Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 7 . Kemana Eijaz ?


__ADS_3

'  Happy birthday ... Happy birthday


Happy birthday Brisa ...... '


Itulah akhir dari lagu yang dinyanyikan duet oleh Eijaz dan Kirani .


Yah , hari ini ketiganya berkumpul di toko buku untuk merayakan ulang tahun ke 17 Brisa .


" Ris... buat permintaan dan tiup lilinnya . " ucap Kirani yang sedang memegang kue tart lengkap dengan lilin angka 17 diatasnya .


" Semoga Ibu mendapatkan tempat terbaik disisinya , semoga Mbok Min selalu sehat dimanapun dia berada  ,dan untuk dua sahabatku Rani dan Kakak semoga mereka berdua selalu bahagia . Aamiin . "


Brisa meniup lilin setelah Ia mengucapkan kata Aamiin .


" Gak jadi gak jadi , ulang ulang nyalain lagi lilinnya . Harusnya permintaannya untuk diri lu sendiri Risa , bukan untuk orang lain semua . " keluh Rani .


" Gak perlu . Aku udah dapat banyak doa dari kalian berdua . " jawab Brisa santai .


Eijaz sudah hapal sekali jika keduanya akan berdebat untuk hal hal kecil seperti ini .


" Udah ... udah... perkara doa juga mau diributin . " Eijaz buru buru menengahi .


" Happy  birthday Bri ... maaf gue hanya bisa ngasih ini . Semoga suka yah . " Eijaz memberi sebuah kotak yang berisi kalung dengan liontin berbentuk hati .


" Bagus banget . Tapi ini berlebihan Kak . " tolak  Brisa .


" Hadiah , jadi gak boleh nolak Bri . Gue bantu pakein yah . "


Eijaz mengambil alih kalung ditangan Brisa dan memakaikan di leher jenjang gadis pujaan hatinya itu .


" Jangan sampai dihilangin yah . " peringat Eijaz sekali lagi .


" Iya kakak, akan ku jaga sebaik mungkin . Makasih yah kak . " ujar Brisa sekali lagi .


Brisa menatap Kirana .


" Loh ... kenapa malah liatin gue  ? "


" Kado aku mana ?? " Tanya Brisa dengan puppy eyes nya .


" Ada ... bentar gue tunjukin . Kadonya besar , gue gak bisa bawa dan kalaupun gue bawa gak akan cukup di sini . " Ucap Kirani .


" Alesan aja lu . Lu pasti lupa kan ? " ledek Eijaz .


Rani tak ingin menanggapi Eijaz . Dia lagi malas berdebat dengan pria yang hobinya cari masalah dengannya .


" Males gue nanggepin ocehan lu Kak . " Balas Rani ketus .


" Bri .... potong kuenya aja... gak sabar gue , kelihatannya enak . hehehehe " ujar Rani sambil nyengir .



Hari semakin sore saat mereka bertiga selesai merayakan sweet seventeen Brisa .  Toko buku juga sudah  tutup .



" Yuk sekalian gue anter . " Eijaz menawari Risa dan Rani .



" Gak , kita jalan aja . Bye bye Ijaz .. " Kiranilah yang segera menolak tawaran Eijaz lalu menarik Brisa untuk berjalan pulang .



" Tumben gak mau ikut kakak . " Brisa masih merasa aneh dengan sikap Kirani .



" Karena gue mau ngajakin lu ke tempat dimana kado gue berada . "  ajak Kirani .



Mereka berjalan kaki mengikuti jalur yang biasa mereka lewati saat akan pulang ke rumah .



Namun sebelum masuk ke kompleks perumahan ada keduanya berbelok ke jalanan kecil yang membawa mereka ke sebuah halaman luas .

__ADS_1



Di sana ada sebuah pohon besar , dan diatasnya ada rumah pohon yang sangat cantik .


" Surprise .... kamu suka gak kadonya ? " tanya Kirani .



Brisa tak percaya jika Kirani menyiapkan kado sepsrti  ini .



" Ini akan jadi rumah kita Bri . Kamu pegang 1 kuncinya , aku juga 1 . Rumah ini akan jadi tempat kita untuk menangis dan tertawa . " ujar Kirani .



" Impian gue salah satunya adalah kita berdua cepat dewasa . Kita berdua harus sukses Bri , harus bisa beli rumah terus lu bisa keluar dan pergi jauh jauh dari neraka itu . Gue temenin . " lanjutnya .



Keduanya berpelukan sambil menangis . Brisa bahagia karena masih ada orang yang tulus padanya .



Tak terasa Brisa baru sampai di rumah pukul 7 malam .  Ia sangat terkejut melihat kamarnya berantakan .



" Bi Yum .. kok bisa gini kamarnya ? Tanya Brisa.



" Tadi nyonya kemari nyariin Neng , tapi Neng belum pulang , dia ngamuk lagi dan berantakin kamar jadi begini . "



Brisa hanya bisa menghela napas ,lalu Ia mulai merapikan kembali kamarnya .



Hari berganti hari . Brisa tetap menjalaninya dengan penuh syukur .


Tapi hari ini sedikit berbeda .


" Kenapa ? Kok kayaknya gelisah  banget . " Tanya Kirani .


" Kakak ada ngabarin  kamu gak ? Sudah seminggu ini dia gak datang ke toko dan gak ada kabar juga . " ucap Brisa .


" Cieee yang udah mulai hawatir ........ " ledek Kirani .


" Aku serius Rani .... perasaanku kok gak enak yah . " Brisa kembali melamun .


Brisa mencoba mencari cari kemungkinan Eijaz menghilang . " Apa aku berbuat kesalahan padanya ? " batinnya .



Setelah toko buku tutup , Brisa bergegas pulang . Hari ini dia sudah berjanji pada Bi Yum untuk membantunya mengurus bunga bunga yang ada di taman .



Brisa kini membantu Bi Yum memindahkan bunga yang baru dibeli oleh Ibu tirinya ke dalam pot .



Tak jauh dari tempat Brisa  duduk  , ada Anggun , adik tirinya yang sedang bermain boneka di awasi oleh sang Ibu .



Anggun suka menatap wajah kakak tirinya . Menurutnya kakak tirinya itu sangat cantik , seperti putri putri yang menjadi film favoritenya .


Tapi karena hal itu juga Anggun merasa iri dengan kakak tirinya .



Dia ingin mengambil  semua yang dimiliki oleh kakak tirinya .


Seperti sekarang , Anggun yang usainya terpaut 8 tahun dengan  Brisa sedang menatap pada kalung yang kakaknya gunakan .

__ADS_1


Lalu dia meminta sang Ibu untuk mengambilnya.



Tanpa basa basi , Indri langsung menarik kalung yang dipakai Brisa .



" Kembalikan kalungku . " ujar Brisa.



" Tidak akan . Orang sepertimu tidak pantas memakai barang mewah seperti ini . "


Indri kembali menghina Brisa .



" Lagian , bisa saja kalung ini adalah barang curian . Kamu mana mampu membelinya . "



Brisa terpancing emosi  .


" Bukannya yang suka mencuri itu Anda nyonya ? Sebagai wanita , anda tega mencuri suami dan ayah wanita lain . Lalu rumah kakek dan tanah warisan kakekku , bukannya anda dan suami anda yang mencurinya . Jadi sebenarnya saya atau anda yang memakai barang curian ? "



Plaakkkk



Satu tamparan lagi mendarat di pipi mulus Brisa.


Merasa belum puas , Indri mengangkat satu ember berisi tanah lalu menumpahkannya di atas kepala Brisa .



Brisa baru saja selesai mandi , membersihkan tubuhnya yang penuh dengan tanah .


Bekas tamparan Indri memang sakit , tapi lebih sakit lagi hati Brisa . Ia merasa telah gagal memenuhi janjinya pada Eijaz untuk menjaga kalung pemberiannya .


Dengan mata yang terus mengeluarkan air mata , Brisa pergi dari rumah . Awalnya dia berniat menemui Kirani , tapi Ia melihat mobil ayahnya terparkir di car port  . Brisa mengurungkan niatnya menemui Kirani , Ia tak ingin mengganggu waktu sahabatnya bersama ayahnya .


Satu tempat yang kini Ia tuju untuk menenangkan hatinya .


Berjalan dengan pelan , karena jalanannya cukup licin akhirnya Ia sampai dirumah pohon .


Menaiki satu persatu anak tangga , lalu menyalakan lampu  agar ada sedikit cahaya yang menemaninya .


Brisa kembali memikirkan apa yang terjadi pada Eijaz . Apa kesalahannya hingga pria itu tiba tiba menghilang .


Ditengah keheningan , tiba tiba ponselnya berbunyi . Brisa mengernyit , nomor siapa yang menghubunginya ini ? Karena yang mengetahui nomor ponselnya hanyalah Eijaz dan Kirani .


Dengan ragu , Brisa menjawab panggilan itu .


" Halo .... "


" Halo .... ini benar nomornya Brisa ? " terdengar suara pria yang berbicara .


" Sepertinya aku pernah mendengar suara ini , tapi dimana yah . "  batin Brisa .


.


.


.


.


"I would rather walk with a friend in the dark, than alone in the light." - Helen Keller


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2