Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 50 . Monster


__ADS_3

" Brisa ... Brisa Elzavira , aku tidak pernah melihatnya langsung . Karena aku diangkat anak oleh kedua orang tuaku saat mereka pindah ke Bandung. " Ujar Echa .


" Lalu bagaimana kamu mencarinya jika tidak pernah bertemu dengannya ? " tanya Aydin.


" Ayahku punya foto gadis itu sewaktu masih kecil .  Ada beberapa wanita yang pernah ku duga adalah dirinya , tapi semuanya bukan dia .  " Ucap  Echa , Ia bahkan menghela napasnya seolah 10 tahun mencari wanita itu sangat melelahkan namun tak ada hasil apapun .


" Apa tidak ada petunjuk sama sekali selama 10 tahun ini ?  Itu bukan waktu yang singkat , " ujar Aydin .


" Aku sempat menemukan pengasuhnya , dia yang beritahu jika Nonanya pindah ke Jakarta .  "  Ucap Echa .


" Dia punya tanda lahir di belakang telinga kirinya . Hanya mamaku yang tau pasti posisinya di bagian mana dan bagaimana bentuknya . Tidak ada seorangpun yang tau karena apa yang dititipkan pada kami untuknya bukanlah hal yang main-main , " sambungnya .


Aydin tertawa , " lalu kenapa kau beritahukan padaku hal sepenting itu ? "


" Entahlah , aku merasa bisa mempercayaimu  . Ku harap kamu juga bisa membantuku , kunci untuk membuktikan gadis itu atau bukan hanya Ibuku . Dan kau lihat kondisi Ibuku , itulah Ayahku kini sangat hawatir . Mereka tidak ingin pergi tanpa berhasil menyampaikan amanat tuannya ," tutur Echa .


" Harusnya kau tidak boleh terlalu percaya pada orang lain hanya melihat luarnya saja , " saran Aydin .


" Aku tak melihat dari luarmu . Aku lihat ke dalam  matamu saat memperingatkanku untuk berhenti menatap kekasihmu ," ucap Echa disertai tawanya .


Aydin berdecak , " ck .. jadi kau sadar  dan tidak mengindahkan peringatanku . "


" Hahahaha , pasti sulit memiliki kekasih seperti Risa  . "  Komentarnya .


" Kuharap seperti itu , tapi sepertinya dia yang kesulitan karenaku ," cicit Aydin .


Tapi Echa masih bisa mendengar apa yang Aydin ucapkan . Pasti sesuatu telah terjadi dan hanya alasan jika dia datang tanpa kabar , pikir Echa .


" Aku hanya memastikan apakah kekasihmu gadis yang ku cari atau bukan . " Echa jujur pada Aydin mengenai dugaannya .


Ada perubahan pada raut wajah Aydin , "apa mungkin kau tau sesuatu ? mungkin dia menyampaikan sesuatu padamu ? "  tanya Echa .


" Kau bisa percaya padaku seperti aku percaya padamu . Tak ada niat jahatku , hanya kewajiban seorang anak untuk melakukan perintah orang tuanya . " Sambungnya .


Sebenarnya Echa juga sudah lelah mencari .  Amanat ini sangat membebani kedua orang tua angkat yang sangat Ia sayangi . Sepuluh  tahun mereka hidup berpindah- pindah kota hanya jika ada infromasi mengenai keberadaan gadis itu , walau sekecil apapun .


" Apa kau benar- benar tak tertarik dengan Risa ? " tanya Aydin .


Echa mengernyitkan keningnya . Mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, " apa ada pria yang mungkin tidak tertarik pada kekasihmu ? "  tanyanya sambil menaik turunkan alisnya .


" Berdiri mematung saja ku yakin akan banyak pria bersedia mengantri untuknya , apalagi pribadinya sangat  humble . Kau sungguh beruntung . "Jelas Echa .


" Apa kau akan termasuk diantara pria itu ? " cecarnya,  Aydin belum mendapat jawaban yang Ia inginkan .


