Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 83. Tumbang


__ADS_3

“Disaat semua anak berlomba-lomba memuliakan orang tuanya, lihatlah yang aku lakukan. Aku mengantarkan Ayahku menuju dinginnya lantai sel penjara.”


“Disaat semua anak berlomba-lomba membahagiakan orang tuanya, lihatlah yang aku lakukan. Aku menghancurkan kehidupan sempurna Ayahku.”


“Tolong beri aku jawaban, apa aku telah mendurhakai ayahku?”


“Tolong beri aku jawaban, apa aku telah mempersempit duniaku karena lebih banyak mencerca Ayahku dari pada mendoakannya?”


“Tuhan ku mohon, tolong beri aku petunjuk untuk semua pertanyaanku.


-Brisa Elzavira


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Akhirnya kedua mata Risa yang telah lelah menangis kini terpejam.


Memprihatinkan.


Duduk di lantai yang beralaskan karpet, menyandarkan tubuhnya di balik sofa.


Dipeluknya kedua lutut yang Ia lipat di depan dadanya.


Kepalanya menengadah ke gelapnya langit yang bisa Ia pandangi dari jendela kamarnya.


Tubuhnya yang dingin tidak membuat Risa berniat beranjak dari tempatnya.


“Ibu.... Tidakkah kau salah memberiku nama Brisa? Aku ini wanita yang tak punya cinta Bu.


"Aku wanita tega, aku jebloskan Ayahku sendiri ke penjara Bu? Bukankah cinta selalu memiliki tempat untuk kata maaf? Kenapa aku belum bisa memaafkan Ayah dan Indri sepenuh hatiku.”


“Aku wanita yang angkuh Bu, aku bahkan tidak mengakui perasaan cintaku pada seorang pria.”


Risa terus menangis, perasaan bersalahnya begitu besar.


Kehidupan Ayah dan Ibu tirinya seketika hancur. Bahkan kini nyawa Adik tirinya setiap saat terancam bahaya.


Dan dia ambil andil dalam mewujudkan hal itu.


Lelah menengadah namun tak ada jawaban yang Ia tunggu, Risa menelungkupkan wajahnya di atas lutut yang kini Ia peluk.


Pundaknya makin terlihat bergetar dalam posisi ini . Hingga matanya tak bisa lagi bertahan untuk terus terjaga.


Perlahan kedua netra itu terpejam , bahkan dalam posisi yang sangat tidak nyaman seperti saat ini.


♡♡♡♡♡♡♡


Beberapa menit kemudian, pintu kamar Risa diketuk dari luar oleh Martha.


Tak ada jawaban sama sekali, membuat wanita paruh baya itu seketika cemas.


Di bukanya pintu kamar Risa dan tak terlihat sosok yang Ia cari.


Melangkah cepat menuju kamar mandi, juga tak ada di sana.


Cahaya dari jendela yang tirainya terbuka cukup mengganggu pandangaMarthan .


Saat Ia hendak menutup tirai, betapa terkejutnya Ia melihat Risa duduk di lantai yang beralas karpet.


Martha bersimpuh pada lututnya, menyejajarkan tingginya dengan Risa.


Dengan lembut Ia menepuk pundak Risa, namun tak ada jawaban.


Martha mencari celah untuk melihat mata Risa, dan benar kedua netra itu kini terpejam.

__ADS_1


Ia lalu berlari keluar kamar memanggil suaminya.


“Yeobo, ayo ke kamar Risa. Dia .... “


Belum selesai istrinya bicara tapi hanya dengan melihat raut wajah Martha yang panik, pria paruh baya itu segera berlari ke kamar putri angkatnya.


Martha hanya mengikuti saja di belakang suaminya.


“Risa... Risa...” teriaknya memanggil nama putri bungsunya.


Martha segera menepuk punggung suaminya yang telah membuat keributan.


“Sssstttt...., kenapa malah membuat keributan. Jangan sampai Risa terbangun, dia sulit tidur akhir-akhir ini.” Tegur Martha.


Pria bernama Kim Baek Ahn itu mengedarkan pandangannya ke tempat tidur dan mengernyit karena Risa tak ada disana.


Martha melangkah ke tempat terakhir Ia menemukan Risa, namun betapa terkejutnya ketika melihat putri bungsunya itu sudah terkapar di lantai.


Kim Baek Ahn segera mengangkat tubuh Risa ke atas tempat tidur.


“Bagaimana ini? Apa kita bawa ke rumah sakit? Dia demam. “ Ujar Martha setelah meletakkan telapak tangan di dahi Risa.


“Hubungi Amora, minta dia memanggil dokter. Jika Risa dibawa ke rumah sakit, pasti akan banyak berita yang muncul di publik.” Ucap Kim Baek Ahn.


Martha segera menghubungi Amora, memberitahu keadaan Risa.


