Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 24 . Dafha menghilang


__ADS_3

" Daddy ..... kenapa kaos kaki Dafha malah di masukin ke dalam tas ? " pertanyaan polos dari seorang anak kecil .


" Astaga... Dafha.. maaf maaf . Daddy kok jadi bingung gini sih ... " Ujar Aydin .


Pagi ini di kediaman Aydin , pria itu sedang kerepotan mengurus putranya .


Suster yang biasanya mengurus Dafha tiba tiba izin pulang kampung .


Jadilah Aydin pagi ini harus berangkat lebih lambat dari biasanya .


Namun sebenarnya di balik itu semua , saat ini Aydin kepikiran dengan wanita yang semalam bersama Gio .


Entah mengapa Ia bisa mengira jika wanita itu adalah Risa .


Semalaman Ia tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu . Sudah berkali kali juga Ia ingatkan dirinya , jika memang benar dia Risa maka hal itu juga tidak seharusnya jadi masalah .


Namun tetap saja perasaannya gelisah . Aydin akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung , namun sialnya dia bahkan tidak punya nomor ponsel Risa . Jadilah semalam tidurnya tidak nyenyak dan pagi ini dia uring uringan .



Di tempat lain , Risa sedang mengantri untuk di sebuah kedai kopi .



Sudah tiba giliran Risa , namun Ia malah membiarkan antrian di belakangnya maju lebih dulu .



" Silahkan duluan saja , saya masih menunggu . " Ujarnya pada orang yang berdiri mengantri di belakangnya .



Hal itu berulang beberapa kali . Hingga hampir 30 menit berlalu .



Jika bukan karena Esme yang menghubungi ponselnya , mungkin Risa masih betah menunggu .



Risa kembali dengan lesu dengan wajah ditekuk .



" Lama benerrr... kopinya mana ? " tanya Esme .



Risa menggeleng .



" Kok hari ini Aydin gak beli kopi ? " gumam Risa .



Esme menepuk jidatnya . " Astaga ... semoga gue gak jadi gila kalau nanti jatuh cinta . "



Pagi ini Risa dan Esme akan pergi ke rumah pohon yang dulu diberikan Rani untuknya sebagai hadiah ulang tahun yang ke 17 .


Risa sebenarnya sudah lupa dimana tempat rumah pohon itu , namun Esme berhasil menemukannya .


Dari informasi , rumah pohon itu sudah lapuk . Mungkin karena tak terawat .


Jadilah pagi ini mereka berdua sudah janjian dengan orang yang bisa memperbaiki rumah pohon itu .


Esme menepikan mobilnya di depan gang kecil .


Keduanya lalu berjalan masuk cukup jauh . Risa sedikit kesulitan berjalan karena menggunakan sepatu high heels .


Akhirnya sampailah mereka pada sebuah halaman luas .  Pohon besar dan rumah pohonnya masih ada disana .


Air mata Risa tak bisa terbendung lagi .


Saat ini semua kenangannya bersama Rani di tempat itu bagai film di kepalanya .


Rumah pohon ini dulu tempatnya mencurahkan semua rasa sakit yang Ia derita . Tempatnya beristirahat di kala lelah . Tempatnya menenangkan diri saat rasanya beban terasa sangat berat .


Ingin sekali rasanya Risa naik ke atas rumah pohon . Seingatnya dulu ada banyak hal yang Ia tinggalkan disana .  Tapi  Esme dan pekerja yang akan membuat ulang rumah pohon mencegahnya .  Rumah pohon itu sudah terlalu rapuh , bisa bahaya bagi Risa .


Setelah memberitahu semua yang dia ingat tentang detail dari rumah pohon , Risa dan Esme pergi dari tempat itu .


" Sekarang mau kemana lagi  ? " tanya Esme .


" Ke sekolahan Dafha aja . " ujar Risa .


Esme melirik jam di pergelangan  tangannya .


" Kalau kesana sekarang udah telat , paling juga Dafha udah balik . "


" Tapi aku kangen banget sama Dafha . Aku juga kok tiba tiba kepikiran bocah itu . " ujar Risa .


Esme membelokkan arah laju mobilnya menuju sekolah Dafha .


Di perempatan jalan Esme kembali menggoda Risa .


" Gak jauh setelah belok kiri ada Mall , kamu bisa belanja . Kalau belok kanan  berarti ke sekolahan . Tetap mau belok kanan nih ? Yakin ? "


Risa menutup kedua telinganya dengan tangan sambil menggeleng gelengkan kepalanya .  Seolah tak akan terpengaruh mendengar ucapan Esme .


__ADS_1



Sesuai dugaan , sekolah Dafha sudah sepi .  Gerbang sudah tertutup .



Risa turun dari mobil , berdiri ditempat biasa Dafha menunggu .



" Permisi Neng , nyari siapa ? " tanya seorang sekuriti .



" Saya rencananya mau ketemu murid yang bernama Dafha .  Tapi sepertinya udah telat , semua murid udah pulang kan Pak ? " ujar Risa .



" Udah Neng . Sekolahan udah kosong . Tapi den Dafha tadi kasian , tumben gak di jemput sama dedinya . "



" Hah ? Gak di jemput ? Terus Dafha dijemput siapa ? " Tanya Risa .