" Mungkin nanti , tapi tidak sekarang .  Setelah menemukan wanita itu , atau mungkin saat kau melepasnya ? "


Aydin tak menjawab , Ia menyulut api pada rokok yang sebelumnya Ia tolak .


" Apa kau berniat untuk melepasnya ? " Echa rasanya tak percaya ternyata pria bodoh itu memang benar ada .


Seringaian Aydin sungguh membuatnya takjub .


" Jika kau benar melakukannya, aku sungguh menghormatimu sebagai pria bodoh  . "


Tawa Echa menggelegar , memecah keheningan kala cahaya langit tampaknya mulai memudar .


" Sebaiknya aku pamit  , dua wanita itu sepertinya tidak akan datang dalam waktu dekat . " Ucap Aydin .


Echa mengantar Aydin hingga ke pintu . Dua orang pria itu sedang saling berterimakasih dan berjabat tangan . Sepertinya mereka bisa menjadi teman


akrab .


Namun ocehan wanita yang sepertinya sedang mabuk menarik perhatiannya .  Dua pria itu menanti wanita seperti apa yang mabuk bahkan saat langit masih berdandan untuk menampilkan keindahan langit senja .


" RISA ! ? "


Pekik keduanya bersamaan .


Esme menegadahkan kepalanya , saat mendengar pekikan dua orang pria .

__ADS_1


" Dari pada menatap kami , mending salah satu dari kalian membantuku , "  pintanya .


Aydin dan Echa segera menghampiri Risa dan Esme .


" Biar aku saja yang menggendongnya . " Putus Aydin .


" Apa kau yakin bisa sendiri , aku bisa membantu mengangkatnya di bagian kaki ," ledeknya .


Aydin berdecih ," cihh... jauhkan tanganmu . "


Setelah Risa berada dalam gendongan Aydin dan masuk ke dalam apartemen   , Aydin langsung membawanya ke kamar disusul Esme dan Exha di belakangnya .


Gerak gerik Aydin yang tak canggung   membuat Echa berpikir jika pria itu pasti sudah sering kemari .



Aydin membaringkan Risa diranjang . Dengan perlahan Ia lepas tali sepatu yang melilit di kaki hingga diatas pergelangan kaki  .



Lalu muncullah  Esme dan Echa , "apa kau perlu bantuan mengganti bajunya ? Tanya Esme .



" Terimakasih , tapi nanti saja . " Jawabnya .



" Aydin apa tak masalah meninggalkan Risa bersamamu? Aku ingin mengajak Esme  menemaniku makan  , pinta Echa ."



" Oke , pergilah."



Pemandangan indahnya langit senja dari jendela kamar Risa  bisa membuat siapa saja terpukau . Tapi tidak dengan Aydin . Bahkan hingga keindahan itu baru saja sirna di gantikan dengan pekatnya gelap malam .


Masih berbaring Ia merenggangkan , memijat pelan keningnya sendiri  .


" Achhhh , bodohnya aku . "Rutuknya pada dirinya sendiri .


" Baguslah kalau kau sadar , " timpal Aydin yang duduk di sofa .


Risa mengedarkan pandangannya hingga terhenti di sofa tempat Aydin duduk dengan gaya angkuhnya .


Risa mencoba bersikap biasa saja ,  menuju kamar mandir tanpa peduli dengan kehadiran Aydin .


Setelah selesai menyegarkan  diri , Risa melihat Aydin masih duduk di tempatnya yang sama .


" Ada apa kemari ? " tanya Risa masih berdiri tak jauh dari Aydin.


" Harusnya aku yang bertanya padamu , kenapa kamu berbohong pada Mama jika aku mengizinkanmu pergi . " Sarkas Aydin .


" Apakah kau akan menahanku jika ku lakukan?" Tanya Risa.


Risa hendak berbalik , ingin keluar kamar menjauhi Aydin. Tapi pria itu menahannya.


Dan juga , " kenapa memakai  pakaian yang tidak ku suka ? "


" Karena aku sedang tidak bersamamu . " jawabnya tak kalah tegas .


" Untuk apa ? Agar pria pria di sana memperhatikanmu? " Ucapan Aydin masih dianggap sarkas oleh Risa karena Ia tau pria ini sedang cemburu .


Aydin sangat marah hingga Ia tak sadar telah melukai dan menghina  Risa ,


" Kamu suka kan kalau pria pria  itu menatap memuji  tubuhmu hah ?  Apa yang kamu harapkan ? Berkenalan dengan mereka  , jalan berdua , atau mungkin saling bercumbu  . "


PPLLLLAAAAAKKKKKKK

__ADS_1


Sebuah tamparan keras  Risa daratkan di pipi Aydin . Membuat pria itu makin emosi .  Segera Ia tarik Risa dalam rengkuhannya .


Mencium kasar benda kenyal yang akhir akhir ini Ia puja . Leher Risa juga tak luput dari sesapan bibir pria yang dikuasai amarah dan dibutakan rasa cemburu .


Namun ciuman Aydin berhenti ketika tanpa sengaja tatapannya melihat sebuah jejak kecoklatan kecil di belakang telinganya ,  samar , namun masih bisa terlihat dalam cahaya redup


Risa mendorong Aydin , " Jangan dekati aku . Risa berlari keluar kamar . 


Membuat Aydin yang hampir saja gelap mata tersadar .


" Risa... Risa ... tunggu ... " teriaknya .


Bersyukur Risa berlari ke ruang tengah dan bukan keluar  .


" Ris ... Risa ... maafkan aku . Aku tadi terbawa emosi , " belanya .


" Pergi ... tinggalkan aku  ,  " teriaknya histeris .


" Maafkan aku Yang... sungguh aku ... aku salah ... tak akan ku ulangi lagi . " bujuk Aydin.


Risa tak menjawab , terus saja Ia lemparkan barang yang bisa di raihnya agar Aydin mundur . Hingga langkahnya dihentikan dinding .


" Sayang , maafkan aku salah ," bujuk Aydin .


" Tidak . Menjauh dariku Aydin . Harusnya aku tidak pernah kembali ke sini . Harusnya aku tidak pernah bertemu denganmu . Pergi selagi aku memintamu baik-baik . Pergi dan jangan pernah menemuiku lagi . "


" Pergggiiiiiiiiiiiiiiiii , " teriaknya histeris bersamaan dengan Esme dan Echa yang masuk ke apartemen .


Mata Esme membulat saat melihat Risa berdiri bersandar pada dinding sambil berteriak histeris .


Esme berlari dan segera melayangkan pukulannya sekeras yang Ia bisa di perut Aydin .


" Aaaaaaarrrggghhhh , " teriak Risa ketakutan .


" Sialan ... ku percayakan adikku padamu dan kamu menyakitinya , " murka Esme .


" Pergi sebelum ku patahkan tulang- tulangmu . " Ancamnya .


Echa menarik mundur Aydin yang masih tetap bertahan di tempatnya . Dari pukulan Esme barusan , Echa rasa ancaman Esme barusan bisa saja benar -benar terjadi pada pria bodoh ini .


Esme segera menarik Risa kedalam dekapannya .  Adik yang begitu di jaga olehnya dan keluarganya walaupun mereka tak ada hubungan darah.


" Tenanglah  , aku sudah disini . "


Ucapnya lembut menenangkan Risa .


.


.


.


.


.


 "Tak masalah jika napasmu tersengal, tak akan ada yang menyalahkanmu. Kau bisa membuat kesalahan dari waktu ke waktu. Semua orang juga melakukannya". -Lee Hi, Breathe


.


.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


" masih ingatkan Esme itu dulunya berprofesi sbg apa ... si Aydin di jadiin roti maryam juga bisa sama si Esme .. (canda kk canda )


__ADS_2