
" Daddy ..... kenapa kaos kaki Dafha malah di masukin ke dalam tas ? " pertanyaan polos dari seorang anak kecil .
" Astaga... Dafha.. maaf maaf . Daddy kok jadi bingung gini sih ... " Ujar Aydin .
Pagi ini di kediaman Aydin , pria itu sedang kerepotan mengurus putranya .
Suster yang biasanya mengurus Dafha tiba tiba izin pulang kampung .
Jadilah Aydin pagi ini harus berangkat lebih lambat dari biasanya .
Namun sebenarnya di balik itu semua , saat ini Aydin kepikiran dengan wanita yang semalam bersama Gio .
Entah mengapa Ia bisa mengira jika wanita itu adalah Risa .
Semalaman Ia tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu . Sudah berkali kali juga Ia ingatkan dirinya , jika memang benar dia Risa maka hal itu juga tidak seharusnya jadi masalah .
Namun tetap saja perasaannya gelisah . Aydin akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung , namun sialnya dia bahkan tidak punya nomor ponsel Risa . Jadilah semalam tidurnya tidak nyenyak dan pagi ini dia uring uringan .
Di tempat lain , Risa sedang mengantri untuk di sebuah kedai kopi .
Sudah tiba giliran Risa , namun Ia malah membiarkan antrian di belakangnya maju lebih dulu .
" Silahkan duluan saja , saya masih menunggu . " Ujarnya pada orang yang berdiri mengantri di belakangnya .
Hal itu berulang beberapa kali . Hingga hampir 30 menit berlalu .
Jika bukan karena Esme yang menghubungi ponselnya , mungkin Risa masih betah menunggu .
Risa kembali dengan lesu dengan wajah ditekuk .
" Lama benerrr... kopinya mana ? " tanya Esme .
Risa menggeleng .
" Kok hari ini Aydin gak beli kopi ? " gumam Risa .
Esme menepuk jidatnya . " Astaga ... semoga gue gak jadi gila kalau nanti jatuh cinta . "
Pagi ini Risa dan Esme akan pergi ke rumah pohon yang dulu diberikan Rani untuknya sebagai hadiah ulang tahun yang ke 17 .
Risa sebenarnya sudah lupa dimana tempat rumah pohon itu , namun Esme berhasil menemukannya .
Dari informasi , rumah pohon itu sudah lapuk . Mungkin karena tak terawat .
Jadilah pagi ini mereka berdua sudah janjian dengan orang yang bisa memperbaiki rumah pohon itu .
Esme menepikan mobilnya di depan gang kecil .
Keduanya lalu berjalan masuk cukup jauh . Risa sedikit kesulitan berjalan karena menggunakan sepatu high heels .
Akhirnya sampailah mereka pada sebuah halaman luas . Pohon besar dan rumah pohonnya masih ada disana .
Air mata Risa tak bisa terbendung lagi .
Saat ini semua kenangannya bersama Rani di tempat itu bagai film di kepalanya .
Rumah pohon ini dulu tempatnya mencurahkan semua rasa sakit yang Ia derita . Tempatnya beristirahat di kala lelah . Tempatnya menenangkan diri saat rasanya beban terasa sangat berat .
Ingin sekali rasanya Risa naik ke atas rumah pohon . Seingatnya dulu ada banyak hal yang Ia tinggalkan disana . Tapi Esme dan pekerja yang akan membuat ulang rumah pohon mencegahnya . Rumah pohon itu sudah terlalu rapuh , bisa bahaya bagi Risa .
Setelah memberitahu semua yang dia ingat tentang detail dari rumah pohon , Risa dan Esme pergi dari tempat itu .
" Sekarang mau kemana lagi ? " tanya Esme .
" Ke sekolahan Dafha aja . " ujar Risa .
Esme melirik jam di pergelangan tangannya .
" Kalau kesana sekarang udah telat , paling juga Dafha udah balik . "
" Tapi aku kangen banget sama Dafha . Aku juga kok tiba tiba kepikiran bocah itu . " ujar Risa .
Esme membelokkan arah laju mobilnya menuju sekolah Dafha .
Di perempatan jalan Esme kembali menggoda Risa .
" Gak jauh setelah belok kiri ada Mall , kamu bisa belanja . Kalau belok kanan berarti ke sekolahan . Tetap mau belok kanan nih ? Yakin ? "
Risa menutup kedua telinganya dengan tangan sambil menggeleng gelengkan kepalanya . Seolah tak akan terpengaruh mendengar ucapan Esme .
__ADS_1
Sesuai dugaan , sekolah Dafha sudah sepi . Gerbang sudah tertutup .
Risa turun dari mobil , berdiri ditempat biasa Dafha menunggu .
" Permisi Neng , nyari siapa ? " tanya seorang sekuriti .
" Saya rencananya mau ketemu murid yang bernama Dafha . Tapi sepertinya udah telat , semua murid udah pulang kan Pak ? " ujar Risa .
" Udah Neng . Sekolahan udah kosong . Tapi den Dafha tadi kasian , tumben gak di jemput sama dedinya . "
" Hah ? Gak di jemput ? Terus Dafha dijemput siapa ? " Tanya Risa .
" Den Dafha jalan sendirian kesana Neng . Katanya ada siapa gitu yang nungguin di sana . Siapa yah .. mamang lupa kalau gak salah kata den Dafha uti .. oti .. .."
" Aunty ? " ujar Risa mengoreksi ucapan sekuriti .
" Iya bener Neng , itu dia . "
Risa segera kembali ke mobil . Perasaannya sejak tadi memang terus menghawatirkan Dafha .
" Kenapa Ris ? " tanya Esme melihat Risa panik .
" Dafha ... eonni .... hiks.. hiks... " ujar Risa sambil terisak .
" Kata sekuriti tadi daddynya gak jemput . Terus Dafha jalan sendirian kesana . "
Risa menunjuk ke jalan pertigaan tempat biasanya Risa dan Esme memarkirkan mobilnya saat menemui Dafha .
Mobil berjalan pelan , sepanjang jalan itu Risa dan Esme fokus menatap ke jalan mencari sosok anak laki laki bertubuh gempal .
" Harusnya sih Dafha masih disekitaran sini . Kan baru 30 menit juga dari jam pulang sekolahnya . " ujar Esme dan segera di amini oleh Risa .
Hingga tiba di ujung jalan , Esme menepikan mobilnya . " Kita berpencar aja Ris , aku ke kiri kamu ke kanan . " saran Esme .
Risa mengangguk . Sebelum turun tak lupa Ia memakai topi dan masker . Karena berita tentang kolaborasi dirinya dan Stars Academy sudah mulai diberitakan di TV .
Risa berjalan pelan . Melihat di setiap toko yang berjejer rapih di pinggir jalan berharap Dafha ada disana .
Namun hasilnya nihil . Risa akan berjalan kembali namun di seberang jalan dia melihat anak kecil yang sedang duduk di bawah pohon .
" Dafha ... itu Dafha ..." Ujar Risa . Ia mengenali topi sekolah milik Dafha .
Risa menyebrangi jalan dengan terburu buru . Sampai ada beberapa pengendara jalan yang mengumpatinya , tapi Risa seakan tuli . Yang dia inginkan hanya segera bertemu dengan Dafha .
" Dafha... sayang .... " panggilnya lembut lalu berlutut agar bisa menyamakan tigginya .
" Aa... uunnty ... hiks hiks ... Dafha takut . " ujarnya sambil terisak .
" Sstttt sssttt .... sayang .. jangan takut .. sekarang udah ada aunty yah .. jangan nangis lagi . " ujar Risa menenangkan Dafha .
Perlahan Dafha mulai berhenti terisak . Dafha memeluk erat tubuh Risa .
__ADS_1
Risa menghubungi Esme untuk menjemput mereka berdua .
Di mobil Dafha bercerita jika dia menunggu Risa tapi Risa tidak datang . Daddynya juga tak kunjung datang . Akhirnya dia memilih untuk berjalan ke tempat biasa dia melihat mobil Risa dan Esme .
" Maafin aunty yah sayang . Sekarang aunty antar kamu ke tempat daddy . " ujar Risa .
" Apa ? Nganter ke daddy nya ? Terus semuanya terbongkar ? " tanya Esme .
" Lah terus gimana ? "
" Anterin ke sekolahan , nanti sekolah yang hubungin Daddynya . " saran Esme .
" Tapi .... di sekolahan udah gak ada orang . Cuma sekuriti aja . " ujar Risa .
Suasana hening . Dafha menatap kedua aunty yang selesai berdebat .
Dafha yang duduk dipangkuan Risa kini sibuk membuka tasnya . Mengeluarkan kertas kecil dari dalam kotak pensilnya dan memberi pada Risa .
" Daddy bilang kalau aku tersesat , minta polisi atau orang yang nolong hubungin ke situ . " ujar Dafha .
Risa berpikir sejenak . Sudah ada ide di benaknya , tinggal menjelaskan ke Dafha yang sulit .
" Dafha ... kamu masih ingatkan sama misi rahasia kita ? " tanya Risa dan Dafha mengangguk .
" Sekarang Aunty masih belum berhasil jadi teman Daddy . Aunty sekarang masih jadi orang asing . " ujarnya .
" Jadi kalau Dafha mau aunty nganterin ke Daddy , kita masih harus rahasiain misi kita . Nanti bilang aja Dafha tersesat terus aunty nolongin lewat kartu itu . Gimana ? " tanya Risa .
Dafha mengangguk .
" Dafha udah paham kan ? " ulang Risa sekali lagi dan Dafha mengangguk .
Risa menatap Esme .
" Ya udah anterin aja yuk . " ujar Risa .
" Kamu ajarin anak orang bohong , dosa tau gak . " ujar Esme sambil tertawa .
" Mau gimana lagi, dari pada semua sia sia . Anggap aja ini bohong demi kebaikan . " balas Risa .
Sedangkan Dafha hanya menatap kedua aunty dengan wajah bingung karena Risa dan Esme berbicara dengan bahasa korea .
.
.
.
.
.
“*Tapi, inilah yang berbahaya dari cinta, kita tak pernah bisa merencanakan dan memilih kepada siapa akan jatuh cinta.” (Saia, Djenar Maesa Ayu*)
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue