Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 156. Kenyataan


__ADS_3

Ibu....


Aku rindu....


Masih kuingat bagaimana engkau memintaku untuk selalu bersikap baik pada siapa pun.


Semua orang sama, jangan memandang mereka berbeda-beda.


Jangan sekali pun memiliki prasangka negatif pada mereka.


Tapi Ibu....


Bolehkah jika akhirnya aku berkata jujur, Berkeluh kesah jika di tempat ini, kebaikan bisa saja menjadi bumerang.


Kebaikan bisa saja menjadi penghancur.


Ibu......


Pada siapa aku harus bertanya, meminta petunjuk, mengenai bagaimana aku bersikap? Jalan apa yang harus kujalani? Bagaimana agar aku memiliki keteguhan hati yang tiada mati?


Ibu......


Mintalah pada Tuhan, sampaikan padanya, jika aku ingin bersamamu.


βš˜πŸ€βš˜πŸ€βš˜πŸ€βš˜πŸ€βš˜πŸ€


Untuk kesekian kalinya, kembali Risa harus berhadapan dengan maut.


Semua orang kini berkumpul, menuntut Romi untuk menceritakan setiap detik rentetan kronologis kejadian yang menghantarkan Risa pada maut yang kini mengancam nyawanya.


Eijaz?


Jangan mencarinya, Pria itu mematung di sudut lorong seperti mayat hidup. Wajahnya pucat pasi, dengan tatapan kosong.


"Wanita yang kucintai kini sedang berhadapan dengan maut, dan itu karena aku."


βš˜πŸ€βš˜πŸ€βš˜πŸ€


[Flash Back On]


Empat bulan sudah Risa menjalani terapi untuk cedera yang Ia alami pada kakinya.


Seperti ungkapan jika hasil tak akan mengkhianati usaha, kini usaha Risa untuk bisa berjalan kembali mulai membuahkan hasil.


Meski dengan bantuan tongkat, namun suatu kemajuan yang baik sebab Risa kini sudah tak lagi bergantung pada kursi roda.


Meski harus melangkah perlahan namun Risa sangat bersyukur, embel-embel wanita lumpuh di belakang namanya sudah dapat Ia coret.

__ADS_1


Selama itu pula Eijaz masih tetap bertahan di Amsterdam. Pernah sekali pria itu pulang ke Indonesia untuk melepas rindu pada sang Bunda, dan tentu saja menemui Aydin.


Namun yang Ia dapati hanyalah kekecewaan. Kecewa saat mendapati Aydin kini dekat dengan seorang wanita yang baru Ia temui.


Setiap akhir pekan, Eijaz akan mengajak Risa mengunjungi suatu tempat baru. Eijaz ingin mengisi sisa waktu yang dimilikinya dengan kebahagiaan, dan memberi Risa kenangan yang menyenangkan hingga wanita itu bisa lupa bagaimana rasanya perih.


Begitu pun dengan Amora-Gio dan Esme-Echa. Kedua pasangan kekasih itu, sekali dalam setiap bulan akan bertandang ke Ibu kota Negara Kincir Angin untuk menemui Risa.


Sebab itu, akhir pekan ini Eijaz mengajak Risa dan seluruh keluarganya untuk menikmati pengalaman baru, yaitu pengalaman berkemah yang dipadukan dengan seni yang indah.


Semua oramg antusias dan bersemangat, termasuk si kecil Rian yang sepanjang perjalanan menuju bagian utara Kota Amsterdam terus berada di pangkuan Risa.


Tempatnya bernama perkemahan Vliegenbos. Lokasi perkemahan seluas 25 hektar yang kini sudah dilengkapi 15 objek dari seniman dan arsitek yang difungsikan sebagai tempat untuk tidur dan menikmati pemandangan di luar ruangan.


Objek yang dimaksud pada perkemahan ini berfungsi sama seperti tenda pada perkemahan biasa. Setiap objek sengaja didesain semenarik mungkin, serta dirancang agar memiliki dampak yang sangat kecil bagi lingkungan.


Pilihan kami, salah satunya jatuh pada objek dalam bentuk karavan yang bagian dalamnya sudah dimodifikasi agar bisa digunakan sebagai tempat untuk tidur dan menikmati suasana di luar ruangan.


Eomma Martha dan Appa Kim, memilih objek yang berbentuk pondok kecil, seperti rumah kurcaci kata Risa. Rumah itu terbuat dari jerami, beratapkan daun dan rerumputan. Benar-benar terasa seperti hidup dalam sebuah negeri dongeng.


Objek pilihan kami yang terakhir, merupakan yang paling favorit, objek ini disebut treehouse. Sepintas sama saja seperti rumah pohon yang biasa dijumpai, hanya saja dengan ukuran yang lebih besar.


Dan yang membuatnya makin menakjubkan, atap rumah pohon ini transparan. Hingga siapa pun yang tidur di sana akan merasa seperti tidur langsung di bawah langit yang bertabur cahaya bintang.


Eijaz menjelaskan dengan semangat yang membara.


Pria itu melupakan jika meski hangatnya langit pagi yang sangat cerah.


Atau menariknya langit malam yang menyimpan banyak kisah dibalik taburan kerlap kerlip cahaya bintang dan bulan.


Di saat semua orang termasuk Eijaz kini terdiam, setelah menyadari telah bersalah, membahas keindahan pada wanita yang hanya melihat satu hal, yaitu kegelapan.


β€œTak apa, mungkin aku tak akan bisa melihat keindahan yang Kak Eijaz sebutkan,” ujar Risa.


β€œTapi bukan masalah bagiku, sebab tujuanku kemari memang bukan menikmati keindahan, tapi menikmati setiap detik waktu berhargaku bersama orang yang kusayang,” lanjut Risa.


β€œAku ingin merekam setiap detik kebahagiaan kita semua bukan dengan mataku, tapi dengan hatiku,” ungkap Risa.


Sontak saja Ia mendapat pelukan hangat dari Eomma Martha, kecupan di keningnya, juga sekali cubitan di pipi Risa.


β€œAnak nakal, katamu ingin kenangan bahagia, tapi kamu malah mengucapkan hal yang mengharukan,” celoteh Eomma yang ditanggapi dengan tawa dari yang lainnya.


Sore itu sebuah kenangan indah bersama keluarga berhasil terekam oleh hati Risa.


β€œSemoga keluargaku akan terus seperti ini Tuhan, semoga masih ada kenangan bahagia lain yang bisa kami ukir bersama,” batin Risa.


βš˜πŸ€βš˜πŸ€βš˜πŸ€

__ADS_1


Malam harinya semua berkumpul di sebuah batang pohon yang dialih fungsikan menjadi meja.


Di atasnya sudah terhidang banyak makanan dan minuman untuk dinikmati saat makan malam.


Suasana semakin hangat dengan api unggun sebagai penerang.


Risa memilih duduk pada ayunan yang menggantung di salah satu batang pohon, lokasinya tak jauh dari karavan tempat kini Eijaz dan Romi tengah berdebat.


β€œHal sepenting ini kau sembunyikan dariku? Apa maksudmu? Apa kau juga kini memihak pada bunda?”


Ucapan Eijaz meski bukan teriakan tapi penekanan di setiap katanya sudah menjelaskan jika pria itu sedang menahan marah.


Risa yang tak sengaja mendengar, ingin segera pergi dari tempat itu tak ingin ikut campur urusan antara bos dan asistennya.


Namun apa daya seorang wanita buta seperti Risa. Berada di tempat asing, apalagi ini tempat ini pada dasarnya adalah hutan, tentu saja sangat berbahaya bagi Risa untuk meninggalkan tempat itu sekarang.


Apa lagi saat Risa menyadari jika yang diperdebatkan keduanya adalah menyangkut keluarganya.


β€œSekarang aku minta kau jelaskan semua yang kau tahu padaku!” Perintah Eijaz.


β€œAku sudah mencurigai hal ini sejak aku tahu jika ayahku ternyata pemilik saham di Ortiva Construction, perusahaan milik Nona Risa,” ungkap Romi.


β€œSebab dulu Aku pernah sekali melihat Ayah Nona Risa meminta bantuan Ayahku saat Nona Risa hendak mengambil alih perusahaannya kembali,” lanjutnya.


β€œSejak saat itu itu aku mulai menyelidiki awal hubungan ayahku dan Tuan Ferdinand, ayah Nona Risa. Dan.... Dan... Akhirnya kutemukan fakta jika Tuan Besar, Ayah Anda adalah mantan kekasih Nyonya Laksmi Ibu kandung Nona Risa,”


β€œDan karena cemburu, Nyonya besar menjadi dalang dari keretakan rumah tangga orang tua Nona Risa,” ungkap Romi.


β€œApa? Katakan jika semuanya tidak benar? Katakan jika aku salah dengar?”


Pertanyaan itu bukan datang dari Eijaz, tapi dari seorang wanita yang kini berdiri mematung di depan pintu karavan.


Deraian air mata membasahi pipinya, bulirannya mengkilap di bawah cahaya rembulan malam ini.


Penglihatannya yang gelap, kini segelap hatinya yang kembali tersayat-sayat.


Bungkamnya Eijaz dan Romi, diartikan Risa sebagai jawaban dari keduanya.


Dengan langkah kaki tertatih Risa menjauh, entah ke mana, belok kanan atau belok kiri pun kini Ia tak tahu arahnya.


Yang penting bagi Risa, melangkah, melangkah, dan melangkah.


Hingga tanpa tahu apa yang dipijak kakinya, tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung ke samping, Ia terjatuh, tubuhnya berguling-guling ke bawah. Dapat Ia rasakan kulitnya perih tersayat-sayat, mungkin saja oleh ranting pohon.


Kepalanya terbentur beberapa kali, sakit, tapi masih bisa Ia tahan.


Dan yang terakhir benturannya sangat keras, hingga telinganya terasa berdengung, lalu dalam gelapnya pandangannya, Risa akhirnya kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


[Flashback off]


βš˜πŸ€βš˜πŸ€ To be continue βš˜πŸ€βš˜πŸ€


__ADS_2