
Tatkala hati telah dipenuhi oleh cinta yang belum terucap padamu. Secara perlahan, sakit bagai tersayat mulai terasa karena kepastian nampaknya seolah tak dapat tergapai.
Cukup siapkan aku jurang, biarlah aku sendiri yang akan mengubur perasaan ini, dengan aku yang akan pergi bersamanya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Pulau Nusa Lembongan berlokasi di tenggara pulau Bali. Hal yang membuat pulau Nusa Lembongan disukai wisatawan untuk destinasi liburan karena keindahan alam serta tidak ada kemacetan jalan raya.
Pantai pasir putih, hutan bakau dirimbuni pepohonan hijau, serta pemandangan bawah laut adalah keindahan alam yang di tawarkan pulau ini.
Setelah dua jam melakukan perjalanan dengan yacht mewah, akhirnya rombongan Risa dan Aydin tiba di tujuan mereka.
Perairan yang sangat jernih dengan terumbu karang yang masih terjaga kelestariannya, menjadikan snorkeling sebagai salah satu aktivitas yang wajib dilakukan saat berkunjung di pulai ini.
“Ay, kamu yakin mau ikut snorkeling?” tanya Risa pada Aydin saat wanita itu membantu mengenakan perlengkapan khusus untuk snorkeling.
Aydin dengan mantap mengangguk.
“Yakin sayang, yang aku gak yakin meninggalkanmu sendirian. Aku disini aja banyak banget mata pria yang tak tau diri memandangimu.”
Risa terkekeh, “Sejak kapan kamu menjadi cemburuan seperti ini?”
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir manis Risa.
“Sejak pertama aku tertarik padamu.”
“Ay jangan gini, ada Mama dan Papa. Dafha juga merhatiin tuh,” tegurnya dengan wajah yang sudah merah karena merona.
Rombongan Risa-Aydin kali ini terbagi menjadi dua. Para pria yang akan pergi menuju lokasi Mangrove Point, kemudian The Wall, dan ke pantai Crystal Bay untuk aktifitas snorkeling.
Sedangkan para wanita langsung menuju restaurant yang telah disiapkan untuk makan siang.
Sebelum berpisah, pasangan tunangan yang bucin kembali lagi bertingkah dengan Aydin yang memeluk erat Risa.
“Kau cuma akan pergi untuk snorkeling Bang, bukannya pergi untuk ikut perang.” Celetuk Ayana yang jengah melihat tingkah Abangnya.
Aydin tidak menanggapi ucapan Ayana, “Yang, ingat jangan pernah kamu lepas kemeja ini.” Ucapnya, sementara tangannya sibuk merapikan kemeja putih miliknya yang Ia pakaikan pada Risa.
Risa mengangguk patuh, Ia mengerti Aydin tak akan mau jika banyak orang yang akan memerhatikan dirinya.
Sesampainya di restaurant dugaan Risa benar terjadi. Salahnya karena berangkat terburu-buru, Ia melupakan masker yang selalu Ia bawa.
Beberapa pengunjung yang mengenal dirinya kini sedang sibuk minta berfoto, mengabadikan momen yang belum tentu bisa terulang lagi.
Beruntung karena pihak restaurant dan kru yacht yang ikut menemani bisa menghalau ketika semakin banyak fans yang ingin mendekat.
Alhasil mereka harus makan siang di dalam restaurant, merelakan impian untuk makan siang di tepi pantai dengan hembusan angin sejuk yang menyegarkan.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡
Lumayan lama waktu yang mereka habiskan di restaurant itu, tiga jam waktu yang akan membosankan jika saja Risa tidak ditemani dengan orang-orang menyenangkan yang saat ini berada di sisinya.
Si kembar Amora dan Esme yang terus berdebat karena pilihan yang kerap kali berbeda.
Ayana yang bahkan bisa membuat 1 album berisi lebih dari 10 lagu yang telah Ia nyanyikan. Model besutan agensi milik Risa itu, tiba-tiba saja menjelma menjadi penyanyi yang mendapat banyak pujian dari para pengunjung restaurant.
Belum lagi Dafha yang terus saja menempeli aunty cantiknya, Amora yang kini tengah berjalan-jalan mengitari toko-toko cinderamata disekitar restaurant.
Tinggallah Mama Indira dan Risa yang menunggu para pria dengan tenang di dalam restaurant.
“Mama berterimakasih kamu masih mau membuka hatimu untuk Aydin, Mama tau anak itu sudah banyak sekali melukai hatimu Nak.” Ucap Mama Indira memecah keheningan.
“Tak masalah Ma, kebahagiaan yang diberikannya masih jauh lebih besar jika dibandingkan dengan segala kesakitan yang pernah kurasa.”
“Dulu, kurasa cukup dengan memiliki keluarga angkatku. Namun membayangkan jika nanti aku akan memiliki keluargaku sendiri, rasanya aku sangat bahagia.”
Mama Indira terseyum mendengar ucapan tulus dari wanita cantik dihadapannya.
Dengan menatap ke arah pantai lewat jendela kaca disampingnya, Risa bergumam lirih, “Tak pernah sekalipun ku bayangkan jika sebuah amanat telah mengubah jalan hidupku. Ku kira aku hanya akan menjalaninya saja tanpa melibatkan perasaan, tapi kini semuanya berbeda, aku mencintainya.”
