Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 78. Tawa dan Tangis


__ADS_3

Karena tersenyum lebih mudah dari pada harus menjelaskan alasan mengapa bersedih.


Bukan munafik, tapi tertawa salah satu cara untuk menghibur diri saat mengetahui jika kenyataan tidak sesuai harapan.


Bukankah bahagia itu pilihan?


Bukankah bahagia itu kita yang ciptakan?


Bukankah bahagia itu tujuannya?


Maka lihatlah senyum dan tawaku, Aku bahagia.


Meski hanya sebagai cara untuk menutup luka di hati.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Di sebuah club malam yang terkenal dengan banyaknya pengunjung VIP yang menjadi pelanggan tetap tempat itu.


Di sudut ruangan, pada salah satu meja berbentuk lingkaran dengan sofa yang mengelilinginya, kini Risa, Amora, Esme, Gio, Echa, dan Albert tengah merayakan keberhasilan mereka dalam merebut kembali perusahaan kakek Risa dari si Iblis Ferdinand.


“ Bersulang untuk keberhasilan awal kita,” ucap Risa dengan lantangnya.


Lalu terdengar suara dentingan beberapa gelas yang beradu.


Yah, sore tadi dewan direksi Ortiva Construction telah mengumumkan pemecatan terhadap Ferdinand sebagai CEO karena kinerjanya semakin menurun.


Dan juga fakta jika kini Ia dalam status sebagai saksi untuk kasus dugaan adanya kelalaian SMK3 pada proyek di Kalimantan.


Tak ada yang dapat Ferdinand lakukan untuk tetap pada posisinya, seluruh sahamnya telah Ia jadikan jaminan pada Gio saat hendak berinvestasi pada perusahaan di luar negeri yang ternyata adalah perusahaan fiktiv.


Walaupun nantinya perusahaan akan ikut bertanggung jawab jika memang terbukti bersalah, tapi Ferdinand tetap akan dituntut karena penyelewengan dana bantuan yang dikucurkan dari Sky High Group.


Tidak hanya itu, kini dewan direksi juga menetapkan Risa sebagai CEO Ortiva Construction yang baru , mengacu pada surat wasiat kakeknya yang merupakan pemilik dan pendiri Ortiva Construction.


Sekali, dua kali, tiga kali tegukan dan gelas Risa sudah kembali kosong.


Diraihnya kembali botol minuman lalu menuangkan isinya ke dalam gelasnya.


Kali ini hanya dua kali tegukan dan isinya pun tandas.


Gio berdecak kagum pada kemampuan Risa bertahan dari pengaruh alkohol.


Dentuman musik EDM, memecah keheningan yang biasanya terjadi saat malam hari.


Dance floor sudah mulai ramai dihiasi dengan muda mudi yang menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh DJ.


“Harusnya kita mengajak Aydin juga, saham yang dia berikan padamu sangat membantu.” ucap Echa.


“Dia pasti tidak akan mau ke tempat seperti ini,” balas Esme.


“Gampang. Cukup minta saja salah satu pria disini bermesraan dengan Risa, ku jamin dia akan segera datang.” Ujar Gio.


“ Hey, awas kalau kalian coba-coba mengajak Aydin kemari.” Ancam Risa.


“Tak akan ku maafkan dalam waktu yang lama.” Lanjutnya.


Ia hendak mengisi gelasnya lagi, namun Amora mencegahnya.


“Ris, ada apa denganmu,?” tanya Amora.


“Apa telah terjadi sesuatu?” tanyanya lagi.


“Apa kau dan Aydin bertengkar lagi?” Tanya Echa.


Risa tertawa... tertawa terbahak-bahak.


Ha ha ha ha ha ha

__ADS_1


“Itulah jawabannku eonni. Aku tertawa, jadi tentunya aku baik-baik saja.”


“Tawamu terdengar mengerikan, kau tidak perlu berpura-pura lagi,” ucap Esme.


“Kau bahkan seperti pengasuh saat putranya sakit, dan lihat yang dia lakukan padamu.” Ucap Esme kesal.


“Jangan bawa-bawa Dafha,aku sungguh menyayanginya.”


“Aydin hanya melakukan yang seharusnya Ia lakukan, dia harus bertanggung jawab pada Franda.” Ucapnya Risa.


“Bre***s**” maki Gio.


“Berhenti berharap padanya. Kau luar biasa,kau akan mendapatkan yang jauh lebih baik.” Ucap Gio.


Pria itu bahkan meneguk habis minumannya dalam sekali teguk karena kesal pada Aydin yang menyia-yiakan wanita seperti Risa.


“Apa kau percaya semudah itu?” tanya Echa, dia masih sangat percaya jika Aydin tidak se bej*t itu.


“Apa yang harus ku ragukan jika semuanya terucap dari bibirnya?” tawanya.


Dan itu sudah bisa menjadi jawaban atas pertanyaannya sendiri.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Malam semakin larut, Gio, Amora, dan Albert harus kembali lebih dulu karena kondisi Amora yang sudah sangat mabuk.


“Apa balik aja sekalian,” tawar Gio.


“Gak apa-apa, kau balik saja duluan. Lagian Risa dan Ezme gak mabuk kok, mereka tidak akan merepotkanku.” Balas Echa.


“Oke, aku balik duluan yah. Kalau ada apa-apa hubungi aku secepatnya .” Pesan Gio sebelum keluar dari club dengan memapah Amora.


Dua puluh menit setelah itu, musik EDM yang sejak tadi tak henti-hentinya memekikkan telinga akhirnya sedikit menurunkan volumenya.


“Amora mana?” tanya Esme saat Ia dan Risa kembali dari dance floor.


“Kita balik juga yuk,” ajak Esme.


Setelah menyelesaikan pembayaran, ketiganya berjalan menuju parkiran mobil Echa.


Walaupun tidak mabuk, tapi tidak dipungkiri jika kepala Risa kini sedikit berat akibat berbotol-botol alkohol yang luruh ke dalam kerongkongannya.


Echa berjalan lebih dulu, disusul Risa.


sedang Esme berhenti sejenak karena ingin menikmati sebatang rokok.


“Naiklah lebih dulu, bisa jadi hot gosip jika ada yang menyadari kehadiranmu disini.” Ucap Esme .


Risa pun mengikuti saran Esme, dengan langkah yang sedikit goyah Ia berjalan menuju mobil Echa.


Sambil menghisap rokoknya, Esme melihat tak jauh dari sana ada sepeda motor yang melaju ke arah Risa.


Yang menarik perhatian Esme adalah karena pria yang duduk dibelakang, mengacungkan sebilah pisau ke arah samping.


Esme segera berlari ke arah Risa, berharap Ia sempat menyelamatkan wanita yang 10 tahun terakhir ini Ia jaga sebagai adiknya.


“Risa...., Awas.” Pekiknya sebelum Ia berhasil melayangkan satu tendangan pada sepeda motor itu.


Brruuugggg


Suara motor yang menabrak sebuah tiang mengalihkan perhatian orang-orang di sekitar.


Echa segera turun dari mobil, berlari ke arah Esme yang kini meringkuk di aspal.


Esme yang melihat Echa berlari ke arahnya malah mengarahkan Echa agar memeriksa keadaan Risa dengan satu tangannya.


Orang-orang di sekitar tempat kejadian segera mengamankan 2 pelaku pengendara motor.

__ADS_1


Echa melihat Risa sudah tak sadarkan diri, akibat terserempet motor yang ditendang Esme sehingga Ia terjatuh dan kepalanya terbentur trotoar jalan.


“Risa... Risa...” panggilnya berusaha menyadarkan Risa, tapi tak ada sahutan darinya.


“Tolong, siapapun telepon ambulans.” Pekik Echa yang kini mulai panik.


Sesaat Echa melupakan Esme, dibayangannya Esme baik-baik saja karena tadi wanita itu masih memintanya untuk memeriksa keadaan Risa.


Hingga terdengar teriakan seorang pria, “Di sini masih ada korban lagi. Tolong, dia terkena tusukan.”


Echa mengalihkan pandangannya, dari tempatnya sekarang memangku kepala Risa bisa Ia lihat wanita yang Ia cintai meringkuk dengan tangan memegangi bagian perutnya yang terus mengeluarkan darah.


Echa membaringkan kembali kepala Risa ke Atas trotoar dengan perlahan kemudian berlari ke arah Esme,


“Esme, sayang, bangun sayang,” ucap Echa.


Ia menggantikan tangan Esme yg masih menekan lukanya.


Perlahan mata Esme terbuka, “Ri... Sa..., di... a...”


“Sstttt...., Tenanglah. Risa baik-baik saja, kamu bertahan yah, sebentar lagi ambulans datang.” Ucap Echa.


Esme tersenyum, senyum yang sangat manis. Seyum paling tulus yang Echa terima selama Ia mengenal Esme.


Air mata Echa akhirnya luruh. Dalam hati Ia merutuki dirinya yang naik ke mobil lebih dulu.


Apalagi kini Esme memegang tangan Echa yang bersimbah darah karena tengah menutupi lukanya.


“Esme, kamu wanita kuat. Ku mohon bertahanlah. Aku baru saja menemukan kebahagianku bersamamu, kamu tidak boleh pergi membawanya.” Ucap Echa.


“Esme, ku mohon. Sadarlah.....” pintanya sepenuh hati untuk orang yang Ia cintai.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Sementara di apartement, Amora yang baru saja terlelap setelah pertempuran panasnya dengan Gio tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk.


“ESME, TUNGGU!” teriaknya sebelum Ia terbangun.


Napasnya memburu tak beraturan, tubuhnya bergetar, keringat membasahi wajahnya.


Gio yang ikut terbangun, segera memeluk tubuh polos Amora.


“Hei, hei, tidak apa-apa.” Ucap Gio menenangkan Amora sembari mengelus puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.


Layar ponsel Amora mengerjap, Ia memang sengaja membuat ponselnya tidak berdering.


Segera Ia raih ponselnya,


“Halo,” sapa Amora.


“ ............ “


Bruk


Seketika tubuhnya lemas, seperti semua tulangnya lepas, dan tenaganya telah habis.


Ponselnya bahkan terlepas begitu saja dari tangan Amora.


"Esme," ucapnya lirih menyebut nama saudara kembarnya.


Dan tangisannya pun pecah.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Setiap perkara ada gantinya. Setiap perlakukan ada ganjarannya. Setiap kejadian ada hikmahnya.


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2