Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 155. Picik


__ADS_3

ORANG MENANGIS BUKAN KARENA MEREKA LEMAH. TAPI, MEREKA MENANGIS KARENA TELAH BERUSAHA KUAT DALAM WAKTU YANG LAMA.” – JOHNNY DEPP.


Dan kini aku lelah.


Kelelahan terus memaksaku untuk berhenti bertahan.


Bertahan dari sakitnya perasaan ketika harus memaksa tersenyum hanya untuk menghentikan air mata yang jatuh.


Bekas luka yang bersembunyi dibalik kata kata “Saya baik-baik saja” sepertinya tak bisa lagi tertahankan.


Mungkin ini saatnya untuk berhenti bersembunyi, tapi untuk pergi selamanya.


“Selamat tinggal dunia, selamat tinggal cinta.”


⚘🍀⚘🍀⚘🍀⚘🍀⚘🍀


Satu bulan berlalu, meski masih duduk di kursi roda Risa sudah mulai terbiasa dan kini sudah bisa melakukan beberapa hal seorang diri.


Risa pikir semua mulai membaik. Pikirnya perlahan Ia akan bisa menerima keadaannya jika Ia berusaha.


Semua orang yang menyayanginya, juga berusaha sekuat tenaga, berusaha berbesar hati, berusaha untuk sabar menghadapi perubahan sikap Risa dari hari ke hari.


Picik..... Mungkin kata itu bisa menggambarkan Risa yang sekarang.


Jika boleh mengeluh, orang-orang terdekatnya merindukan Risa yang selalu berpikir open mind.


Tapi bisakah menyalahkan Risa? Entahlah.


Brisa Elzavira atau Kim Risa, terkenal sebagai sosok yang memiliki keindahan rupa. Bahkan dengan kondisinya saat ini, keindahan seolah tak pernah luntur dari dirinya.


Tapi bagaimana sosok indah seperti Risa memandang keindahan? Bagaimana caranya agar Risa bisa kembali mengagumi keindahan.


Suara, Risa kini mencoba lebih bersahabat dengan indra pendengarnya.


Lalu dimana letak piciknya seorang Risa? Risa baru menyadari hal itu hari ini.


Hari ini Risa mencoba berdamai dengan keadaan, Risa kini mulai ingin menerima dirinya.


Tadi pagi, Risa sangat bersemangat karena ini adalah kali pertama dirinya akan pergi ke keramaian.


“Kamu sudah siap?”


“Entahlah,” jawab Risa singkat, “Dari yang Kak Eijaz lihat, apakah aku sudah siap?” tanyanya.


Ya, pria itu adalah Eijaz. Pria itu masih betah tinggal di Amsterdam dan menolak pulang ke Indonesia dengan alibi menemani Risa.


Eijaz sudah terbiasa dengan ucapan sarkasme yang wanita itu tujukan pada dirinya sendiri.


“Kamu selalu cantik.”


Eijaz menjawab pertanyaan Risa dengan pujian.


“Jangan bercanda, tak ada wanita buta dan lumpuh yang cantik,” sanggah Risa dengan tawanya yang terdengar menyedihkan.


“Terserah kamu saja, mau percaya atau tidak,” balas Eijaz acuh.


Pria itu lalu mendorong kursi roda Risa keluar dari kamar agar perdebatan mereka terhenti.


30 menit waktu yang mereka perlukan untuk sampai di Amstelpark, sebuah taman yang menjadi tempat diadakannya festival tahunan musim panas, Taste Of Amsterdam.


Taman ini nampak sangat indah, sangat cocok menjadi latar belakang dari acara luar biasa di mana makanan, minuman, memasak, mencicipi, dan bersenang-senang adalah kegiatan utama acara ini.


Baik penduduk asli Amsterdam maupun para turis lokal dan mancanegara, menyebut festival ini sebagai surga bagi pecinta kuliner.


Seluruh koki terbaik dari restoran nasional dan internasional akan berkumpul di tempat ini untuk menyuguhkan hidangan lezat yang pantas untuk memanjakan lidah.

