Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 139. Egois, sesal, dan terpaksa


__ADS_3

Betapa sulit ketika harus membahagiakan orang lain, sementara diri sendiri tak merasa bahagia.


Betapa sulit ketika harus mendahulukan orang lain, sementara diri sendiri tak merasa dicintai.


Betapa sulit ketika harus memahami orang lain, sementara diri sendiri tak merasa dipahami.


Jika begini adanya, bolehkah jika aku menolak kesulitan dan memilih bersikap egois? Atau, aku harus menerima meski terpaksa?


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Hati Aydin meronta-ronta, merasa tak sepatutnya Ia kembali merasakan sepi dan kekosongan malam ini.


Sesal seolah sedang menertawakannya. Keputusan Aydin untuk menenangkan dirinya seorang diri sama sekali tak membuahkan hasil.


Meski sekeras apapun dia mencari alasan untuk pergi dari Risa, tapi tetap saja dirinya sendiri yang akan meruntuhkan kembali egonya dan kembali mengharap maaf dari wanita yang Ia cinta.


Andai saja Aydin bisa melihat akhir dari masa pelariannya, mungkin tak akan pernah dia biarkan wanitanya berderai air mata di pusara Kirani seorang diri.


Andai saja Aydin bisa melihat akhir dari masa pelariannya, mungkin tak akan pernah dia biarkan setetes air hujan membasahi surai lembut Risa.


Andai saja Aydin bisa melihat akhir dari masa pelariannya, mungkin tak akan pernah dia biarkan Risa merasakan sepi saat sakit.


Dan yang paking Aydin sesali, Andai saja dirinya tahu jika dia akan kembali lagi untuk memohon maaf dan memohon cinta, tak akan pernah dia langkahkan kakinya pergi menjauh dari Risa, menjauh dari wanita yang dipilih hatinya sebagai tempat ternyaman untuk pulang.


Terlebih pada saat itu, meski samar-samar, tapi masih jelas terdengar oleh Aydin saat Risa berkata jangan pergi, tapi mengapa dia sangat angkuh untuk berbalik dan memeluk wanita itu.


Andai saja semua bisa terulang, namun kenyataannya, dirinya berakhir dengan mengurung diri layaknya pria pengecut di sebuah ruko kecil, tempat yang menjadi saksi perjuangannya dalam mengembangkan perusahaannya, Ohana Tech.


Mengurung diri, berharap dengan sendiri dia bisa menenangkan hatinya, bisa memberinya kemampuan untuk membuat keputusan yang terbaik.


Benar-benar seorang diri, karena tak ada satupun dari keluarganya yang tahu keberadaannya.


Aydin tahu jika seluruh keluarganya pasti tak akan ada yang memihak padanya. Apa lagi Risa dalam kondisi sedang sakit saat dirinya memilih pergi.


"Astaga... Bodoh. Keegoisanmu sungguh tak tepat waktu." Rutuknya pada dirinya sendiri saat menyadari hal itu.


Aydin sadar, tentu akan terdengar egois, saat dia berpikir jika Risa wanita yang sangat pengertian. Risa akan selalu memberi maaf padanya ketika dirinya meminta dengan sungguh-sungguh.


Atas dasar pemikiran piciknya, malam ini, lebih tepatnya beberapa jam yang lalu, Aydin sudah memantapkan hatinya untuk kembali meminta maaf dan meminta wanita itu kembali membuka hatinya dan menerima dirinya lagi.


Dan saat itu tiba, saat hatinya sudah mantap dan menggebu-gebu mengharapkan maaf dari Risa, sebuah pilihan lain kembali datang.


Pilihan yang bukan berasal dari dirinya, bagai sebuah pilihan yang ingin menyesatkan dirinya, lalu pilihan itu pula yang menyediakan jalan keluar. Jalan itu bagai sebuah jawaban, tapi rasanya tetap membawa Aydin ke arah yang salah.


Akhirnya kemantapan hati Aydin untuk menemui Risa, akhirnya goyah.


Ia kembali ke tempatnya mengurung diri, menyesal, dan mencoba menerima kenyataan.


Aydin tertunduk lesu, biasanya saat sakit Risa akan menjadi lebih manja.


“Sayang, bagaimana keadaanmu selama aku tak ada? Apa kamu merindukanku?”


“Sayang, bagaimana Dafha? Apa dia sangat merepotkanmu? Apa dia tetap manja padamu meski kamu sedang sakit?”


Pertanyaan sederhana itu, rencananya akan Aydin tanyakan pada Risa, dan Ia sangat yakin jika Risa akan menjawabnya dengan bersemangat. Risa memang selalu bersemangat saat bersama dirinya.


