
Kepada-Nya aku berdoa, memohon diberikan kebahagiaan.
Lalu kau hadir dalam hidupku, sebagai jawaban dari doaku.
♡♡♡♡♡♡♡
“Oh, jadi ini semua rencanamu Ay,” batin Risa.
Ia akhirnya paham maksud permainan yang dibuat prianya.
“Awas saja Ay, aku akan membalasmu.” tekad Risa.
“Jika memang harus melepasnya malam ini, aku tak akan keberatan. Malam ini ataupun nanti juga sama saja, prianya juga akan tetap sama.” Pikiran Risa sudah mulai dikuasai oleh bisikan-bisikan dari makhluk lucknut yang terkenal dengan nama Syah iton.
Tanpa mengeluh Risa mengenakan kaos tipis itu, keindahan ciptaan Tuhan terbayang dengan jelas di balik kain tipis berwarna putih yang menerawang.
Aydin menelan salivanya kasar. Tanpa sadar Ia menegakkan posisi duduknya.
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Kini Aydin menyesal telah membuat kamar ini terasa dingin mencekam. Karena sesuatu yang Ia tutupi di balik selimut tebal kini telah mulai bangkit. Getaran dan sinyal dari dalam diri Aydin yang membangunkannya.
Risa berjalan perlahan menuju pintu balkon dan menutupnya.
“Huuhhhh,” Aydin sedikit bisa bernapas lega.
“Si*l, aku terjebak permainanku sendiri.” Batinnya terus merutuki kecerobohannya.
Dalam hati Ia terus berusaha meyakinkan dirinya, jika hidangan spesial itu selalu disajikan di akhir.
Dirinya harus sabar menanti, sebentar lagi dan dia akan menikmatinya.
“Ris, tolong naikkan suhu pendingin ruangannya.” Pintanya.
Tidak mungkin Ia berdiri, dengan membawa sesuatu yang mengacung di bawah sana.
Risa mengangguk patuh, berjalan berlenggak lenggok, menampilkan keahliannya sebagai seorang model.
Aydin kembali menelan salivanya, saat dua bongkahan bulat bergerak naik turun seirama langkah kaki Risa.
Tiiiiiiiit......
Bunyi tanda pendingin ruangan telah dimatikan.
Aydin mengernyit, “Kenapa malah dimatikan?”
“Aku kedinginan Ay,” jawab Risa manja.
Ia mendekat, berdiri di tepi ranjang, sangat dekat dengan Aydin yang duduk di atas ranjang.
Aroma cherry blossom, sabun yang Risa pakai menguar dan memanjakan indra Aydin.
“Lihatlah pakaian yang kamu sisakan untukku.” Keluhnya.
Aydin bagai robot yang hanya mengikuti perintah. Ia mengamati penampilan Risa.
Dari ujung kakinya, kuku jari kakinya yang berwarna cokat susu, kaki jenjang yang putih dan mulus tanpa noda, bagian di atas lututnya meski tertutupi oleh kaos namun bayangan area segitiga itu sangat jelas memanjakan mata Aydin.
Risa menyeringai saat tatapan Aydin berhenti di sana.
Lalu Ia kembali menormalkan raut wajahnya saat netra Aydin kembali dengan kegiatan memindai tubuhnya.
Tatapan Aydin semakin naik ke atas.
Pahatan tubuh Risa yang sudah bersarang dalam ingatannya, sudah terbayang jelas di pelupuk matanya.
Hingga Ia tiba di dua benda mengagumkan kepunyaan calon istrinya.
Bagian itu semakin menantang dirinya, karena Risa dengan sengaja melepas handuk yang melilit surainya yang basah.
Surai yang masih basah akhirnya tergerai, membuat beberapa bagian kaos ikut basah, seperti di bagian punggung Risa.
Juga bagian depan kaosnya ikut basah, dan menjadi objek tatapan memuja dari calon suaminya.
__ADS_1
“Aydin sadar, kamu sendiri yang menyebutnya calon istri, calon.” Dalam batin Aydin, diam-diam telah terjadi peperangan antara dua makhluk, si Syah iton dan si Mala sikat yang tengah beradu argumen.
“Tolong padamkan lampunya, aku sudah lelah, ingin beristirahat.” Keluhnya sambil mulai membaringkan tubuhnya.
Namun suara serak dan beratnya membuat Risa tertawa dalam hatinya.
