
" Brisa ... Brisa Elzavira , aku tidak pernah melihatnya langsung . Karena aku diangkat anak oleh kedua orang tuaku saat mereka pindah ke Bandung. " Ujar Echa .
" Lalu bagaimana kamu mencarinya jika tidak pernah bertemu dengannya ? " tanya Aydin.
" Ayahku punya foto gadis itu sewaktu masih kecil . Ada beberapa wanita yang pernah ku duga adalah dirinya , tapi semuanya bukan dia . " Ucap Echa , Ia bahkan menghela napasnya seolah 10 tahun mencari wanita itu sangat melelahkan namun tak ada hasil apapun .
" Apa tidak ada petunjuk sama sekali selama 10 tahun ini ? Itu bukan waktu yang singkat , " ujar Aydin .
" Aku sempat menemukan pengasuhnya , dia yang beritahu jika Nonanya pindah ke Jakarta . " Ucap Echa .
" Dia punya tanda lahir di belakang telinga kirinya . Hanya mamaku yang tau pasti posisinya di bagian mana dan bagaimana bentuknya . Tidak ada seorangpun yang tau karena apa yang dititipkan pada kami untuknya bukanlah hal yang main-main , " sambungnya .
Aydin tertawa , " lalu kenapa kau beritahukan padaku hal sepenting itu ? "
" Entahlah , aku merasa bisa mempercayaimu . Ku harap kamu juga bisa membantuku , kunci untuk membuktikan gadis itu atau bukan hanya Ibuku . Dan kau lihat kondisi Ibuku , itulah Ayahku kini sangat hawatir . Mereka tidak ingin pergi tanpa berhasil menyampaikan amanat tuannya ," tutur Echa .
" Harusnya kau tidak boleh terlalu percaya pada orang lain hanya melihat luarnya saja , " saran Aydin .
" Aku tak melihat dari luarmu . Aku lihat ke dalam matamu saat memperingatkanku untuk berhenti menatap kekasihmu ," ucap Echa disertai tawanya .
Aydin berdecak , " ck .. jadi kau sadar dan tidak mengindahkan peringatanku . "
" Hahahaha , pasti sulit memiliki kekasih seperti Risa . " Komentarnya .
" Kuharap seperti itu , tapi sepertinya dia yang kesulitan karenaku ," cicit Aydin .
Tapi Echa masih bisa mendengar apa yang Aydin ucapkan . Pasti sesuatu telah terjadi dan hanya alasan jika dia datang tanpa kabar , pikir Echa .
" Aku hanya memastikan apakah kekasihmu gadis yang ku cari atau bukan . " Echa jujur pada Aydin mengenai dugaannya .
Ada perubahan pada raut wajah Aydin , "apa mungkin kau tau sesuatu ? mungkin dia menyampaikan sesuatu padamu ? " tanya Echa .
" Kau bisa percaya padaku seperti aku percaya padamu . Tak ada niat jahatku , hanya kewajiban seorang anak untuk melakukan perintah orang tuanya . " Sambungnya .
Sebenarnya Echa juga sudah lelah mencari . Amanat ini sangat membebani kedua orang tua angkat yang sangat Ia sayangi . Sepuluh tahun mereka hidup berpindah- pindah kota hanya jika ada infromasi mengenai keberadaan gadis itu , walau sekecil apapun .
" Apa kau benar- benar tak tertarik dengan Risa ? " tanya Aydin .
Echa mengernyitkan keningnya . Mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, " apa ada pria yang mungkin tidak tertarik pada kekasihmu ? " tanyanya sambil menaik turunkan alisnya .
" Berdiri mematung saja ku yakin akan banyak pria bersedia mengantri untuknya , apalagi pribadinya sangat humble . Kau sungguh beruntung . "Jelas Echa .
" Apa kau akan termasuk diantara pria itu ? " cecarnya, Aydin belum mendapat jawaban yang Ia inginkan .
