
Tak ada seorangpun yang selalu salah, dan tak ada hak untuk memaksa seseorang untuk menganggapmu benar.
Kadang di suatu titik, diam adalah pilihan terbaik daripada berbicara namun selalu salah .
Dan jangan hanya mendengar, tapi dengarkan sehingga bisa mengerti dan memahami permasalahannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Risa dan Ayana turun lebih dulu di depan lobby rumah sakit, sedang Gio akan memarkirkan mobilnya lebih dulu di basement.
Dengan langkah cepat , Risa dan Ayana berhasil menemukn letak ruang rawat Dafha tanpa kesulitan.
Tanpa mengetuk Ayana langsung saja membuka pintu dan menarik tangan Risa ikut masuk dengannya.
“Mama,” bisik Ayana pada Mama Indira yang tidur dalam posisi duduk di samping brangkar Dafha.
Mama Indira mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang langsung menyapa indra penglihatannya.
“Risa,” sapa Mama Indira saat sosok yang Ia lihat pertama kali adalah wanita yang sejak tadi dicari oleh cucunya.
“Ma, maaf aku datang terlambat,” sesal Risa.
“Terimakasih karena masih mau datang Nak,” ucap Mama Indira.
“Bukan apa-apa Ma, aku juga sangat khawatir saat mendengar kabar dari Ayana.” Ucap Risa.
“Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?” lanjutnya.
“Demamnya sudah berkurang, hanya saja dia masih lemas,” jelas Mama Indira.
Risa mengangguk, sambil sesekali membelai puncak kepala Dafha dengan lembut.
Dapat Ia rasakan panas tubuh anak itu pada telapak tangannya.
Ada sedikit perasaan lega dihati Risa saat Mama Indira tidak lagi menghindarinya seperti saat terakhir mereka bertemu di Raja Ampat.
“Selamat atas suksesnya acara kalian malam ini, meski belum menontonnya tapi ku yakin kalian pasti tampil luar biasa.”ucap Mama Indira.
“Mama benar, Ayana memang tampil sangat luar biasa,” puji Risa.
Perbincangan mereka sepertinya mengusik Aydin yang sejak tadi tertidur di Sofa.
“ Ma, ngobrol sama siapa?”tanya Aydin yang ikut terbangun dari tidurnya.
Tatapannya sontak terpaku pada sosok wanita yang kini duduk di tepi brangkar putranya.
Bukan hanya Aydin, tapi Risa juga tidak mengalihkan tatapannya pada Aydin.
Beberapa detik kemudian, Aydin beralih menatap Ayana.
“Kamu datang sangat larut Yan, harusnya kamu tau kalau itu berbahaya bagi wanita sepertimu berada di jalan selarut ini.” Peringatnya pada adiknya .
Namun tanpa perlu dijelaskan, yang mendengarkan juga mengerti jika ucapan Aydin tidak hanya ditujukan pada adiknya tapi juga pada wanita yang datang bersama Ayana.
“Abang tidak menyapa Kak Risa?”tanya Ayana yang membuat suasana menjadi canggung.
__ADS_1
Keheningan akhirnya terjadi, tidak ada satupun yang bersuara. Bagi Risa sudah cukup baginya Aydin tidak menghalanginya bertemu Dafha.
Hingga pintu ruang rawat Dafha kembali dibuka dari luar, lalu muncullah sosok Gio.
“Maaf, apa aku boleh masuk?”tanyanya.
Risa melihat perubahan raut wajah Aydin. “Masuklah, terimakasih sudah mengantar adikku.” Ucap Aydin berdasarkan dugaannya.
“Tidak masalah, tapi sebenarnya aku tidak hanya mengantar adikmu, aku juga mengantar Risa. Aku harus pastikan dia sampai dengan aman dan diterima di sini.” Balas Gio.
Risa memijat dahinya yang tidak sakit, seperti dugaannya jika kehadiran Gio malah membuat suasana semakin canggung.
Risa turun dari brangkar Dafha, “Ma, aku permisi sebentar mengantar Gio keluar dulu.” Pamitnya pada Mama Indira.
Mama Indira hanya menjawab dengan anggukan, Ia juga tak menyangka jika selarut ini akan ada drama yang terjadi.
“Kenapa kamu mengajaknya?Siapa yang mengizinkanmu?”cecar Aydin pada adiknya.
“Mama,” jawab Ayana singkat.
Aydin mendengus, lalu kembali duduk di sofa.
Sejujurnya tadi perasaannya menghangat saat Ia melihat tangan Risa yang menggenggam tangan putranya.
Rasa khawatir karena keadaan putranya seketika menguar ketika melihat kehadiran Risa, Ia merasa tidak akan sendiri lagi menghadapi semuanya.
Namun kedatangan Gio dan juga ucapan pria yang dulu pernah dekat dengannya, seperti menjelaskan bagaimana dekatnya hubungan mereka kini.
Aydin keluar dari ruang rawat Dafha dengan alasan ingin mencari udara segar.
