Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 138. Tangis dan penantian


__ADS_3

Asal kamu tahu jika menunggu itu melelahkan.


Sangat, sangat melelahkan.


Menunggu kepastian darimu juga butuh banyak pengorbanan.


Tidak hanya perasaanku yang harus berkorban, tapi waktuku juga harus rela kukorbankan.


Jangan mengira menunggumu, aku bisa bersantai sambil menunggu saatnya kamu akan kembali.


Kadang aku bertanya, “Apa pantaskah kamu untuk kutunggu selama ini?”


Semoga kau tak kembali setelah pertanyaanku tidak lagi membutuhkan jawaban.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


¤¤¤¤《Flashback》¤¤¤¤


¤¤¤¤《Hari kedua Aydin pergi》¤¤¤¤


Bulan yang menjadi penerang langit semalam, sudah beranjak untuk kembali pada ke peraduannya.


Sementara hari ini awan kelabu dengan lincahnya tampil lebih awal, hingga sang mentari harus bersabar lagi untuk mulai menghangatkan bumi dengan sinarnya.


Bagi Risa, dinginnya suhu udara pagi ini tidak akan sebanding dengan hatinya yang telah membeku.


Bagaimana tidak, seseorang yang mampu menghangatkan hatinya kini telah menghilang bagai ditelan bumi dengan sengaja.


“Bersabarlah sebentar lagi kak, sepertinya hujannya tak akan awet.” Ayana berusaha mencegah Risa, agar wanita yang masih berstatus calon kakak iparnya, menghentikan aksi nekatnya untuk pergi ke taman ditengah cuaca uang sedang hujan dan suhu udara yang dingin.


“Justru itu, karena hujannya tak akan awet makanya aku ingin pergi sekarang.” Ucap Risa.


“Semoga aku beruntung dan bisa melihat pelangi, saat hujan akhirnya berhenti," lanjutnya dengan tersenyum.


Senyumannya Ia maksudkan agar Ayana tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


Sebelum pergi, Risa menyempatkan untuk mengecup kening Dafha yang masih tertidur di brankarnya.


Mengecupnya sekali namun cukup lama, hingga ada bulir air mata yang membasahi pipinya.


Kecurigaan sempat terbersit di benak Ayana,


"Mengapa Kak Risa seperti sedang berpamitan untuk pergi jauh yah? Bukankah dia hanya akan ke taman di rooftop rumah sakit.” Batin Ayana.


Namun segera Ia tepis, saat melihat penampilan Risa yang masih mengenakan pakaian rumah sakit yang Ia tutupi hanya dengan jaket.


Wajahnya tetap cantik dan menarik meski tanpa sapuan make up sedikitpun.



Netra Ayana terus mengikuti langah Risa hingga wanita itu menghilang di balik pintu.


Baru saja Ayana hendak memastikan kemana langkah Risa namun dering ponselnya menghentikan aksinya.


Wajah Ayana yang tadinya penuh dengan tanda tanya kini tiba-tiba saja merona saat melihat simbol hati yang nampak di layar ponselnya.


“Ah, pantas saja Bang Aydin dan kak Risa kadang bertingkah aneh. Ternyata cinta memang benar-benar bisa membuat orang berubah jadi aneh.” Batinnya.


Setelah menormalkan degupan jantungnya, dengan segera Ia menerima panggilan tersebut.


Mengobrol dengan suara berbisik, karena tak ingin tidur Dafha terganggu.


Yah, ponakannya itu adalah alasan mengapa Ayana bisa berada disini. Kemarin Dafha memaksa untuk menemani calon mamanya di rumah sakit.


Alasannya Ia tak ingin mamanya bersedih karena sendirian.


"Apa sudah ada kabar dari Bang Aydin?" tanya Ayana pada pemilik kontak dengan simbol hati di ponselnya.


"Belum, entah kali ini pak bos yang labil itu bersembunyi di mana." Jawabnya.

__ADS_1


Terjawablah sudah, siapa si pemilik simbol hati. Dia adalah Chandra, asisten Aydin yang tak lain kakak kekasihnya.


Chandra sempat merutuki keputusannya untuk tak jujur pada Aydin mengenai hubungannya dengan Ayana. Alhasil sehari sebelum Aydin pergi, Ia sempat menjadi objek cemburu buta bosnya.


“Saat kembali nanti, siap-siap saja untuk menghadapi amarah putramu sendiri.” Gumam Ayana dalam hati yang kesal pada kakaknya, hingga Ia teringat akan sesuatu.


