Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 133. Akhirnya


__ADS_3

Kamu mengecewakanku lagi, dan aku lagi-lagi harus bisa tersenyum.


Kamu tak menghargaiku lagi, dan aku lagi-lagi harus bisa bersabar.


Apakah sesulit ini memperjuangkan cinta?


Apakah sesakit ini untuk terus bertahan?


Aku lelah, Sungguh sangat lelah.


Aku lelah berpura-pura seolah semua baik-baik saja.


Aku lelah berpura-pura.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


“Sejak kamu putuskan untuk membatalkan pernikahan kita, maka aku bukan lagi siapa-siapa bagimu. Jadi pergilah, tinggalkan aku sendiri, sama seperti yang kamu lakukan kemarin.” Jelas Risa.


Aydin bangkit, Ia kembali berdiri tegap.


“Tidak. Aku tidak mau.” Tolaknya.


“Aku tidak membatalkannya, aku hanya mengundur waktunya. Itu juga karena aku peduli pada kondisi kesehatanmu Sayang,” bela Aydin.


“Benar, dan itu semua kamu putuskan sendiri tanpaku. Jadi kali ini, giliran aku yang akan mengambil keputusan sendiri.” Ucap Risa dengan tatapan tajam pada Aydin.


“Lelah. Aku lelah. Kamu sangat sulit kugapai, bahkan ketika kamu sangat dekat.” Batin Risa.


“Saat itu aku terdesak, pihak WO terus memberi banyak pertanyaan, meminta banyak kepastian, sedangkan kamu saat itu tidak bisa berdiskusi.” Ujar Aydin, mencoba memberi alasan yang bisa diterima Risa.


Risa berdecih sembari berusaha bangkit dari duduknya.


Semakin perih hati Aydin saat Risa menolak bantuannya.


“Alasan.” Bantah Risa.


“Aku yang tak bisa kamu ajak bicara? Atau karena kamu yang tiba-tiba saja menghilang?” tanya Risa.


“Sekarang jawab aku sejujurnya,” Risa menatap tajam pada Aydin.


“Kemana saja kamu kemarin? Jika memang urusan pekerjaan harusnya kamu tidak meninggalkan Chandra di sini.”


“Atau setidaknya ketika Esme dan Echa ke kantormu, sekertarismu itu harusnya tahu jika kamu ada meeting dengan klien.”


Mungkin karena Risa telah berbohong padanya, membuat Aydin mudah terpancing emosi saat Risa meragukan kejujurannya.


Ingin rasanya Aydin segera menodong Risa dengan fakta mengenai Kirani yang selama ini Risa sembunyikan.


Namun Ia percaya jika untuk mengetahui bagaimana perasaan Risa sebenarnya, dia harus membiarkan Risa tetap pada perannya selama ini.


Untuk melepas Risa juga Aydin tidak akan sanggup. Berkali-kali Ia ingin merelakan tapi tetap saja sakitnya tak dapat tahan.


Namun Aydin tetaplah manusia yang tak luput dari kekurangan. Pikiran dan hatinya kini dikuasai oleh emosi dan kecewa secara bersamaan.


“Kamu meminta Esme mengecek ke perusahaanku?” Tanya Aydin.


“Apa sekarang kamu meragukan kejujuranku? Apa kamu mencurigaiku?”


“Jangan Cuma meminta aku untuk jujur, Kamu… Sejujur apa kamu padaku?” tantang Aydin.


Yah, emosi dan kecewa itu kini sedang menguasi Aydin, tanpa Ia sadari Aydin mulai mengungkap apa yang ingin Ia pendam.


Rasanya ada air mata yang hendak menetes dari pelupuk mata Risa, tapi entah mengapa air matanya tertahan oleh keterkejutannya dengan respon Aydin.


Untuk pertama kalinya Aydin membentaknya dengan suara meninggi, tatapan tajam, bahkan Aydin mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajah Risa.


Tak ada kata yang bisa terucap oleh Risa.


Wanita itu bungkam, Ia duduk dan menunduk.


Bungkamnya Risa membuat emosi Aydin makin memuncak.


