Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 4 . Bertemu gadis aneh


__ADS_3

Plaaaaakkkkk


Suara tamparan Indri di wajah Brisa membuat pelayan yang melihatnya merasa kasihan pada gadis tak berdosa itu .


Berbeda dengan ayah kandungnya , yang tidak peduli pada apa yang sedang terjadi pada putrinya .


" Dari mana saja kamu ? Kamu pergi dari pagi dan  baru pulang sekarang . Kamu kira saya tidak lihat jika yang mengantarmu pulang adalah seorang pria . " maki Indri .


" Dasar , ibu dan anak sama saja . Sama sama murahan . " ujar Indri menghina Brisa dan Ibunya .


Brisa menahan emosinya sekuat tenaga . Jika dirinya dihina masih bisa menutup telinganya . Tapi jika almarhum Ibunya yang dihina , rasanya hati Brisa dihancurkan berkeping keping .


" Aku pergi mencari pekerjaan . Aku diterima bekerja di sebuah toko buku , dan yang mengantarku pulang tadi adalah pemilik toko itu. " jawab  Brisa jujur .


" Kamu mau kerja ? Tidak boleh . "


Indri melarang Brisa bekerja .


Mendengar perdebatan yang terjadi , Ferdinand akhirnya buka suara .


" Biarkan saja Ma . Biarkan dia mencari uang sendiri , jadi kita tak akan pernah mengeluarkan uang untuk anak itu . " ujar Ferdinand .


Indri hanya berdecak .


" Sekalian aku ingin memberitahu , jika besok aku akan kembali bersekolah . Dan juga mulai bekerja saat pulang . " ujar Brisa .


Ferdinand menatap Brisa tajam . Ia bisa melihat sudut bibir putrinya mengeluarkan darah akibat tamparan istrinya . Tapi entah mengapa Ia tidak bersimpatik sama sekali .


" Terserah . Lakukan apapun yang kamu mau . Yang penting jangan sampai mempermalukan nama besarku  . Juga tetaplah hidup sampai umur 18 , agar kamu bisa sedikit berguna bagiku . " ucap Ferdinand kemudian berlalu meninggalkan Brisa .



Hari ini adalah hari pertama Brisa bersekolah . Saat keluar dari rumah , pandangannya bertemu dengan seorang gadis beparas cantik dengan rambut sebahu  yang juga berseragam SMA  .



Gadis itu menatap Brisa dalam , membuat Brisa risih dengan tatapannya . Tak lama gadis itu masuk kedalam rumah yang letaknya bersebelahan dengan rumah Brisa  saat mendengar suara seorang pria memanggil namamya .



Brisa akhirnya berjalan menjauh dari rumahnya menuju sekolah . Belum jauh Brisa berjalan , seorang pria yang mengendarai motor berhenti di depannya .



" Pagi Bri .... " sapanya .



" Kak Eijaz ... "



" Yuk naik , gue anter ke sekolah . " ajaknya .



" Tapi aku takut merepotkan . "



" Gak .... gue emang sengaja jemput lu. Mastiin lu beneran ke sekolah . Lagian gue juga mau ke kampus, jadi sekali jalan lah . " Ujar Eijaz .



Akhirnya Brisa mengalah dan naik ke motor Eijaz .


Brisa sempat menoleh ke samping saat sebuah mobil putih melewati mereka , dan saat itu netranya bertemu dengan gadis yang ditemuinya tadi .



30 menit perjalanan untuk sampai ke sekolah Brisa . Tak lupa  Brisa berterimakasih pada Eijaz sebelum Ia masuk ke dalam sekolah .


__ADS_1


Seperti murid baru pada umumnya , Brisa diantar salah satu guru menuju kelasnya .


Kelas yang awalnya gaduh seketika menjadi hening ketika guru masuk .


" Anak anak... tolong perhatiannya . Ini adalah teman baru kalian pindahan dari Palembang . " Ujar Ibu Guru .


" Silahkan perkenalkan dirimu . " Lanjutnya .


" Perkenalkan nama saya Brisa Elzafira . "


Brisa mengedarkan pandangannya kepenjuru kelas , dan terhenti pada seorang gadis yang sama yang Ia temui pagi tadi .


Gadis itu juga terus terus memandangi Brisa hingga Brisa duduk di salah satu bangku yang kosong .


Hari pertama sekolah akhirnya usai . Brisa segera berjalan menuju toko buku milik Eijaz .


Mengeluarkan kunci pintu dari tasnya , lalu masuk kedalam .


Brisa merasa sedikit aneh , sepertinya ada yang mengikuti dan mengawasinya .


Sebelum mulai bekerja , Brisa mengganti seragam sekolahnya lebih dulu . Setelah itu barulah Ia mulai membersihkan toko , mengatur buku buku pada rak , kemudian kembali ke meja kasir untuk mengerjakan tugas sekolah .