“Ahhh, aku rindu bagaimana kamu yang akan bermanja-manja ketika aku merajuk padamu.”


“Aku juga rindu dengan semua caramu mengatasi Dafha yang sering rewel.”


Seandainya saja Aydin menemui Risa sejak dulu, tentu semua kejadian hari ini tak akan pernah terjadi. Dan Aydin tak akan di hadapkan pada pilihan yang begitu sulit.


“Aku harus berpikir ulang, memikirkan hal ini sebaik-baiknya. Banyak hal yang harus ku pertimbangkan sekali lagi. Banyak hati yang akan terluka atau ada hati yang bisa saja terkubur tanpa pernah terungkap.” Batin Aydin.

__ADS_1


Aydin membaringkan tubuhnya di kursi panjang yang terbuat dari rotan. Jika orang lain yang berbaring di sana, sudah bisa dipastikan setelah 2 jam tubuhnya akan terasa pegal.


Tapi untungnya Aydin tak akan merasakannya, sakit di tubuhnya tak seberapa jika dibanding perih hatinya yang bagaikan akar, terus, terus, dan terus merambat masuk ke relung hati terdalamnya.


Tiga hari Ia menyiksa diri sendiri, membohongi dirinya, berusaha menyalahkan Risa, menyangsikan cinta Risa, semua hanya karena rasa tak percaya diri.


“Aku berani bersumpah bukan karena aku tak mencintaimu, tapi aku begini karena tak percaya pada diriku jika telah berhasil membuat wanita sehebat dirimu jatuh cinta.” Lirih Aydin bermonolog.


Aydin merogoh saku celana tempat Ia menyimpan ponselnya.


Membaca sebuah pesan dari nomor ponsel yang tak Ia kenali.


Sontak saja sebuah senyum nampak di wajah penuh kesedihan dan penyesalan Aydin.


Senyum dengan kedua sudut bibirnya terangkat lebih tinggi dengan tawa yang Ia tahan. Sayang sekali senyuman pertamanya setelah 3 hari terakhir Ia sempat lupa cara tersenyum, adalah sebuah senyuman yang Ia paksakan.


“Lucu sekali takdirku, bahagia yang ku rasakan baru sebentar. Lantas mengapa aku harus dipaksa membaginya?”


“Mereka salah, mereka telah salah menilaiku. Aku bukanlah malaikat, aku manusia bisa yang juga ingin bahagia.”


Tawa Aydin menggema di ruangan kecil yang hanya tersisa beberapa barang saja.


Seberapa berat beban pikiran pria itu saat ini, bahkan tawanya terdengar begitu memilukan. Sebuah tawa untuk menutupi rasa putus asanya.


⚘⚘⚘⚘⚘


Hingga pagi menjelang, tak ada perubahan di ruko tempat persembunyian Aydin selama 3 hari Ia menyendiri.


Aydin masih tetap setia dengan posisi berbaringnya. Tak ada sinar matahari yang bisa masuk karena memang tak ada celah di ruangan ini.


Aydin juga tak perlu bersusah payah membuka mata untuk bangun, karena kedua matanya bahkan tak pernah terpejam sejak semalam.


Ponselnya yang berada di atas meja, bergetar sesaat. Ia raih untuk membuka pesan dari Ayana.


Meski gadis itu juga marah padanya, tapi dia tetap menjadi adik yang baik. Hanya dia yang selalu mengirimkan kabar mengenai Risa dan Dafha.


Lalu pria itu kembali fokus ke layar ponselnya. Sebuah foto yang selalu menarik perhatiannya,


foto Risa.


Dari foto itu, Ia bisa melihat Risa yang tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


“Dia benar-benar tak menyukai rambut basah.”


Tanpa Aydin sadari, Ia bergumam lirih. Aydin juga sempat menerawang kembali kenangan keduanya saat berlibur ke Bali.


¤¤¤¤《Flash back ON》¤¤¤¤


Saat itu Risa memaksa untuk mengeringkan rambut Aydin tanpa peduli jika mereka tengah di kejar waktu untuk segera berangkat ke bandara.


Meski terancam akan ketinggalan pesawat , Aydin akan betah berlama-lama dalam posisi ini.


Risa berdiri di hadapannya, dia selalu tampil mempesona. Kali ini Risa mengenakan mini dress warna hijau dengan belahan dada yang cukup rendah, hal itu membuat Aydin memaksa agar dirinya terus menghadap ke arah Risa.


Dua tangannya memeluk erat pinggang Risa sementara kepalanya semakin Ia rapatkan agar wajahnya semakin terbenam di antara dua buah yang adq di dada Risa.