“Astaga, Kak Risa.” Pekik Ayana menyadari kecerobohannya.


“Honey, kenapa dengan Nona Risa?” tanya Chandra juga ikut-ikutan panik.


“Kak Risa memaksa naik ke rooftop, ingin melihat pelangi katanya.” Ucap Ayana apa adanya.


Karena tak tahu sebaiknya apa yang Ayana lakukan, kedua melanjutkan obrolan sekitar 30 menit sebelum akhirnya Dafha terbangun.


“Ma... Mama...” panggi Dafha dengan suara yang masih serak mencari sosok Risa yang semalam tidur sambil memeluknya.


Ayana segera memutuskan obrolannya di telepon dan segera menghampiri Dafha.


“Hei Boy.....Kamu udah bangun?” Tanya Ayana.


“Mama Risa kemana aunty?


“Mama Risa sedang pergi sebentar.” Jawabnya.


Meski terlihat raut wajah kecewa Dafha, selama anak itu tidak menangis, artinya situasi masih aman dan terkendali.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Sementara di tempat yang berbeda, seorang wanita dengan pakaian rumah sakit akhirnya tiba di depan gerbang tempat pemakaman umum (TPU).


Waktunya lebih banyak Ia habiskan untuk mencari taksi. Banyak dari sopir taksi yang takut dan menolak Risa, para sopir taksi tak ingin ambil resiko bisa saja Risa adalah pasien yang kabur karena bermasalah.


Dan tebakan para sopir itu tak semuanya salah. “Risa memang sedang kabur dari rumah sakit.”


Langkah kakinya yang perlahan terlihat mulai gemetar, kini membawanya pada sebuah makam dengan nama Kirani tertulis pada nisannya.


Tanpa kata-kata Risa kini duduk bersimpuh di tepi makam Kirani, air matanya luruh begitu saja.


Tapi pagi ini, Ia sengaja berkunjung kemari hanya untuk menangis.


“Rani.... Kamu ingin tau bagaimana perihnya hatiku saat ini? Maka dengarkanlah tangisanku.” Ucapnya sambil sesekali sesenggukan karena sudah terlalu lama Ia mengeluarkan air mata.


“Aku bahkan kini tak bisa lagi menghentikannya. Aku juga tak bisa mecegahnya agar tidak melesak keluar dari tempatnya.”


“Sampai kapan aku harus terus merasakan sakit?” Keluhnya di sela-sela tangisannya.


Hujan yang tadinya hanya jatuh setetes demi setetes, hanya berupa gerimis, kini tiba-tiba mengguyur bumi dengan hujan yang sangat deras.


Derasnya suara gemerisik air hujan bahkan mampu menenggelamkan suara tangisan Risa yang semakin meraung-raung. Melepasakan semua rasa yang selama ini Ia rasakan.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Sebenarnya, saat ini Risa tak benar-benar sendiri. Sejak tadi sepasang mata seorang pria terus mengawasi gerak gerik Risa.


Yah, dia Aydin.


Sama seperti Risa, dia juga berniat berkunjung ke makan Kirani. Namun langkahnya terhenti tatkala melihat wanita yang Ia rindukan turun dari taksi seorang diri, bahkan Ia masih mengenakan pakaian khas rumah sakit.


Hatinya tercubit, pria seperti apa dirinya? Membiarkan wanita baik itu kini menangis dengan tersedu-sedu.


Jelas sekali di netra Aydin, kedua kaki Risa yang kecil dan jenjang bergetar. Entah karena Ia kedinginan atau karena bebannya terasa begitu berat.


Ingin rasanya Ia berlari, lalu merengkuh tubuh rapuh itu, tapi ego-nya lagi lagi menahannya.


Hujan rasanya tahu kapan hati sedang mendung, hingga Ia turun di saat yang tepat.


Semakin deras air hujan yang membasahi bumi, semakin sulit pula netra Aydin untuk mengawasi pergerakan Risa.


Hingga beberapa saat setelahnya terlihat Risa berdiri memeluk tubuhnya sendiri, sepertinya Ia berharap bisa mengurangi rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang.

__ADS_1


Risa lalu menghentikan sebuah taksi, dan kemudian berlalu meninggalkan lokasi pemakaman.


Taksi yang ditumpangi Risa, melaju pelan membelah jalanan Ibu Kota yang terus menerus diguyur hujan.


