Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 143. Mengukir kenangan


__ADS_3

Bukannya tak ingin peduli, hanya saja mencoba pasrah dan menerima semua yang terjadi mengalir bagai air, sepertinya menjadi pilihan yang lebih baik.


Memang lebih baik, tapi tidak semua hal yang baik mudah untuk dilakukan.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Dunia ini adalah panggung sandiwara?


Sepertinya hal ini yang sedang dilakukan oleh Aydin dan Risa.


Mereka tidak saling membenci, tapi saling mencinta, namun sayang keduanya belum bisa mengerti keinginan hati masing-masing.


Yang terjadi saat ini, keduanya tengah berperan seakan semuanya baik-baik saja, disaat keduanya tengah menanti waktu perpisahan.


Hari ini Risa sudah diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Berita mengenai pernikahan yang harus diundur karena kecelakaan Risa juga sudah mulai mereda berkat Si kembar Esme dan Amora.


Semua kembali normal, seperti sebelumnya, seakan kecelakaan yang dialami Risa tidak pernah terjadi.


Seperti saat ini,Risa sedang mengemas pakaian Aydin yang selama ini memang disimpan di apartemennya.


“Mau kemana?” tanya Aydin.


Aydin baru saja selesai mengobrol bersama Gio, Echa dan Appa Kim.


Risa menjawab dengan gelengan kepala.


“Lalu, kamu mengemas barang untuk?” lanjut Aydin.


Tanpa menatap Aydin, Risa menjawab dengan berusaha sekuat tenaga menahan air mata.


“Aku mengemas barang-barangmu, jika mengemas terburu-buru takutnya ada yang tertinggal,” jawabnya.


Sepertinya Aydin belum paham maksud Risa, “Sebanyak ini? Bukankah kita hanya akan pergi sehari saja?” tanyanya.


“Hemmm, tapi saat kembali tujuan kita sudah berbeda bukan? Jadi lebih baik aku mengemas barangmu sekarang,” jawab Risa.


Aydin mengepalkan tangannya, “Sepertinya kamu sudah sangat siap untuk berpisah,” sarkasnya.


Risa menghela napas, serba salah sebab tak mengerti apa yang dipikirkan Aydi .


“Aku hanya mengikuti keinginanmu," ucap Risa.


"Ku tahu ini kesalahanku, itulah saat kamu meminta waktu sendiri agar bisa memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan kita, aku tak mencegahmu dan selama itu pula tak pernah sekalipun aku berniat mengakhiri hubungan ini," Risa kembali menjeda ucapannya. Ia menarik napas yang panjang, untuk menenangkannya.


“Sebenarnya aku tak ingin lagi membahas ini, tapi aku tak ingin terus menjadi pihak yang salah,” ucap Risa.


“Apa tujuanmu kembali?” tanya Risa dan Aydin bungkam.


“Apa kamu akan tetap tinggal setelah kembali?” tanya Risa dan Aydin lagi-lagi bungkam.


“Lihat, semuanya sudah terjawab. Tak perlu ku jelaskan lagi, karena sudah pasti kamu yang lebih tahu apa arti diammu,” ucap Risa tanpa menatap Aydin, Ia hanya fokus pada apa yang dirinya kerjakan.


“Bagaimana denganmu? Kamu juga menginginkan perpisahan ini bukan?” tanya Aydin.


“Aku bukannya ingin, hanya berusaha menerima semua keputusanmu,” balas Risa.


“Jika dengan aku harus memohon-mohon cintamu bisa membuat kamu tetap tinggal, maka aku akan rela melakukannya,” ucap Risa menantang Aydin.


“Katakan sekarang Aydin, minta aku agar memohon cintamu. Aku sudah merendahkan harga diriku, jadi mintalah Aydin, minta aku memohon agar kau tak meninggalkanku," ucapnya dengan air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.


Namun lagi-lagi Aydin bungkam, dan dianggap oleh Risa menjadi jawaban.

__ADS_1


“Karena kamu diam, berarti kita sudah sepakat untuk mengakhirinya,” ucapan Risa berakhir bertepatan dengan Ia selesai mengemas seluruh barang Aydin.


Tanpa sepatah kata, Risa lalu pergi dari kamarnya. Meninggalkan Aydin yang tiba-tiba berurai air mata, yang tak bisa lagi Ia tahan.


Tak pernah sekalipun Aydin merasakan sakit seperti ini, bahkan saat kepergian Kirani.


Tapi Risa, sukses membuat Aydin berkali-kali menjatuhkan air matanya.


Dengan menahan tangisannya, Risa menuju kamar Eomma Martha.


Yah, yang dia butuhkan adalah dekapan seorang Ibu.


Dilihatnya Eomma Martha sudah terlelap, dengan perlahan Risa ikut berbaring di sisinya.


Meski Risa berusaha memejamkan matanya, namun tetap tidak bisa. Risa pikir kini matanya hanya bekerja dengan baik saat Ia menangis.


“Ada apa, Nak? Ceritakanlah,” ucap Eomma Martha mengejutkan Risa.


“Eomma, 3 hari lagi aku akan ikut dengan kalian. Sekertarisku, Muti sedang mengurus semuanya,” jawab Risa.


Keadaan kini berbalik, Eomma yang dibuat terkejut oleh Risa.


Terjadi keheningan sesaat.


“Baiklah, kami sangat senang akhirnya ada salah satu dari kalian bertiga yang ikut dengan kami,” balas Eomma Martha dengan tatapan dan senyum menenangkan.


“Tapi apa boleh Eomma tau alasannya?”