" Den Dafha jalan sendirian kesana Neng . Katanya ada siapa gitu yang nungguin di sana . Siapa yah .. mamang lupa kalau gak salah kata den Dafha uti .. oti .. .."



" Aunty  ? " ujar Risa mengoreksi ucapan  sekuriti .



" Iya bener Neng , itu dia . "



Risa segera kembali ke mobil . Perasaannya sejak tadi memang terus menghawatirkan Dafha .



" Kenapa Ris ? " tanya Esme melihat Risa panik .



" Dafha ... eonni .... hiks.. hiks... "  ujar Risa sambil terisak .



" Kata sekuriti tadi daddynya gak jemput . Terus Dafha jalan sendirian kesana . "


Risa menunjuk ke jalan pertigaan tempat biasanya Risa dan Esme memarkirkan mobilnya saat menemui Dafha .




Mobil berjalan pelan , sepanjang jalan itu Risa dan Esme fokus menatap ke jalan mencari sosok anak laki laki bertubuh gempal .



" Harusnya sih Dafha masih disekitaran sini . Kan baru 30 menit juga dari jam pulang sekolahnya . " ujar Esme dan segera di amini oleh Risa .



Hingga tiba di ujung jalan , Esme menepikan mobilnya . " Kita berpencar aja Ris , aku ke kiri kamu ke kanan . " saran Esme .



Risa mengangguk . Sebelum turun tak lupa Ia memakai topi dan masker . Karena berita tentang kolaborasi dirinya dan Stars Academy sudah mulai diberitakan di TV .



Risa berjalan pelan . Melihat di setiap toko yang berjejer rapih di pinggir jalan berharap Dafha ada disana .



Namun hasilnya nihil . Risa akan berjalan kembali namun di seberang jalan dia melihat anak kecil yang sedang duduk di bawah pohon .



" Dafha ... itu Dafha ..." Ujar Risa .  Ia mengenali topi sekolah milik Dafha .



Risa menyebrangi jalan dengan terburu buru . Sampai ada beberapa pengendara jalan yang mengumpatinya , tapi Risa seakan tuli . Yang dia inginkan hanya segera bertemu dengan Dafha .



" Dafha... sayang .... " panggilnya lembut lalu berlutut agar bisa menyamakan tigginya .



" Aa... uunnty ... hiks hiks ... Dafha takut . "  ujarnya sambil terisak .



" Sstttt sssttt .... sayang .. jangan takut .. sekarang udah ada aunty yah .. jangan nangis lagi . " ujar Risa menenangkan Dafha .



Perlahan Dafha mulai berhenti terisak . Dafha memeluk erat tubuh Risa .

__ADS_1



Risa menghubungi Esme untuk menjemput mereka berdua .



Di mobil Dafha bercerita jika dia menunggu Risa tapi Risa tidak datang . Daddynya juga tak kunjung datang . Akhirnya dia memilih untuk berjalan ke tempat biasa dia melihat mobil Risa dan Esme .



" Maafin aunty yah sayang . Sekarang aunty antar kamu ke tempat daddy . " ujar Risa .



" Apa ? Nganter ke daddy nya ? Terus semuanya terbongkar ? " tanya Esme .



" Lah terus gimana ? "



" Anterin ke sekolahan , nanti sekolah yang hubungin Daddynya . " saran Esme   .



" Tapi .... di sekolahan udah gak ada orang . Cuma sekuriti aja . " ujar Risa .



Suasana hening . Dafha menatap kedua aunty yang selesai berdebat .



Dafha yang duduk dipangkuan Risa kini sibuk membuka tasnya . Mengeluarkan kertas kecil dari dalam kotak pensilnya dan memberi pada Risa .



" Daddy bilang kalau aku tersesat , minta polisi atau orang yang nolong hubungin ke situ . " ujar Dafha .



Risa berpikir sejenak . Sudah ada ide di benaknya , tinggal menjelaskan ke Dafha yang sulit .



" Dafha ... kamu masih ingatkan sama misi rahasia kita ? " tanya Risa dan Dafha mengangguk .



" Sekarang Aunty masih belum berhasil jadi teman Daddy . Aunty sekarang masih jadi orang asing .  " ujarnya .



" Jadi kalau Dafha mau aunty nganterin ke Daddy , kita masih harus rahasiain misi kita . Nanti bilang aja Dafha tersesat terus aunty nolongin lewat kartu itu . Gimana ? " tanya Risa .



Dafha mengangguk .



" Dafha udah paham kan ? " ulang Risa sekali lagi dan Dafha mengangguk .



Risa menatap Esme .



" Ya udah anterin aja yuk . " ujar Risa .



" Kamu ajarin anak orang bohong , dosa tau gak . " ujar Esme sambil tertawa .



" Mau gimana lagi, dari pada semua sia sia . Anggap aja ini bohong demi kebaikan . "  balas Risa .



Sedangkan Dafha hanya menatap kedua aunty dengan wajah bingung karena Risa dan Esme berbicara dengan bahasa korea .



.


.


.


.


.


“*Tapi, inilah yang berbahaya dari cinta, kita tak pernah bisa merencanakan dan memilih kepada siapa akan jatuh cinta.” (Saia, Djenar Maesa Ayu*)


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2