Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 136. Jerit kesedihan


__ADS_3

Sangat sulit melupakan betapa aku menginginkan dirimu.


Sangat sulit menyesali betapa aku memuji dirimu.


Sangat sulit menerima ketika aku harus kehilangan dirimu.


Bahkan dengan semua kesulitan dan kesakitanku,


Melepaskan cinta ini adalah hal yang menyakitkan bagiku.


Aku benci saat-saat aku berusaha pergi untuk melupakanmu, namun bayangmu terus merangkak mengikutiku.


Aku benci saat-saat aku berusaha tidur untuk melupakanmu, namun bayangmu memaksa ikut kedalam mimpiku.


Aku sudah mencoba membakar semua rasa tentangmu dengan nyala api paling terang, namun yang ku dapatkan hanya luka yang sangat dalam bahkan bekasnya kembali mengingatkanku pada apa yang telah ku bakar.


Aku sudah mencoba berenang melawan arus, berharap ku lelah dan ombak akan membawaku untuk melupakanmu, namun semakin keras aku melawan, rasa lelahku malah membawa kembali ingatanku tentangmu.


Dengarkan aku, inilah jerit kesedihanku.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


“Kenapa Bunda menyembunyikan hal sepenting ini dariku?” tanya Eijaz.


Meski pria itu tidak membentak, tapi bunyi gemeretak giginya sudah menjelaskan bagaimana Ia berusaha menahan amarahnya.


“Dan kau Romi,” Eijaz berbalik menatap tajam pada asistennya.


“Kau adalah satu-satunya orang yang paling cepat mendapat kepercayaanku, tapi kau juga ikut menutupi semuanya.”


Kecewa, marah, kesal, itulah yang dirasakan Eijaz kini.


Bagaimana bisa Ia berbaring dengan nyaman di ruang VVIP sebuah rumah sakit yang sudah bagaikan kamar hotel.


Sementara wanita yang Ia cintai, wanita yang selama ini Ia jadikan alasan untuk bertahan hidup dan rela menjalani semua pengobatan, sudah berhari-hari harus terbaring lemah dan tak berdaya di ruang perawatan yang bahkan tak jauh dari tempatnya sekarang berada.


Dan, Eijaz tidak mengetahui semua hal itu.


Karena apa? Karena Bunda Nadine dan Romi berusaha keras menutupi semuanya.


⚘⚘⚘⚘⚘


Hari ini adalah hari ke-tiga sejak Aydin pergi tanpa kabar setelah pertengkarannya dengan Risa.


Tak ada yang mengetahui keberadaannya, meski Chandra sekalipun.


Setelah mendengar berita kecelakaan yang dialami Risa, Appa Kim dan Eomma Martha menjadi sangat cemas akan keadaan putri angkatnya. Terlebih saat tahu Risa harus menjalani operasi, kedua paruh baya itu langsung berangkat dari Belanda menuju Indonesia untuk memastikan keadaan Risa secara langsung. Dan hari ini mereka tiba.


Saat kedua orang tuanya tiba, Amora dan Esme segera menceritakan pertengkaran Risa dan Aydin, serta apa penyebabnya.


Keduanya tak akan berpihak pada siapapun. Mereka tak akan menyalahkan Aydin ataupun Risa.


Tapi karena mendengar kondisi Risa yang sungguh memprihatinkan, mereka akhirnya memutuskan jika memang hubungan Aydin dan Risa harus kandas maka mereka kembali menjalankan rencana awal, yaitu membawa serta Risa pindah ke Belanda.


Air mata luruh tak bisa terbendung saat Martha melihat Risa.


Risa yang biasanya ceria dan penuh semangat , harus terbaring lemah dengan tatapan kosong.


Wanita itu tengah melamun. Wajahnya menunjukkan bagaimana beratnya masalah yang kini tengah Ia hadapi.


Yah Risa akhir-akhir ini sangat suka melamun. Baginya Ia bisa melarikan diri dari situasi tak nyaman yang kini tengah Ia rasakan hanya dengan masuk lebih dalam pada lamunannya.


“Risa,” panggil Martha lembut sembari membelai lembut lengan putrinya.

__ADS_1


Risa tersadar dari kegiatan favoritnya.


“Eomma....” Pekiknya.


Risa terkejut dengan kehadiran Ibu angkatnya.


“Kapan Eomma tiba? Jangan katakan jika Eomma kemari hanya karena aku?”


Emmoa Martha membantu Risa yang hendak duduk.


“Eomma baru saja tiba pagi ini. Dan tebakanmu memang benar, Eomma kemari hanya karena mengkhawatirkan kamu.” Jawab Martha dengan lembut.


“Padahal aku baik-baik saja. Siapa yang mengabari Eomma?” Tanya Risa.


Eomma mencubit pelan puncak hidung mancung Risa, “Jika baik-baik saja kamu tak akan sampai harus di operasi seperti ini.” Jawabnya.


“Siapa yang memberitahu pada Eomma itu tak penting, karena Eomma akan marah jika kalian menyembunyikan hal penting seperti ini.” Sambungnya.


“Hal penting? Misalnya?”


Risa yakin jika Eomma dan Appa sudah mengetahui apa yang terjadi.


“Semua tentangmu penting bagi Eomma, hal sekecil apapun itu. Kamu putriku, meski bukan darah dagingku tapi karena Eomma sangat menyayangimu, jadi apa yang kamu rasakan, Eomma juga akan merasakan.” Ungkap Eomma Martha terdengar tulus.


Pertahanan Risa runtuh mendengar ungkapan Eomma Martha.


Kini Ia menangis, menangis sejadi-jadinya.


Menumpahkan segala perasaan yang menyesakkan dadanya.


Sejak Aydin menghilang, Risa bertekad untuk tidak menangis. Ia berusaha menahan air mata yang ingin melesak keluar.


Ia tak ingin bersedih, Ia percaya jika masalah ini akan berlalu secepatnya, sama seperti masalah yang sudah berhasil keduanya lalui, dan Aydin akan segera kembali papadanya.


Nyatanya semua itu hanya mudah untuk diucapkan.


Semakin Risa berusaha untuk berpura-pura bahagia, maka rasa sakit di hatinya semakin besar.


Risa tak yakin dia akan bertahan berapa lama lagi. Hubungan abu-abu ini membuatnya sungguh tak nyaman, hingga Ia memutuskan untuk menghindarinya dengan cara melamun.


Dan sejauh ini, cara itu masih sukses untuk melepaskan bebannya, melarikan diri dari realitas membuatnya tersiksa.


Bagi Risa, rasanya sungguh menenangkan saat Ia bisa tenggelam dalam lautan pikirannya sendiri. Ia bisa bebas melakukan apapun, Ia bebas berteriak sekeras mungkin, bebas tertawa terbahak-bahak, bahkan Ia bebas memilih siapa saja yang Ia inginkan ada bersamanya lautan pikirannya yang semu.


Namun saat lamunannya usai, kesadaran sudah siap menghantamnya. Menyadarkannya jika semua kesenangannya hanyalah ilusi, dan saat itulah Ia akhirnya harus mulai menyapa dan masuk ke dalam jerat kekosongan.


Eomma Martha yakin, jika kali ini masalah yang didhadapi Risa sangat berat. Tangisan yang Ia dengar bisa menyampaikannya dengan sangat jelas.


Martha memilih merengkuh tubuh Risa dalam dekapannya. Dekapan menenangkan seorang Ibu.


“Menangislah Nak, seperti itu lebih baik. Jangan kamu pendam kesedihanmu. Berpura-pura seakan kamu baik-baik saja, itu sama halnya kamu kembali membohongi dirimu sendiri.” Ucap Eomma Martha.


“Eomma... Apa yang ku lakukan sudah mengecewakanmu? Menurutmu apa yang aku lakukan salah?” Tanya Risa.


Eomma Martha menggeleng, meski tak menatapnay Ia bisa merasakan itu.


“Kamu tidak pernah mengecewakan Eomma. Dan Eomma bangga padamu Nak, amanat seseorang yang telah tiada sebaiknya dilaksanakan. Hanya saja, seharusnya tidak dengan menyertakan kebohongan di dalamnya."


“Tapi....” Risa kembali bungkam, tak tahu harus melanjutkan.


“Jawab pertanyaan Eomma dengan jujur, terlepas dari semua fakta mengenai amanat Kirani, bagaimana perasaanmu pada Aydin?” tanya Eomma.


“Eomma sudah tahu bagaimana perasaanku padanya. Aku tak mungkin sesakit ini jika aku tidak mencintainya. Rasanya aku tak sanggup hidup jika tanpa Aydin dan Dafha. Mereka sudah menjadi bagian hidupku, Eomma.” Keluh Risa.

__ADS_1


Kini Ia cukup tenang setelah mengungkap semuanya.


“Apa kamu yakin jika Aydin juga mencintaimu? Apa kamu yakin jika Aydin juga menginginkanmu?”


Risa mengangguk.


“Lalu apa yang perlu kamu khawatirkan?” Balas Eomma.


“Berikanlah kesempatan untuk Aydin menikmati waktunya untuk berpikir. Cinta akan selalu menuntunnya kembali pada rumahnya. Jadi sekarang saatnya kamu berhenti menyiksa dirimu.” Ujarnya menasihati Risa.


⚘⚘⚘⚘⚘


Tanpa keduanya sadari, tak jauh dari mereka kini Eijaz berdiri dan mendengar semuanya.


Niatnya hanyalah menjenguk wanita yang masih menjadi pemilik cinta di hatinya, namun yang terjadi Ia malah mendengar suatu fakta baru.


Sebenarnya Ia masih ragu, namun yang Ia duga jika rahasia Brisa soal amanat Kirani sudah diketahui oleh Aydin.


“Lalu kemana pria itu sekarang? apa Ia menyerah dan meninggalkan Brisa hanya karena alasan itu?”gumamnya.


Sebelum kehadirannya diketahui, sebaiknya Ia bergegas pergi sebelum wanita paruh baya yang di panggil Risa dengan Eomma, mendapati dirinya yang sedang menguping.


Kembalinya Eijaz di ruang perawatannya mendapat tatapan penuh tanya dari Sang Ibu.


“Bagaimana keadaan Risa?” tanya Bunda Nadine.


Eijaz hanya mengangkat bahunya tanda Ia tak tahu.


“Romi, ikut aku.” Ucap Eijaz.


Romi mengikuti langkah Eijaz sebelum sang bos kembali murka.


“Aku ingin kamu menemukan Aydin.” Titahnya, saat keduanya sudah berada di luar ruangan.


“Lakukan dengan cepat. Aku tak sanggup melihat Risa begitu tersiksa karena Aydin pergi seperti ini.” Ucap Eijaz.


“Baik Pak , akan ku usahakan.” Balas Romi.


Romi bergegas pergi meninggalkan rumah sakit untuk melaksanakan titah sang bos , meninggalkan Eijaz yang masih harus melakukan proses Hemodialisis atau cuci darah sebelum diperbolehkan pulang oleh Dokter Shahnaz.


“Romi,” seru Eijaz sebelum asistennya menjauh.


“Saat kemari lagi, tolong bawakan aku coklat yang banyak. Aku membutuhkannya segera untuk menghibur seseorang.” Teriaknya.


⚘⚘⚘⚘⚘


Sementara dari balik pintu Bunda Nadine sengaja menguping pembicaraan putranya bersama asistennya.


“Jadi hubungan Risa dan Aydin sedang dalam masalah?” batin Bunda Nadine.


“Jika mereka berpisah, apakah ada kesempatan bagi putranya untuk bisa merasakan kebahagiaan bersama wanita yang Ia cintai meski hanya sebentar?”


“Meski mungkin akan menyakiti hati orang lain, tapi bukankah semua Ibu rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya?"


Setelah yakin dengan pilihannya, Bunda Nadine segera menghubungi seseorang.


“Aku mau kamu menemukan seseorang,” Ucap Bunda Nadine setelah pria yang Ia hubungi menjawab panggilan telepon darinya.


⚘⚘⚘⚘⚘ To be continue ⚘⚘⚘⚘⚘


Mungkin bukan sosokku yang kamu nanti.


Namun aku akan berusaha mewarnai hidupmu yang kelabu saat kamu sedang menanti.

__ADS_1


__ADS_2