Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 141. Mengalah?


__ADS_3

Aku berlindung di balik kata mengalah dari ketidak mampuanku.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


¤¤¤¤《Flash back》¤¤¤¤


Memang semudah itu mencintai seorang Risa. Bukan hanya Aydin tapi bahkan seluruh keluarganya mengakui hal itu.


Itulah sebabnya, kini Aydin ragu apakah keluarganya akan kembali mendukungnya jika Ia ingin kembali pada Risa.


Aydin yakin karena sikap kekanak-kanakannya, Ia akan mengalami kesulitan untuk menemui Risa saat ini.


Namun sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak padanya, saat ini Aydin tak melihat siapapun yang berada di sekitar ruang perawatan Risa.


Untuk memastikan, akhirnya Aydin memutuskan untuk bertanya pada perawat. Dan benar, hanya ada Eomma dan Dafha yang menemani Risa.


Sepertinya akan semakin sulit bagi Aydin untuk kembali mendapat restu seperti dulu. Entah kapan Eomma dan Appa tiba dari Belanda, dan hal itu berarti Aydin harus mulai mempersiapkan diri menghadapi kemurkaan Appa Kim.


Pria paruh baya itu sudah berpesan padanya terakhir kali, jika dia tak ingin lagi melihat putrinya menangis, seandainya terjadi maka dia sendiri yang akan membawa Risa pergi.


Aydin menelan salivanya kala mengingatnya, mungkin untuk meyakinkan Appa Kim butuh dirinya butuh perjuangan ekstra dan kesabaran yang maksimal.


Tak ingin menunda terlalu lama lagi, Aydin segera menuju ruang perawatan Risa.


Namun, baru saja tangannya terulur hendak membuka pintu, Aydin dikejutkan dengan suara seorang wanita yang memanggilnya dari arah belakang punggungnya.


“Aydin,” panggilnya, “Nak Aydin,” ulangnya sekali lagi.


Merasa namanya dipanggil, Aydin berbalik dan mencari dari mana sumber suara itu berasal.


“Tante Nadine?” tanya Aydin ragu.


Sama halnya seperti mama Indira, wajah cantik Tante Nadine tidak termakan usia. Untuk wanita seusia mama Indira dan tante Nadine, mereka berdua termasuk dalam kategori awet muda.


“Iya benar, saya mamanya Eijaz,” jelasnya.


“Bisakah kita bicara sebentar saja?” pintanya.


Keraguan sempat terlintas di benak Aydin. Di satu sisi dirinya sudah tak sabar ingin bertemu dengan pujaan hati, tapi di sisi lain Aydin juga tak enak jika harus menolak. Apa yang ingin dibicarakan Tante Nadine sepertinya hal yang penting, sebab Aydin tahu bagaimana sifat tante Nadine.


Tante Nadine yang Aydin kenal adalah seorang wanita sosialita yang setiap harinya selalu sibuk hingga dulu Eijaz bahkan sangat sulit untuk berkomunikasi dengannya.


Sengaja Aydin melirik jam di pergelangan tangannya, Ia berharap agar tante Nadine mengerti jika dirinya tak memiliki banyak waktu.


“Sebentar saja, Aydin,” ulangnya sekali lagi meyakinkan Aydin.


“Baiklah, apa kita ke kantin rumah sakit saja? Atau tante mau bicara di tempat lain?” tanya Aydin.


“Tak perlu, ikutlah denganku, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan,” jawabnya.


Aydin mengikuti saja kemana langkah kaki tante Nadine membawanya. Aydin pikir awalnya dirinya akan diajak menemui Eijaz, namun kini mereka berdua sudah melewati ruang perawatan Eijaz.

__ADS_1


“Kemana tujuannya? Apa sebenarnya yang ingin beliau tunjukkan?” batin Aydin.


Tak beberapa lama, tante Nadine berhenti di depan sebuah ruangan.


Ruangan yang cukup luas, mereka tidak boleh masuk terlalu jauh, hanya beberapa langkah saja dari pintu.


Aydin cukup terkejut tapi dia tetap bisa menormalkan raut wajah dan ekspresinya. Saat seorang perawat menarik kesamping tirai yang sejak tadi menutupi sebuah brankar.


“Eijaz?” gumam Aydin lirih.


Lalu netra Aydin mengelilingi ruangan tempatnya kini berada, hingga Ia bisa membaca papan yang bertuliskan ‘Ruang Hemodialisis’.


“Eijaz sedang cuci darah, Nak. Kurang lebih 5 jam, 2 kali dalam seminggu, dia harus melakukan hal itu agar tetap bisa bertahan hidup,” ujar tante Nadine saat keduanya kini sudah berpindah ke ruang tunggu.