CUP.
“Ay, kamu sudah kembali.”
“Aku juga mencintaimu,” Ucap Aydin membalas ungkapan cinta Risa sebelumnya.
Risa tersenyum, “Apa Aydin mendengar ucapannya soal amanat?” batinnya.
“Dafha di mana Yang?” tanya Aydin.
Belum sempat Risa menjawab, Gio dengan wajah ditekuk masuk ke dalam restaurant dan mendudukkan dirinya di hadapan pasangan Risa dan Aydin.
“Dafha sedang menyabotase hak milikku,” celetuknya mengundang tawa siapa saja yang mendengarnya.
Satu per satu rombongan mulai berkumpul, kecuali Ayana yang masih setia dengan nyanyiannya dan juga Chandra yang bahkan melupakan makan siang hanya untuk memandangi gadis pujaannya tengah menebar pesona diatas panggung.
“Apa kalian sudah memiliki rencana waktu yang baik untuk pernikahan?” tanya Papa Dimas.
Risa menggeleng sementara Aydin mengangguk dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“Sebulan lagi. Aku masih harus menyesuaikan dengan jadwal Appa Kim dan Eomma Martha.” Jawab Aydin membuat Risa sontak menoleh ke arahnya.
“Sebulan? Jadwalku juga masih harus diperiksa dulu Ay, ada beberapa brand yang kerja samanya belum berakhir dan dikontraknya tidak boleh ada pernikahan.” Ujar Risa.
Aydin membelai lembut puncak kepala wanitanya, hingga surai yang terikat rapi menjadi sedikit berantakan.
__ADS_1
“Aku sudah memeriksanya bersama Amora dan Esme. Sudah dipastikan semuanya aman. Dalam jangka waktu sebulan, hanya ada 2 kontrak yang akan ku selesaikan dengan membayar pinalty.” Jelas Aydin.
“Tapi Ay, nilai pinalty 2 kontrak itu tak akan kecil,” sela Risa.
Risa cukup terkejut dengan keputusan sepihak Aydin, hingga Ia lupa jika pembicaraan mereka kini menjadi tontonan.
“Berapapun nilainya tak akan sebanding dengan dirimu sayang.” Jawab Aydin dengan santainya, bahkan pria itu mengecup punggung tangan Risa tepat di atas cincin yang semalam Ia sematkan.
“Sebaiknya mengenai waktu kalian bicarakan berdua dulu, jangan sampai salah satu dari kalian ada yang tidak setuju,” saran Mama Indira mencoba menengahi suasana yang mulai memanas.
“Tidak setuju?” ulang Aydin.
“Kamu gak setuju Yang? Sebulan cukup kok untuk menyiapkan semuanya. Aku gak ingin menunggu lama, apapun yang akan menghambat akan kuhadapi.” Tegas Aydin membuat Risa hanya bisa menghela napasnya.
Risa kembali memalingkan wajahnya menatap matahari yang semakin terik namun tak menyurutkan semangat para pelancong yang untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan.
Entah mengapa Ia merasa Aydin sangat terburu-buru dan memaksa kali ini.
Sementara hal lain kini mengganggu pemikiran Aydin.
Setiap komentar Eijaz pada setiap foto yang Ia unggah sangat mengganggu ketenangannya.
Bukannya tak percaya diri jika Risa juga mencintainya, Aydin hanya ingin menghindari kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Aydin tahu jika sahabatnya Eijaz sangat mencintai Risa sejak dulu hingga sekarang. Yang Aydin tidak tahu dan menjadi kekhawatirannya adalah perasan Risa pada Eijaz.
“Jikapun perasaan itu dulu pernah ada untuknya, tak akan ku biarkan perasaan itu kembali mengisi hatimu sayang. Aku akan berusaha menjadikanmu milikku secepatnya, mengisi hatimu hanya dengan cinta untukku, untuk Dafha, dan untuk anak-anak kita nanti.” Batin Aydin.
“Aku egois? Ya, aku memang egois. Sejak pertama hatiku tertarik padanya, aku ingin memilikinya. Tak peduli siapa, sekalipun sahabatku. Tidak akan ada kata mengalah atau mundur bagiku untuk memilikinya.” Lanjutnya meneguhkan hati.
♡♡♡♡♡♡
Kehebohan kembali terjadi di halaman sosial media milik Aydin.
Setelah mengunggah foto tangannya bersama Risa yang tersemat cincin pertunangan keduanya, kini unggahan tersebut diserbu oleh para netizen yang menamakan diri mereka dalam kelompok Barisan para jomblo sukses untuk duda keren sarang duwit (BPJS untuk Duren Sawit).
Tawa Aydin yang tengah membaca komentar-komentar pada foto unggahannya terhenti ketika satu komentar cukup menganggunya.
“See you tomorrow. Kau berutang cerita banyak hal padaku.”
Begitulah isi komentar yang pengirimnya sangat dikenal oleh Aydin.
“Eijaz, apa ini sudah saatnya kamu tau semuanya?” gumamnya lirih.
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
"Kebenaran menyakitkan; Keraguan meruntuhkan; Kebohongan menghancurkan."
__ADS_1