Pertanyaan Eomma membuat Risa kembali menitikkan air mata.


Bagi Risa, hingga saat ini Aydin belum bisa memaafkan Risa yang telah berbohong mengenai amanat Kirani.


“Aydin belum bisa merasakan cintaku Eomma, Aydin tak bisa, dia tak mempercayai semua ketulusanku padanya, dia ragu, dan kami tak mungkin menjalani hubungan yang didasari dengan keraguan,” adu Risa.


Wanita paruh baya itu hanya terus membelai surai lembut Risa, sambil sesekali mengatakan, “Semuanya baik-baik saja.”


Singkat, tapi mampu membuat hati Risa lebih tenang.


⚘⚘⚘⚘⚘


Pagi ini Risa terbangun setelah tidur singkatnya yang hanya sekitar 3 jam saja.


Pagi ini, saat netranya terpejam, Ia kembali mensyukuri hari ini Ia masih bisa bangun untuk menikmati nikmat yang akan Tuhan berikan hari ini.


Ia membuka netranya dan berharap sebuah keajaiban terjadi hari ini, semoga saja.


Tidak ada yang bisa menghancurkan besi kecuali karatnya sendiri. Begitu juga dengan Risa, dirinya bertekad untuk tidak lagi membiarkan pola pikir dan mentalnya menghancurkannya sekali lagi.


Semalam semua sudah jelas, Aydin menginginkan perpisahan dan Risa harus bisa menerima keputusannya.


Sudah cukup baginya, bertahan di sini dan terus terluka.


Semua yang Ia rencanakan untuk pergi, semoga akan berjalan dengan lancar.


Risa beranjak kembali ke kamarnya, tempat terakhir Ia meninggalkan Aydin semalam.


Sebenarnya dalam hatinya, ingin sekali Ia bisa membangunkan Aydin sekali lagi. Mungkin untuk yang terakhir.


Namun kamarnya kosong, tak ada tanda keberadaan Aydin beserta koper yang semalam juga tak ada.


“Dia pergi,” batin Risa.

__ADS_1


Entah mengapa senyum terbit di wajah Risa.


Senyum dengan sudut matanya yang berkerut, dan bibirnya yang dilipat kedalam.


Sebuah senyuman yang menunjukkan jika seseorang itu tengah memendam kesedihan yang mendalam, senyuman yang menunjukkan betapa menderitanya dirinya.


Tak ingin berlama-lama terlihat menyedihkan, Risa memilih menyegarkan tubuhnya dan segera bersiap-siap.


Memilih mengenakan long coat, riasan wajah dan juga menata rambutnya, Risa tampil berbeda dari biasanya yang sehari-hari selalu tampil natural.


Risa hanya berharap, jika tampilannya hari ini bisa menutupi segala kesedihannya. Hingga siapapun yang melihatnya hanya akan mengaguminya tidak untuk mengasihaninya.


Namun teori itu tidak berlaku bagi keluarga Kim.


Banyak pertanyaan yang bersarang dibenak mereka, kecuali Eomma Martha.


Saat ini mereka kembali melihat Risa dari 11 tahun lalu, menutupi semua kepedihannya dibalik kelebihan yang Ia miliki.


⚘⚘⚘⚘⚘


Hari ini Risa akan berangkat lebih pagi.


Mengunjungi perusahaan dan yayasan untuk yang terakhir, lalu setelahnya menghabiskan waktu seharian bersama Dafha.


Begitulah rencananya.


Tiga hari terakhir di Indonesia akan Risa manfaatkan sebaik-baiknya.


⚘⚘⚘⚘⚘


Risa semakin yakin jika dirinya memang tidak berbakat untuk mengurus perusahaan atau yayasan.


Mempercayakannya di tangan orang yang lebih berkompeten sepertinya pilihan yang baik. Risa tak perlu lagi mengkhawatirkan apapun.


Setelah Risa mengirim pesan pada Aydin, jika hari ini dirinya yang akan menjemput Dafha, Risa segera melajukan mobil menuju sekolah Dafha.


Dafha yang melihat mobil Risa dari kejauhan, terus saja tersenyum.


“Hai Ma,” sapanya saat sudah naik ke mobil dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Risa.


“Hai sayang, bagaimana sekolahmuhari ini? Apakah menyenangkan?" tanya Risa.


Dafha mengangguk antusias.


Dan setelahnya mengalirlah cerita Dafha, sesekali keduanya tertawa bersama-sama.


Meski tertawa namun di lubuk hatinya Risa menangis.


Menangis membayangkan betapa besar nanti kerinduannya pada Dafha. Anak berusia 6 tahun yang bisa menerima Risa tanpa syarat.


Bersama Dafha, kini tujuan berikutnya adalah Ohana Tech.


Sebelumnya Risa tak memberitahu Aydin jika mereka berdua akan berkunjung.


Risa ingin mengulang momen kebersamaan mereka bertiga.


“Dafha, kamu sudah siap untuk mengejutkan Daddy?” tanya Risa.


“Dafha selalu siap,” jawabnya tak kalah bersemangat hingga Risa gemas dengan wajah tampannya.


“Jangan pikirkan hal lain Risa, fokus saja untuk membahagiakan dirimu hari ini. Jadikan hari ini kenangan indah yang tak terlupakan,” batin Risa.

__ADS_1


⚘⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘⚘


Ketika perpisahan berada di depan mata, saat itu pula kusadari bahwa ujian terbesar cinta itu bukan kehilangan tapi kerinduan akan kenangan yang tak akan pernah terulang.


__ADS_2