Sesekali  Brisa akan menatap ke jendela , dan Ia mendapati gadis yang Ia temui pagi tadi sedang menatapnya dari seberang jalan .


Brisa semakin tak nyaman . Merasa dirinya sedang diawasi oleh seseorang .  Maka Ia memberanikan dirinya untuk keluar dan menyapa gadis itu .


" Hai .... apa kamu ingin membeli buku ? Silahkan masuk , tokonya sudah buka . " ucap Brisa ramah .


Gadis itu menggeleng .


" Lalu , apa kamu ada perlu denganku ? " tanya Brisa lagi .


" Tidak . Permisi . " jawabnya singkat lalu berjalan pergi .


" Gadis aneh ...... " Gumam Brisa lalu kembali masuk ke dalam toko .



Sementara itu di salah satu universitas ternama,  Eijaz sedang menikmati makan siangnya bersama dua sahabatnya Aydin Syauki dan Franda Rosa . Keduanya adalah sepasang kekasih .




" Gue dibangunin malaikat tak bersayap tadi . Makanya bisa datang pagi . " jawab Eijaz dengan candaan .



Eijaz sengaja menghabiskan makanannya dengan cepat . Ia berencana ke toko buku untuk membawakan Brisa makan siang .



" Ya udah gue duluan yah . Kalian berdua silahkan lanjutin pacarannya . Puas puasin dah . " pamitnya .



" Wooiii Jaz .... gue tahu lu pasti nyembunyiin sesuatu kan ? Balik sini cerita ... " Teriak Aydin .



Namun Eijaz mengabaikannya dan hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh .



" Udah , nanti Eijaz akan cerita kok . Gak usah dipaksa . " Ujar Franda  , kekasih Aydin .



Aydin mengangguk setuju , kemudian kembali menikmati makanannya .



Saat sampai di tokonya Eijaz masuk dengan mengendap endap karena berencana mengejutkan Brisa yang sedang menulis di meja kasir .

__ADS_1


" Gak usah gitu jalannya Kak . " Tegur Brisa tanpa menatap Eijaz dan masih sibuk menulis .


" Yah.... kok lu tau . Ahh... gak asik nih . "


Eijaz cemberut .


" Ha.. ha.. ha... "  tawa Brisa .


" Lagian Kakak , udah tahu kalau dipintu masuk ada loncengnya yah pasti aku tahu lah kalau ada orang yang buka pintu . " jelas Brisa .


Dengan wajah masih cemberut Eijaz meletakkan plastik berisi makanan . " Makan dulu gih . Biar gue yang gantiin  jaga disini . "


" Banyak banget makanannya kak , makan bareng aja Kak . " ajak  Brisa .


" Gue udah makan tadi di kampus . Lu makan aja semuanya , harus habis yah . Lagian lu itu bocah masih masa pertumbuhan , harus banyak makan . " ledek Eijaz .


Brisa akhirnya mengalah . 2 hari mengenal Eijaz , Ia paham jika pria itu gak akan bisa di kalahkan saat berdebat .


Setelah makan , Brisa kembali ke meja kasir . Berdiri di samping Eijaz yang duduk di kursi .


" Kak , aku udah makan . Kakak istirahat aja . " ujar Brisa .


Eijaz menoleh ,menatap wajah Brisa . Mengamati setiap inci wajah cantik gadis yang baru dikenalnya .


Hingga matanya melihat samar bekas luka di sudut bibir Brisa .


Tanpa sadar Eijaz mengusap sudut bibir Brisa .


" Ini , kenapa bisa seperti ini ? " tanyanya .


Brisa refleks mundur selangkah .


" Bri ... " tegur Eijaz .


" Jujur sama gue  , itu kenapa bisa luka di situ ?  " 


Brisa tetap diam dan menunduk .


Eijaz mengambil tisu basah yang selalu ada di meja kasir lalu menarik tangan Brisa agar gadis itu mendekat .


Dengan lembut Eijaz mengusap sudut bibir Brisa . Perlahan foundation yang menutupi memar berwarna kebiruan menghilang .


Eijaz terkejut dengan fakta yang baru Ia temui .


" Apa lu ngalamin KDRT di rumah lu ? "


Brisa hanya menunduk , menangis , dan terus menggeleng .


" Bri please , jujur sama gue . Gue janji akan bantu lu . " Bujuk Eijaz namun Brisa tetap diam dan terus menangis .


Eijaz akhirnya menyerah , " Oke kalau lu belum mau cerita . "


Ia lalu menarik Brisa dalam pelukannya . Entah mengapa ada dorongan dalam dirinya yang memintanya untuk melindungi gadis rapuh di pelukannya .


.


.


.


.


.


 "Jika pagi ini kita dapat melangkah dengan penuh keyakinan, dalam doa dan pengharapan, maka kita sudah meraih separuh kemenangan."


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2