Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 98. Nyonya Bos


__ADS_3

"Semua orang bisa menahan sabar karena rasa sakit hati, tapi sabar itu ada batasnya dan mempunyai titik jenuh apabila sudah tak dihargai lagi."


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Sikap yang kau tunjukkan akan mencerminkan siapa dirimu.


Jika merasa dirimu berharga, maka jangan sampai kehilangan nilai dan harga dirimu.


Hormati dan hargai dirimu sendiri lebih dulu, sebelum kau keluar dan mampu menghormati dan menghargai orang lain.


Ting


Dua pintu lift terbuka bersamaan. Dari salah satu lift keluar Aydin, Franda dan Daffin. Sedang dari lift lainnya dua orang sekuriti keluar dengan terburu-buru.


“Ada apa ini? Kenapa sekuriti sampai naik kemari?” tanya Franda.


“Kami dapat telepon dari sekertaris Anda Pak Bos, katanya ada pengacau yang harus di usir.” Jawab sekuriti sekenanya.


“Si*l, sekertaris bodoh!” umpat Aydin.


Franda yang mulai menduga permasalahan apa yang mungkin terjadi akhirnya memilih untuk ikut di belakang Aydin dan Daffin.


“Berdiri, ayo keluar.”


Terdengar suara teriakan seorang wanita dari dalam ruangan Aydin.


Beberapa karyawan berkerumun di luar ruangan CEO, tak ada satupun yang berani masuk.


Dari yang mereka dengar, sekertaris bos mereka sedang mengusir wanita yang disebut-sebut sebagai pelakor.


Mengenai siapa wanita itu, belum ada yang melihat karena wanita itu enggan beranjak dari posisinya saat ini yang terhalangi dinding.


Mendengar derap langkah yang terburu-buru, karyawan yang berkerumun segera membuka jalan bagi pemilik ruangan agar bisa masuk tanpa hambatan.


Mata Aydin membola ketika melihat wajah Risa, yang memerah karena menahan amarah.


“Keributan macam apa ini?” Bentak Aydin agar sang sekertaris berhenti membentak Risa yang duduk diam di tempatnya.


“Sayang, are you Ok?” tanya Aydin menatap sendu pada wajah kekasihnya.


Risa menaikkan satu tangannya, memberi tanda jika dia tak ingin didekati.


Ia bangkit dari kursi Aydin yang sejak tadi tidak ingin sama sekali dia tinggalkan.


“Kau sekarang silahkan tanyakan pada bos mu langsung, Siapa aku? Mengapa aku bisa ada di sini? Apa aku boleh menyentuh barang miliknya? Dan yang terakhir, tanyakan apa aku benar pelakor?” Ucap Risa.


“Sayang, pelakor apa maksudmu? Jangan buat aku bingung.” Tekan Aydin.


“Tanya padanya, aku masih ingin mendengar suaranya yang sangat lantang saat dia menghinaku.” Ujar Risa.


Suaranya berat, dengan menekankan setiap katanya.


“Sesil, katakan apa yang terjadi? Apa yang buat kekasihku semarah ini?” Tanya Aydin dan dengan perlahan dia melingkarkan tangannya di pinggang Risa, namun sayang wanitanya itu segera menepis tangan Aydin.


“Maaf Pak, saya salah mengenali Nona. Saya pikir Nona adalah wanita yang lancang dan berani masuk ke ruangan bapak lalu menggunakan barang bapak semaunya dan tanpa izin.” Jelas Sesil.

__ADS_1


“Maaf Pak, saya tidak mendapat informasi jika Nona akan datang jadi saya salah mengira, sekali lagi saya minta maaf Pak.” Sesalnya.


Wajah angkuhnya kini tertunduk lesu.


“Bagus... alasan yang bagus.” Sambar Risa.


“Jadi kau akan memilih-milih untuk menghargai orang lain? Sehebat apa dirimu hah?” sindirnya.


Sejak tadi boleh saja Risa tidak membalas setiap makian dari wanita yang baru Ia tahu bernama Sesil.


“Bukan seperti itu Nona, tapi....” Sesil hendak membela diri.


“Berhenti memanggilku Nona, panggil aku pelakor seperti tadi saat kamu berteriak.” Sela Risa dengan menaikkan nada suaranya.


Aydin menelan salivanya melihat Risa, sungguh sudah mirip seperti Singa betina yang sedang mengaum.


“Sayang, sudah.... kita bicarakan baik-baik yah.” Bujuk Aydin.


“Tidak. Kalau orang waras sepertiku terus-terusan mengalah, maka orang gila akan semakin banyak.” Ucap Risa


Sontak Franda menahan tawanya. Franda bersyukur masalahnya dengan Risa telah selesai, jadi dia tidak mendapati Risa yang menjelma sebagai Singa betina seperti saat ini.


“Sesil, jelaskan awalnya bagaimana.” Titah Aydin yang kini meminta untuk bicarakan semuanya sambil duduk di Sofa.


“Maaf Pak, tadi saya sempat meninggalkan meja saya, jadi saya tidak melihat Nona masuk. Saat saya kembali saya mendapati Nona sedang membuka laptop Anda, jadi saya segera menegurnya.” Jelas Sesil.


Aydin kini paham masalahnya, “Daffin kamu memang tidak info ke Sesil kalau Risa bakal menunggu di ruanganku?” Tanyanya.


Daffin menggeleng.


Bukannya senyuman, malah tatapan sinis yang Ia terima dari wanita yang harusnya Ia bahagiakan.


