Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 87. Sekali lagi, sebelum aku menyerah


__ADS_3

Pagi ini ketika matahari mulai menghangatkan jiwa-jiwa yang kedinginan karena sepi, Risa terbangun dan kembali mensyukuri apa yang telah terjadi kemarin.


Kemarin adalah salah satu hari teburuk bagi Risa. Harus kembali menangis setelah selama ini berusaha sembunyi.


Walaupun sudah lewat 1 jam dari waktu yang biasanya Ia berolah raga, tak menyurutkan niat Risa untuk tetap melakukan rutinitasnya selama sebulan terakhir.


Appa, Eomma, Amora, Esme, dan Echa yang sedang menikmati sarapannya terkejut melihat Risa yang sudah siap dengan pakaian olah raganya.


“Sayang, bukannya lebih baik jika hari ini kamu istirahat dulu Nak,” ujar Appa.


“Aku hanya sebentar Appa. Bisakah kalian menunggu, ada yang ingin kubicarakan pada kalian. Hanya sebentar, kumohon.” Pintanya.


Semua mengangguk, masih heran dengan sikap Risa.


“Termasuk Echa, please.” Lanjutnya.


Echa menaikkan jempolnya tanda setuju.


“Risa, santai saja. Keluarga akan selalu menunggumu, kau tak perlu memohon.” Ucap Amora.


“Thanks Eonni, aku pergi.”


Risa berniat hanya akan berlari maksimal 3 putaran. Dia hanya ingin menenangkan dirinya, memantapkan keputusannya. Dan jika bisa, Ia ingin meminta dukungan langit.


“Bukankah selama ini kau selalu mengiringi kesedihanku? Sekarang aku minta balasan, beri aku dukungan.” Ucapnya pada langit sambil menengadah.


Beberapa orang yang berada di sekitar taman tampak memandang Risa dengan tatapan aneh.


Tapi wanita itu seakan tak peduli.


“Biarlah orang akan menganggap aku bodoh. Toh sebentar lagi mungkin Esme atau Amora juga akan meneriakiku seperti itu."


"Tapi beginilah adanya cinta, sangat berbahaya hingga mampu memutar balikkan otakmu dan membuatmu berpikir jika yang atas adalah bawah dan bawah adalah atas.” Gumam Risa.


Sesuai rencananya, hari ini Ia hanya berlari 2 putaran. Dia kembali masuk ke apartemen hanya berselang 20 menit dari saat Ia pergi.


Sebelum masuk, Risa sempat menengadah kembali menatap langit.


“Terimakasih langit cerah, kau adalah pendukung pertamaku.” Lirihnya.


Lift mulai bergerak naik dan berhenti di lantai 17.


Keraguan sempat membayanginya beberapa saat, namun segera Ia tepis.


Saat masuk ke dalam apartemen, ternyata semua keluarganya sudah menunggu di ruang utama.


Ternyata disana juga sudah ada Gio.


“Maaf jika kalian menunggu lama.” Ucap Risa.


“Appa, Eomma, aku sudah memutuskan untuk ikut dengan kalian kembali ke Belanda.” Ucap Risa.


Appa dan Eomma yang memang berniat menawarkan Risa untuk ikut bersama mereka ke Belanda nampak lebih tenang menanggapi ucapan Risa.


Berbeda dengan Amora, Esme, Gio, dan Echa.


“Tidak, kamu tidak perlu pergi sejauh itu. Kita kembali ke Korea, lanjutkan karirmu disana. Tak ada pria di sana yang akan menolakmu.” Tolak Amora yang tak siap berpisah sejauh itu dengan adiknya.


“Kalau kalian ke Korea, lantas aku? Bagaimana hubungan kita? Tidak, Risa dan Amora akan tetap di Indonesia.” Gio ikut berkomentar.


“Aku akan ikuti apa yang Risa putuskan, tapi sampai dia menemukan pria yang bisa menjaganya maka aku akan ikut kemanapun dia pegi.” Ucap Esme.

__ADS_1


“Apa aku boleh ikut bersama kalian By?” Tanya Echa pada Esme.


“STOP !” Pekik Risa.


“Aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku,” ucap Risa.


“Bisakah kalian tenang sebentar, dan dengarkan aku dulu,” pintanya.


Setelah suasana kembali hening, Risa melanjutkan ucapannya.


“Aku akan ikuti Eomma dan Appa, tapi sebelum itu ku mohon izinkan aku berjuang sekali lagi.”


Semuanya saling pandang.


“Maksudmu Nak?” tanya Eomma.


“Bukankah kata Eomma mencintai seseorang itu tidak akan pernah mudah, butuh perjuangan juga kesabaran untuk bisa bersama dengan orang yang kita cintai.” Jawab Risa.


“Setelah ku pikirkan, selama ini mungkin aku sudah sabar untuk menunggunya sadar menunggu Ia sadari perasaannya padaku. Tapi mungkin aku masih kurang dalam memperjuangkannya.”


“Jadi tolong izinkan aku, berjuang sekali lagi. Jika memang tidak berhasil maka saat itu ku mohon bawa aku pergi sejauh mungkin Eomma, Appa.” Pinta Risa.


Eomma memeluk Risa, “Tanpa harus kau minta Nak, Eomma akan selalu berusaha membahagiakanmu Nak.”


Setelah pelukan Eomma terlepas, Appa mencium puncak kepala Risa . Seorang gadis yang 11 tahun lalu Ia temui dalam keadaan memprihatinkan, “Kau sudah benar-benar dewasa putriku,” ucapnya.


Sedangkan Amora dan Esme memeluk Risa bersamaan, “Kau salah jika meminta izin kami. Harusnya kau meminta dukungan kami, ayo sekarang katakan apa yang bisa kami lakukan,” ucap keduanya.


Risa tersenyum, sungguh beruntung baginya karena memiliki keluarga yang menghujaninya dengan kasih sayang sebesar ini.


“Benar kata kalian, aku memang membutuhkan bantuan kalian,” ucap Risa.


“Pertama, Eomma aku ingin Eomma..............”


Tidak lagi hanya karena keinginan untuk mewujudkan amanat Rani, tapi karena Ia berharap haknya untuk hidup bahagia bisa Ia dapatkan bersama Aydin dan Dafha.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


¤¤¤¤¤《 FLASHBACK ON 》 ¤¤¤¤¤


“Ganti pakaianmu Nak, dan keringkan rambutmu. Eomma akan buatkan minuman hangat untukmu.” Ucap Eomma saat mereka baru saja tiba di apartement.


Risa bersyukur Eomma tidak bertanya apapun saat ini. Risa sungguh lelah jika harus menangis lagi jika Ia kembali bercerita.


Bahkan ketika Ia sudah selesai bersiap dan hendak pergi, Eomma tetap tidak menanyakan kemana Risa pergi atau melarangnya untuk pergi.


“Minum dulu minuman hangatmu Nak. Dan bawalah payung, di luar masih hujan.” Ucapnya.


Risa menyadari suara Eomma yang bergetar. Tak ingin berlama-lama karena Risa takut Ia akan kembali menangis,


segera Ia habiskan minuman hangat yang dibuatkan oleh Ibu angkatnya itu.


Setelah bayangan Risa hilang dibalik pintu, luruhlah sudah pertahanan Martha. Wanita yang dipanggil Eomma oleh Risa selama 11 tahun terakhir ini begitu menyayangkan takdir yang harus dilewati Risa.


Baru saja wanita muda itu terlepas dari jerat trauma masa lalunya, ketika dia mulai ikhlas kini Ia kembali di hadapkan dengan takdir cintanya yang tak mudah.


Martha baru mengetahui dari putri kembarnya bagaimana Risa awalnya memilih untuk kembali ke Indonesia hingga terjerat dengan cinta pada pria bernama Aydin.


“Bisakah aku sebagai seorang Ibu yang tulus menyayanginya berdoa untuk kebahagiaannya? Ya Tuhan, jika aku harus menukar 1 kebahagiaanku untuknya maka ambillah. Aku akan menerima 1 kesedihan agar wanita baik itu bisa bahagia.” Batin Martha.