Bukan, Aydin tidak emosi karena Risa. Pria itu marah pada dirinya sendiri. Ia emosi karena diliputi rasa takut.


Yah, Aydin takut jika bungkamnya Risa berarti wanita itu memang mengakui jika selama ini dia berbohong, dan perasaannya pada Aydin juga suatu kebohongan.


Itulah ketakutan utama Aydin. Aydin takut kehilangan Risa, namun tanpa Ia sadari pertengkaran keduanya saat ini menuntun keduanya untuk berada di titik ujung hubungannya.


Baik Aydin dan Risa terus saling menyakiti satu sama lain.


“Kumohon, biarkan aku sendiri. Aku butuh waktu.” Pinta Risa.


Semakin menjadi-jadi emosi Aydin mendengar keinginan Risa.


Bugghh....

__ADS_1


Aydin melayangkan tinjunya pada dinding yang bertindak sebagai saksi bisu pertengkaran keduanya.


“Apa lagi ini Risa? Sekarang kamu ingin lari dari masalah? Bersikaplah dewasa, kita tak akan berhenti bicara sebelum masalah ini selesai.” Ujar Aydin.


Risa mengangkat wajahnya, menatap Aydin dengan tatapan sendu.


Tatapan yang telah membuat Aydin jatuh cinta pada pandangan pertama kali sekitar 11 tahun yang lalu pada Risa.


Tatapan yang menunjukkan betapa sakitnya hati wanita itu sekarang, namun Ia coba menutupinya.


Menghela napas panjang untuk memberinya kekuatan , sebelum Risa memulai pertanyaanya.


“Apa sebenarnya masalah yang terjadi antara kita?”


“Apa sebenarnya yang tengah kita perdebatkan?”


“Aku bukannya ingin lari, tapi aku sungguh tak mengerti apa yang telah terjadi diantara kita.”


Risa bersusah payah menahan isakannya, tak ingin Ia menangis lagi.


Hatinya sungguh lelah, perasaannya terus dipermainkan oleh Aydin.


Aydin tak bergeming, sebenarnya hal itu juga yang menjadi pertanyaannya.


Apa yang terjadi pada hubungan mereka sebelumnya sangat mesra.


Apa yang terjadi pada perasaan cinta yang telah membuat mereka bahagia.


“Katakan jika aku keliru,” Risa menghela napasnya.


“Semuanya baik-baik saja sebelum aku mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu.”


“Aku tak tahu apa yang telah terjadi selama aku tak sadarkan diri, namun seingatku saat aku sadarpun kita masih baik-baik saja. Hingga kamu tiba-tiba pergi dengan alasan pekerjaan dan meninggalkan Chandra di sini.”


Risa ingin memperjelas semuanya, jadi Ia pikir sebaiknya mereka mencari tahu sebenarnya dimana letak masalahnya, kapan masalah itu mulai muncul, dan apa sebenarnya masalah itu.


“Jujurlah Aydin, kemana saja kamu? Seharian kamu pergi tanpa kabar. Bukan hanya Aku tapi Mama, Papa, dan yang lainnya juga mengkhawatirkanmu.”


Risa sungguh berharap jika kini Aydin tidak terpancing emosi atau memilih bungkam, agar masalah ini selesai seperti apa yang dia inginkan.


“Aku…. Pergi ke makam Kirani dan setelahnya pulang ke rumah kami yang lama. Ada beberapa barang yang harus kuambil dari sana.” Jawab Aydin jujur, meski tidak semuanya benar.


“Bukankah katamu rumah itu sudah terjual?” tanya Risa, seingatnya seperti itu yang pernah diberitahukan Aydin padanya.


“Akan kujual.” Aydin mengoreksi pertanyaan Risa.


“Apa saat ini kamu sedang mencurigaiku hingga bertanya hal sebanyak itu?” Bukannya menjawab, Aydin kembali bertanya pada Risa.


“Aydin, kamu yang ingin kita bicara? Kamu yang ingin kita menyelesaikan semuanya.”


“Lalu jika tidak bertanya? Apa yang harus kulakukan?” Risa makin dibuat bingung dengan apa yang Aydin inginkan sebenarnya.


“Apa yang kamu inginkan aku diam saja, berpura-pura menjadi kekasih yang sangat pengertian, lalu bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.”


“Apa kamu berharap hubungan kita akan baik-baik saja kedepannya, jika kita menutupi semua masalah dan tidak menyelesaikannya.”


Napas Risa memburu, menahan gejolak emosi yang ingin sekali meledak. Apalagi Aydinlah orang yang sejak tadi terus menuntut agar mereka membicarakan ini.


“Bukankah selama ini kamu sudah berpura-pura?” tanya Aydin.


“Katamu hubungan kita selama ini baik-baik saja? Apa kamu yakin? Bagaimana bisa hubungan yang diawali dengan kebohongan berjalan dengan baik.” Sambungnya.


“Kebohongan apa? Siapa yang berbohong?” Risa ingin sekali menangis, Ia sungguh frustasi dengan semua ketidak jelasan ini.


“Sampai kapan Risa, sampai kapan kamu ingin menyembunyikannya? Sampai kapan kamu akan mempermainkan perasaanku? Sampai kapan kamu akan berpura-pura mencintaiku?” Ucap Aydin.


Pria itu tidak sedang marah, pria itu terlihat rapuh, sangat rapuh.


Risa ingin sekali menghampiri Aydin dan memeluknya, agar pria itu bisa lebih tenang.


Namun keterbatasan gerakannya karena tubuhnya yang memang masih lemah setelah kecelakaan, membuat Risa hanya bisa diam di atas brankar.


“Aku bersungguh-sungguh, Aku tidak paham maksudmu dengan semua hal yang kamu tanyakan."


"Aku bahkan belum mendapatkan jawaban dari pertanyaanku yang sebelumnya padamu.” Ucap Risa. Ia berusaha bicara selembut mungkin, tak ingin menyulut emosi dalam diri Aydin.


Aydin yang tadinya berdiri, kini menarik kursi dan duduk tak jauh dari brankar Risa.


“Sampai kapan kamu akan menyembunyikan hubunganmu dengan Kirani?”


“Sampai kapan kamu akan menyembunyikan mengenai amanat Kirani?”


Aydin bertanya dengan menatap lurus ke netra Risa, dari raut wajahnya jelas sekali jika semua yang Aydin ucapkan benar.


“Dari mana kamu mengetahui semuanya?” tanya Risa.

__ADS_1


Aydin beranjak mengambil kotak berwarna cokelat yang menyimpan semua rahasia Risa dan Rani.


“Seperti fakta jika kamu sebenarnya sudah mengenal Eijaz sebelum kalian ke perkenalkan. Mungkin sekaranglah saatnya kebenaran ini terungkap.” Jawabnya


Risa menggeleng.


“Ay, mengenai itu semua aku punya alasannya, aku bisa menjelaskannya.” Ucap Risa.


“Ku mohon dengarkan aku, dan percaya padaku.” Pintanya.


Aydin melangkah mundur, “Bagaimana aku harus percaya saat kamu telah mempermainkan perasaanku Risa. Aku begitu mencintaimu, namun sekarang aku harus menghadapi kenyataan jika semua kebahagiaanku hanyalah semu.”


Air mata Risa tak terbendung lagi.


“Tidak Ay, kebahagiaanmu, kebahagiaanku, kebahagiaan kita tidaklah semu.”


“Aku tak akan membenarkan pilihanku untuk menyembunyikan fakta mengenai amanat Kirani, tapi ku anggap ini semua sebagai takdir Tuhan untuk menyatukan kita.”


“Aku sungguh mencintaimu Aydin. Cintaku ini nyata, bukan semu seperti katamu. Mungkin awalnya semua karena Rani, tapi kini semua perasaan ini, semua cinta ini hanya karena pria itu adalah kamu, cintaku karena hatiku yang telah berlabuh padamu. Hanya kamu, aku, dan Dafha. Tak ada alasan lain lagi, aku berani bersumpah.”


Ketakutan Aydin akhirnya terjadi.


Ada sesal menghampiri batinnya, seandainya pertengkaran tadi tak pernah terjadi, mungkin keduanya masih bisa terus berbahagia meski menjalani hubungan yang penuh dengan rahasia dan ragu.


Tapi semuanya kini telah terjadi, anggaplah ini sebagai jalan terbaik untuk hal-hal baik yang akan segera datang.


Sementara Risa dengan sisa-sisa tenaganya, Ia berusaha meraih tangan Aydin namun pria itu menghindar.


“Ay, apa kamu tak percaya padaku?”


Aydin menggeleng, Ia juga merutuki dirinya yang bereaksi seperti itu.


“Maaf Risa, maafkan aku. Mungkin benar katamu, kita berdua oerlu waktu."


“Mari kita sendiri dulu. Kita gunakan waktu kita untuk memikirkan semuanya.” Ucap Aydin.


Namun sedetik kemudian Ia menyesali lagi keputusannya.


“Kamu meragukan cintaku,” gumam Risa lirih.


“Aku memang telah berbohong pada awalnya, aku memang bukan wanita yang baik. Tapi mengenai perasaan, aku tak pernah ragu atau berbohong.”


“Tak ada yang bisa ku tunjukkan untuk membuktikannya, karena hanya kamu yang bisa merasakannya. Apakah cintaku tulus atau tidak padamu selama ini."


Risa mundur beberapa langkah, kembali bersandar pada brankarnya.


Bukan Ia ingin menyerah, namun rasanya tak ada bukti yang bisa Ia tunjukkan, kecuali jika Aydin bisa melihat ke dalam lubuk hatinya.


“Itulah mengapa aku minta maaf. Aku mohon maafkan aku, karena ketulusan itu yang masih membuatku ragu. Aku minta maaf.” Ucap Aydin.


Matanya melirik pada kotak cokelat yang tergeletak di atas brankar.


Dan tangisan itupun pecah sekali lagi.


“Apa ini akhirnya?” meski tak ingin menanyakan hal ini, tapi pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Risa.


“Entahlah, akan sulit bagiku untuk bisa melepasmu karena aku mencintaimu. Namun hal itu juga yang membuatku ragu dan takut. Kupikir kita butuh waktu untuk memikirkan ini semua sekali lagi, agar tak ada penyesalan."


“Istirahatlah, aku pergi dulu.”


Risa hanya bisa menatap Aydin yang selangkah demi selangkah menjauh darinya.


Ingin rasanya Ia mencegah Aydin, namun tak ada alasan baginya. Karena ternyata dirinya yang menjadi sumber masalah.


Pandangan Risa tak berpaling sedetikpun, hingga pria yang telah memiliki seluruh rasa cinta yang Ia miliki itu akhirnya hilang di balik pintu.


Hanya menangis yang bisa Risa lakukan kini, menyesalpun rasanya percuma.


Ia memilih untuk melakukan apa yang Aydin ucapkan, Ia berbaring kembali ke brankarnya namun tidak ada yang berubah.


Rasa sakit di hatinya masih sama. Air matanya juga masih berlinang tanpa henti.


Hingga tak terasa waktu berlalu, 10 menit, 20 menit, 30 menit, Risa semakin tak tenang memikirkan nasib hubungannya bersama Aydin.


Meski Aydin tak mengatakan ini akhirnya, namun sama saja jika Aydin tak bisa merasakan ketulusan cinta darinya. Jika dilanjutkan, entah apa jadinya hubungannya kelak.


Sakit yang diderita fisiknya karena kecelakaan, didukung lagi dengan rasa sakit di hatinya, kini sukses melemahkan pertahanan seorang Risa.


Dengan suhu tubuh yang semakin meningkat, kepala yang terasa pusing, lalu pandangannya mulai terasa buram, suara-suara disekitarnya juga tiba-tiba semakin sulit ditangkap indra pendengarannya.


“Meski Aydin merasa bukan akhirnya, tapi mengapa firasatku buruk. Ku pikir cepat atau lambat aku akan kehilangannya.” Batin Risa sebelum pandangannya tiba-tiba menggelap.


Dan...... Hening.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡

__ADS_1


Hanya karena hubungan berakhir, belum tentu kita tidak mencintai satu sama lain. Hanya kita tidak ingin menyakiti satu dengan yang lain.


__ADS_2