Tak ada respon dari Aydin, pria itu masih penasaran apa yang diinginkan tante Nadine.


“Dan hal itu sudah berjalan sejak 2 tahun yang lalu,” lanjutnya.


Tante Nadine terlihat menarik napasnya panjang, raut wajahnya sangat menyedihkan. Jelas sekali bisa di lihat jika wanita paruh baya itu sangat kelelahan.


“Kadang Eijaz ingin menyerah, beberapa kali saat masih di Amerika dia melakukan berbagai cara untuk segera mengakhiri hidupnya,” ujar tante Nadine menceritakan kehidupan Eijaz.


“Dua tahun setelah kepergian ayahnya, Eijaz akhirnya divonis menderita penyakit kanker darah. Saat itu karena masih stadium awal hingga gejalanya belum terlalu menyulitkan Eijaz,” lanjutnya.


“Namun lama kelamaan gejalanya semakin memburuk, beberapa kali Eijaz sempat drop dan hampir kehilangan nyawa. Tapi Ia masih memiliki semangat hidup yang luar biasa. Ada satu keinginan yang terus memotivasinya untuk bertahan hidup, menjalani setiap pengobatan dengan rutin, melawan rasa sakit yang kerap kali Ia rasakan. Semuanya hanya karena satu hal,” Tante Nadine mulai terisak, sedang Aydin mulai mengerti ke arah mana inti pembicaraam tante Nadine.


“Karena ada seseorang yang ingin Ia temui. Seorang gadis penjaga toko buku miliknya, yang Eijaz tolong saat sedang kesusahan. Seseorang yang telah Ia cintai selama bertahun-tahun, cinta yang belum pernah sempat terucap,” ujarnya.


“Dan seseorang yang Eijaz cinta itu adalah calon istriku. Benar begitu tante?” tanya Aydin dengan nada suara yang dingin.


“Ka... Ka... Kamu sudah tau?” tanya Tante Nadine terkejut.


“Tentu saja, semacam firasat. Setiap pria pasti bisa mengetahui dengan mudah jika ada pria lain yang menginginkan wanita miliknya hanya dengan melihat tatapan pria itu,” ujar Aydin dengan santai.


Sementara tante Nadine cukup terkejut dengan respon Aydin yang biasa saja.


“Aku dan Eijaz bersahabat sudah lama, tante. Kami mengenal satu sama lain, masa-masa remaja kami banyak menghabiskan waktu bersama,” ungkap Aydin.


“Aku tau bagaimana Eijaz mencintai tunanganku sejak masih kuliah. Cintanya tak pernah bisa Ia ungkapkan sebab kala itu tunanganku sering kali dalam suasana hati yang tidak baik,” sesekali Aydin tersenyum saat mengingat masa-masa mereka kuliah.


Aydin yang kala itu sedang menjalin hubungan bersama Franda, juga harus rela acara malam minggunya batal karena menjadi tempat mengeluh bagi Eijaz yang bersedih setelah lagi-lagi gagal menyatakan cintanya.


“Jadi sangat mudah bagiku untuk tahu jika wanita itu adalah tunanganku. Hanya dengan melihat binar mata Eijaz saat mereka bertemu, binar mata yang sama seperti saat dulu Eijaz bercerita soal wanita pujannya,” jelas Aydin.


Setelah itu, keheningan cukup lama terjadi. Keduanya bungkam, tak tahu bagaimana cara menyampaikan tujuan keduanya bertemu dan berakhir membahas masa lalu.


“Hemm, Aydin.... hal ini mungkin terkesan egois, tapi apakah salah jika seorang Ibu ingin anaknya bahagia? Aku sadar, dulu aku bulanlah Ibu yang baik untuk Eijaz. Maka sekarang, walaupun mungkin dia hanya akan merasakan kebahagiaan yamg sebentar saja, bolehkah aku meminta kamu mengikhlaskan Risa untuk Eijaz?” ucap tante Nadine.


Dan benar saja dugaan Aydin, “Maksud tante?” tanya Aydin seolah tak paham.


“Bisakah kamu membiarkan Eijaz dan Risa bersatu. Tak akan lama Nak, tak akan lama, setelah Eijaz tiada, tante janji tak akan menghalangimu jika ingin kembali bersama Risa,” jawabnya.

__ADS_1


"Menurut dokter Eijaz akan sangat sulit bertahan lebih lama lagi, kondisinya semakin lama terus saja menurun," ungkapnya.


