
Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mencintai, dan aku memilih untuk mencintaimu dengan cara yang paling tenang.
Menyebut namamu dalam setiap bait doaku, adalah caraku untuk menjagamu.
Memejamkan mata setiap kali ku merindukanmu adalah caraku untuk merasakan kehadiranmu.
Bertahan di setiap sisi yang gelap adalah caraku mengagumi terangmu.
Semuanya kulakukan dalam diam, tanpa kata, tanpa kepastian, dan tanpa harapan.
♡♡♡♡♡♡♡
“Mungkinkah ada kehidupan yang selalu berjalan mulus tanpa ujian ataupun cobaan?”
“Jika ada, bolehkah aku turut berada di dalamnya? Aku ingin sedikit saja merasakan ketenangan di sana.”
Dalam diamnya, benak Risa menyimpan banyak pertanyaan yang tak terucapkan.
Bukan karena Ia tak tahu cara yang benar untuk bertanya.
Bukan juga karena Ia tak tahu pada siapa harus bertanya.
Tapi, Ia terlalu takut untuk mengetahui jawabannya.
Ia terlalu takut jika harus kembali menelan pil pahit yang bernama kekecewaan.
Aydin sebagai sosok pria yang siap mendampingi Risa dengan segala peliknya permasalahan kehidupan wanita itu, tentu dibuat tak tenang dengan bungkamnya Risa.
Dengan satu tangan yang terus menjaga kemudi agar tetap dijalurnya, satu tangannya lagi Ia gunakan untuk mengenggam jemari Risa.
Sebagai ganti dari pertanyaan ‘apa kamu baik-baik saja?’ yang tidak dapat terucap.
Hanya senyuman manis yang Risa sunggingkan sebagabalasan, berharap prianya bisa lebih tenangi dan tak perlu mengkhawatirkan dirinya.
Sementara Anggun, hatinya turut merasakan kehangatan, melihat bagaimana pasangan itu saling mengerti dan memahami tanpa harus meminta.
“Mungkin inilah salah satu dahsyatnya cinta, membuat dua orang bisa saling bicara hanya lewat tatapan mata.” Batin Anggun kagum.
♡♡♡♡♡♡
Meski perjalanan telah usai, tapi keheningan masih betah menemani langkah Risa, Aydin, dan Anggun.
“Anggun, kamu gugup?” Risa memecah kesunyian dengan bertanya pada Adik tirinya yang jelas sekali sedang gugup.
Anggun menggeleng, “Apa sebaiknya aku kembali ke rumah sakit saja, Kak?”
“No.”
“Maaf jika aku terlambat menjemputmu. Harusnya tak pernah ku tinggalkan kamu disana sendiri. Sungguh saat ini Aku tak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi.” Ucap Risa.
Anggun mengangguk patuh.
Risa melepaskan tangan Aydin yang setia merangkul pinggangnya.
“Anggun, lupakan semua kesalah pahaman yang pernah terjadi di antara kita. Sekarang, aku ingin kamu mengandalkanku sebagai seorang kakak, izinkan aku melakukan tugasku untuk menjagamu.” Risa merangkul pundak Anggun.
“Meski sebenarnya kita tak ada hubungan darah, aku sudah berjanji akan menjadi kakak yang baik untukmu.” Batin Risa.
Keheningan kembali, namun kali ini tak berlangsung lama.
Lift terbuka setelah mencapai lantai 17 di gedung apartement mewah itu.
Masih dengan merangkul pundak Anggun, kakak beradik itu berjalan mendahului Aydin dan masuk ke dalam unit apartement milik Risa tanpa menunggu Aydin.
“Siang semuanya,” sapa Risa.
Semua orang yang berkumpul di ruang utama menoleh pada kakak beradik yang kehadirannya sudah dinantikan sejak hari masih pagi.
“Katanya bakal pulang pagi,” canda Esme.
Risa tergelak karena merasa tersindir,
“Salahkan kekasihmu, Eonni.” Balas Risa.
“Aku minta tolong padanya mengatur pertemuan antara Anggun dengan Mamanya, eh diaturnya langsung hari ini juga.” Jelas Risa, Ia melempar kesalahan pada Echa.
“Sudah, sudah, kalian berdua terus berdebat. Sampai lupa jika Anggun belum dipersilakan duduk,” pungkas Amora menengahi Risa dan Esme.
Aydin tiba lebih lama karena Ia sengaja berjalan perlahan. Tanpa banyak bicara seperti biasa, Ia mengambil tempat duduk di sebuah bean bag besar.
“Duduk sini Yang,” Pintanya.
Aydin menepuk sisi depan yang masih kosong pada bean bag.
Risa dengan patuh melakukan permintaan Aydin.
__ADS_1
“Oh ya Anggun, ngomong-ngomong selamat datang di rumah.” Ucap Amora.
“Mungkin kamu sudah mengenalku, tapi tak apa aku akan mengulang, agar kita jadi lebih akrab,” sambungnya.
“Aku Amora, dan dia adalah Esme.” Telunjuknya mengarah pada Esme yang asik dengan ponselnya.
“Kami kembar,” cicitnya.
“Dan pria itu, kau pasti sudah mengenalnya,” sambung Amora.
“Dia Gio, kekasihku. Kau taukan betapa dia suka menggoda wanita cantik sepertimu, jadi jangan sungkan untuk menolak, atau langsung saja beri dia pelajaran jika berani menggodamu.” Ujar Amora.
Sementara Gio yang menjadi objek pembicaraan hanya bisa tertawa mendengar ucapan kekasihnya.
“Aku sudah pensiun sayang, aku mana berani menggoda wanita lain,” Gio membela diri.
Setelah perkenalan singkat yang mereka tutup dengan acara makan siang bersama, kini semuanya sudah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Risa membawa Anggun ke sebuah kamar yang cukup nyaman, meski tak seluas kamar di rumah milik orangtuanya.
“Istirahatlah Anggun, lakukan apapun sesukamu dengan kamar ini. Kata Aydin, suster yang merawatmu akan datang besok.” Ujar Risa sebelum kembali ke kamarnya.
Di kamar, Risa melihat Aydin sudah lebih dulu berbaring di ranjang.
Kemeja yang melekat di tubuhnya tadi sudah berganti dengan kaos rumahan.
“Ay, kamu gak kembali ke perusahaan?”
Aydin menggeleng.
“Aku juga butuh istirahat sayang, sudah 3 hari aku tidak tidur dengan benar,” keluhnya.
“Hemmm, nikmatilah waktumu Ay.” Jawab Risa.
Aydin menatap Risa tak percaya, “Yang, kamu tak mengerti kode dariku yah?” kesal Aydin.
Risa menggeleng, “Katakan saja langsung, jangan pakai kode. Aku tak sejenius dirimu jika menyangkut kode-kode.”
Tanpa permisi, Aydin membawa tubuh Risa dalam gendongannya.
Segera Ia baringkan disisi yang lain, namun sebelumnya Aydin melucuti pakaian Risa, meninggalkan kain segitiga yang menutupi daerah terlarang , juga sebuah B*a yang menyatu dengan kemben.
Keduanya sudah berada di bawah selimut yang sama, Risa berbaring membelakangi Aydin, sementara Aydin memeluknya dari belakang.
Belum lagi dengan sesuatu yang terasa mengeras di balik celana Aydin, sesekali terasa seperti benda itu ingin melompat keluar dari sarangnya.
“Yang, kamu tak ingin berbagi cerita denganku?” tanya Aydin.
Sementara salah satu tangannya tetap konsisten bekerja di atas buah indah kepunyaan Risa.
Risa hanya menggeleng sebagai jawaban, lenguhannya Ia redam dengan menggigit bibir bawahnya.
“Kamu yakin Yang?”
“Aku ingin kamu berbagi semua hal yang mengganggu pikiranmu padaku.”
“Aku ingin kamu menjadikanku sebagai sandaranmu, sayang.”
Ungkapan hati Aydin membuat Risa tak kuat lagi untuk memendam kebenaran yang baru Ia ketahui.
Air matanya mewakili perasaannya yang tersakiti dengan fakta itu, Ia menangis.
Menangis hingga punggungnya yang bergetar, menghentikan aksi Aydin.
“Hei sayang, apa aku menyakitimu?”
Risa menggeleng, Ia mengubah posisinya menghadap Aydin, lalu memeluk prianya.
Ia memang butuh sandaran yang ditawarkan oleh dada bidang Aydin.
“Anggun bukan anak kandung Ayahku.” Ungkapnya lirih.
“Ada orang lain yang menjadi dalang, dari semua drama yang terjadi pada kehidupanku, Ay.” Sambungnya.
“Ada seseorang yang memiliki dendam pada Ibuku. Orang itu juga yang mengirim Indri yang tengah mengandung Anggun, untuk menghancurkan keluargaku, hingga drama cerita kehidupanku menjadi cerita sedih seperti ini.”
“Siapa?”
Risa menggeleng, “Entahlah.”
“Indri hanya bertemu dengannya sekali, dia seorang wanita.”
Aydin hanya membelai surai lembut Risa, agar tangisan wanitanya mereda.
Curahan hati dari Risa, betapa sakitnya kehilangan seorang Ibu, hingga perasaan khawatir jika dendam wanita itu masih ada dan kini hanya menunggu waktu yang tepat untuk menuntut balas pada dirinya.
__ADS_1
Curaham hati seakan cerita pengantar tidur untuk Risa.
Aydin bisa merasa napas wanita di dekapannya mulai berhembus teratur.
“Tak akan kubiarkan, siapapun itu, akan ku temukan dia sebelum dia menemukanmu, menemukan kita.”
♡♡♡♡♡
Hari berganti, menyisakan hari kemarin dengan ceritanya yang telah menjadi kenangan.
Tak ada rasa sepi seperti dahulu yang Anggun rasakan.
“Ibu hamil tidak boleh sering melamun,” tegur Risa sambil meletakkan segelas susu khusus Ibu hamil di hadapan Anggun.
“Hari ini Aku dan Aydin akan menjemput Dafha ke Bandung. Sekalian kami akan mengambil beberapa foto prewedding di sana.” Ujar Risa bersemangat.
“Eonni, aku titip agensi padamu.” Tatapnya penuh harap pada Esme.
Tidak ingin menyianyiakan waktu lebih lama, keduanya segera berangkat.
Namun sebelumnya, Risa menjemput Muti sekertarisnya. Muti yang kebabian tugas menyiapkan sesi foto kali ini.
Tanpa Aydin duga, Ia bertemu dengan seseorang yang beberapa hari ini menghilang.
“Eijaz?” tegur Aydin yang melihat Eijaz berada di gedung yang sama dengannya, yaitu gedung tempat agensi Risa berada.
“Aydin,” balasnya. Ia berusaha sesantai mungkin.
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Aydin.
“Aku ingin bertemu seseorang, namun sepertinya alamat yang diberikan orang itu salah.”
“Kamu sendiri, sedang apa disini?” tanya Eijaz basa-basi.
“Di sinilah kantor agensi model milik Risa, calon istriku.” Jawab Aydin menunjuk ke sebuah pintu kaca yang tak jauh dari posisi mereka kini berdiri.
Tak lama, muncullah Risa dan Muti yang membawa beberapa pasang pakaian.
Risa cukup terkejut dengan kehadiran Eijaz dan pria yang juga Ia temui di toko buku tempo hari.
“Kalian sepertinya sedang sibuk,” tatapan Eijaz mengarah pada Muti, gadis mungil yang sedang kesulitan membawa tumpukan pakaian di tangannya.
“Ya begitulah. Hari ini kami harus ke Bandung untuk foto prewedding.” Jelas Aydin.
“Wah sepertinya akan sangat seru. Aku juga sudah lama tidak mengunjungi Bandung.” Celetuk Eijaz.
“Bolehkah aku ikut bersama kalian?” pinta Eijaz.
“Romi juga bisa membantu gadis imut itu membawa beberapa barang.” Imbuhnya.
Aydin tidak mungkin menolak permintaan sahabatnya, terlebih mereka sudah lama tak bertemu.
“Jika hal itu tak merepotkan Romi, tolong bantuannya yah Romi. Kasian Muti sendiri.” Balas Aydin menyetujui permintaan Eijaz.
Risa membulatkan matanya pada Eijaz, Ia merutuki sikap kakak penolongnya itu.
Sudah tahu jika Risa pasti akan gugup, Eijaz sengaja ingin menjahili wanita itu.
Serasa belum cukup, kini Eijaz kembali membuat Risa semakin tidak nyaman.
“Gadis mungil nan imut, bolehkah kita bertukar tempat?”
Muti tak menjawab, Ia hanya menatap pada Risa dan Aydin secara bergantian.
“Ayolah, aku masih rindu pada sahabatku. Sudah lama kami tidak pergi bersama seperti ini.” Rengeknya.
Aydin akhirnya bisa kembali melihat sosok sahabatnya yang dulu.
Sahabatnya yang sering bertingkah konyol seperti ini.
“Muti, kamu berangkat dengan mobil itu tak masalahkan?” tanya Aydin yang segera di angguki Muti.
Mendengar itu, Eijaz bersorak dan segera masuk ke mobil menyusul Risa yang sudah lebih dulu berada di dalam sana.
Setelah semua siap, Aydin segera memacu mobilnya menuju Bandung.
Entah apa yang nantinya akan terjadi di sana, yang jelas Aydin bisa melihat kegelisahan pada Risa.
Satu per satu cerita masa lalu Aydin dan Eijaz mulai mengalir, memecah kecanggungan yang Risa rasakan.
Dalam hati Aydin bertekad, “Hari ini aku akan mencari jawaban dari kekhawatiranku.”
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
Kebaikan yang begitu besar, dapat membuat pengkhianatan terasa begitu kecil dalam sebuah hubungan persahabatan.
__ADS_1