Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 130. Pentingnya komunikasi


__ADS_3

Aku bicara, kamu tidak.


Aku mencoba, kamu tidak.


Aku menangis, kamu tidak.


Lalu, jika aku pergi, kamu?


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Braaaakkk......


Suara pintu kamar mandi yang ditutup dengan kasar dari dalam oleh Aydin.


Yah, akhirnya pria itu kembali.


Padahal kurang beberapa jam lagi, seandainya Ia tak kembali juga, maka Risa sudah berencana melaporkannya ke kantor polisi sebagai orang hilang.


Risa tertawa karena pikirannya sendiri.


“Tidak ku sangka kamu masih bisa tertawa saat keadaan seperti ini,” Ucap Chandra dan diakhiri dengan decakan.


Sementara kedua tangannya sibuk memasang kembali infus Risa pada tempatnya semula.


“KAMU?”


Suara bariton terdengar sangat menyeramkan dari balik badan Chandra.


“Eehhhmmm maksud saya Nona, iya Nona. Maaf Nona.”


Chandra gelagapan saat melihat tatapan tajam Aydin.


“Dan juga seingatku aku memintamu menjaganya, bukan pergi berdua dengannya.” Geram Aydin.


“Dengannya? Apa aku tidak salah dengar? Kamu bilang dengannya?”


Kini Risa yang bereaksi atas ucapan Aydin.


Risa terus mengulang-ulang satu kata dari Aydin yang mengganggu pikirannya.


Aydin tak bergeming.


Sebenarnya dia tak pernah marah pada Risa. Lebih tepatnya dia kecewa.


Kalaupun dari awal Risa jujur padanya, maka dia tak akan menampik jika dia akan tetap jatuh cinta pada wanita itu.


Ya, dia mengakui perasaannya jika dia sudah mencintai Risa terlalu dalam.


Aydin hanya meminta waktu untuk sendiri sebentar saja.


Biarkan dia memikirkan jalan apa yang terbaik untuk meluruskan benang yang tiba-tiba kusut dalam hubungan mereka.


Namun mendengar dan melihat ekspresi menantang Risa membuat Aydin menjadi kesal.


Harusnya kali ini yang pantas untuk marah adalah dirinya, harusnya yang pantas memandang dengan tatapan kecewa adalah dirinya. Bukan Risa.


“Lalu apa aku harus diam saja, saat kau tertawa bersama pria lain disaat harusnya kau beristirahat?”


Tak ada sama sekali niat Aydin untuk mengalah.


Sementara Risa, sesuatu di dalam dadanya terasa bergemuruh.


Jika tak ada Chandra, mungkin ruang rawat Risa sudah menjadi arena tinju baginya dan Aydin.


“Maaf Pak, Maaf Nona, apa tidak sebaiknya dibicarakan dengan kepala dingin, ingatlah ini di rumah sakit.” Sela Chandra.


“DIAM!”


Bentak Risa dan Aydin bersamaan.


“Kamu tanya pada asistenmu, kenapa pergi dengannya?”


Risa mengulang pertanyaan Aydin dan mengarahkan telunjuknya pada Chandra dan dirinya bergantian.

__ADS_1


“Apa setelah pergi tanpa kabar selama seharian, sekarang kamu sudah lupa siapa aku? Atau bahkan kamu sudah lupa namaku?” tanya Risa.


“Bukankah kamu sendiri yang memberinya tugas untuk menjagaku? Asistenmu hanya melakukan tugasnya.” Sambungnya.


Risa tak terima jika Aydin menyalahkan dirinya atau Chandra.


Sedang batin Aydin terus menahan diri untuk tidak mengungkap fakta yang Risa sembunyikan darinya selama ini.


Aydin bisa melihat bagaimana Risa menahan emosinya. Dadanya nampak jelas naik dan turun dengan cepat dan tak beraturan.


Mengingat kondisi Risa yang baru saja menjalani operasi, Aydin memilih untuk menghindari perdebatan.


Ia tak ingin memperburuk kondisi kesehatan Risa.