Aydin tertawa, “Apa tante lupa, jila calon istriku itu bukan barang. Aku dan Eijaz sudah membicarakan hal ini sebagai seorang pria yang mencintai wanita yang sama. Dan dengan bijak Eijaz memahami jika hati Risa sudah sepenuhnya milikku, meski menyatakan cintapun, Eijaz sudah tau jika dia akan mengalami penolakan,” ujar Aydin.


“Tante mohon Aydin. Tante rela melakukan apa saja. Aku yakin mereka hanya butuh waktu untuk berdua, jadi kumohon Aydin beri Eijaz kesempatan untuk memperjuangkan cintanya. Tapi tak akan bisa jika kamu masih ada di kehidupan Risa,” balasnya.


Jelas sekali betapa tante Nadine tak ingin mengalah. Seorang Ibu yang putus asa, hingga menurunkan harga dirinya, memohon-mohon pada orang lain agar putranya bisa merasakan cinta.


“Tante tau, tak akan mudah bagi Eijaz mendapatkan cinta Risa, tapi setidaknya Eijaz akan memiliki semangat untuk hidup karena ada sesuatu yang ingin diraihnya. Sama seperti caranya bertahan selama 9 tahun terakhir, Ia berusaha bertahan dengan sebuah harapan. Berharap bisa bahagia walau hanya sebentar karena cinta dari Risa,” ucap tante Nadine.


“Tante mohon Aydin, tante mohon, jika harus berlutut dan memohon padamu, maka dengan senang hati akan tante lakukan,” ucapnya penuh permohonan.


Sementara itu Aydin hanya bisa terdiam. Tak tega melihat seorang Ibu yang sangat putus asa.


Tapi tentu Aydin juga memikirkan dirinya. Bagaimana dengannya, jika harus berpisah dari Risa. Mungkin Ia belum akan kehilangan nyawanya, tapi semangatnya untuk hidup juga tak akan ada lagi.


Tapi terbersit ingatan ketika Aydin harus kehilangan Kirani karena dirinya lupa untuk mengalah. Saat itu tanpa sadar, Aydin mengabaikan keluarganya.


Aydin terlalu sibuk melayani ego dan ambisinya yang berkobar, dan pada akhirnya yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan.


Kini Ia kembali merasakan hal itu.


Dilema antara dirinya tetap egois demi kebahagiaannya, atau harus mengalah dan biarkan takdir yang bekerja.


Biarkan takdir yang kembali mempertemukan mereka suatu saat nanti dan membuktikan jika dirinya dan Risa memang diciptakan untuk saling memiliki dan melengkapi.


“Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya tante. Jika nantinya aku melepas Risa, bukan berarti aku setuju dengan semua ide yang tante katakan. Tapi aku sedang memberi jeda pada perasaan kami untuk membuktikan seberapa besar dan kuatnya perasaan itu," tegas Aydin.


"Mungkin sebentar lagi kami akan terpisah, kami akan pergi dan saling menjauh, sejauh mungkin, tapi kami akan selalu tau kapan, bagaimana, dan dimana kami harus kembali,” ujar Aydin sebelum berdiri dan pegi meninggalkan ibunda dari sahabatnya.


⚘⚘⚘⚘⚘


Kini perasaan Aydin campur aduk, niatnya untuk menemui Risa terpaksa harus Ia urungkan.


Ruangan Risa sudah ramai, semua keluarga berkumpul di sana, termasuk keluarga Aydin.


Dengan perasaan dan pikiran yang sedang kacau, Aydin tak yakin bisa menghadapi semua orang di dalam sana.


Berkali-kali Aydin berteriak, memaki kebodohan dirinya. Dirinya juga sesekali memukul kemudi mobilnya untuk menyalurkan Emosinya.


“Aku menyesal telah melangkahkan kakiku pergi menjauh darimu saat itu. Tuhan menghukumku, kini aku dihadapkan pada pilihan, ingin menyelamatkan diriku dari kepedihan, atau mempertaruhkan nyawa sahabatku,” batinnya.


¤¤¤¤《Flash back off》¤¤¤¤


⚘⚘⚘⚘ To be continue ⚘⚘⚘⚘


Mungkin sebagian kita memang perlu menyudahi untuk "menjadi diri sendiri", karena mimpi yang kita kejar berulangkali sirna, harapan yang kita ingin gapai malah makin menjauh.


Mungkin ini adalah saatnya untuk menjauh sejenak, dan menunggu saatnya juga untuk benar-benar menghilang.


Berharap dengan mengalah di awal tak jarang menjadi pintu (masuk) untuk menang diakhir.

__ADS_1


__ADS_2