Aydin tidak ingin ada resiko Ia melihat kemesraan Risa dan Gio yang bisa merusak moodnya.
Tak lama dari kejauhan Aydin bisa melihat Risa yang berjalan kearahnya seorang diri, “Ku pikir kamu tidak kembali lagi,” ucap Aydin menghentikan langkah Risa.
Risa menghela napasnya.
Berpikir jika mungkin saja dirinya dan Aydin akan bertemu beberapa waktu kedepan, Risa akhirnya memutuskan untuk bicara dengan Aydin agar kedepannya tidak terjadi kecanggungan lagi seperti sebelumnya.
Risa lalu duduk di samping Aydin, “Tentu aku kembali, aku bahkan belum bertemu Dafha.” Balasnya.
“Apa Gio tidak keberatan?” tanya Aydin.
Risa sudah menduga jika Aydin masih salah paham dengan hubungannya bersama Gio, tapi Risa tidak berniat meluruskannya sama sekali.
“Aku hanya akan mendengarkan permintaan Dafha, jika dia memintaku pergi maka aku akan pergi. Dan jika tidak, maka aku akan tetap tinggal.” Ucap Risa.
Aydin berusaha menahan senyumnya, karena Ia tau jika Dafha pasti akan menahan wanita ini pergi lagi.
“Bagaimana kabarmu?”tanya Aydin berusaha menghilangkan kecanggungan yang terjadi.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.” Jawab Risa.
“Aku sudah mendengar berita soal Pak Ferdinand, tak ku sangka kalian mengambil langkah seekstrim itu soal saham.” Ujar Aydin.
“Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai,” balas Risa.
__ADS_1
“Tapi dari mana kau tau hal ini?” tanya Risa.
“Aku mendapatkan surat penawaran untuk menjual sahamku di sana. Ku rasa tak akan ada yang menolak mejual sahamnya dengan harga yang kamu tawarkan.”Jelasnya.
“Kau juga punya saham di Ortiva Construction? Sejak kapan?” cecar Risa.
“Sudah lama.” Jawab Aydin singkat.
Ia tak ingin Risa tau jika sejak Ferdinand mengancam Risa di hotel saat pertemuan pertama mereka, Aydin sudah mulai membeli sedikit demi sedikit saham Ortiva, Ia hanya bersiap jika suatu saat harus memberi peringatan pada pria tua itu.
Belum sempat Risa bertanya lagi, Aydin dan Risa dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
“Aydin,” panggilnya.
Risa dan Aydin menoleh bersamaan pada sumber suara. Di sana sudah ada Franda yang membawa satu papperbag besar.
“Risa,” sapa Franda tak percaya jika wanita yang sejak tadi diperdebatkan sekarang ada di sini.
“Bahkan Aydin tidak mengingat lagi bagaimana Ia tadi begitu menolak kehadiran Risa.” Batin Franda.
“Hai Franda,” sapa Risa balik.
“Aku senang melihatmu di sini, sejak tadi Dafha terus mencarimu.” Ucap Franda dan dibalas senyuman oleh Risa.
“Iya, aku sedang ada acara pagelaran busana,” jawabnya singkat.
Risa belum bisa pura-pura menyembunyikan amarahnya pada Franda.
“Untuk apa kembali kesini selarut ini?” tanya Aydin.
“Aku membawakanmu pakaian ganti untuk malam ini dan besok pagi.” Jawab Franda.
Terlihat dinetra Aydin bagaimana Risa mengalihkan tatapannya.
“Kalian silahkan lanjutkan obrolan kalian dulu, aku akan masuk.” Ucap Risa.
“Tapi, bisakah suatu saat kita bicara berdua Risa?” pinta Franda.
“Tentu, tapi aku harus melihat jadwalku dulu. Aku akan sangat sibuk di bulan ini.” Jawab Risa.
“Hemm, aku mengatakan ini agar kau tidak salah paham Franda. Aku hanya akan menunggu sampai Dafha bangun, jika Dafha memintaku tinggal aku akan tinggal sampai dia baik-baik saja. Tapi percayalah jika semua hanya karena Dafha.” Jelas Risa dan menekankan kata-kata akhirnya.
“Bukan itu maksudku Risa, Aku dan Ayd……” ucapan Franda dihentikan Aydin.
“Tidak perlu menjelaskan padanya, dia memang seperti itu. Dia hanya akan percaya pada apapun yang Ia lihat.” Ucap Aydin.
Aydin mengambil papperbag dari tangan Franda, “Terimakasih Nda, sebaiknya kamu pulang , ini sudah sangat larut.”
Aydin lalu beranjak masuk ke kamar Dafha lalu menguncinya dari dalam, tidak ingin lagi ada yang mengganggu.
"Tuhan, tolong izinkan malam ini berlalu dengan ketenangan." Batin Aydin.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Tidak ada perasaan yang salah, hanya saja kita yang terlalu berharap pada orang yang salah.”
__ADS_1
♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