" Mungkin nanti , tapi tidak sekarang . Setelah menemukan wanita itu , atau mungkin saat kau melepasnya ? "
Aydin tak menjawab , Ia menyulut api pada rokok yang sebelumnya Ia tolak .
" Apa kau berniat untuk melepasnya ? " Echa rasanya tak percaya ternyata pria bodoh itu memang benar ada .
Seringaian Aydin sungguh membuatnya takjub .
" Jika kau benar melakukannya, aku sungguh menghormatimu sebagai pria bodoh . "
Tawa Echa menggelegar , memecah keheningan kala cahaya langit tampaknya mulai memudar .
" Sebaiknya aku pamit , dua wanita itu sepertinya tidak akan datang dalam waktu dekat . " Ucap Aydin .
Echa mengantar Aydin hingga ke pintu . Dua orang pria itu sedang saling berterimakasih dan berjabat tangan . Sepertinya mereka bisa menjadi teman
akrab .
Namun ocehan wanita yang sepertinya sedang mabuk menarik perhatiannya . Dua pria itu menanti wanita seperti apa yang mabuk bahkan saat langit masih berdandan untuk menampilkan keindahan langit senja .
" RISA ! ? "
Pekik keduanya bersamaan .
Esme menegadahkan kepalanya , saat mendengar pekikan dua orang pria .
__ADS_1
" Dari pada menatap kami , mending salah satu dari kalian membantuku , " pintanya .
Aydin dan Echa segera menghampiri Risa dan Esme .
" Biar aku saja yang menggendongnya . " Putus Aydin .
" Apa kau yakin bisa sendiri , aku bisa membantu mengangkatnya di bagian kaki ," ledeknya .
Aydin berdecih ," cihh... jauhkan tanganmu . "
Setelah Risa berada dalam gendongan Aydin dan masuk ke dalam apartemen , Aydin langsung membawanya ke kamar disusul Esme dan Exha di belakangnya .
Gerak gerik Aydin yang tak canggung membuat Echa berpikir jika pria itu pasti sudah sering kemari .
Aydin membaringkan Risa diranjang . Dengan perlahan Ia lepas tali sepatu yang melilit di kaki hingga diatas pergelangan kaki .
Lalu muncullah Esme dan Echa , "apa kau perlu bantuan mengganti bajunya ? Tanya Esme .
" Terimakasih , tapi nanti saja . " Jawabnya .
" Aydin apa tak masalah meninggalkan Risa bersamamu? Aku ingin mengajak Esme menemaniku makan , pinta Echa ."
" Oke , pergilah."
Pemandangan indahnya langit senja dari jendela kamar Risa bisa membuat siapa saja terpukau . Tapi tidak dengan Aydin . Bahkan hingga keindahan itu baru saja sirna di gantikan dengan pekatnya gelap malam .
Masih berbaring Ia merenggangkan , memijat pelan keningnya sendiri .
" Achhhh , bodohnya aku . "Rutuknya pada dirinya sendiri .
" Baguslah kalau kau sadar , " timpal Aydin yang duduk di sofa .
Risa mengedarkan pandangannya hingga terhenti di sofa tempat Aydin duduk dengan gaya angkuhnya .
Risa mencoba bersikap biasa saja , menuju kamar mandir tanpa peduli dengan kehadiran Aydin .
Setelah selesai menyegarkan diri , Risa melihat Aydin masih duduk di tempatnya yang sama .
" Ada apa kemari ? " tanya Risa masih berdiri tak jauh dari Aydin.
" Harusnya aku yang bertanya padamu , kenapa kamu berbohong pada Mama jika aku mengizinkanmu pergi . " Sarkas Aydin .
" Apakah kau akan menahanku jika ku lakukan?" Tanya Risa.
Risa hendak berbalik , ingin keluar kamar menjauhi Aydin. Tapi pria itu menahannya.
Dan juga , " kenapa memakai pakaian yang tidak ku suka ? "
" Karena aku sedang tidak bersamamu . " jawabnya tak kalah tegas .
" Untuk apa ? Agar pria pria di sana memperhatikanmu? " Ucapan Aydin masih dianggap sarkas oleh Risa karena Ia tau pria ini sedang cemburu .
Aydin sangat marah hingga Ia tak sadar telah melukai dan menghina Risa ,
" Kamu suka kan kalau pria pria itu menatap memuji tubuhmu hah ? Apa yang kamu harapkan ? Berkenalan dengan mereka , jalan berdua , atau mungkin saling bercumbu . "
PPLLLLAAAAAKKKKKKK
__ADS_1
Sebuah tamparan keras Risa daratkan di pipi Aydin . Membuat pria itu makin emosi . Segera Ia tarik Risa dalam rengkuhannya .
Mencium kasar benda kenyal yang akhir akhir ini Ia puja . Leher Risa juga tak luput dari sesapan bibir pria yang dikuasai amarah dan dibutakan rasa cemburu .
Namun ciuman Aydin berhenti ketika tanpa sengaja tatapannya melihat sebuah jejak kecoklatan kecil di belakang telinganya , samar , namun masih bisa terlihat dalam cahaya redup
Risa mendorong Aydin , " Jangan dekati aku . Risa berlari keluar kamar .
Membuat Aydin yang hampir saja gelap mata tersadar .
" Risa... Risa ... tunggu ... " teriaknya .
Bersyukur Risa berlari ke ruang tengah dan bukan keluar .
" Ris ... Risa ... maafkan aku . Aku tadi terbawa emosi , " belanya .
" Pergi ... tinggalkan aku , " teriaknya histeris .
" Maafkan aku Yang... sungguh aku ... aku salah ... tak akan ku ulangi lagi . " bujuk Aydin.
Risa tak menjawab , terus saja Ia lemparkan barang yang bisa di raihnya agar Aydin mundur . Hingga langkahnya dihentikan dinding .
" Sayang , maafkan aku salah ," bujuk Aydin .
" Tidak . Menjauh dariku Aydin . Harusnya aku tidak pernah kembali ke sini . Harusnya aku tidak pernah bertemu denganmu . Pergi selagi aku memintamu baik-baik . Pergi dan jangan pernah menemuiku lagi . "
" Pergggiiiiiiiiiiiiiiiii , " teriaknya histeris bersamaan dengan Esme dan Echa yang masuk ke apartemen .
Mata Esme membulat saat melihat Risa berdiri bersandar pada dinding sambil berteriak histeris .
Esme berlari dan segera melayangkan pukulannya sekeras yang Ia bisa di perut Aydin .
" Aaaaaaarrrggghhhh , " teriak Risa ketakutan .
" Sialan ... ku percayakan adikku padamu dan kamu menyakitinya , " murka Esme .
" Pergi sebelum ku patahkan tulang- tulangmu . " Ancamnya .
Echa menarik mundur Aydin yang masih tetap bertahan di tempatnya . Dari pukulan Esme barusan , Echa rasa ancaman Esme barusan bisa saja benar -benar terjadi pada pria bodoh ini .
Esme segera menarik Risa kedalam dekapannya . Adik yang begitu di jaga olehnya dan keluarganya walaupun mereka tak ada hubungan darah.
" Tenanglah , aku sudah disini . "
Ucapnya lembut menenangkan Risa .
.
.
.
.
.
"Tak masalah jika napasmu tersengal, tak akan ada yang menyalahkanmu. Kau bisa membuat kesalahan dari waktu ke waktu. Semua orang juga melakukannya". -Lee Hi, Breathe
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1
" masih ingatkan Esme itu dulunya berprofesi sbg apa ... si Aydin di jadiin roti maryam juga bisa sama si Esme .. (canda kk canda )