Setelah menghubungi dokter pribadi Gio, sepasang kekasih itu akhirnya memilih untuk kembali ke apartemen karena cemas dengan keadaan Risa.


Begitu juga dengan Esme dan Echa, keduanya juga bergegas kembali ke apartemen saat mendengar kabar dari Amora.


Dokter pribadi keluarga Gio tiba lebih dulu. Segera Ia memeriksa keadaan Risa.


“Nona Risa sepertinya kelelahan dan sedang banyak pikiran.“ Ucap sang dokter.


“Saya berikan resep obat penurun demam dan vitamin, Saya permisi.” Pamitnya.


Echa yang kini bertugas ke apotik untuk menebus resep dokter.


Setelah mendapatkan obat yang dicarinya, Ia kembali ke apartemen.


Betapa terkejutnya Echa saat melihat dua pria berbeda usia yang baru turun dari mobilnya.


Pria yang lebih dewasa terlihat mendorong koper berwarna biru dengan gambar salah satu super hero di serial avengers dengan satu tangannya, dan tangan lainnya memegang tangan seorang anak laki-laki.


“Aydin, Dafha, “ teriak Echa, sembari berlari menghampiri keduanya.


“Hai Cha,” balas Aydin.


“Kalian berdua sekarang juga pindah ke apartemen ini?” tanya Echa menyelidik.


“Ayolah Cha, kau pasti tau tempat mana yang ku tuju jika kemari.” Jawab Aydin.


Echa terkekeh.


“Kau tau dari mana jika Risa sakit?” tanya Echa membuat mata si kecil Dafha mulai berkaca-kaca lagi.


“Aku mengantar Dafha, di sedang libur seminggu dan merengek ingin menghabiskan waktu bersama Risa.” Jelas Aydin berbohong.


“Kalian ini, padahal belum menikah tapi sudah seperti pasangan yang sebentar lagi akan bercerai.” Celetuk Echa.


Echa terkekeh, “Jujurlah padaku. Kau tau di apartemen nanti hanya aku yang berada di pihakmu.”


Aydin tersenyum ,”sepertinya tidak lagi. Kini aku punya pendukung yang tidak sepertimu, dasar endukung bucin.”

__ADS_1


Echa membuka apartemen setelah menekan sandi di pintu.,


Lalu mengajak Aydin dan Dafha masuk.


Aydin mengedarkan pandangannya, suasana apartemen ini tidak jauh berbeda. Hanya kini lebih banyak barang saja.


“Ayo Dafha, semuanya ada di kamar.” Ajak Echa.


Dafha meraih uluran tangan Dafha, mengikuti langkah Echa menuju sebuah kamar.


“Sayang, lihat aku datang bersama siapa,” teriak Echa.


“Dafha,” pekik Esme senang melihat bocah gembul yang dulu selalu bersama Risa.


“Aunty, “ sapa Dafha membalas pelukan Esme.


“Kamu datang kesini sama siapa?”


Dafha menoleh memandang ke arah pintu, lalu muncullah sosok Aydin.


“Ban***t, siapa yang mengizinkanmu datang kesini?” Amarah Gio.


Gio sudah akan menghampiri Aydin, namum tubuhnya di cegah oleh Amora.


“Gio, dia tamu Eomma. Aku uang mengundangnya. Lagian katanya Dafha sangat rindu pada Risa.” Ucap Martha.


“Hai anak ganteng, namamu Dafha kan?” tanya Martha lembut.


Dafha mengangguk.


“Lucunya anak ini, Panggil Oma yah ganteng.” Pinta Martha..


“Oma, bisakah Dafha menemui Mama Risa?” tanyanya.


“Boleh, tapi jangan berisik yah Mama Risa baru saja tertidur.” Ucap Martha lembut.


Ia mengantar Dafha naik ke tempat tidur.


Martha bisa melihat ada Cinta besar dan tulus dari anak ini untuk Risa.


Yang lainnya menunggu di sofa.


“Harusnya Eomma memberitahu kami dulu jika ingin mengundang orang lain kemari.” Tegas Esme.


“Eomma juga tinggal di sini kalau kau lupa Esme. Dan ini sudah jadi keputusan Eomma. “ tuturnya.


“Eomma tidak tau saja bagaimana Ia menghianati Risa.” Ucap Esme.


“ESME !” Tegur Martha.


Pekikan Marhta sepertinya berhasil mengusik Risa. Dengan susah payah, Ia membuka matanya.


“Mama...Mama,” pekik Dafha tepat di depan wajah Risa yang sedang mengerjapkan matanya.


“Apakah aku masih mimpi? Kenapa aku melihat ada Dafha.” Batinnya.


Risa mengikuti nalurinya, Ia mengulurkan tangannya membelai wajah Dafha.


“Dafha, Mama Risa rindu.” Lirihnya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


"Rindu tidak hanya muncul karena jarak yang terpisah. Tapi juga karena keinginan yang tidak terwujud."

__ADS_1


l


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


__ADS_2