“Cihh... sudah membuatku pusing karena tiba-tiba merajuk, malah ingin menjahiliku. Terimalah pembalasanku Ay,” batin Risa bersorak gembira meraih kemenangan.
Meski sebenarnya Ia juga teramat, sangat, tersiksa menahan gejolak yang Ia timbulkan sendiri.
Bohong jika Risa tidak merasa hasrat itu memburunya, sebagai wanita dewasa yang paham mengenai hal yang iya iya.
Terlebih otaknya sudah ternodai oleh kelakuan kedua kakak kembarnya yang masih memakai gaya hidup bebasnya di luar negeri.
Namun pertarungan tetap harus diselesaikan hingga akhir, pikir Risa.
Langkah akhir sesuai dengan yang Ia rencanakan, dengan satu gerakan tangannya Ia meraih saklar lampu dan menekan tombol kenopnya.
Dan benar saja dugaan Risa, bukannya menolong Aydin, permintaannya justru menambah suasana romantis malam ini.
Peluh mulai terlihat di kening Risa, Ia biarkan saja tanpa niat menyekanya.
Sementara cahaya sangat minim, hanya bersumber dari 4 lampu sorot di setiap sudut atas kamar dan cahaya dari lampu tidur di atas nakas tepat di samping ranjang.
Risa sudah ingin mengakhiri permainannya. Namun sebagai penutup, Ia naik ke ranjang lalu dengan sengaja melintas di atas tubuh Aydin yang sedang berbaring.
“Sh*t” geram Aydin tertahan saat Risa dengan santainya melintas di atas dada bidangnya, menggunakan lututnya untuk melangkah.
Aroma harum semerbak dari bagian inti Risa yang tidak terlindungi apapun, menyeruak dan memabukkan indra penciuman Aydin, tepat ketika wanita itu dengan sengaja melewatinya.
Tanpa pikir panjang lagi, Aydin menghempas selimut yang sejak tadi menyembunyikan kegagahannya yang selalu menjadi kebanggaan.
Ia raih tubuh Risa dengan menarik pergelangan tangannya. Tanpa hambatan atau penolakan, kini wanita yang sudah berhasil menggodanya, sudah Aydin dudukkan di atas pangkuannya.
Bersamaan dengan Si Syah Iton yang tertawa terbahak-bahak karena memenangkan tantangan melawan Malah Sikat.
Risa terperanjat ketika menyadari sesuatu yang keras dan panjang seperti ingin menerobos bokser Aydin dengan tujuan hanya satu, yaitu memasuki bagian terdalam pada tubuhnya.
“Kamu sengaja menggodaku sayang?” tanya Aydin.
“Bukankah ini rencanamu? Aku hanya ikut permainanmu Ay, aku tak akan membiarkanmu bermain sendirian.” Jawabnya.
Pertemuan kedua bibir tak dapat terhindarkan.
Jangan berharap ada sentuhan yang lembut, semua gerakan mereka adalah gerakan menuntut yang bertujuan sama, yaitu mencapai puncak rasa yang menjadi dambaan setiap pasangan.
Tak ada lenguhan yang coba di tahan oleh pasangan ini. Ketika bibir keduanya saling membungkam, masing-masing tangan mereka bekerja untuk memberi rasa nikmat yang lain.
Membelai hingga meremas dua benda yang menghiasi dada Risa, membuat empunya melepas tautan bibir untuk melenguh karena nikmat.
“Kamu suka?” tanya Aydin provokatif.
Risa hanya menggigit bibir bawahnya sambil mengangguk.
Seringai dari bibir Aydin membuat Risa yakin jika sebentar lagi Ia akan dibuat kembali memekik.
Benar saja, Aydin sengaja memberikan banyak jejak di leher Risa sebagai hukuman karena wanita itu telah membuatnya cemburu dengan mengkhawatirkan pria lain.
Setiap jejak yang di buat Aydin membuat Risa kembali melenguh, ingin rasanya Ia tolak, namun rasa yang timbul mencegah Risa melakukannya.
“Tak apa, akan ada cara menutupinya.” Batin Risa.
Hingga serangan Aydin terus turun menggapai benda yang sedang Ia manjakan dengan tangannya, kini Ia ganti dengan menggunakan bibirnya.
Hal itu sontak membuat Risa bergerak tak beraturan. Gerakan itu rupanya membuktikan adanya penerapan gaya gesek dalam kehidupan sehari-hari, yang dulu pernah dipelajari Aydin saat masih sekolah.