__ADS_1


Awalnya Risa pikir dirinya cocok berada ditempat itu, pasalnya untuk menikmati hidangan lezat Ia masih memiliki indra perasa yang berfungsi dengan baik.


Alunan musik jazz dan soul mengiringi banyaknya rangkaian acara yang berlangsung selama festival.


Eijaz dengan setia mendorong kursi roda dengan Risa yang memangku Rian, putra Anggun.


Sesekali Risa mendengar Rian tertawa atau celoteh khas anak kecil yang menggemaskan.


“Bagaimana makanannya, lezat?” tanya Eijaz ketika mereka sedang rehat sejenak.


Risa mengangguk, “Ya, sangat lezat. Aku suka,” jawab Risa antusias.


Pada festival ini, selain jajanan makanan, ada juga acara lain seperti kompetisi memasak antar chef, ada teater anggur, ada lomba menghias kue mangkuk untuk anak-anak dan juga pameran produk lokal.


Sampai ketika Eijaz harus meninggalkan Risa sebab harus ke toilet.


“Pergilah Kak, aku akan menunggu disini,” ujar Risa.


“Tidak, sebaiknya kita menunggu Anggun lebih dulu,” tolak Eijaz.


“Pergilah, jangan membuatku merasa bersalah,” titah Risa.


Ia hanya tak tega jika Eijaz harus tersiksa menahan sakit diperutnya.


“Baiklah, aku pergi ke toilet sebentar. Jangan kemana-mana,” peringat Eijaz sebelum pria itu berlari menuju toilet.


Selama Eijaz pergi Risa hanya sibuk menghabiskan kudapan yang tadi sempat dibelinya.


Sampai suara seorang pria mengejutkannya.


“Permisi Nona, bisakah Anda membantu saya?” tanya pria itu.


Risa sengaja tak menjawab, dan memalingkan wajahnya. Dalam hati Ia berharap semoga Ia berpaling ke arah yang tepat.


“Tolong bantu saya Nona, sudah beberapa hari ini saya belum makan. Bisakah anda beri saya sedikit makanan?” pintanya.


“Maaf, saya tidak punya makanan,” jawab Risa jujur.


Satu-satunya makanan yang Ia punya hanya kudapan yang ada di pangkuannya dan mungkin hanya tersisa sedikit saja.


“Kalau begitu bisakah Nona beri saya uang untuk beli makan? Berapapun tak apa Nona, untuk membeli air saja sudah cukup,” desak sang pria.


Risa mencoba merogoh sakunya, namun tak Ia temukan apa pun di sana. Sementara tas dan dompetnya tadi dibawa oleh pengasuh Rian.


Belum sempat Risa bicara, seorang wanita menyela pembicaraan keduanya.


“Hei Nona... jangan mudah percaya. Pria seperti dia memang hobinya mengumbar kisah sedih untuk menipu orang-orang yang seperti anda,” celetuknya.


Mendengar hal itu, sontak saja Risa jadi terbawa emosi. Entah Ia marah karena hampir saja tertipu oleh pria yang mengobrol dengannya atau marah karena ucapan wanita yang menyebutnya sebagai ‘orang-orang seperti anda’.


Memangnya kenapa dengan dirinya? Karena dia buta? Karena dia cacat? Jadi dia dianggap lemah, bodoh, dan mudah ditipu?


Tak ingin dicap seperti itu, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi Risa segera menggerakkan kursi rodanya untuk pergi dari tempat itu.


Meninggalkan sang pria yang hanya bisa menatap kepergian Risa dengan tatapan yang lemah.


Eijaz yang baru saja kembali dari toilet, melihat Risa tengah menjalankan kursi rodanya. Ia segera mengejar Risa tanpa tahu apa yang terjadi sebelumnya.


“Bri.... Brisa... “ Teriaknya.


“Kenapa pergi? Kamu sudah janji untuk tetap di tempatmu,” ucap Eijaz sambil terus mengatur napasnya yang memburu.


“Tak apa, aku hanya ingin mencari tempat yang lebih teduh,” jawab Risa asal.