♡♡♡

__ADS_1


Tujuan awal Risa adalah ke toko bunga, membeli sebuket bunga Lily Of the valley kemudian dengan taksi yang sama Ia menuju ke sebuah kompleks pemakaman.


Benar, Risa pergi menemui Kirani.


Ia letakkan bunga yang dibawanya. Dan menyapa Kirani.


Tidak ada tangisan kini, bukankah Risa sudah bilang jika Ia lelah?


Di depan tempat peristirahatan terakhir Kirani, Risa hanya menghela napasnya.


“Maaf jika aku tak akan lama kali ini, aku sangat lelah Rani. Kepalaku rasanya sangat berat, dadaku sesak, ini rasa yang sama ketika dulu ayahku mengabaikanku saat Indri menyiksaku.” Ucapnya.


Risa tertawa. “Kamu lihat Rani, aku akhirnya melakukannya, sekarang Ayahku dan Indri di penjara. Sedang Anggun, anak kecil yang dulu sering mengejekmu sedang di masa-masa sulit hidupnya.”


“*Aku selesai Rani."


"Soal Aydin, maaf. Tak henti ku katakan, kamu begitu beruntung mendapatkan cinta yang begitu besar darinya*.”


“Aku pamit.”


*Risa lalu berjalan menjauh tanpa berniat menengok kebelakang.


Ia kembali naik ke taksi yang menunggunya sejak tadi*.


Ia memeriksa kembali pipinya, tak ada air mata.


Risa tersenyum, “Bahkan jika sumber air mataku telah mengering itu bahkan lebih baik. Sungguh aku lelah menangis.” Batinnya.


♡♡♡


Saat kembali ke apartemen Risa mengurung diri di kamar. Bahkan hingga malam tiba Ia tidak juga keluar.


Martha menceritakan apa yang terjadi hari ini pada Esme, Echa, Amora dan Gio yang baru saja kembali dari bekerja.


“Sudah ku duga dia akan seperti ini jika bertemu dengan wanita itu.” Ucap Esme emosi.


“Sabar dulu By, emosian banget. Sebenarnya kami berdua juga dihubungi oleh Chandra.” Ucap Echa.


*Echa menceritakan apa yang terjadi pada Aydin mengenai perusahaannya yang kini terancam bangkrut karena Ia terus melalaikan tugasnya.


Hal itu tak lain karena Ia sibuk mengikuti Risa*.


Eomma Martha juga membenarkan cerita Echa, bahkan Ia sudah tau lebih dulu soal Aydin yang sering mengikuti Risa.


Tapi Martha bahkan tak menyangka jika dampaknya akan separah ini.


Tanpa mereka sadari, Risa mendengar semuanya saat Ia hendak ke dapur mengambil air minum.


Sebelum tidur, Martha memeriksa keadaan Risa.


Ia dapati putrinya itu sedang menangis dibawah selimut tebalnya.


“Mencintai seseorang itu tidak akan pernah mudah Nak, butuh perjuangan juga kesabaran untuk bisa bersama dengan orang yang kita cintai. Tapi perjalanan sulit itu yang akan selalu menguatkan kala kita sudah berjalan bersamanya.” Ucap Martha.


Ia membiarkan Risa mengeluarkan semua kesedihannya lewat tangisan. Martha hanya memandangi tubuh putrinya yang bergetar dengan suara isakan dari balik selimut.


*Setelah suasana berubah hening, perlahan Ia menarik turun sedikit selimut yang menutupi wajah putrinya.


Martha kecup puncak kepala Risa, “Selamat tidur sayang. Jika memang kau lelah disini, eomma dan appa akan membawamu pergi. Kita bisa pergi ke Belanda. Eomma akan berusaha, mulai besok kau akan lebih banyak tertawa*.”


Setelah itu, Martha lalu beranjak meninggalkan kamar Risa. “Aku tau kau belum tidur Risa, semoga malam ini kau memikirkan semua kata-kataku.” Batinnya.

__ADS_1


¤¤¤¤¤¤ 《 Flashback OFF 》¤¤¤¤¤¤


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡♡


__ADS_2