
" Joheun achimieyo ..... "
( Selamat pagi )
Esme menyapa Risa yang pagi ini sudah tampil menawan dengan style ala Kim Risa .
Risa terlihat sangat cantik , menggunakan long dress span berwarna hitam tanpa lengan dengan belahan samping yang cukup tinggi hingga ke pahanya menampilkan kesan seksi yang selalu menjadi daya tarik dari penampilan model terkenal itu .
Sayangnya , tak ada senyum di wajah cantiknya .
Sepertinya karena pertengkarannya semalam dengan Aydin , pikir Esme .
" Kamu mau kemana sepagi ini ? Bukankah kelas pertama di Stars Academy akan mulai siang nanti ? " tanya Esme .
Risa duduk dan ikut bergabung bersama Esme yang sedang memakan semangkuk bubur ayam yang dibelinya saat jogging .
" Aku ingin ke toko buku milik Kak Eijaz . " Jawab Risa .
Esme mempercepat gerakan makannya dan Risa menyadari itu .
" Eonni ... tidak perlu terburu buru . Aku bisa pergi sendiri . Aku hanya ingin memeriksa sesuatu disana . " Ujar Risa .
" Tapi ... apa kamu masih ingat jalan kesana ? " tanya Risa .
" Berikan saja alamatnya padaku , aku akan bertanya pada supir taksi . "
" Tapi .... " Esme hendak menyela lagi .
" Eonni .... gwaenchanayo ( tidak apa apa ) .... "
" Aku bisa sendiri . Istirahatlah sebentar , kamu pasti masih lelah setelah jogging . Susul aku jika kamu sudah selesai bersiap , atau kita juga bisa bertemu langsung di Stars Academy . " Lanjutnya .
" Arassoyo ( baiklah ) .... " jawab Esme akhirnya.
Setelah menghabiskan semangkuk bubur ayam miliknya , Risa berpamitan pada Esme .
Dengan menggunakan taksi Risa berangkat menuju toko buku milik Eijaz . Toko buku yang menjadi awal mula kehidupannya di Jakarta kala itu . Toko buku yang menjadi tempatnya mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya . Toko buku yang membuatnya bertemu dengan sosok Eijaz , salah satu pria yang mempunyai andil besar dalam kehidupannya .
Risa meminta supir taksi agar berhenti sebentar di kedai kopi yang biasa Ia datangi .
Dengan langkah anggun yang berhasil mencuri perhatian sebagian besar kaum adam , Risa memasuki kedai kopi tersebut .
Namun langkahnya terhenti kala netranya bertemu dengan Aydin . Risa berpaling , Ia bergegas meninggalkan kedai kopi . Kembali ke taksi tanpa memperdulikan Aydin yang mengikuti dan memanggil namanya .
Aydin harus kecewa karena usahanya datang lebih pagi ke kedai kopi hanya untuk bertemu Risa harus berakhir sia sia .
Chandra menghampiri Aydin yang menatap kepergian taksi Risa .
" Pesona Ms. Kim memang selalu sukses mencuri perhatian yah Pak Bos ... " Ujar Chandra sambil berdecak kagum .
Aydin melirik sinis pada Chandra walaupun Ia juga setuju dengan ucapan sekertarisnya itu .
" Berhenti mengaguminya . Mana kopi ku ? "
Chandra memberikan satu cup kopi yang baru saja Ia beli .
Tanpa curiga sama sekali , Aydin perlahan menyeruput kopinya tanpa hawatir masih panas .
Seketika matanya membulat saat merasakan pahit dan tajamnya kopi yang barusan Ia teguk .
" Sialan ... kopi apa ini ? Kenapa pahit sekali . " Ujar Aydin .
" Robusta . " Jawab Chandra santai .
" Pantas saja rasanya sangat pahit dan tajam , tidak seperti biasanya . " Balas Aydin dengan kesal .
" Maaf Pak Bos ... aku hanya ingin menyesuaikan dengan kondisi hati anda saat ini. " Ujar Chandra tanpa ada rasa bersalah .
" Sialan kau Chandra . Dasar sekertaris lucknut kau .... " Geramnya .
Sementara Risa setelah berhasil menghindari Aydin dan melalui perjalanan dengan drama kemacetan khas kota Jakarta , akhirnya Ia tiba di depan sebuah bangunan lama .
__ADS_1
Bentuk bangunan itu tidak berubah walau setelah 10 tahun berlalu . Cafe di seberang jalan tempatnya makan pertama kali bersama Eijaz bahkan sudah berubah menjadi lebih luas dengan suasana yang lebih kekinian .
Tempat pencucian kendaraan kini sudah tidak ada . Kini disana adalah sebuah salon perawatan kuku .
Risa berdiri cukup lama di depan toko buku . Memperhatikan bangunan yang tidak berubah. Namun tidak bisa di pungkiri bangunan itu nampak tak terurus .
Cat pintu sudah usang dan terkelupas .
Kacanya penuh debu dan ada beberapa bekas coretan pilox .
Risa mengeluarkan kunci toko buku yang Ia dapatkan dari kotak cokelat yang dikirim Rani .
Klik...klik.... ceklek ....
Risa berhasil membuka pintu .
Debu berterbangan menyambut kedatangan Risa .
Risa terpaksa harus keluar lagi , memakai maskernya agar debu debu itu tidak mengganggu indra penciumannya .
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan .Tak ada yang berubah seperti saat Ia tinggalkan .
" Apa Kak Eijaz tak pernah kembali ke Indonesia setelah kepergiannya ? " batin Risa .
Risa melangkahkan kakinya menuju meja ,tempatnya meninggalkan sesuatu yang ingin Ia periksa .
Warna meja itu bahkan tak terlihat lagi karena tertutupi oleh debu yang tebal . Bahkan Risa bersusah payah untuk membuka laci meja .
Saat laci terbuka , Risa menunduk untuk memeriksa sesuatu .
" Tidak ada . " gumamnya .
Untuk meyakinkan apa yang Ia lihat , Risa menggunakan tangannya untuk memeriksa laci.
Namun benda yang di carinya tidak ada .
" Apa Kak Eijaz pernah kemari dan mengambil kotak itu yah ? " gumam Risa .
Seingatnya tak ada seorangpun yang tahu mengenai kotak pemberian Eijaz yang Ia simpan di dalam laci .
" Tapi jika memang kotak itu diambil oleh Kak Eijaz , mengapa kunci toko masih ada pada Rani ? " batin Risa bertanya tanya .
__ADS_1
Risa kemudian mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya. Membuka untuk memastikan kalung yang dulu dihadiahkan oleh Eijaz ada disana . Beruntung dulu dia sempat mengambil kembali kalung itu secara sembunyi sembunyi dari kamar Anggun .
Risa kembali meletakkan kalung itu di laci lalu menutupnya kembali .
" Ku rasa aku sudah mengecewakan mu Kak . Aku tak pantas menerima hadiah seistimewa itu darimu . " batin Risa .
Ia lalu keluar dari toko buku dan tak lupa menguncinya kembali sebelum pergi menuju Stars Academy untuk memulai kelas pertamanya .
Di tempat lain , di waktu yang bersamaan saat Risa berada di toko buku . Esme dan Aydin bertemu di cafe yang lokasinya tak jauh dari Stars Academy .
" Hai Aydin ... maaf menunggu lama . " Ujar Esme basa basi .
" Tidak juga . Aku baru sampai kok . " Balas Aydin tak ingin Esme canggung .
Esme tertawa ... " Santai saja denganku . Gelas minumanmu yang sudah kosong memberitahu jika kamu sudah menunggu lama . "
" Jeosonghamnida ( saya minta maaf ) , " lanjutnya.
" Dimana Risa ? " tanya Aydin .
" Apa kamu merindukannya ? " ledek Esme .
" Aku hawatir padanya . Tadi pagi ku lihat dia pergi menaiki taksi . " sangkal Aydin .
" Dia ke suatu tempat untuk mengenang seseorang yang cukup spesial baginya dulu . " Jawab Esme ambigu dan sukses membuat Aydin menatapnya tajam .
" Maaf Esme , tapi jujur saja waktuku hari ini tak cukup luang . " Ujar Aydin .
" Oke ... oke ... aku akan mulai ke inti permasalahan kalian . " Ujar Esme .
" Pasti kamu bingung mengapa Risa semarah itu mengenai kamu yang menegur putramu , " tebaknya .
Aydin mengangguk .
" Risa punya trauma sewaktu kecil . Berhubungan dengan KDRT , " jelasnya .
Ucapan Esme membuat Aydin terkejut .
" Bisa kau jelaskan secara lebih detail ? " pinta Aydin .
" Ku kira waktumu tak banyak ? Ku rasa itu saja cukup , " balas Esme .
" Esme . Please . Berhentilah bercanda . Apa kamu ingin membuatku bertambah tua 10 tahun lebih cepat karena membuatku penasaran ? "
Esme tertawa terbahak bahak .
" Baiklah , dengarkan baik baik . " ujar Esme mengubah raut wajahnya menjadi serius .
.
.
.
.
.
"Coba belajarlah kepada senja, karena dia mengajarkan bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagian hanya sementara, karena tak ada yang abadi."
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue