Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 146. Sehari bersamanya - Bye Aydin


__ADS_3

Kehilangan dirimu adalah hal yang tak pernah ingin kubayangkan. Tapi jika bersama namun tak ada lagi senyum dan hanya diliputi kesedihan, maka aku tak akan sanggup.


Meski nantinya kesedihan akan tetap mrnghampiri saat berpisah, percaya saja jika terkadang kesedihan memerlukan kesendirian, walau kesendirian lebih sering mengundang kesedihan yang tak tertahankan.


Jika kebahagiaan adalah jalan untuk kita berdua, maka jangan keluhkan kesedihan yang akan menjadi ujian di tengah perjalanannya.


Meski perpisahan ini akan menyedihkan, ingatlah untuk tetap tersenyum. Tersenyumlah, berterimakasih karena dengannya kamu pernah bahagia merasakan cinta, meski hanya sebentar.


Bukan tak ingin berjuang mempertahankan, tapi aku tak ingin memaksakan. Aku hanya tak ingin nantinya kamu berbahagia denganku, orang yang salah. Tak apa, jika aku ternyata hanyalah orang yang tepat untuk bersamamu dalam kesedihan.


Aku rela, sebab aku mencintaimu.


Sebab hari ini aku telah membuktikan betapa besarnya cintaku padamu. Aku telah buktikan betapa besarnya makna dirimu dalam kehidupanku. Telah ku buktikan dengan aku yang bersusah payah untuk membencimu.


( Curahan hati Brisa Elzavira )


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Sungguh Aydin tak tahu apa yang telah direncanakan wanitanya.


Yah tentu saja wanitanya,


“Kami berdua belum sanggup mengucapkan kata perpisahan,” batin Aydin.


“Yang, inikan pasar? Yakin kamu mau masuk ke dalam?” tanya Aydin melihat banyaknya orang yang berlalu lalang dari dalam mobil.


Risa mengangguk yakin.


Sebelum turun netra Aydin menatap lekat gerak-gerik Risa. Wanita itu tak lupa mengenakan sweter untuk melindungi kulit putih mulusnya dari terpaaan sinar mentari.


Lalu Ia melihat Risa menyiapkan beberapa uang pecahan Rp.10.000 yang entah akan digunakannya untuk apa.


“Ayo, kita harus bergegas jika tak ingin ketinggalan pesawat,” ujarnya.


"Ketinggalan pesawat? bukankah beberapa jam yang lalu kami baru saja tiba di sini?" batinnya.


Aydin semakin bingung apa yang ingin Risa lakukan sebenarnya.


⚘⚘⚘


Dengan menggenggam jemari Aydin, Risa memimpin jalan melewati kerumunan orang yang berlalu lalang.


Sedang Aydin, semenjak Risa menautkan jemari lentiknya di antara jemarinya, sejak itu pula fokusnya tak lagi pada padatnya aktivitas di pasar tradisional itu.


Aydin hanya ingin, otaknya mengingat dengan jelas bagaimana hatinya terasa begitu tenang ketika jemari mereka saling bertaut.


“Baba Cang, kamukah itu?” Suara Risa membawaku kembali dari khayalanku.

__ADS_1


“Oe siapa?” tanya seorang pria tua dengan menurunkan kacamatanya, hingga menampakkan mata sipit.


“Aku Brisa, Baba.... Putri dari Bu Laksmi,” ucap Risa memperkenalkan dirinya.


“Astaga.... Sudah sebesar ini Oe sekarang yah,” serunya, “Baba ikut prihatin, musibah yang menimpa keluarga oe yah....” Lanjutnya.


Risa tersenyum getir, kembali senyum yang dipaksakan.


“Sekarang, apa ada yang bisa Baba bantu?” tanyanya membuyarkan keheningan yang sempat terjadi.


“Iya Baba, aku ingin Baba menyiapkan barang-barang kebutuhan rumah tangga,” pintanya, “Makanan, beras, juga kebutuhan pokok lainnya,” sambungnya.


“Yang, semua barang ini untuk siapa?” tanya Aydin.


“Untuk keluarga,” balas Risa singkat.


“Brisa... Terimakasih yah, untung Oe masih ingat di mana letak toko Baba.... Baba akhir-akhir ini sepi pembeli,” ucap Baba Cang.


“Tentu saja Baba.... Tak pernah kulupa semua bantuanmu saat aku dan bunda kesulitan dulu Baba,” jawabnya sebelum pergi setelah membayar dengan segepok uang berwarna merah.


Tak lupa Risa memberikan uang yang dia siapkan tadi pada beberapa anak kecil di pasar yang berseliweran membantunya mengangkat barang-barang dari toko Baba Cang.


⚘⚘⚘


Aydin yang melajukan mobil mengikuti arahan Risa, sungguh dibuat terpaku mengagumi sosok wanita berhati malaikat seperti wanitanya.


Seorang pria yang Aydin duga sebagai penjaga keamanan di tempat itu segera membantu dirinya menurunkan satu per satu kardus dari bagasi mobil.


Risa kembali mengejutkannya dengan menautkan jari mereka sekali lagi. Mengajak Aydin memasuki sebuah ruangan.


“Panti Asuhan Bina Kasih,” batin Aydin membaca tulisan yang ada dinding.


Risa mengenalkan dirinya sendiri lalu mengenalkan Aydin pada pengurus panti asuhan.


Berbincang sebentar, lalu akhirnya Ia izin undur diri.


“Aku gak nyangka kamu kepikiran untuk sempatkan ke panti asuhan,” puji Aydin.


Ria mengernyitkan keningnya, “Kamu masih belum ingat panti asuhan apa itu?”


Aydin menggeleng.


“Ohana Ay,” balasnya singkat.


“Astaga... jadi panti asuhan tadi adalah panti asuhan yang sama dengan yang dulu sering kamu amati dari dalam kafe,” ucap Aydin mengingat masa-masa pertama kali Ia bertemu Risa, si gadis ohana.


Keduanya larut dalam kenangan masing-masing. Risa dengan segala kenangan indah dan juga kenangan memilukannya di Kota tempat Ia di lahirkan.

__ADS_1


Sementara Aydin kini sedang merekam detik demi detik yang Ia lalui bersama wanitanya.


⚘⚘⚘


Keduanya kini sudah kembali duduk dengan nyaman pada kelas bisnis sebuah pesawat.


Pesawat yang akan menerbangkan mereka kembali dari Palembang menuju Jakarta.


Bayangan Aydin mengenai keduanya yang mungkin bisa melewati malam ini bersama, akhirnya harus sirna.


Risa kembali pada posisi nyamannya, bersandar pada dada bidang Aydin, mendengar dengan jelas suara degupan jantung Aydin yang sesekali memburu.


Samar-samar terdengar suata pilot “cleared for takeoff”.


“Risa,” seru Aydin, bersamaan dengan pesawat yang mulai bergerak mengambil ancang-ancang untuk mulai terbang.


Risa yang saat itu memang sedang bersandar pada dada bidangnya memudahkan Aydin untuk menjangkau bibir merah muda Risa.


Kedua bibir mereka yang saling merindukan bertemu. Jika biasanya saat pesawat sedang take off maka seseorang akan sedikit gugup, tapi tidak bagi kedua insan yang sedang bercumbu.


Gerakan bibir keduanya seolah berpacu dengan cepatnya gerakan roda pesawat yang berputar pada landasan pacu.


Belitan demi belitan lidah, membuat keduanya lupa jika kini penumpang lain atau crew cabin sangat mungkin untuk memergoki keduanya.


Tepat ketika pesawat telah dalam kondisi Airborne, yaitu ketika pesawat sudah dalam kondisi terbang, setelah berhasil tinggal landas dengan sempurna, ketika semua roda-rodanya terlepas dari permukaan landasan pacu,


bersamaan dengan saat itu, Risa merasakan ada tetesan air yang membasahi pipinya.


Segera Ia menarik dirinya menjauh, menghentikan aktivitas yang tak ingin Aydin hentikan.


Napas keduanya memburu seirama dengan degupan jantung yang kian cepat.


Tak serta merta menghentikan Risa yang teperangah melihat ada buliran air mata di pipi Aydin.


“Ay, kamu menangis?” tanyanya.


Tangannya terulur untuk mengusap netra Aydin yang masih terlihat berkaca-kaca.


Tak ada jawaban dari pria itu, ia hanya membawa Risa kembali bersandar di dadanya. Mendekapnya dengan erat dan posesif.


Berkali-kali Aydin akan mengecup puncak kepala Risa, dan jangan lupa jemarinya yang terus memainkan jemari Risa.


Selama 1 jam 10 menit pesawat mengudara, Sesekali Risa akan menengadahkan kepalanya, ingin memastikan jika pria itu baik-baik saja.


Dan saat itu pula bukan jawaban yang Ia dapatkan, melainkan sebuah kecupan singkat di bibirnya. Dan hal itu terus berulang-ulang terjadi.


“Ay, jika perpisahan ini sungguh menyakitimu seperti ini, mengapa kamu harus memintaku memilih jalan ini?” Batin Risa

__ADS_1


⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘


__ADS_2