaga kalung pemberiannya .
Dengan mata yang terus mengeluarkan air mata , Brisa pergi dari rumah . Awalnya dia berniat menemui Kirani , tapi Ia melihat mobil ayahnya terparkir di car port . Brisa mengurungkan niatnya menemui Kirani , Ia tak ingin mengganggu waktu sahabatnya bersama ayahnya .
Satu tempat yang kini Ia tuju untuk menenangkan hatinya .
Berjalan dengan pelan , karena jalanannya cukup licin akhirnya Ia sampai dirumah pohon .
Menaiki satu persatu anak tangga , lalu menyalakan lampu agar ada sedikit cahaya yang menemaninya .
Brisa kembali memikirkan apa yang terjadi pada Eijaz . Apa kesalahannya hingga pria itu tiba tiba menghilang .
Ditengah keheningan , tiba tiba ponselnya berbunyi . Brisa mengernyit , nomor siapa yang menghubunginya ini ? Karena yang mengetahui nomor ponselnya hanyalah Eijaz dan Kirani .
Dengan ragu , Brisa menjawab panggilan itu .
" Halo .... "
" Halo .... ini benar nomornya Brisa ? " terdengar suara pria yang berbicara .
" Sepertinya aku pernah mendengar suara ini , tapi dimana yah . " batin Brisa .
.
.
.
.
"I would rather walk with a friend in the dark, than alone in the light." - Helen Keller
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue