Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 129. Tak ada kabar


__ADS_3

Perasaan ini jauh terasa lebih buruk dari pada dibenci.


Perasaan yang membuatmu merasa sendiri meski sedang bersama.


Suatu saat kata rindu tak akan berarti lagi.


Ketika bukan aku yang memilih pergi, tapi kamu yang membiarkanku pergi.


Kau, mengabaikanku.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Fajar mulai menyingsing, cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur mulai nampak, sebagai pertanda jika saat ini waktu mengistirahatkan tubuh telah usai.


Sekiranya begitulah yang dirasakan seorang wanita yang kemarin baru saja mengalami sesuatu yang hampir mengancam nyawanya.


Rasa syukur menghinggapi hati wanita yang tak lain adalah Risa.


Jika setiap harinya Ia akan berterima kasih karena Ia masih diberkahi, hingga bisa bangun dan kembali menjalani hari yang baru, namun hari ini terasa berbeda.


Rasa syukurnya teramat besar, ingin sekali Ia sampaikan pada Sang Pencipta, Sang Pemilik Kehidupan.


Setelah kemarin Ia hampir berada diujung kehidupannya, ternyata Ia masih diberikan kesempatan untuk kembali menikmati pahit manisnya kehidupan.


Lewat kaca jendela besar pada ruang rawatnya, kedua netra indah Risa sedang menikmati keindahan langit saat sang surya, tanpa lelah, tanpa bosan, dan tanpa syarat perlahan-lahan selalu kembali menyapa seisi dunia.


Namun siapa sangka jika bagi seorang Risa, bukan hanya sinar sang surya saja yang bisa menghangatkannya.


Ia memiliki 1 hal lagi yang bisa menghangatkan hatinya.


Netranya mencari, menyusuri ke sekeliling ruangan yang cukup besar, hening, sepi, begitulah yang Ia rasakan saat ini.


Seorang pria tertidur di sofa dalam keadaan duduk dengan kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri guna menghalau rasa dingin.


Bukan.


Bukan sosok itu yang Risa cari.


Pria itu bukan kekasihnya, bukan pria yang beberapa minggu lalu meminta dirinya untuk menjadi pendamping hidupnya, dan bukan pula pria yang beberapa malam lalu masih mencumbunya dengan kenangan rasa yang masih tersimpan di benak Risa.


“Kemana Aydin?” pikirnya.


Mengingat kebiasaan Aydin yang tak pernah meninggalkan sarapan, Risa mencoba berpikir positif jika prianya sedang pergi membeli makanan. Meski biasanya untuk hal-hal kecil seperti itu akan disiapkan oleh Chandra, pria yang sedang tertidur di sofa.


Tiga puluh menit telah berlalu, tak ada tanda-tanda Aydin akan kembali. Risa semakin diselimuti oleh banyak tanda tanya.


Pintu ruangan diketuk, dan terdengar suara pintu yang terbuka.


Besar harapan Risa jika wajah tampan Aydin yang akan terlihat menyapanya.


Namun sayang semua hanya tinggal harapan, seorang petugas dengan nampan pada kedua tangannya menyapa Risa dengan ramah.


“Selamat pagi Nona, bagaimana kabar Anda hari ini?” sapanya ramah.


“Sudah lebih baik, terimakasih.” Balasnya dengan senyum.


“Wah ternyata Anda benar-benar cantik. Jauh lebih cantik, dari yang biasa saya lihat di TV.” Pujinya.


“Terimakasih, tapi Anda terlalu memujiku.” Risa merendah.


Obrolan Risa dan petugas, sepertinya mengusik tidur Chandra.


Chandra meregangkan otot-ototnya yang terasa tak nyaman. Mungkin karena Ia terlalu lama tidur dalam posisi duduk.


“Eeeuuuugggghhhhhh,” lenguhnya.


Merasa seperti ada yang mengawasinya, Chandra berbalik dan mendapati 2 pasang mata tengah mengawasinya.


“Saya permisi, selamat menikmati Nona dan semoga Anda cepat sembuh.” Ucap petugas dengan kekehan kecil saat menatap Chandra.


Setelah kepergian petugas itu, awalnya keadaan cukup canggung bagi Risa dan Chandra.


“Maaf telah mengganggu tidurmu, Chandra.” Ucap Risa.


“Tak apa Nona, harusnya saya yang minta maaf. Tugas saya menjaga Anda, tapi saya malah tertidur.” Sesalnya.

__ADS_1


“Sekali lagi saya minta maaf.”


Risa tersenyum. Senyuman yang sangat manis.


Chandra harus mengakuinya.


“Tak apa, aku tahu kau pasti lelah.” Balasnya.


“Tapi Chandra, apa kamu tahu Aydin pergi kemana? Sejak aku bangun dia sudah tak ada di sini.”


Sedikit ada jeda waktu untuk Chandra menjawab pertanyaan Risa.


“Ehhhmmm, Pak Bos sejak semalam masih menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena batal ke luar kota.” Jawab Chandra.


Sesuai dengan jawaban yang diberi Aydin.


Risa hanya mengangguk, namun dari raut wajahnya jelas sekali jika ada hal yang mengganggu pikiran wanita cantik itu.


Entahlah, apa yang dirasakan Risa kini. Di satu sisi Ia merasa bersalah, mengira Aydin membatalkan pertemuan karena dirinya.


Namun tak bisa Ia tampik, jika Ia cukup kecewa saat tahu semalam tak ada Aydin di sisinya. Dua kali Risa harus di rawat di rumah sakit, dan dua kali pula Aydin tak tinggal di sisinya.


“Ada apa Nona, apa anda perlu sesuatu?” tanya Chandra membuyarkan lamunan Risa.


Cukup lama Risa bungkam.


“Aku hanya butuh kau yang tidak bersikap kaku. Santai saja, aku bukan Aydin, aku bukan atasanmu. Kita teman,” pinta Risa.


“Bagaimana yah Nona, mana mungkin saya bisa bersikap seperti itu pada Nona. Sebentar lagi Nona juga atasan saya, tepatnya istri dari Pak Aydin.” Jelasnya.


Risa tertawa, tak Ia duga jika Chandra ternyata bisa juga diajak mengobrol.


“Kalau begitu, jika tak ada bosmu mari kita bersikap layaknya teman. Tapi jika ada, semuanya kukembalikan padamu. Terserah padamu saja, bagaimana?” tawar Risa.


Chandra mengangguk. Risa memang berbeda, pantas saja bosnya yang dulu anti pada wanita bisa dengan mudah melabuhkan hati padanya.


“Bagus. Karena kita teman, mari kita sarapan bersama. Aku sungguh lapar, sepertinya aku tertidur terlalu lama hingga melewatkan jam makan malamku.” Celoteh Risa.


Chandra menatap tak percaya pada Risa. Wanita itu benar-benar serius dengan ucapannya. Tak ada kecanggungan darinya.


“Hei, kau malah melamun. Kemarilah, kita makan di sini saja. Aku kesulitan jika harus ke meja makan.” Sambungnya dengan menaikkan tangannya yang terbungkus perban.


Ia duduk di tepi ujung tempat tidur Risa, saling berhadapan dengan meja makan dorong sebagai pembatasnya.


Risa mulai menyendokkan sedikit bubur dan lauk ke piringnya, diam sebentar untuk membaca doa sebelum akhirnya Ia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Sesendok, lalu sesendok lagi, lalu tiba-tiba gerakan tangannya terhenti.


Risa mengetuk meja dihadapan Chandra, “Hei.... kau melamun? Mengapa tak makan?”


Chandra tersentak, “Silahkan anda saja yang makan, sepertinya anda sangat lapar.”


“Ya, sudah ku katakan jika aku sangat lapar.” Balasnya dengan mulut yang terus mengunyah makanannya.


“Berhenti membahasku, sekarang kenapa kau tak makan? Apa kau tak suka dengan makanan rumah sakit?” tebaknya.


Chandra menggeleng.


“Bukan seperti itu, tapi aku tidak begitu suka bubur,” jujurnya.


Risa berdecih, “Itu karena kau tak mendengarkan ucapanku dengan baik. Aku tak memintamu makan bubur, ini milikku. Makananmu ada disini.”


Ucap Risa. Wanita itu menyodorkan beberapa wadah yang masih tertutup, Ia betul-betul bersikap layaknya teman pada Chandra.


Meski canggung, Chandra tetap memakan sarapannya.


“Makanlah yang banyak, dan jangan lagi bersikap kaku padaku.” Ujarnya.


♡♡♡♡♡♡♡


Sinar matahari semakin menyengat, hari ini Ia benar- benar bersinar dengan angkuhnya.


Risa mulai gelisah, tak ada tanda-tanda Aydin akan datang. Semakin parah karena pria itu tak bisa dihubungi.


Mama Indira, Ayana, dan Dafha yang datang menjenguk juga dibuat bingung dengan keberadaan Aydin saat ini.

__ADS_1


Bahkan hingga sore menjelang, saat para penjenguk sudah kembali pulang. Tak ada tanda-tanda Aydin akan datang.


“Kemana kamu Ay? Semoga kamu baik-baik saja.”


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Malampun menjelang, pikiran Risa masih terus dihantui oleh berbagai pertanyaan mengenai keberadaan pria yang masih berstatus calon suaminya.


Seharian ini, Chandra yang bersama Risa.


Pria itu sungguh menyayangkan sikap bosnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi juga masih menjadi tanda tanya bagi Chandra.


“Semalam Ia juga tak pulang ke rumah orang tuanya, mungkinkah dia?” gumam Risa lirih.


“Jangan berpikiran aneh. Sebaiknya kamu doakan saja, semoga dia baik- baik saja dimanapun dan apapun yang sedang dia lakukan.” Ucap Chandra.


Risa yang berada di kursi roda dengan Chandra yang mendorongnya, membuat Chandra tentu saja bisa mendengar gumaman Risa.


“Chandra bisakah kau membantuku ke atas sana?” Pinta Risa dengan menunjuk ke arah taman di rooftop rumah sakit.”


“Hemmmm, tapi angin malam tidak baik untuk kesehatan.” Tolak Chandra.


Ia tak ingin ambil resiko jadi objek kemarahan Aydin jika tau dia ke taman berdua bersama Risa.


Namun bungkamnya wanita itu membuat Chandra jadi tak tega. Pagi hari Ia masih melihat tawa dan semangat wanita itu.


Hingga Dafha datang dan membuatnya seakan melupakan ketidak hadiran Aydin.


Namun saat semua orang sudah pergi, Risa lebih banyak diam. Dan terlihat memendam beban pikiran.


“Tapi karena hari ini adalah hari pertama kita jadi teman, aku akan membawamu kesana untuk merayakannya. Bagaimana, kau setuju?”


Risa tersenyum. “Tentu saja, teman.” Jawabnya.


Keduanya bergegas menuju ke taman roof top. Di sana Risa terus mengoceh betapa bingungnya dia dengan sikap Aydin.


“Apa Aydin marah padaku?”


“Apa Aydin kesal karena pekerjaannya di luar kota harus batal karenaku?”


“Apa Aydin sudah sadar jika dia sebenarnya tidak mencintaiku?”


Begitulah ocehan Risa saat berada di roof top.


Yah, itu ocehan bukan pertanyaan. Karena Risa tak tahu harus bertanya pada siapa dan Ia juga tak mendapat jawaban apapun.


♡♡♡♡♡♡♡


Chandra mendorong kursi roda Risa kembali ke kamar. Cukup lama mereka di atas sana. Sudah banyak pula isi hati Risa yang didengar oleh Chandra.


“Kau tak takut jika aku melaporkan ke Aydin jika kamu mengumpatinya?” tanya Chandra.


Risa menggeleng, “Tidak. Dia hanya atasanmu dan kita adalah teman. Teman tak saling menghianati.”


Jawaban Risa membuat Chandra semakin yakin, bosnya sangat keterlaluan, tega membuat wanita sebaik Risa bersedih.


Tawa Chandra dan Risa menarik perhatian dua orang pria yang berdiri di depan pintu ruang rawat Risa.


“Dari mana kalian?” suara datar dan dingin yang sangat dikenali Chandra dan Risa.


“Kenapa?”


Singkat. Jawaban Risa teramat singkat.


Bahkan itu bukan jawaban, itu pertanyaan.


Chandra bisa melihat tatapan kemarahan di mata Aydin padanya, juga pada Risa.


Terlebih saat melihat jaket yang Chandra sampirkan di pundak Risa, tangan pria itu mengepal.


“Kenapa berhenti, ayo dorong kursinya masuk. “ Ucap Risa dengan nada memerintah, sangat berbeda dengan sebelumnya, saat mereka masih menjadi teman.


Sebelum masuk, Risa sempatkan untuk pamit Pada Dokter Hendra yang sejak tadi sudah menatap heran pada interaksi pasangan yang kerap kali terlihat mesra.


“Mungkin mereka sedang bertengkar.” Batin dokter Hendra. Dokter muda itu melangkah pergi setelah Risa masuk ke ruang rawatnya diikuti Chandra dan Aydin.

__ADS_1


♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡


Kamu di sini, tapi mengapa sepi tak mau pergi.


__ADS_2