Pria itu melengos dan duduk di sofa tanpa bicara sepatah katapun.


Dan Risa sudah kembali berbaring memunggungi Aydin.


“Pak, karena Anda sudah kembali saya izin pulang,” pamit Chandra ragu.


“Hemm.”


Hanya dehaman yang menjadi jawaban Aydin.


“Besok langsung saja ke perusahaan, saya akan berangkat sendiri.” Titahnya.


Chandra mengangguk, kemudian berlalu pergi meninggalkan sepasang kekasih yang masing-masing masih dikuasai amarah.


“Aku yakin ada masalah lain yang si Bos sembunyikan. Sebagaimanapun cemburunya, biasanya bos akan tetap meminta penjelasan dari pada harus terlibat kesalah pahaman.” Batin Chandra dengan langkah kaki yang terus menjauh dari rumah sakit.


Selang beberapa menit berlalu, masih tak ada pembicaraan antara Aydin dan Risa.


Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sebagai orang dewasa, terlebih Aydin yang sudah pernah berumah tangga, mereka berdua menyadari jika riak-riak persoalan muncul karena mengabaikan fakta, jika kini mereka seharusnya sedang berkomunikasi.


Komunikasi.


Baik Risa dan Aydin merasa dirinya tidak bersalah.


Air matanya perlahan menetes, merembes membasahi pipi dan bantal rumah sakit.


Sekuat tenaga Risa menahan agar tidak terisak. Tak ingin Aydin tahu betapa lemahnya Ia terhadap apa yang telah dilakukan pria itu padanya.


Sementara Aydin, dari ujung matanya sesekali Ia melirik Risa yang awalnya Ia pikir telah tertidur.


Namun saat netranya menangkap punggung wanitanya bergetar pelan, Ia yakin jika Risa sedang menangis.


Besar sekali keinginan Aydin untuk beranjak dan meraih Risa ke dalam dekapannya. Namun Ia urungkan.


Masih terbayang mengenai surat amanat Kirani. Kini setiap yang dilakukan Risa, membuat Aydin jadi ragu.


Bahkan hari ini setelah cukup lama berpikir akhirnya Aydin memutuskan sendiri, suatu hal yang harusnya menjadi keputusan mereka berdua.


“Ada sesuatu yang ingin kuberitahu.” Ucapnya.


Meski tak ada reaksi dari Risa, Aydin tahu jika wanita yang seharusnya 2 minggu lagi menikah dengannya belum tidur.


“Aku tahu kamu belum tidur. Jika masih tak ingin bicara padaku, cukup kamu dengarkan saja.” Sambungnya.


Aydin menarik napas panjang, Ia butuh oksigen lebih banyak untuk memberitahu Risa hal ini.


“Mengingat kondisimu yang baru saja kecelakaan dan menjalani operasi, aku sudah menghubungi pihak WO dan memberitahu jika pernikahan kita harus ditunda.” Ucapnya.


Meski bibirnya sangat lancar berucap, namun hanya Aydin yang bisa merasakan bagaimana perih terasa di relung hatinya.


Benar dugaan Aydin, tak ada reaksi sama sekali dari Risa.


Bahkan punggungnya yang tadi bergetar kini telah terhenti. Dengan memberanikan dirinya, Aydin mendekat ke brankar Risa, duduk di tepi menatap tubuh wanita yang beberapa bulan ini menjadi sumber kehangatan baginya.


Satu tangannya bergerak perlahan memegang lengan Risa.


Namun belum sempat Ia berhasil menyentuhnya, Risa dengan cepat menaikkan selimutnya hingga ke batas lehernya, menolak sentuhan Aydin secara halus. Dan pria itu jelas memahami maksimud Risa.

__ADS_1


Aydin masih bertahan dalam diam, duduk dengan jarak yang sangat dekat dengan wanitanya namun terasa sangat jauh, seakan ada dinding yang membatasi keduanya.


Saat Aydin hendak kembali ke sofa, akhirnya Risa buka suara.


“Jika memang itu adalah keputusan KITA, aku bisa apa.” Ucap Risa pada akhirnya.


Risa bicara dengan sangat tenang. Sangat berbeda dari pertengkaran sebelumnya.


“Tentu saja kamu bisa melakukan apapun, inikan pernikahan kita.” Balas Aydin dengan nada yang sama.


“Entahlah, mungkin aku yang keliru mendefinisikan arti kita. Selama ini yang kutahu, kita adalah aku dan kamu.”


Baiklah, Aydin mengaku salah. “Kamu benar, kita itu aku dan kamu. Jadi sekarang, bagaimana menurutmu? Apa yang kamu inginkan?”


Meski tetap pada posisinya yang berbaring memunggungi Aydin, Risa menggeleng.


“Aku hanya ingin istirahat. Seharian ini aku kesulitan istirahat, bisakah kamu tinggalkan aku sendiri?” pinta Risa.


Aydin sontak menegakkan tubuhnya yang baru beberapa menit lalu Ia sandarkan di sofa.


“Apa maksudmu?” tanyanya.


“Aku hanya ingin istirahat, dengan tenang.” Jawabnya penuh permohonan.


“Maka tidurlah. Aku tak akan mengganggu tidurmu.” Tolak Aydin.


“Kumohon,” pintanya lagi.


Sungguh Risa kembali berhasil membangkitkan emosi yang sempat dipadamkan oleh Aydin, saat melihat wajah teduh dan tatapan sendu Risa sebelumnya.


“Janganlah seperti ini Risa. Kenapa menghindar untuk membahas masalah ini.” Pinta Aydin.


Semalam Ia harus rela tidak bertemu Risa untuk menenangkan hatinya, Ia tersiksa oleh rindu dan segala kegundahannya.


Lalu malam ini, haruskah Ia kembali merasakan kerinduan yang sama.


Risa akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk di atas brankar. Tak ada air mata atau jejak air mata yang bisa dilihat Aydin pada wajah datar wanitanya.


“Jika memang ingin membahasnya, mestinya kita membahas itu kemarin.” Ucapnya.


“Dan mana bisa aku menghindar, lihatlah kondisiku. Jika aku ingin menghindar harusnya kulakukan itu kemarin.”


Tanpa peduli dengan keberadaan Aydin yang masih mematung menatapnya. Risa kembali membaringkan tubuhnya, menaikkan selimut sebatas lehernya dan mulai memejamkan matanya.


“Tolong sebelum pergi, padamkan lampunya."


Ucapnya sebelum Ia benar-benar memejamkan matanya.


“Baiklah, istirahatlah. Aku ada di luar jika kamu butuh sesuatu.” Balas Aydin yang memilih mengalah dan melangkah keluar dari ruangan meninggalkan Risa sendiri.


Yah, wanita itu kembali tinggal sendiri. Menyembunyikan tangisannya dalam diam. Memasrahkan diri pada gelapnya malam.


Membiarkan keheningan menelan segala beban pikirannya yang sebentar lagi seperti akan meledak.


“ Sebernya apa yang Engkau sedang rencanakan untukku.” Batin Risa.


♡♡♡♡♡


Sementara Aydin, pria itu akhirnya duduk pada kursi besi di lorong-lorong rumah sakit.


Tak jauh dari ruang rawat Risa.


Dari kejauhan, samar-samar Ia melihat pria yang juga sempat Ia lihat saat tadi Ia datang.


Pria itu tak asing bagi Aydin. Rasa penasaran membawa langkah Aydin mengikuti pria tadi.


“EIJAZ?” pekiknya dalam hati.


“Penglihatanku tak salahkan? Pria yang terbaring dengan seluruh alat itu adalah Eijaz kan?” batinnya.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡


Aku manusia biasa dan tidak punya kemampuan mengetahui apa isi pikiranmu.

__ADS_1


Aku manusia biasa dan aku hanya bisa berusaha mengikuti bagaimana caramu berkomunikasi.


Hingga ku sadar, jika pilihanmu jatuh pada bungkam.


__ADS_2