Benar saja, gaya gesek itu berhasil menghantarkan panas ke tubuh Aydin. Rasanya Ia kini sudah terbakar gejolak rasa yang timbul.
Dengan sekali hentakan Aydin membalik posisi hingga Risa berada dalam kungkungannya.
Tanpa di komando Risa ikut melepas kaos, satu-satunya kain yang Ia kenakan, mengikuti Aydin yang juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Setiap kali hendak melakukannya Ia akan ragu, tapi kali ini entah mengapa otak Risa seakan tak bisa bekerja.
Tangannya terulur untuk meraih satu-satunya benda yang berani menunjuk dengan angkuh padanya.
Saat satu tangannya berhasil menggenggamnya, Aydin sampai menutup mata, dengan bibir yang terbuka.
Risa sadar jika satu tangan mungilnya tak akan mampu menjagkau seluruh benda pusaka milik Aydin, maka Risa menambahkan satu tangan lagi.
Kembali menerapkan konsep hukum fisika, mengenai besarnya gaya yang dihasikan juga dipengaruhi pada besarnya percepatan, maka Risa terus menambah tempo gerakan tangannya.
Semakin cepat, semakin besar pula erangan yang keluar dari bibir duda tampan pujaan hatinya.
Hingga Aydin merasa ada sesuatu yang hendak melesak keluar dari dalam dirinya.
Segera Ia tahan pergerakan tangan Risa. Menjauhkan miliknya yang paling berharga dari jangkauan tangan mungil wanitanya.
Kalaupun harus keluar, Aydin selalu berprinsip untuk membuat wanitanya mencapai hal itu lebih dulu barulah dia kemudian.
Tanpa meminta izin, seperti yang beberapa kali Ia Iakukan sebelumnya bersama Risa, kini kepala Aydin sudah berada dihadapan kawasan yang harusnya masih terlarang untuk Ia jamah.
Lidah Aydin menari-nari di sana, diatas permukaan basah yang entah kenapa terasa sangat nikmat.
Aroma wangi yang khas, Risa merawat miliknya dengan sangat baik. Membuat Aydin betah berlama-lama menarikan lidahnya di sana.
“Ay.....”
“Ahh...”
“Stop.....”
“Please......”
“Lebih dalam Ay....”
Racauan Risa menambah semangat Aydin. Racauannya semakin lama semakin aneh, seaneh rasa yang tengah bergejolak dalam diri Risa.
Aydin tak tahan untuk tidak membungkam bibir Risa, jangan sampai ada yang mendengarnya meracau seperti ini.
Pekerjaan lidahnya kini digantikan oleh jarinya.
Jari yang tersemat cincin pertunangan mereka di sana.
Hingga beberapa menit setelah itu, Risa akhirnya sampai pada puncaknya.
Mendaki ke puncak hanya dengan permainan jari Aydin, sudah terasa sungguh gila.
Peluh membanjiri wajah cantik Risa.
Meski dadanya masih bergemuruh, Aydin sudah tak sabar menuntut balasan.
Ia bangunkan Risa dari posisi berbaringnya yang nyaman.
Lalu Ia mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang.
Benda pusaka itu tetap dengan angkuh menunjuk ke wajah Risa.
Risa menatap Aydin, tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Jika biasa Risa melakukan dengan kedua tangan mungilnya, kali ini untuk pertama kalinya, Risa melihat Aydin menatap bibirnya dengan penuh damba dan harap.
Risa yang paham, dengan perlahan mulai menundukkan wajahnya, menyapa pada benda yang sejak tadi menunjuk ke arahnya.
Lalu terdengarlah kembali lantunan nada indah dari dalam kamar dengan pencahayaan minim itu.
Namun kali ini bukan bersumber dari Risa, melainkan dari suara Aydin yang menggema.
Jangan tanya mengapa Risa tak ikut membantu Aydin meramaikan keheningan malam itu. Karena sesungguhnya, bungkamnya Risa adalah penyebab utama Aydin mampu mengeluarkan melodi dari bibirnya.
"Malam ini, ku mohon pada sang waktu berjalanlah dengan santai, jangan terburu-buru, aku masih ingin menikmati indahnya malam bersamanya, cintaku. " Batin Aydin.
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
Meski tak mungkin untukku memberimu dunia ini, tapi ku mohon terimalah duniaku yang kupersembahkan hanya untukmu.
__ADS_1