“Bagiku Ay, wanita yang bepergian dengan rambut yang masih basah itu menunjukkan jika dia seseorang yang tanpa persiapan.”


“Oh yah? Tapi wanita yang rambutnya basah akan terlihat lebih seksi, lebih menarik. Seperti kemarin, rambutmu juga basah saat kita berenang. Dan bagiku kamu terlihat makin sek si.” Ujar Aydin.


“Kamu yakin itu karena rambutku yang basah? Bukan karena bikini yang ku pakai?” tanya Risa menggodanya.


“Yah itu alasan utamanya sih Yang.” Jawab Aydin jujur.

__ADS_1


Setelah selesai mengeringkan rambut Aydin, Risa dengan cekatan menyisir dan merapikannya dengan gel rambut andalannya.


Ia mundur beberapa langkah, “Ay, kalau sekarang penampilanku gimana? Rambutku sudah kering, aku pasti tak menarik lagi yah,” ucap Risa kala itu sengaja ingin menggoda Aydin.


Aydin memindai penampilan Risa, “Perfect."


"Bagiku pakaian apapun tetap sempurna jika kamu yang memakainya."


“Huuuuhh, dasar raja gombal!” gerutu Risa.


“Hei, aku belum selesai.” Ucapan Aydin menghentikan kegiatan Risa yang sedang mengemas peralatan kosmetiknya ke dalam sebuah pouch.


Risa kembali menatap Aydin.


“Tapi berjanjilah, jika hanya saat bersamaku kamu boleh mengenakan dress mini seperti sekarang.” Peringat Aydin dengan wajah mengancam.


Sementara Risa, bukannya takut Ia malah tertawa.


“Dasar, duda posesif!" ledeknya dengan tawa yang tak kunjung henti.


¤¤¤¤《Flash back Off》¤¤¤¤


⚘⚘⚘⚘⚘


Aydin tersenyum kala mengingat kenangannya bersama Risa.


Hanya dengan membayangkan wajahnya saja Aydin sudah bisa tersenyum. Apalagi jika kini Ia bisa memeluk Risa, Ia yakin beban-beban pikirannya bisa sedikit berkurang.


Hatinya sudah mantap. Akan dia ukir banyak memori indah bersama Risa untuk Ia kenang nantinya.


Tapi siapa yang tahu, dibalik keputusan yang sudah Ia pikirkan semalaman, hatinya bagai disayat ribuan belati.


Segera Ia bersiap untuk menemui sang pujaan hati, namun sebelum pergi Aydin menghubungi seseorang.


“Aku akan kembali padanya, aku akan berusaha mendapatkan maafnya, dan aku ingin menikmati waktuku berdua dengannya. Aku ingin bahagia bersamanya.” Ujarnya dengan mantap.


Sementara seseorang di seberang telepon kecewa dengan keputusan Aydin yang tak sesuai harapannya.


“Tapi tenanglah, berdoa saja semoga di hati nuraniku masih ada setitik keikhlasan untuk menolongnya, dia juga salah satu orang yang penting bagiku.” Ucap Aydin, dan sesaat kemudian Ia mengakhiri pembicaraan di telepon.


Setelah memeriksa sekali lagi penampilannya, Aydin segera melajukan mobilnya ke rumah sakit untuk menemui Risa.


Sedangkan seseorang yang tadi berbicara dengan Aydin di telepon, kini Ia mengikuti saran Aydin


“Aku yakin, Aydin tak akan berubah. Ia masih punya hati nurani. Tak akan mungkin Ia berbahagia di atas penderitaan orang lain.” Batinnya.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Suara pintu ruang perawatannya yang dibuka, tidak serta merta membuat Risa menoleh.


Wanita itu masih betah duduk dengan kepalanya sengaja direbahkan pada meja. Risa juga menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.


“ Risa,” sapa seorang pria dengan lembut.


Mendengar namanya dipanggil Risa segera menengadahkan wajahnya, ingin melihat apa dugaannya benar.


Jika panggilan lembut itu berasal dari, “Ay din.” Ucap Risa ragu dan tak percaya dengan apa yang Ia lihat saat ini di hadapannya.


"Dan ini nyata? apa benar ini nyata? aku tidak sedang melamun atau bermimpi, bukan?"


Batinnya.


⚘⚘⚘⚘⚘ To be continue ⚘⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Hidup senantiasa berputar-putar antara kebahagiaan dan kesedihan.


Tak selamanya kita akan merasakan bahagia, terkadang ada juga saat dimana kita harus menelan pahitnya rasa sedih yang amat mendalam.


__ADS_2