Pria itu akhirnya bisa tenang, ketika Ia melihat taksi yang ditumpangi Risa berbelok memasuki areal rumah sakit.


Merasa belum siap untuk kembali dan membahas masalah yang Ia sendiri belum tahu jawabannya apa, Aydin melajukan mobilnya menjauhi rumah sakit.


Tanpa Aydin ketahui jika di dalam taksi yang Risa tumpangi tadi, sang sopir sedang dilanda ketakutan.


Karena wanita yang menjadi penumpangnya, tiba-tiba saja pingsan. Beruntung wanita itu tadi sempat mengatakan tujuannya, hingga sang sopir tahu kemana Ia harus membawa wanita yang sedang tak sadarkan diri di jok belakang mobilnya.


“Semoga Si Eneng masih bernapas, bisa ribet urusannya kalau nggak.” Begitulah doa sopir taksi sepanjang perjalanan.


¤¤¤¤《 Flashback Off 》¤¤¤¤


⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Tiga hari tanpa Aydin segera berlalu. Namun ada yang berbeda dengan hari ini. Risa tampak lebih baik sejak Eomma Martha berada di sisinya.


Wanita paruh baya itu tak ingin kejadian kemarin terulang. Meski tak melihatnya langsung, tapi bisa Ia bayangkan bagaimana paniknya semua orang saat Risa tiba-tiba ikut pergi entah kemana.


Kemudian beberapa jam setelah pergi, putri angkatnya itu lagi lagi membuat kegemparan dengan kembali dalam keadaan pingsan di dalam taksi seorang diri.


Kegemparan bukan hanya terjadi di lingkup keluarga, tapi seluruh Negeri kini membicarakan dan memberitakan kejadian kemarin.


Nama Kim Risa, lagi lagi menjadi tranding topik pencarian di hampir semua situs jejaring sosial.


Begitu juga dengan Aydin, pria yang dikabarkan akan menikah dengannya namun batal karena kecelalaan yang dialami sang model beberapa waktu lalu.


Melihat Risa dan Dafha yang kini sedang berpelukan di atas brankar, sambil bermain game di ponsel.


Bahkan sesekali tawa terdengar dari keduanya, membuat Eomma Martha yakin jika Risa benar-benar menyayangi anak laki-laki itu dengan tulus.


Sedetik kemudian, Eomma menghela napasnya, “Jika skenario terburuk benar-benar terjadi, maka hal itu juga yang akan menjadi kesulitan terbesar Risa saat harus ikut dengannya pindah ke Belanda. Risa pasti akan berat meninggalkan Dafha.” Batinnya.


⚘⚘⚘⚘⚘


Setelah melihat berita yang ditayangkan di TV mengenai Risa, Aydin terus menyalahkan dirinya.


Ia merutuki sifat egois di dirinya yang tak pernah bisa Ia kalahkan.


Dan hari ini, Ia kembali dihadapkan pada penyesalan dan rasa takut jika akan kembali terulang kejadian Ia yang ditinggalkan selama-lamanya oleh wanita yang Ia cintai.


Tak ingin berpikir terlalu lama, segera pria egois itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk menemui wanita yang masih memiliki cintanya.


Aydin yakin atas sikap kekanak-kanakannya, Ia akan mengalami kesulitan untuk menemui Risa kembali.


Namun sepertinya dewi keberuntungan berpihak padanya, saat ini Aydin tak melihat siapapun yang berada di sekitar ruang perawatan Risa.


Ia akhirnya memutuskan bertanya pada perawat.


Dan benar, hanya ada Eomma dan Dafha yang menemani Risa.


Entah kapan Eomma dan Appa tiba dari Belanda, dan Aydin harus mulai mempersiapkan diri menghadapi Appa Kim.


Baru saja tangannya terulur hendak membuka pintu, Aydin dikejutkan dengan suara seorang wanita yang memanggilnya.


“Aydin.”


“Nak Aydin,”


“Bisakah kita bicara sebentar saja?”


¤¤¤¤¤ 《To be continue》¤¤¤¤¤


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Tuhan memang menciptakan harapan untuk orang-orang yang bertahan dalam sebuah penantian.

__ADS_1


Tapi Tuhan juga menciptakan hari esok untuk orang-orang yang akhirnya sadar jika hatinya telah terkikis begitu dalam oleh hal semu bernama penantian.


__ADS_2