Eijas menoleh sekilas ke tempat Risa yang sebelumnya, keningnya mengernyit karena bisa Ia lihat tempat itu sangat teduh karena ada sebuah pohon besar di sana.

__ADS_1


“Baiklah, ayo kita jalan lagi,” ajak Eijaz, Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan Risa.


Baru saja beberapa langkah,


Brrrukkk... samar-samar suara seperti benda yang jatuh terdengar.


Diikuti teriakan seorang wanita yang meminta tolong.


Seketika tempat itu ramai, beberapa pengunjung berkerumun untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Eijaz mencari tahu dengan bertanya pada seseorang, “apa yang terjadi di sana?”


“Seorang pria baru saja pingsan, sepertinya dia seorang tunawisma,” jawab seorang wanita.


“Iya, malang sekali pria itu,” imbuh seorang lainnya.


Sementara Risa yang mendengar itu semua kini mematung, tubuhnya menegang, “Apa yang mereka bicarakan adalah pria yang tadi meminta tolong padaku?” batin Risa.


“Apa aku baru saja melakukan kesalahan?” lanjutnya membatin.


“Kak, di mana pria itu pingsan?” tanya Risa ragu.


“Tak jauh dari tempatmu tadi menunggu,” jawab Eijaz.


Dan akhirnya Eijaz sadari, jika wajah Risa memucat setelah Ia menjawab pertanyaannya.


“Apa terjadi sesuatu saat aku pergi?” tanya Eijaz.


Risa menggeleng.


“Aku pusing, aku mau pulang saja.” Pinta Risa tiba-tiba.


Eijaz yakin pasti telah terjadi sesuatu, tapi pria itu tak ingin memaksa Risa untuk bercerita.


“Baiklah, kita ke mobil lebih dulu. Setelah itu baru kita hubungi Anggun.”


⚘🍀⚘🍀⚘🍀


Sepanjang perjalanan Risa terus saja bungkam. Ia menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata seolah sedang tertidur.


Anggun mengira kakaknya hanya kelelahan, sedang Eijaz kini semakin bertanya-tanya kejadian apa yang telah Ia lewatkan.


Saat sampai di kediaman orang tua angkat Risa, wanita itu meminta segera diantar ke kamar utk istirahat karena lelah.


Di kamar, Risa hanya berbaring sambil memejamkan matanya berusaha menahan tangis.


Namun air mata seolah tak peduli dan terus saja melesak keluar melalui celah-celah yang bisa Ia tembus.


Akhir-akhir ini Risa pikir, mungkin ada baiknya juga dirinya tak dapat melihat lagi, dengan begitu dia tidak lagi memiliki prasangka yang bisa saja menyesatkannya dan dia tidak lagi akan memperdulikan apakah seorang itu adalah pangeran atau si buruk rupa dan tidak akan lagi perduli dengan masalah-masalah tak penting.


Namun ternyata dugaan Risa salah.


Dirinya semakin menyedihkan, karena dengan mudahnya Ia mempercayai apa yang Ia dengar dari orang yang lain yang bisa melihat.


Harusnya tadi Ia mempercayai suara lemah pria itu yang ditangkap oleh indranya.


“Diriku memang menyedihkan,” batin Risa.


“Harusnya dengan mata yang tak bisa melihat, aku bisa melihat kebaikan di balik kepribadian seseorang tanpa melihat rupanya,” rutuk Risa.


“Namun mengapa aku masih egois, tak bisa menerima jika aku buta, dan memilih percaya pada apa yang orang lain lihat, bukankah aku sangat picik, aku memang bodoh!” Ia merutuki dirinya sendiri dengan derai air mata yang semakin deras.


“Untuk apa aku hidup? Bahkan kini hatiku ikut buta, tak ada gunanya lagi aku bertahan,” sesalnya.


Rasa bersalah.... Risa menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa tunawisma di festival tadi.

__ADS_1


Namun apa benar hanya karena rasa bersalah hingga Ia berpikir hidupnya tak berguna? Atau masihkah Risa tak bisa menerima kenyataan?


⚘🍀⚘🍀To be continue ⚘🍀⚘🍀


__ADS_2