
Terkadang mata bisa salah melihat, telinga bisa salah mendengar, mulut bisa mengucap, tapi hati tak bisa dibohongi dan membohongi.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Kemana dia?” Tanya Risa ambigu saat menyadari kini orang ketiga diantara Ia dan Aydin adalah Muti.
“Dia?”
“Iya, Kak Eijaz, sahabatmu.” Jelas Risa.
“Oh, dia kembali lebih dulu. Urusannya di sini sudah selesai.” Jelas Aydin menjawab pertanyaan Risa.
Risa berdeham.
“Aneh,” gumamnya lirih.
“Apanya yang aneh?” Tanya Aydin saat mendengar cuitan calon istrinya.
“Sahabatmu itu aneh, Jakarta ke Bandung bukan jarak yang dekat. Kenapa tadi dia memaksa ikut jika akhirnya pulang terburu-buru." Ujarnya.
"Harusnya waktunya bisa Ia manfaatkan dengan lebih baik. Istirahat, jauh lebih baik dibanding ikut kemari namun tak melakukan apapun yang menarik." Lanjutnya.
“Sepertinya kamu sangat perhatian pada sahabatku itu, sampai peduli apa yang baik untuk dia lakukan.” Sarkas Aydin.
Risa tercekat dengan sindiran Aydin barusan, “Apa itu sebuah sindiran, Ay?”
“Tergantung, kamu menanggapinya seperti apa.” Jawab Aydin terdengar dingin dan datar.
Setelah ucapannya, Aydin menjadi bungkam sepanjang perjalanan menuju villa yang berada di kawasan kebun teh.
Hingga akhirnya mobil sudah mulai memasuki halaman sebuah villa yang cukup luas.
Bangunan Villa yang nampak mewah dan megah, dari kejauhan saja sudah bisa memanjakan mata.
Mobil yang sudah berhenti sempurna, masih setia dengan diamnya, Aydin turun lebih dulu meninggalkan Risa dan Muti.
Seorang wanita paruh baya, yang kemudian memperkenalkan dirinya bernama Atun, Mbok Atun katanya.
“Mbok Atun, tolong tamu saya di antar ke kamar tamu yah.” Titahnya.
Pandangan Aydin bertemu dengan manik calon istrinya yang nampak kesal karena diabaikan.
“Untuk barangku, langsung bawa ke kamar utama saja yah Mbok,” lanjutnya.
Setelah itu Aydin melangkahkan kakinya menuju halaman belakang, tempat keluarganya yang lain sedang menyiapkan makan malam.
“Selamat malam Nona-nona.” Sapa Mbok Atun ramah.
“Malam Mbok, “ balas Risa dan Muti bersamaan.
Dari yang Ia dengar, jika tuannya akan datang bersama wanita yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya yang baru.
Tapi tuannya malah datang bersama dua orang wanita, Mbok Atun jadi bingung yang mana dari keduanya yang menjadi calon nyonya.
“Silahkan Non, yang lain sudah menunggu di halaman belakang.”
Risa dan Muti turut melangkahkan kakinya mengikuti jalan yang tadi dilewati Aydin.
Pekikan seorang bocah laki-laki menyambutnya dengan riang.
“MAMA.......”
Dafha segera berhambur ke dalam dekapan Risa. Wanita yang kelak akan menjadi Ibu sambungnya.
Wanita yang memiliki cinta untuknya, seperti cinta yang Ibu kandungnya pernah berikan.
“Mama Risa, aku kangen banget.” Ucapnya saat masih dalam dekapan Risa.
Karena Dafha yang tak kunjung melepas pelukannya, maka Risa akhirnya menggendong dan berjalan perlahan mendekat ke kumpulan keluarga Aydin.
Ada beberapa wajah baru yang Risa temui, ssmuanya sangat ramah dan menyambut Risa dengan baik untuk menjadi bagian dari keluarga besar mereka.
Sementara Aydin, pria yang sedang dalam mood yang kurang baik, lebih banyak diam.
__ADS_1
Risa menduga, Aydin merasa kesal sebab ucapannya mengenai Kak Eijaz.
