Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 34. Tentang Risa ( Part 2)


__ADS_3

" Joheun achimieyo ..... "


( Selamat pagi )


Esme menyapa Risa yang pagi ini sudah tampil menawan dengan style ala Kim Risa .


Risa terlihat sangat cantik , menggunakan long dress span berwarna hitam tanpa lengan dengan belahan samping yang cukup tinggi hingga ke pahanya menampilkan kesan seksi yang selalu menjadi daya tarik dari penampilan model terkenal itu .


Sayangnya , tak ada senyum di wajah cantiknya .


Sepertinya karena pertengkarannya semalam dengan Aydin , pikir Esme .


" Kamu mau kemana sepagi ini ? Bukankah kelas pertama di Stars Academy akan mulai siang nanti ? " tanya Esme .


Risa duduk dan ikut bergabung bersama Esme yang sedang memakan semangkuk bubur ayam yang dibelinya saat jogging .


" Aku ingin ke toko buku milik Kak Eijaz . " Jawab Risa .


Esme mempercepat gerakan makannya dan Risa menyadari itu .


" Eonni ... tidak perlu terburu buru . Aku bisa pergi sendiri . Aku hanya ingin memeriksa sesuatu disana . "  Ujar Risa .


" Tapi ... apa kamu masih ingat jalan kesana ? " tanya Risa .


" Berikan saja alamatnya padaku , aku akan bertanya pada supir taksi . "


" Tapi .... " Esme hendak menyela lagi .


" Eonni .... gwaenchanayo ( tidak apa apa ) .... "


" Aku bisa sendiri . Istirahatlah sebentar , kamu pasti masih lelah setelah jogging . Susul aku jika kamu sudah selesai bersiap , atau kita juga bisa bertemu langsung di Stars Academy . " Lanjutnya  .


" Arassoyo  ( baiklah ) .... "  jawab Esme akhirnya.


Setelah menghabiskan semangkuk bubur ayam miliknya , Risa berpamitan pada Esme .


Dengan menggunakan taksi Risa berangkat menuju toko buku milik Eijaz . Toko buku yang menjadi awal mula kehidupannya di Jakarta kala itu . Toko buku yang menjadi tempatnya mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya . Toko buku yang membuatnya bertemu dengan sosok Eijaz , salah satu pria yang mempunyai andil besar dalam kehidupannya .


Risa meminta supir taksi agar berhenti sebentar di kedai kopi yang biasa Ia datangi .


Dengan langkah anggun yang berhasil mencuri perhatian sebagian besar kaum adam , Risa memasuki kedai kopi tersebut .


Namun langkahnya terhenti kala netranya bertemu dengan Aydin . Risa berpaling , Ia bergegas meninggalkan kedai kopi . Kembali ke taksi tanpa memperdulikan Aydin yang mengikuti dan memanggil namanya .


Aydin harus kecewa  karena usahanya datang lebih pagi ke kedai kopi hanya untuk bertemu Risa harus berakhir sia sia .


Chandra menghampiri Aydin yang menatap kepergian taksi Risa .


" Pesona Ms. Kim memang selalu sukses mencuri perhatian yah Pak Bos ... " Ujar Chandra sambil berdecak kagum .


Aydin melirik sinis pada Chandra walaupun Ia juga setuju dengan ucapan sekertarisnya itu .


" Berhenti mengaguminya . Mana kopi ku ? " 


Chandra memberikan satu cup kopi yang baru saja Ia beli .


Tanpa curiga sama sekali , Aydin perlahan menyeruput kopinya tanpa hawatir masih panas .


Seketika matanya membulat saat merasakan pahit dan tajamnya kopi yang barusan Ia teguk .


" Sialan ... kopi apa ini ? Kenapa pahit sekali . " Ujar Aydin .


" Robusta . " Jawab Chandra santai .


" Pantas saja rasanya sangat pahit dan tajam , tidak seperti biasanya . " Balas Aydin dengan kesal .


" Maaf Pak Bos ... aku hanya ingin menyesuaikan dengan kondisi hati anda saat ini. " Ujar Chandra tanpa ada rasa bersalah .


" Sialan kau Chandra . Dasar sekertaris lucknut kau .... " Geramnya .



Sementara Risa setelah berhasil menghindari Aydin dan melalui perjalanan dengan drama kemacetan khas kota Jakarta ,  akhirnya Ia tiba di depan sebuah bangunan lama .


__ADS_1


Bentuk bangunan itu tidak berubah walau setelah 10 tahun berlalu . Cafe di seberang jalan tempatnya makan pertama kali bersama Eijaz bahkan sudah berubah menjadi lebih luas dengan suasana yang lebih kekinian .



Tempat pencucian kendaraan kini sudah tidak ada . Kini disana adalah sebuah salon perawatan kuku .



Risa berdiri cukup lama di depan toko buku . Memperhatikan bangunan yang tidak berubah. Namun tidak bisa di pungkiri bangunan itu nampak tak terurus .



Cat pintu sudah usang dan terkelupas .


Kacanya penuh debu dan ada beberapa bekas coretan pilox .


Risa mengeluarkan kunci toko buku yang Ia dapatkan dari kotak cokelat yang dikirim Rani .



Klik...klik.... ceklek ....



Risa berhasil membuka pintu .


Debu berterbangan menyambut kedatangan Risa .



Risa terpaksa harus keluar lagi , memakai maskernya agar debu debu itu tidak mengganggu indra penciumannya .



Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan .Tak ada yang berubah seperti saat Ia tinggalkan .



" Apa Kak Eijaz tak pernah kembali ke Indonesia setelah kepergiannya ? " batin Risa .




Risa melangkahkan kakinya menuju meja ,tempatnya meninggalkan sesuatu yang ingin Ia periksa .



Warna meja itu bahkan tak terlihat lagi karena tertutupi oleh debu yang tebal . Bahkan Risa bersusah payah untuk membuka laci meja .



Saat laci terbuka , Risa menunduk untuk memeriksa sesuatu .



" Tidak ada . " gumamnya .



Untuk meyakinkan apa yang Ia lihat , Risa menggunakan tangannya untuk memeriksa laci.


Namun benda yang di carinya tidak ada .



" Apa Kak Eijaz pernah kemari dan mengambil kotak itu yah ? " gumam Risa .



Seingatnya tak ada seorangpun yang tahu mengenai kotak pemberian Eijaz yang Ia simpan di dalam laci .



" Tapi jika memang kotak itu diambil oleh Kak Eijaz , mengapa kunci toko masih ada pada Rani ? " batin Risa bertanya tanya .

__ADS_1



Risa kemudian mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya. Membuka untuk memastikan kalung yang dulu dihadiahkan oleh Eijaz ada disana . Beruntung dulu dia sempat mengambil kembali kalung itu secara sembunyi sembunyi dari kamar Anggun .



Risa kembali meletakkan kalung itu di laci lalu menutupnya kembali .


" Ku rasa aku sudah mengecewakan mu Kak . Aku tak pantas menerima hadiah seistimewa itu darimu . " batin Risa .



Ia lalu keluar dari toko buku dan tak lupa menguncinya kembali sebelum pergi menuju Stars Academy untuk memulai kelas pertamanya .



Di tempat lain , di waktu yang bersamaan saat Risa berada di toko buku . Esme dan Aydin bertemu di cafe yang lokasinya tak jauh dari Stars Academy .


" Hai Aydin ... maaf menunggu lama . " Ujar Esme basa basi .


" Tidak juga . Aku baru sampai kok . " Balas Aydin tak ingin Esme canggung .


Esme tertawa ... " Santai saja denganku . Gelas minumanmu yang sudah kosong memberitahu jika kamu sudah menunggu lama . "


" Jeosonghamnida ( saya minta maaf ) , " lanjutnya.


" Dimana Risa ? " tanya Aydin .


" Apa kamu merindukannya ? " ledek Esme .


" Aku hawatir padanya . Tadi pagi ku lihat dia pergi menaiki taksi . " sangkal Aydin .


" Dia ke suatu tempat untuk mengenang seseorang yang cukup spesial baginya dulu . " Jawab Esme ambigu dan sukses membuat Aydin menatapnya tajam .


" Maaf Esme , tapi jujur saja waktuku hari ini tak cukup luang . " Ujar Aydin .


" Oke ... oke ... aku akan mulai ke inti permasalahan kalian . " Ujar Esme .


" Pasti kamu bingung mengapa Risa semarah itu mengenai kamu yang menegur putramu , " tebaknya .


Aydin mengangguk .


" Risa punya trauma sewaktu kecil . Berhubungan dengan KDRT , " jelasnya .


Ucapan Esme membuat Aydin terkejut .


" Bisa kau jelaskan secara lebih detail ? " pinta Aydin .


" Ku kira waktumu tak banyak ? Ku rasa itu saja cukup , " balas Esme .


" Esme . Please . Berhentilah bercanda . Apa kamu ingin membuatku bertambah tua 10 tahun lebih cepat karena membuatku penasaran ? "


Esme tertawa terbahak bahak .


" Baiklah , dengarkan baik baik . " ujar Esme mengubah raut wajahnya menjadi serius .


.


.


.


.


.


"Coba belajarlah kepada senja, karena dia mengajarkan bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagian hanya sementara, karena tak ada yang abadi."


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2