Aydin sadar jika di dalam orang yang sedang sinis, disana ada kecewa yang mendasar. “Tapi apa yang buat dia kecewa?” batin Aydin.


Sementara Franda yang masih di sana bergumam lirih, “Dasar bodoh. Harusnya dia mendengar penjelasan dari Risa dulu.”


Gumaman Franda mendapat persetujuan dari Daffin.


“Risa, maaf jika aku ikut campur. Tapi bolehkah aku tau apa yang membuatmu merasa tak senang dengan sikap karyawan kami? Kebetulan aku adalah orang yang bertanggung jawab untuk penerimaan karyawan," tanya Franda.


“Benar yang dia katakan, aku masuk ke ruangan ini tanpa memberi tahu siapapun, aku juga hendak menggunakan laptop Aydin tanpa izin, jika dia merasa tindakanku salah, tak apa, aku akan menerimanya. Hanya jika teguran yang dilakukannya dengan cara yang baik, pemilihan nada bicara juga diksi kalimat yang baik, maka aku tidak akan mungkin merespons negatif atau dengan emosi yang tak terkendali seperti saat ini.” Jelas Risa.


Pikiran Franda benar. Sejak tadi Risa diam bukan karena merasa bersalah, tapi karena dia ingin menyampaikan kekesalannya di saat yang tepat.


Dari ujung netranya Risa melihat ada Amora,Gio, dan juga Dafha yang baru saja masuk ke ruangan Aydin.


Ruangan dengan suasana mencekam.


Risa melangkah maju ke hadapan Sesil sekali lagi, “Ingatlah hal ini Nona, saat seseorang merasa terinjak, dia merasa perlu memberikan respons tertentu agar harga dirinya tetap terjaga. Dan dalam kondisi tersebut, terkadang orang kehilangan daya kendali atas apa yang ia ucapkan. Jadi jangan pernah bermain-main dengan pride seseorang Nona. Beruntung tadi aku masih bisa mengontrol diriku.” Ucap Risa dengan suara yang lembut mengingat ada anak laki-laki yang sedang memeluk pinggangnya.


“Aku akan makan siang berdua bersama Dafha, kamu lanjutin aja kerjaanmu.” Ucap Risa pada Aydin, secara halus menolak Aydin untuk ikut bergabung dengan mereka.


“Dan kau, jika ada satu saja dari semua hinaanmu tadi yang jadi berita, maka kita akan bertemu lagi di meja hijau.”


Tegasnya pada Sesil, agar wanita itu tahu siapa dirinya.

__ADS_1


Menyombongkan diri sekali-kali tak apa, pikirnya.


Namun seketika wajah garang dan sinis Risa berubah lembut ketika menghadap pada Dafha, “Ayo sayang, kita makan di luar saja. Mama jadi malas berlama-lama di kantor Daddy.”


Aydin, hanya bisa melihat dua orang terpenting di hidupnya pergi.


“Maafkan aku Pak, maafkan aku,” tangis Sesil akhirnya pecah. Ia memasang wajah penuh kesedihan, wajah orang yang tertindas, membuat Franda menjadi ikut-ikutan kesal.


“Ternyata kau ular yah, tadi saja kau berani sekali membentak dan menghina orang lain. Sekarang kau bersikap seolah-olah jadi korban.” Sindir Franda.


Ponsel Aydin bergetar, Risa menghubunginya.


“Ya sayang,” jawabnya lembut.


“Jangan pecat sekertarismu, dia masih harus belajar banyak dariku.” Ucap Risa.


“Tapi Say.....”


“Please Ay,” sela Risa.


“Baiklah, cepatlah kembali. Aku ..... tut tut tut tut.”


Panggilan telepon sudah diputuskan oleh Risa tanpa menunggu Aydin selesai bicara.


Meski ucapan Risa lebih terasa seperti ancaman, namun Sesil akhirnya bisa bernapas lega karena tidak harus kehilangan pekerjaannya.


“Kenapa HRD memberiku sekertaris bodoh begini sih,” gerutu Aydin.


“Kau bukannya mengurangi pekerjaanku malah menambah.” Lanjutnya.


“Itu salahmu, kenapa juga meminta pendapat orang lain lebih dulu, harusnya minta pendapat kekasihmu dulu. Kamu masih sama, kurang peka pada perasaan wanita.” Ucap Franda berkomentar.


“Sepertinya sekarang kita punya bos baru. “ Ledek Franda.


“Iya Bu, Nyonya Bos.” Imbuh Daffin.


Aydin memijit keningnya meski sebenarnya tak sakit.


Dengan gerakan tangan Ia meminta ketiganya keluar dari ruangannya.


“Bisa-bisa rencana liburan ke Bali gagal.” Batinnya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


“Maaf Pak, tapi Pak Aydin sedang tidak di tempat. Beliau sedang cuti keluar kota.” Ucap Sesil pada seorang pria yang ingin menemui bosnya.


“Baiklah, tolong minta Aydin menghubungiku saat Ia kembali.” Balas Pria itu sambil memberi kartu namanya.


“Eijas Humesh,” Ucap Sesil saat membaca nama yang tertera pada kartu nama itu.


“Tampan juga. Kalau si Bos gak bisa, teman si Bos juga boleh,” batinnya.


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


Orang yang lari dari masalah, akan bertemu dengan masalah yang sama.

__ADS_1


Karena Tuhan menginginkan kita lebih kuat dari masalah.


__ADS_2