“Ay, suapin.” Bisiknya manja, harapannya prianya akan luluh jika Ia bersikap manis.
Sementara Aydin hanya mengerutkan kedua alisnya, tak percaya Risa akan bersikap manja padanya di hadapan banyak orang.
Masih dengan kekesalan di hatinya, Aydin mengambil beberapa potongan daging panggang yang sudah matang dan meletakkan pada piring Risa yang masih menyisahkan beberapa lauk lainnya.
“Makanlah,” ucapnya singkat.
Risa mencebikkan bibirnya, wanita cantik ini baru menyadari jika pria yang akan dinikahinya, juga bisa bertingkah amat menjengkelkan saat sedang kesal.
“Suapin Ay,” bujuknya sekali lagi.
“Makanlah, aku ke kamar lebih dulu. Tubuhku sudah sangat gerah.” Ucapnya sedikit menaikkan volume suaranya, agar yang lainnya juga bisa mendengar.
Kemudian Aydin langsung saja berlalu, tanpa menunggu respon dari yang lainnya.
“Lagi ngambek yah si Abang?” tanya Ayana pada Risa.
Dijawab dengan anggukan kepala oleh Risa.
Ayana sempat terkekeh, melihat wajah model idolanya yang mencebik, saat abangnya bersikap acuh.
“Ternyata meski bucin, abangnya ngeri juga jika sedang ngambek.” Batin Ayana.
“Jika ingin menyusul, Mbok Atun bisa mengantarmu ke kamar utama.” Ucap Mama Indira yang seolah paham jika kedua calon pengantin ini sedang dalam suasana hati yang tak baik.
Risa pamit untuk beristirahat lebih dulu pada yang lainnya.
Kakinya mengikuti langkah Si Mbok yang mengantarnya ke depan sebuah pintu yang menjulang tinggi dan lebar.
“Silahkan masuk lebih dulu Nyonya, jika butuh bantuan silahkan panggil saya.” Ucapnya ramah.
Dengan ragu Risa masuk kedalam kamar, sepi.
Yah, kamar yang terasa begitu luas, dengan lantai beralaskan karpet tebal.
Ranjang king size dengan tirai yang terikat di setiap sudutnya, membuat otak Risa yang telah tercemar kini sedang traveling membayangkan hal yang iya iya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka.
Aydin yang baru selesai menyegarkan dirinya, cukup terkejut melihat Risa yang sedang terpaku menatapnya.
Yah Risa terpaku. Wanita itu tak bergeming kecuali ketika Ia harus menelan salivanya.
Tubuh prianya, entah mengapa terlihat sangat menggoda malam ini.
Masih ada beberapa butiran air yang menempel di dada bidangnya, seperti memanggil tangan Risa untuk menyekanya.
“Ay, ka...ka...kamu sudah mandi?” tanya Risa gugup.
Aydin yang tadi sempat kesal pada wanita dihadapannya, kini sedang berusaha untuk menahan tawanya.
“Arrrgggghhhh, memangnya harus yah, wajahnya semenggemaskan itu. Aku tak yakin bisa marah lebih lama padanya.” Batin Aydin merutuki dirinya yang telah bucin pada calon istrinya.
“Hemm.” Ia memilih berdeham untuk menjawab pertanyaan Risa.
Tanpa menatap wajah Risa, Aydin bergegas menuju lemari tempat Mbok menyimpan kopernya.
Tak ingin situasi canggung berlangsung lebih lama, Risa segera berlari menuju kamar mandi.
“Aku juga akan mandi, tubuhku sangat gerah” Ucap Risa.
Dalam hati Aydin tertawa. Ia ingat betul, sebelum kemari, wanitanya itu sudah mandi saat selesai pemotretan.
“Sayang, sayang, ini di Bandung, area kebun teh, saat malam hari pula, dan dia mengeluh gerah? Ku yakin pikiran yang iya iya yang membuatnya seperti itu.” Batin Aydin.
Pria itu menyadari jika di lemari kini hanya ada koper miliknya. Tak ada koper Risa di sana, sepertinya Mbok Atun salah menyimpannya.
Tiba-tiba muncul ide jahil Aydin untuk usil pada calon istrinya.
__ADS_1
Ia sengaja hanya memakai boxer dan kaos oblong tipis yang mencetak pahatan tubuh sempurnanya dengan kotak-kotak di bagian perut yang sulit di tolak oleh wanita mana saja.
Sementara pakaian lain tersisa di kopernya segera Ia sembunyikan.
Sengaja Ia hanya menyisakan satu kaos tipis berwarna putih, yang biasa Ia pakai sebagai dalaman saat memakai kemeja.
Selain itu tak ada lagi, bahkan pakaian dalamnya juga turut Ia sembunyikan.
“Siapa suruh mencemaskan pria lain di hadapanku. Awas saja, malam ini kamu gak akan pernah menjauh dari dekapanku.” Pria itu kini terkekeh dalam hatinya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Ceklek.
Pintu kamar mandi kembali terbuka.
Dari ujung-ujung matanya, Aydin bisa melihat Risa yang hanya memakai bathrobe dan handuk kecil yang membungkus rambut di atas kepalanya.
Perlahan Ia berjalan ke dinding penuh cermin yang tak lain adalah sebuah lemari.
Membuka satu per satu pintu lemari, namun barang yang Ia cari tak kunjung Ia temukan.
“Ay, kamu melihat koperku?” tanyanya.
Aydin menggeleng.
“Ay, tolong aku. Tanyakan pada Mbok Atun dimana Ia meletakkan barang-barangku.” Pintanya.
Dengan malas Aydin turun dari ranjang, membuat Risa menelan salivanya saat melihat bayangan sesuatu di balik bokser prianya.
“Astaga, ada apa denganku? Mengapa sejak tadi yang ada di pikiranku hanya itu saja.”
“Karena sudah pernah melihat aslinya, jadi bayangan yang seperti itu saja sudah membuatku berpikir yang...... aarrrrgggghhhh.” Risa memekik dalam batinnya.
“Apa mungkin aku melepasnya malam ini? Masih 19 hari lagi jika harus menunggu malam itu.”
Entah mengapa Risa menjadi sedih, memikirkan hal itu Ia bahkan tak menyadari jika Aydin telah kembali.
Suara pintu kamar yang di kunci oleh Aydin menyadarkan Risa dari lamunannya.
“Tak ada apa-apa di kedua tangan Aydin” batin Risa.
“Mbok Atun masih mencuci piring, sepertinya barangmu nyasar ke kamar tamu bersama barang milik Muti.”
Suara Aydin terdengar berat, suara deru napasnya bahkan bisa tertangkap oleh indra Risa.
“Jika mau, di lemari aku masih ada kaos bersih. Pakailah.”
Risa mengangguk patuh, hal itu lebih baik dibanding harus memakai bathrobe yang lembab sepanjang malam.
Apalagi udara di kebun teh Bandung pada malam hari sungguh bisa membuat Risa terkena hipotermia jika bertahan hanya dengan bathrobe.
Tit...tit...tit...tit....tit...tit...
Risa menoleh, untuk apa Aydin memainkan remot pendingin ruangan, pikirnya.
“Mengapa Ia menurunkan suhunya? Apa udara malam ini masih terasa panas baginya? Aneh.” Batin Risa.
Matanya terbelalak saat melihat di koper Aydin yang hanya tersisa satu baju kaos dalaman milik pria itu.
Risa hendak protes namun netranya melihat Aydin yang sedang membuka pintu yang mengarah ke balkon kamar sambil menyeringai.
“Oh, jadi ini semua rencanamu Ay,” batin Risa.
"Baiklah, kita buktikan saja, apa malam ini belah membelah akan terjadi?" pertanyaan itu ternyata bukan berasal dari Risa atau Aydin.
Tapi dari makhluk yg mengaku bernama Syah Iton.
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
Othor : Lanjut gak nih ?
Syah Iton : Laaannjuuuuttttt, tugasku belum selesai. Belum boleh pulang sama Emak.
__ADS_1
Othor : Gimana pendapat readers?
Readers : .............. (Isi sendiri aja lah di kolom komen. Isi yah, isi yah, isi dong, masa nggak. 🤭✌)